MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU

MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU
BAB 54. CEMBURU TAPI NGGAK NGAKU


__ADS_3

Selesai berkumpul, para siswa segera mendirikan tenda. Apalagi langit sudah dipenuhi awan-awan abu-abu, yang lama kelamaan jika menumpuk akan menjadi gelap. Suhu udara juga sudah mulai lembab.


"Sepertinya bakal hujan nih sebentar lagi."


"Ya sudah, kita cepet dirikan tendanya!"


"Go ... go ... go ..." seru-seru anak-anak.


Terlihat sekali antusias para siswa yang sudah terlihat lebih mandiri. Mereka tampak sudah pandai mendirikan tenda, tidak seperti pada awal-awal latihan yang terlihat kesusahan kini sudah terlihat sangat ahli.


Beberapa saat kemudian, Al teringat Ve. Saat Al hendak berdiri dari tempatnya, tiba-tiba tangan Salsa mencekalnya.


"Mau kemana?" tanya Salsa.


Al menoleh ke arah Salsa.


"Mau bantuin panitia dan para siswa buat mendirikan tenda."


"Nggak boleh, 'kan aku masih butuh kamu!"


"Kamu tuh sehat, Sal. Jadi nggak usah banyak alasan deh!" gertak Al mulai jengah.


"Aku, 'kan sakit, Al."


"Sakit? mana yang sakit?"


Al yang sangat hafal akan semua tingkah Salsa langsung bersikap tegas padanya. Tapi bukannya segera sadar, Salsa kembali berulah dan mengarang cerita baru.


"Kakiku terkilir, masak kamu nggak bisa lihat!"


"Dari tadi aku sudah tanya ke kamu, tapi kamu menjawab apa?"

__ADS_1


"Trus jika benar ada yang sakit, aku mau tanya bagian mana yang masih sakit?"


"Harusnya kamu mikir aku punya tanggung jawab besar sebagai Ketua OSIS. Dan jika sedari awal kamu sudah kasih kasih tahu aku, pasti sekarang aku bisa melakukan tugasku, tapi ini apa Salsa Veronika? Kamu waras?"


"Bisa-bisanya kamu mengatur aku, memangnya kamu siapa!"


Salsa yang tak pernah melihat kemarahan Al sampai seperti saat ini, kini menjadi takut. Oleh karena itu, ia hanya terdiam di tempatnya, tanpa bisa terucap sepatah kata apapun. Melihat Salsa terdiam, Al bergegas pergi.


"Gadis gila, semakin lama kamu semakin tidak waras, Sal!" gumam Al sambil berlalu.


Salsa hendak memanggil Al, tapi niatnya itu segera ia urungkan. Hingga ia memutuskan untuk duduk menepi. Tatapan dari para anggota Bantara dan anggota OSIS sudah seperti ingin menguliti Salsa.


Kalau bukan karena kebohongannya saat ini yang mengaku terluka, Salsa tidak mungkin berada di tenda panitia. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Kebohongannya menjadi bumerang untuk dirinya saat ini.


Ia juga tidak berani bertingkah sebab hampir semua guru juga berada di tempat yang sama dengan Salsa. Salah bergerak saja, Salsa bisa ditegur olehnya.


Tapi tujuan pertama Al saat ini adalah menuju ke tenda Ve. Dengan memastikan diri Ve nyaman, tentu hatinya juga ikut merasa aman dan nyaman. Ve memang gadis istimewa di hati Al. Hanya saja egonya yang setinggi langit seluas samudra membuat Al enggan mengakui perasaannya.


Dari kejauhan terlihat jika Kenzo mengusap dahi Ve yang berkeringat. Ia mengusap keningnya menggunakan sapu tangan dan Ve menikmatinya.


Lelaki mana yang tidak panas hatinya jika melihat wanita pujaannya bersama lelaki lain. Bermesraan di depan mata kepalanya sendiri dan saat ia akan mendekatinya ada sebuah jarak yang terbentang di depannya. Al seperti terjebak di dalam pikirannya sendiri.


Apalagi tanpa kedatangan Al, tenda milik Ve sudah berdiri tegap. Ia bahkan lupa jika Kenzo adalah wakil Ketua Osis, jadi membantu para siswa mendirikan tenda juga termasuk tugasnya.


Saat Al masih terjebak dalam pikirannya sendiri, tiba-tiba Dion muncul sambil bernyanyi.


"Panas, panas, panas, panas badan ini ..."


"Pusing, pusing, pusing, pusing pala ini ..."


Al pun seolah tersindir karena hal itu. Sorot matanya sudah memancarkan rasa cemburu. Tapi demi menjaga egonya, Al lebih memilih pergi dari sana dan meninggalkan area perkemahan.

__ADS_1


.


.


"Ve, ada daun di rambut kamu?" ucap Ken di sela-sela percakapannya dengan Ve.


"Ah, masa?" ucap Ve sambil membersihkan rambutnya.


Lalu Ken dengan lembut mengambil daun yang nyelip di rambut Ve. Tapi, saat daun yang nempel di rambut Ve sudah diambil, ada sebuah lintah yang lewat di kaki Ve.


"Aaaa ... ada lintah!" teriak Ve ketakutan.


Mendengar teriakan Ve, Al memutar kembali langkahnya dan berlari padanya. Tapi lagi dan lagi Ken lebih dulu menjadi pahlawan untuk Ve.


Di sisi lain, Ve terlihat sangat geli dan takut dengan makhluk pengisap darah itu. Hingga ia terjingkat dan bersembunyi di belakang tubuh Ken.


"Kak, tolong ada lintah, aku takut!" ucap Ve sambil memejamkan mata.


"Tenang Ve, lintahnya udah aku ijek dan aku lempar ke luar area tenda kamu."


Ken memegang bahu Ve untuk menenangkannya.


"Buka mata Ve, lihat udah nggak ada."


"Beneran nih, udah nggak ada?" tanya Ve sambil mengintip.


"Bener, lihat deh!" tunjuk Ken pada sepatu miliknya yang masih terlihat bekas darah akibat menginjak lintah tersebut.


.


.

__ADS_1


...🌹Bersambung🌹...


__ADS_2