
Melihat kedekatan Ken dan Ve, membuat Al uring-uringan di rumah. Hal itu pun tak luput dari perhatian sang mama. Meski ia baru saja keguguran, nyatanya Mama Putri tak lekas buat balik lagi ke kantor. Ia malah semakin menyibukkan diri dengan dunia bakery di rumah.
Setelah menyelesaikan adonan dan menaruhnya dalam cetakan. Kini ia pun menunggu adonan kue itu untuk matang. Sembari menunggu hal itu, Mama Putri sengaja mendekati Al.
"Tumben anak mama nggak latihan main basket?"
"Lagi nggak ada jadwal, Ma."
"Owh, trus kenapa mukanya di tekuk kayak gitu?"
"Nggak ada apa-apa sih."
"Aha, nggak mungkin kamu bisa bohongin Mama, jujur atau Mama tanya sama Darren."
Tiba-tiba Darren duduk di samping Mama Putri.
"Kenapa tuh curut kek gitu Mam, mukanya?" tanya Darren sambil ngemil cookies buatan Mamanya.
"Hust, sama adek sendiri kok dibilang curut!"
"Emang Mama kamu curut apa!" ucap Mama Putri kesal sambil melempar celemek tepat di wajah Al.
"Aish, Mama, sebelas dua belas tuh!"
Sambil mengambil kue dari dalam oven, Mama Putri mulai menjelaskan masalahnya sama Darren.
"O ... pasti karena cewek itu," batin Darren sambil mengamati adiknya.
"Oh ya, katanya Bella mau kamu ajak ke sini, koo nggak jadi?"
"Hm, katanya dia lagi sibuk les, Ma. Jadi nggak bisa maen sembarangan."
"Masa hari Minggu juga les Bang?" tanya Al tiba-tiba.
"Em, nggak juga sih, nanti aja lah, mungkin minggu besok aku ajak Bella ke sini."
"Oke, Mama tunggu."
"Eh, sekalian ajak Ve ya, Al."
"Ha-ah, kok Ve?"
"Ya, nggak apa-apa sih, Mama cuma kangen sama Ve aja, masa nggak boleh."
Al tampak tak bersemangat saat membahas Ve, dan dari sanalah Darren bisa menyimpulkan kalau hubungan Al sama Ve tidak sedang baik-baik saja.
.
.
🍃Keesokan harinya.
"Beneran kamu mau berangkat sekolah?" tanya nenek sambil menuangkan nasi ke dalam piring miliknya.
__ADS_1
"Beneran, Nek. Lagi pula sudah nggak terlalu nyeri kayak kemarin kok."
"Trus, berangkatnya bagaimana?"
Belum sempat Ve menjawab pertanyaan dari nenek, Kenzo sudah mengetuk pintu.
"Assalamu'alaikum ...."
Ve tersenyum.
"Tuh, yang jemput sudah datang," ucap Ve dengan raut bahagia.
"Hm, ajak sekalian sarapan Ve!" titah Nenek.
"Oke."
Dengan langkah perlahan Ve mendekati pintu ruang tamu.
"Wa'alaikum salam."
"Pagi Kak, ayok masuk dulu, tadi Nenek ngajak Kakak buat ikutan sarapan."
"Oh, ya," ucapnya sambil tersenyum.
Lalu sebentar kemudian Ken sudah bergabung dengan Nenek dan Ve. Akhirnya karena paksaan dari Nenek, Ken ikut sarapan bersama mereka.
Dua puluh menit kemudian kedua remaja tadi sudah sampai di sekolah.
Lalu kedua remaja tadi berpisah dan menuju kelas masing-masing. Sementara itu, Al baru yang sudah dulu sampai ketimbang Ve sudah memasang muka masam padanya.
"Duh, pagi-pagi mukanya udah kesambet apaan ya?" batin Ve setelah melewati Al yang berdiri di depan pintu kelasnya.
Tetapi sebelum Ve sampai di tempat duduknya, Al memanggil Ve.
"Ve, bisa bicara bentar?"
"Hm, boleh, ada apa Kak?"
Si wajah jutek itu mendekati Ve lalu mengamatinya dari atas sampai ke bawah.
"Kenapa dengan lutut Ve?" gumamnya dalam hati.
Ve merasa tak nyaman ketika Al memandangnya dari atas sampai bawah. Pikiran-pikiran aneh pun menyerang Ve.
"Apa rok yang aku pakai kependekan? Bukankah aku udah memakai rok pemberian dari Kak Ken, tapi kenapa pandangannya ... ah lupakan."
Ve masih sibuk bermonolog pada dirinya. Tapo saat ia akan berucap, Al lebih dulu bertanya pada dirinya.
"Lutut kamu kenapa?"
"Eh, ini ... luka!"
"Iya, kamu kenapa bisa luka?"
__ADS_1
"Keserempet motor."
"Kapan?"
"Kemarin pagi, kenapa?" tanya Ve penasaran.
"Nih orang salah minum obat kali ya, kok tumben tanya-tanya?" batin Ve sambil melihat Al dengan wajah bingungnya.
"Udah ke dokter?"
"Udah, kan uda diperban."
"Owh."
"Owh, doang, dasar ya kanebo kering!" umpatnya kesal.
Tak lama kemudian Kenzo mendatangi kelas Ve.
"Ve, ini buku yang kamu min ... minta!" ucap Ken sambil menyerahkan buku itu sama Ve.
"Aku nggak ganggu kan?" tanya Kenzo yang melihat ketegangan dari keduanya.
Seolah ingin memanasi Al, Ve memegang lengan Kenzo. Ia pun tersenyum ke arahnya.
"Makasih Kak Ken," ucap Ve manja.
"Sama-sama, Sayang ... eh, sorry Ve."
Melihat kedekatan Ve dan Ken membuat hawa panas tiba-tiba menyerang hati dan pikiran Al.
"Sudah sedekat apa mereka?" tanya Al dalam hatinya.
Sementara Ken hanya tersenyum karena tingkah manis Ve barusan. Belum sempat berkata-kata, bel tanda masuk berbunyi. Ken pun lalu berpamitan pada Ve.
"Aku balik dulu ya, Ve."
"Iya, makasih banyak Kak Ken."
Ve pun tersenyum manis ke arah Ken sambil membalas lambaian tangan dari Ken. Setelah itu ia pun memasang muka datar kepada Al.
"Apa lu liat-liat," umpat Ve dalam hatinya.
"Emang lu aja yang bisa deket sama cewek."
Di kursi belakang, Dion menurunkan bukunya lalu tersenyum akan kejadian barusan.
"Tontonan menarik."
.
.
...🌹Bersambung🌹...
__ADS_1