MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU

MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU
RUJAK CINTA


__ADS_3

Akhirnya misi memesan rujak berhasil dilakukan Al. Sesuai rencana, sepulang sekolah Al akan mengantar Ve ke rumah neneknya sekaligus untuk mengambil pesanan rujak Mama tercinta.


"Sudah siap?" tanya Al pada Ve yang masih melongo.


Al pun melambai-lambaikan tangannya ke muka Ve, hingga membuatnya tersentak. Tangan Ve bahkan sudah menampik tangan Al.


"Ish, kamu ngapain sih, Kak."


"Dudul, dasar cewek aneh," batin Al.


Setelah memastikan Ve sudah naik ke atas motor sportnya, Al segera menancapkan gas lalu melajukan kemudinya meninggalkan area sekolah. Sayangnya Salsa melihat hal itu.


Bella yang kebetulan lewat segera memundurkan langkahnya ketika melihat Salsa terpaku menatap area parkir.


"Lihat apa-an, Salsa?"


"Eh, Kak Bella, itu abis lihal Al pulang bonceng cewek."


"Ha-ah, Al gebetan kamu itu?"


Salsa mengangguk.


"Kok bisa? Bukankah Al itu paling alergi di deketin cewek, terutama sama kamu sih, hehehe."


Salsa mendorong tubuh Bella. "Hais, Kak Bella, bukannya bantuin aku, malah ngejek, sebel!"


"Emang bantuin apa? Bukannya sebelum ini hubungan kalian sudah deket, kok bisa kecolongan gitu?"


"Sejak cewek itu datang, Al malah semakin dekat sama dia."


"Biasanya kamu punya sejuta cara buat hadapi hal kayak gitu, kemana kemampuan kamu itu? Sudah luntur 'kah?"


Salsa begitu sebel karena kakak sepupunya malah meledek, bukannya memberi solusi yang tepat buatnya. Hingga akhirnya Salsa menuju area parkir dan meninggalkan Bella sendirian.


"Dasar cewek aneh," gumam Bella.


Karena Bella satu tingkat di atas Salsa, ia masih ada satu mata pelajaran yang harus di ikuti. Setelah melihat Salsa pulang ia kembali menuju kelasnya.


🍃 Di perjalanan ke rumah Ve.


Karena Ve baru kedua kali naik motor, jika Al menaikkan gas motornya, otomatis tangan Ve semakin berpegangan erat ke tubuh Al. Satu senyum terbit ketika Ve tak sengaja mengeratkan pelukannya. Padahal Ve benar-benar merasa ketakutan. Bahkan kedua matanya terpejam selama perjalanan itu.


Niat awalnya agar ia bisa menghemat waktu, apalagi rumah Ve harus ditempuh dengan masuk beberapa gang kecil. Percuma saja jika memakai mobil yang harus diparkirkan di tempat yang agak jauh. Tetapi ternyata solusi yang dipakai Al kali ini memberinya bonus ekstra. Sebuah pelukan hangat dari seorang gadis.


Untungnya Al masih ingat betul rute jalan ke rumah Ve. Jadi tanpa ia harus bertanya pada Ve, mereka sudah berhenti cantik di depan rumahnya.


Tetapi dasar Ve, yang mungkin phobia terhadap motor, masih saja memeluk Al dengan mata tertutup. Hingga Nenek Safa harus mengambil jalan seribu.


Plak.


"Aw, sakit, Kak!" keluh Ve sambil mengusap lengannya.


Matanya seketika terbuka lebar ketika mendapati neneknya sudah berkacak pinggang di samping motor Al. Reflek tangan Ve melepas pelukan dari tubuh Al.


Ia pun bergegas turun dari motor lalu berjalan mengikuti neneknya. Sayangnya tangan Al mencekal tangan Ve, hingga membuat ia menoleh.


"Kenapa, Kak?"


Al menunjuk ke arah helm yang masih terpakai manis di kepala Ve. Ia pun meringis karena kelupaan melepas helm milik Al.


Karena kesulitan membukanya, mau tak mau, Al membantu melepas helm tersebut. Rupanya kait helm nyangkut hingga sulit dilepas.

__ADS_1


Klik, akhirnya helm terlepas.


"Nah sudah," ucap Al sambil merapikan poni manis milik Ve.


"Makasih," ucap Ve malu-malu.


Setelah itu, mereka berdua menyusul nenek ke dalam rumah. Rupanya nenek membuatkan minum untuk mereka berdua.


"Silahkan diminum, Nak, maaf cuma es teh saja."


"Terima kasih banyak, Nek. Duh, malah merepotkan," ucapnya sungkan.


"Gak apa-apa nak, ini sekalian juga buatin pelanggan di depan."


"Iya."


Tak berapa lama kemudian, Ve sudah muncul dengan memakai kaos oblong dan celana hot pants. Ia pun segera bergabung dengan Al.


"Silahkan diminum, Kak."


"Makasih."


"Oh ya, tante pesen rujak yang gimana, Kak?"


