MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU

MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU
Bab 104. PEMULIHAN


__ADS_3

Melihat Lisa sudah semakin membaik hari ini, Ken dan Aiden merasa sangat bersyukur. Terlebih hal ini membuat kecanggungan diantara mereka semakin terkikis. Ken sebenarnya sangat menyayangi Lisa, hanya saja terkadang sikap-sikap mamanya itu diluar nalar. Sehingga tanpa ia sadari mematik amarah di hati orang lain.


Penyakit bawaan dari Lisa sebenarnya bisa saja kambuh kapan saja, apalagi jika ia dihadapkan dengan masalah dan beban pikiran yang banyak, hal itu akan mempercepat reaksi kemarahan di hatinya. Tetapi selepas itu, jika tidak ada hal lain yang memicu hal tersebut, penyakitnya tidak akan kambuh dan ia akan terlihat seperti orang yang sehat.


Sampai saat ini tidak banyak orang yang tau akan keadaan Lisa yang sebenarnya. Tetapi karena dua minggu ini mereka (Aiden dan Kenzo) telah berusaha dengan keras, maka bisa dibilang Lisa sembuh, meski belum sembuh total tetapi perilakunya jauh lebih baik dari sebelumnya.


Saat ini mereka sedang makan malam bersama. Setelah cukup lama berbincang dengan Aiden tadi siang, Lisa sedikit merasakan bahagia. Hal itu membuat emosinya stabil. Hingga sore ini ia bisa memasak untuk suami dan anaknya itu.


"Makan dulu, Ken," ajak Lisa pada putranya.


"Terima kasih, Ma."


"Syukurlah saat ini kesehatan mama sudah jauh lebih baik, jika suatu saat nanti harus berpisah, setidaknya Mama jauh lebih ikhlas dan kuat," batin Ken sambil menyesap sup ayam buatan Mamanya.


"Gimana, masih sama enaknya, bukan?" tanya Lisa memandang bahagia putranya itu.


"Alhamdulillah, tetap enak bin lezat, Ma."


"Alhamdulillah kalau begitu."


"Oh, ya, Papa kamu kok lama sekali, padahal cuma bilang sebentar aku mandi dulu, setelah itu akan menyusul ke sini, tetapi buktinya nggak muncul-muncul juga" ucap Lisa sedikit sewot.

__ADS_1


"Sabar Ma. Sebentar lagi, Papa pasti turun dan makan bersama kita."


"Mungkinkah papa benar-benar akan melakukan hal itu setelah mama sembuh?" batin Kenzo.


"Kamu kenapa melamun, sayang?" tanya Lisa.


"Nggak apa-apa, kok, cuma rindu aja dengan suasana rumah yang hangat seperti ini."


"Maafkan Mama, ya Ken. Semua salah Mama," ucapnya dengan tertunduk.


"Iya, aku juga minta maaf, ya Ma. Andai aku tetap tinggal di Swiss mungkin semua ini tidak akan terjadi."


"Sudah-sudah, lebih baik mama susul ayah ke kamar dulu, ya."


Ken terkekeh kecil selepas kepergian ibunya. Ia sangat merindukan suasana rumahnya saat ini. Saat di mana ibunya sangat merindukan ayahnya, begitu pula dengan sebaiknya. Ken kecil sangat diperhatikan kedua orang tuanya, tetapi karena pekerjaan akhirnya Ken ditinggal di Indonesia bersama pengasuhnya.


Tidak berapa lama kemudian, terdengar derap langkah seseorang. Kini Lisa sudah menggandeng mesra suaminya.


"Papamu tadi takut kecoa, makanya nggak keluar dari kamar mandi."


"Kok bisa, Pa?"

__ADS_1


Aiden mendudukan dirinya diatas kursi, kemudian di susul oleh Lisa.


"Emang kamu nggak tau, kalau Papa tuh takut sama kecoa."


"Masa sih, Pa?"


"Iya, Papa punya trauma sejak kecil. Dulu Papa pernah masuk ke sarang kecoa, trus mereka seenak jidatnya jalan-jalan di tubuh Papa, 'kan jadi geli akunya."


"Ha ha ha, trus kenapa Mama nggak takut?"


"Mama mah pawang kecoa, wkwkwk."


"Ish, bisa aja, sudah, sudah ayo kita makan siang dulu. Keburu dingin nggak enak tau."


"Siap Mom, makasih Papa."


Saat hendak menyendokkan makanan ke mulut hal itu dicegah oleh Ken.


"Kata temanku, sebelum makan sebaiknya berdoa dulu."


"Oke, Papa pimpin doanya ya. Berdoa dimulai."

__ADS_1


Setelah selesai berdoa mereka segera melahap makanan itu. Tidak ada perbincangan apapun ketika mereka makan. Yang terasa di sini hanyalah kebahagian, sebuah kebahagian yang dulu sempat hilang kini kembali lagi.


__ADS_2