MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU

MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU
BAB 53. HARI PERTAMA


__ADS_3

Perjalanan selama kurang lebih empat jam telah berhasil dilewati para siswa SMA TUNAS BANGSA. Daerah pegunungan ini adalah salah satu lokasi yang sangat cocok untuk kegiatan camping tahun ini.


Para siswa tampak antusias ketika mereka baru saja sampai di lokasi. Hamparan perkebunan stroberi terhampar luas di depan mata mereka. Belum lagi barisan rumah penduduk yang tampak asri dengan segala jenis tanaman hiasnya, semakin memanjakan mata.


Pemandangan yang indah seperti ini tak akan pernah mereka dapatkan saat di Ibu Kota. Oleh karena itu pihak sekolah lebih memilih lokasi ini. Sebuah lokasi yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan dan tentunya sangat baik untuk kesehatan karena udaranya masih bersih.


Udara sejuk yang berhembus, kini memenuhi rongga dada Ve dan teman-temannya. Hembusan angin yang semilir siang itu menyamarkan teriknya sinar matahari. Tak terasa panas melainkan hanya hangat. Apalagi masih banyak pohon-pohon tinggi menjulang di sana.


Meski mereka sampai pada tengah hari, para siswa tetap antusias untuk melakukan perjalanan ke arah lokasi tempat mendirikan tenda. Kurang lebih hanya memakan waktu dua puluh menit perjalanan kaki.


Jalanan di tepi perkebunan stroberi memang tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk dilewati kendaran bermotor. Lagi pula di atas sana terlihat ada beberapa rumah, itu artinya di lokasi perkemahan ada bangunan rumah penduduk.


Para siswa dengan tertib berjalan beriringan menuju lokasi. Begitu pula dengan Ve dan Luna yang sudah membaur dengan para siswa lainnya.


"Hm, suasana dan udaranya sejuk banget ya, Ve!" ucap Luna.


"Iya nih Lun, suasana kek gini yang membuatku jatuh hati pada pedesaan, masih asri dan sangat bersih udaranya."


"Lah, emang kamu pernah tinggal di desa?" tanya Luna hati-hati.


"Pernah, dulu banget, waktu masih kecil aku tinggal di desa."


"Wah, keren."


"Kenapa, emangnya?"


"Ya, enggak nyangka aja gitu, kamu yang dari desa bisa sekolah di tempat yang elit dan populer di Ibu Kota."


Ucapan ringan dari Luna ternyata menyentil hati Ve.

__ADS_1


"Apa sebegitu tidak pantasnya ia bisa bersekolah di SMA TUNAS BANGSA?" batin Ve.


Saat asyik bermonolog, Ken mengejutkannya dari arah belakang.


"Kok melamun?" sapa Ken.


"Eh, e-enggak Kok."


Tanpa permisi Ken merangkul bahu Ve, sehingga membuat Ve reflek menepis tangan Ken. Pelototan tajam dari Ve bukannya membuat Ken jera, tapi malah sengaja menggodanya.


Ken mengambil topi milik Ve dan membawanya pergi menjauh. Sontak saja Ve langsung bergegas mengejar Ken.


"Balikin, Kak! Ih, nyebelin!" ucapnya sambil berlari mengejar Ken.


"Ayo ambil sendiri kalau bisa."


"Awas ya, pasti gue bisa ngambil, tunggu!" teriak Ve lebih jauh.


Beruntung Ken tidak terlalu cepat, hingga beberapa saat kemudian ia telah berhasil menyusul Ken. Tapi terdengar deru nafas yang tidak teratur dari Ve, sedikit terengah-engah karena langkah kaki Ken begitu lebar meski ia tidak berlari sekuat tenaga.


Ken merasa bersalah tapi ia segera meminta maaf pada Ve. Tangannya terulur sama seperti saat Ve terjatuh saat pertama kali masuk sekolah. Sial, ia baru menyadari jika ternyata Ken adalah lelaki yang menolongnya dulu.


"Kenapa baru ngeh, kalau itu Kak Ken," rutuk Ve dalam hatinya.


"Hallo, Ve. Kamu enggak kenapa-napa, 'kan?" tanya Ken cemas.


"Eh, sorry, enggak apa-apa, Kak. Yes, kena!" serunya bahagia saat bisa mengambil topi miliknya.


"Hm, mulai nakal nih."

__ADS_1


Ve hanya meringis saat menyadari hal tersebut. Lalu mereka mengejar para siswa lain yang sudah lebih dulu sampai di tempat perkemahan.


"Attention please! Para siswa diharapkan berkumpul di titik O."


Mendengar pengumuman dari Ketua Pembina Pramuka, para siswa segera berlari ke tempat yang dimaksud Ketua Pembina Pramuka untuk segera mengikuti acara siang itu.


Tapi hal itu tidak berlaku untuk Salsa yang sedang berpura-pura keseleo, akibatnya Al harus memapahnya sampai titik O.


"Makasih ya, Al udah bantuin gue sampei di sini," ucap Salsa berpura-pura.


"Hm."


Sorot mata anak-anak yang tadinya fokus kepada pembina pramuka kini menjadi teralihkan pada kedatangan Salsa dan Al.


"Habis ngapain mereka kok bisa terlambat?" tanya Pak Prapto memandang heran pada Ketua Osisnya.


"Cih, mau cari muka, gue jijay, Cin," cemooh salah satu siswa.


Sementara salah satu anggota geng Salsa yang kebetulan berada di belakang siswa tadi menegurnya.


"Jaga omongan kamu!" gertaknya.


Siswa itu menoleh dan hanya memasang wajah tak takut.


"Orang kaya cuma bisa menggertak!" gumamnya.


.


.

__ADS_1


...🌹Bersambung🌹...


__ADS_2