"Eh bentar, biar aku telepon Mama sebentar ya."


Ve mengangguk. Lalu sembari menunggu Al menelpon Ve menuju ke depan rumah untuk membantu nenek membungkus pesanan orang-orang.


Sesaat kemdian Al segera menghubungi Mamanya, tetapi sepertinya permintaan darinya begitu menyulitkan. Hingga wajah Al menjadi tertekuk.


"Eh, kenapa? Apa ada sesuatu yang salah?"


Ve melihat dirinya, lalu kembali melihat Al.


"Ha-ah, untuk apa, Kak?"


"Entahlah, sepertinya Mama ngidam yang aneh-aneh," gerutu Al yang masih terdengar samar.


"Ehm, oke kalau begitu, biar nanti aku ijin sama nenek."


"Makasih."


🍃Dua puluh menit kemudian.


Kini dua remaja tadi sudah sampai di sebuah rumah minimalis dengan sebuah taman mini yang sangat asri. Taman itu berada tepat di samping pintu utama. Berbagai jenis bunga dan tanaman aglonema bermacam warna memenuhi pinggiran taman tersebut.


Setelah memastikan motornya terparkir dan gerbang rumah terkunci, Al mengajak Ve masuk.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam, hei sayangnya Mama sudah pulang?"


"Iya, Ma."


"Eh, ada Ve, masuk sayang," ajak Mama Al langsung merangkul lengan Ve.


"Hm, yang anaknya siapa sih?" gerutu Al.


"Eh, tante hamil ya, maaf Ve baru tahu, selamat ya tante."


"Makasih sayang."

__ADS_1


Sementara Ve dan Mamanya berbincang, Al berteriak dari arah dapur.


"Ma, ini rujaknya mau dimakan sekarang atau nanti?"


"Sekarang aja sayang."


"Oke."


Tetapi sebelum mengantarkan rujak milik Mamanya, Al terlebih dulu mengganti pakaian. Lalu sesudahnya ia membawa dua porsi rujak ke hadapan Mamanya.


"Nah itu dia datang, loh eh, rujaknya kok dua?"


"Iya, karena Mama ga bilang mau rujak pedes atau enggak, ya akhirnya dibuatkan-lah dua versi.


"Oh gitu."


Setelah itu, Mama Al segera menyantap rujak yang tidak pedas terlebih dulu. Karena kepedesan ia pun menukar dengan satu buah porsi rujak yang tidak pedas.


Tak berapa lama kemudian Darren muncul. Sebelum ia menuju kamarnya, ia sempat melirik tamu di sebelah tubuh Mamanya.


"Loh, ada tamu?"


"Hai, Kak."


"Kenalkan Ve, dia Darren abangnya Al."


"Nah Darren, ini Ve teman sekelas Al."


"Salken Darren Sinatriya."


"Salken Veeya Nazia Raya, biasa dipanggil Ve."


Mereka saling bersalaman lalu Darren memilih meninggalkan mereka. Tak sengaja Al dari arah dapur berpapasan dengan Darren.


Mereka tetap tak menyapa satu sama lain. Hanya saja ia sorot mata mereka saling memancarkan aura tidak suka.


Sementara itu Ve dan Putri, Mamanya Al semakin terlihat akrab. Bahkan Ve dengan sabar mendengarkan semua cerita tante Putri. Tiba-tiba Darren berteriak dari ruang makan.


"Aduh, kenapa lagi sih."


Mama Al segera menuju ke ruang makan dan di ikuti oleh Al. Sedangkan Ve masih diam duduk di ruang tamu karena tak mau mengganggu privasi Keluarga Al.


Entah kenapa, bukannya mereda, ternyata adu mulut semakin terjadi di ruang makan. Membuat Ve harus mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di sana.


Tidak sengaja Ve lihat pertengkaran Al dan Darren di ruang makan. Sedangkan Mamanya Al terlihat menangis di sana.


Tak tega melihat tante Putri menangis, Ve menghampirinya.


"Tante kenapa?" tanya Ve sambil berjongkok.


"Itu Ve, mereka masih saja seperti anak kecil, hanya karena kue cake milik Darren tante makan, ia jadi marah dan malah menuduh Al yang melakukannya. Padahal tante udah mengaku, tapi Darren malah tak percaya."


"Maaf, Kak, kenapa hanya karena hal kecil kalian bertengkar? Kasihan tante Putri menangis. Harusnya kalian sadar, tante sedang mengidam makanya incip kue itu.


Kedua lelaki itu hanya memandang Ve. Tetapi tatapan keduanya malah membuat Ve merinding.


"Apa aku salah berucap ya?" batin Ve.


"Sebenarnya siapa sih cewek ini? Mungkikah dia pacar Al?" batin Darren sambil bergantian menatap Al dan Ve.


...🌹Bersambung🌹...

__ADS_1


Oh ya jangan lupa dukungan like, rate dan favorit ya kak. Jangan lupa 🌹☕ dan VOTE untuk menyemangati Author, makasih banyak🙏🤗


 


__ADS_2