
"Pa, mau kemana?"
"Ke kantor, nanti kalau nggak sibuk sekalian ke Rumah Sakit."
"Nanti kalau sudah selesai berberes bolehkah aku juga pergi ke Rumah Sakit?"
"Hm, boleh. Kamu nggak apa-apa kan kesana sendirian?"
"Nggak apa-apa, Pa."
"Oke, kalau begitu aku berangkat dulu, kamu baik-baik di rumah oke."
"Oke."
Selesai sarapan, Aiden segera pergi meninggalkan rumah untuk pergi ke kantor. Tidak lupa ritual paginya ia sudah mencium kening istrinya.
"Terima kasih untuk kesempatan yang engkau berikan padaku, Pa."
Lisa melambaikan tangannya ketika melihat Aiden mulai melaju meninggalkan pelataran rumahnya. Setelah itu, ia mulai masuk ke dalam rumah untuj bersiap-siap pergi ke Rumah Sakit.
Satu buah paper bag berisi kue bolu telah siap untuk dibawa ke Rumah Sakit. Hari ini ia memang pergi ke Rumah Sakit untuk menemani Ve. Sementara Ken, Al, dan Dion berangkat ke sekolah.
Berita kematian Salsa menyebar di lingkungan sekolah dengan cukup cepat, hingga mereka bertiga harus meluruskan semua berita miring tentang Ve. Di samping itu banyak sekali tugas yang harus dihandle oleh Al dan Kenzo sebagai KETOS dan WAKETOS.
Tahun ajaran baru benar-benar menyita waktu dan tenaga mereka bertiga. Banyak kegiatan sekolah yang harus mereka awasi, tetapi tentang penjagaan Ve tidak luput dari tanggung jawab mereka.
"Dion, bukankah Nenek Safa sudah kembali dari luar kota?" tanya Ken pada Dion yang mengawasi anak-anak baris-berbaris.
__ADS_1
"Sudah, semalam sepulang dari Rumah Sakit aku sudah mencoba menjelaskan semuanya pada nenek."
"Trus, apa respon mereka?"
"Nenek dan Mama cukup mengerti tentang hal ini. Rencananya mereka mau bertakziah pada sore ini."
"Siapa yang mengantar mereka?"
"Diantar sopir."
"Oh, jadi kita aman, kan kalau di sekolah sampai sore."
"Aman, tapi kamu nggak dimarahin Ve, nanti?"
"Enggak, tenang aja, udah ijin kok."
"Alhamdulilah, ya sudah ayo lanjut lagi."
"Oke."
...
"Pak antar ke Rumah Sakit Pelita Harapan ya."
"Siap Nyonya."
Tidak berapa lama kemudian mobil yang membawa Lisa sudah sampai di Rumah Sakit. Ia langsung melakukan pendaftaran untuk terapinya. Baru sesudahnya Lisa menjenguk Ve ke ruang inapnya.
__ADS_1
"Permisi ...."
Jihan, Nenek Safa dan Ve menoleh secara bersamaan ke arah pintu.
"Mau apa dia ke sini?" tanya Jihan dalam hati.
Meski sedikit ragu ia tetap melangkah masuk. Dengan mengulas senyum ia mulai menyapa ketiga orang itu.
"Selamat pagi Ve, apakah sudah baikan? Ini aku bawakan kue bolu sesuai request Ken, katanya kamu suka."
"Terima kasih Tante Lisa."
"Kalau kedatangan saya mengganggu, maka saya meminta maaf, saya permisi."
"Jangan pergi Tante, duduk sini dulu," pinta Ve.
Lisa mendudukan dirinya di sisi brankar sebelah kiri sementara itu Nenek berada di sebelah kanan. Ve memegang tangan Nenek Safa.
"Nek, Ve sudah berbaikan dengan Tante Lisa. Beberapa hari yang lalu kita berempat sudah saling bicara, dan Tante Lisa sudah menerima kehadiran Ve dan meminta maaf."
Nenek memandangi Lisa dengan wajah teduhnya.
"Apa yang dikatakan Ve benar?"
Lisa yang awalnya menunduk kini mulai memberanikan diri untuk memandang Nenek dan Jihan.
"Sebelumnya saya meminta maaf untuk semua hal yang telah terjadi beberapa waktu yang lalu."
__ADS_1
"Jujur saya tidak pernah mau atau pun berniat menjadi orang jahat. Saya akui, saya bukan orang baik. Maka dengan segala kerendahan hati saya meminta maaf untuk semua perbuatan jahat saya."