
Brak ... brak ...
"Siapa? ganggu banget sih!" seru Darren dari dalam kamarnya.
Sesaat kemudian Darren membuka pintu kamarnya.
"Ada angin apa, lu mau nyamperin kamar gue?"
"Gue butuh bantuan!"
"Wkwkwk, bantuan apa?"
Al menghela nafasnya lalu bercerita pada kakak satu-satunya itu. Demi Ve ia mengesampingkan egonya. Meski mereka jarang akur tapi Al maupun Darren sebenernya saling menyayangi, hanya saja dari luar mereka terlihat tidak akur.
Tanpa berkata-kata, Darren mengambil kunci mobilnya dan menyaut jaket kulitnya. Tak berapa lama kemudian Al menyusulnya.
"Nggak usah bawa mobil, pakek mobil gue aja."
Kedua pemuda itu langsung menaiki mobil type Lamborghini Huracan Super Trofeo Evo milik Darren untuk menuju arena balap. Beruntung malam itu kedua orang tua mereka tak ada di rumah. Jadi kedua pemuda itu bebas keluar rumah.
Al sesekali melirik jam tangannya sambil memandang keluar. Tetapi Darren hanya melirik Al dari ekor matanya.
Hanya butuh waktu lima belas menit akhirnya mereka sampai di tempat itu. Mobil yang mereka tumpangi ternyata mampu mengantarkan mereka secepat kilat.
Sorak-sorai penonton yang tadi bergemuruh kini hening. Mengingat siapa yang datang ke lokasi, mereka pun menyambut kedatangan sang pemilik kekuasaan, Darren dengan tak mengeluarkan kebisingan di sana.
Sorot mata Dion memicing, mengamati siapa sosok yang menguasai lokasi ini. Selama ia berlaga, ia belum pernah bertemu dengannya. Suatu kehormatan jika ia bisa bertemu dengan Darren malam ini.
Di tengah keheningan, Al muncul terlebih dahulu baru kemudian di susul oleh Darren yang keluar dari dalam mobil sambil membuka kaca mata hitam miliknya. Sontak saja mata Ve melebar sempurna.
"Al? Kenapa kanebo kering itu muncul di sini?" batin Ve.
"Alfarizi?" batin Dion.
"Lalu apa hubungan mereka?"
Darren melambaikan tangannya ke udara, lalu sorak gemuruh suara mesin mobil menggema di sana. Al geram saat melihat tangan Dion dengan nakalnya melingkar ke pinggang Ve. Belum lagi Ve hanya terdiam di sana?
__ADS_1
Apa Ve menikmatinya? Oh tidak, Al sangat tidak menyukai hal ini. Ingin rasanya Al mendekati Ve dan Dion untuk menonjok wajah pemuda itu. Sayang, Darren mencegahnya.
"Tumben datang, ada gerangan apa, Bos?" tanya salah seorang yang bertanggung jawab untuk arena balap ini.
Darren hanya tersenyum sedang Al masih berusaha menahan egonya. Hingga jari telunjuknya mengarah pada seorang gadis di ujung sana.
"Gue datang cuma buat jemput gadis itu!" jawab Darren simple.
Leo menoleh, ditatapnya gadis yang dibawa Dion barusan.
"Gadis di seberang sana?" tanya Leo pada Darren.
"Mampus, kenapa lagi abangnya Al deketin gue?" batin Ve.
Padahal ia masih teringat jelas akan ucapan Darren kapan hari yang menyuruhnya untuk menjauhi Al. Tapi apa ini?
Ketakutan Ve makin menjadi ketika melihat Al dan Darren berjalan mendekatinya. Tapi Dion malah memegang tangan Ve dan menyembunyikan Ve ke balik tubuhnya.
"Ini kenapa lagi?" batin Ve.
"Kasih cewek dibelakang elu ke gue sekarang!" gertaknya.
"Nggak akan, emang siapa elu?"
"Jangan banyak ba*** lu!"
Entah sejak kapan tangan Darren mencengkeram erat kaos yang dipakai Dion. Membuat semua anak di arena itu memperhatikan ketua mereka beraksi.
Darren memang terkenal akan ketegasannya sebagai pemimpin. Tapi sebenarnya ia tak suka terlalu ikut campur dengan urusan-urusan sepele. Jika ini bukan menyangkut gadis adik laki-lakinya, Darren juga tidak mau ikut campur.
"Kenapa aku nggak boleh ajak gadis dibelakangmu itu!"
"Karena aku yang mengajaknya ke sini, lagi pula aku juga yang harus bertanggung jawab untuk membawanya pulang," ucap Dion tegas.
Beberapa saat kemudian Kenzo ikut hadir di tempat itu. Ia langsung berdiri di samping Darren.
"Gimana, Bang?"
__ADS_1
Darren menoleh, "Kamu tenang aja, biar aku yang menyelesaikan semua ini."
Kenzo mengangguk.
Karena Dion bersikeras tak mau mengembalikan Ve, maka Darren melakukan satu penawaran. Kini ia berjalan mengelilingi Dion.
"Oke, gue dengar hari ini elu ada tanding balap kan?"
"Yes."
"Oke, kita tanding balap saat ini, siapa yang kalah harus patuh sama yang menang, gimana?"
"Oke, deal."
Dion dan Darren bersalaman. Ve kemudian ditarik Dion untuk masuk ke dalam mobilnya. Sementara Darren kembali ke mobil miliknya.
Al mencekal tangan Darren. "Kenapa lu bawa Ve masuk ke dalam bahaya?"
"Calm down, Bro. Kalau dia emang handal, gue jamin cewek lu nggak bakal kenapa-napa, lagian ini cuma balap mobil, you see?"
"Oke, tapi kalau terjadi apa-apa sama Ve, gua nggak bakalan maafin elu."
Darren hanya tersenyum lalu masuk ke dalam mobil. Kini Al dan Kenzo berada di sisi jalan, karena kedua peserta sudah memasuki arena balapan.
Dion bersama Ve di sisi sebelah kanan, sedangkan Darren berada di sisi kiri. Di depan mereka sudah berdiri seorang gadis dengan berpakaian **** dan minim bahan sedang mengayunkan bendera di tangannya.
"Three ... Two ... One ... let's go!"
Pekikan gadis berpakaian **** itu menggema, suara gerungan mobil semakin menggema di udara, membuat siapapun yang berada di sana akan merasakan pusing karena kebisingan yang terjadi. Kini kedua mobil itu langsung melaju pesat meninggalkan garis "START". Mereka melaju mengejar waktu agar salah satu diantara mereka segera menggapai garis "FINISH".
Dengan kecepatan penuh yang dilakukan Dion membuat perut Ve seketika mual, matanya tak mampu lagi melihat jelasnya pemandangan yang tersaji di depan matanya. Ketakutan karena laju mobil terlalu cepat membuat jantung Ve berdetak sangat kencang. Bahkan kini pandangan matanya semakin lama semakin kabur dan akhirnya ia pun pingsan.
.
.
...🌹Bersambung🌹...
__ADS_1