
Happy reading all😘
.
.
Tiga hari sudah Ve meninggalkan neneknya. Beruntung Bi Imah telah meminta ijin pada nenek Safa, dan mengatakan padanya serta meminta ijin, agar Ve diperbolehkan untuk tinggal di rumahnya.
Nenek juga diberi tahu alasan dibalik kepergiannya saat ini. Sampai akhirnya, nenek hanya bisa menghembuskan nafas secara kasar. Saat ini ia juga merasa gagal, nenek merasa ia tidak pernah tau apa yang sudah terjadi pada cucunya itu, padahal Ve setiap hari selalu bersamanya.
Sementara itu, kabar tentang kepergian dan hilangnya Ve, tak mampu mengusir berita miring tentangnya. Berita tentang seorang siswi yang hampir saja di per**** menjadi trending topik di situs sekolah hampir selama tiga hari ini.
Tetapi berkat campur tangan Al dan Kenzo, sebelum Ve masuk, berita tentang itu sudah berhasil di tekan sampai ke akarnya. Jadi berita itu sudah sedikit mereda. Hanya saja Al dan Kenzo belum bisa mengembalikan pandangan baik dari siswa lain terhadap Ve. Di mata anak-anak, Ve masih sosok gadis yang nakal.
.
.
Pagi itu dengan mengenakkan pakaian seragam sekolahnya, Ve berjalan masuk melewati lorong untuk menuju kelas 1A.
Seketika anak-anak yang bergerombol dan sempat membicarakannya tadi bungkam. Apalagi mereka melihat Ve datang. Begitu pula dengan Salsa yang kaget kerena melihat Ve yang sudah datang.
"Kenapa semua memandangku dengan aneh?" gumam Ve sambil terus berjalan ke depan.
Tak di sangka Kenzo melihat Ve sudah datang. Ia segera berlari mengejar Ve. Saat dekat, ia mulai meraih tangan Ve.
"Ve, darimana aja, kok baru keliatan?" tanya Kenzo khawatir.
"Dari rumah, memang kenapa?"
"Nggak apa-apa, kirain kamu sakit."
"Enggak kok, Kak, sans aja.'
Mereka akhirnya berjalan beriringan untuk menuju ruang kelas yang memang berdekatan. Beberapa saat kemudian, bel tanda masuk sekolah berbunyi.
Al, Dion dan Salsa tampak kaget ketika melihat Ve sudah masuk sekolah kembali. Ve berjalan santai menuju tempat duduknya di samping Al. Karena pelajaran segera di mulai. Ia tak sempat bertanya lebih banyak pada Ve.
__ADS_1
Di tempat duduknya Dion dan Salsa tampak memandang Ve dari kejauhan. Mereka tenggelam dalam pemikiran masing-masing. Dion masih penasaran dengan tanda lahir milik Ve yang mengusiknya dalam beberapa hari ini. Dion bahkan berjanji akan mencari tau informasi tentang Ve sepulang dari sekolah.
Dua jam kemudian bel tanda istirahat berbunyi. Seperti biasa Ve tidak ke kantin. Entah kenapa Al juga tidak beranjak dari tempat duduknya dan terus memandangi Ve.
Ve sedikit risih dengan tingkah Al yang begitu intens memandangnya sejak tadi. Tiba-tiba Al memegang tangan Ve, sontak saja Ve menoleh dan menarik tangannya dengan cepat.
"Ve ..."
"Hm ..."
"Kamu nggak apa-apa kan?"
"Enggak kok, kenapa?"
"Kamu darimana kok baru keliatan?"
"Dari rumah, emang dari mana?"
Ve tampak acuh pada perhatian yang ditunjukkan Al padanya. Tak mau berdebat lebih lama, Al memaksa Ve untuk menatapnya.
"Kamu beneran nggak kenapa napa kan?"
"Aku baik-baik saja, tenang aja, oke."
Ve melepas tangan Al yang dari tadi menempel pada bahunya, lalu ia pun segera memakan bekal makan siangnya.
Sementara itu, Kenzo masih melihat mereka dari belakang pintu. Kareba tak mau mengganggu ia pun segera pergi meninggalkan kelas 1A.
Melihat tak ada celah saat ini, Dion memilih untuk mendekati Ve sepulang sekolah. Rasa penasaran akan sosok Ve membuat ia harus segera mungkin untuk mencari jati diri Ve
Rencana untuk membuntuti Ve sampai ke rumah akan ia lakukan setelah ini. Beruntung Ve belum tau siapa yang melakukan kekerasan padanya beberapa hari yang lalu. Jadi kesempatan ini sangat dipergunakan olehnya sebaik mungkin.
🍃Sepulang sekolah.
Rasa trauma untuk pulang sendirian masih menghantui Ve, tapi ia tak mau membuat rasa trauma itu terus membunuh dirinya secara perlahan. Ia bangkit dan mulai melangkahkan kaki menuju halte bus seperti biasanya.
"Kenapa takut, lagi pula abah sudah memberikan ilmu bela diri secara lebih kepadaku," gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Sebenarnya di ujung jalan, Al, Kenzo dan Dion mengawasi Ve dari kejauhan. Dion sengaja sembunyi karena takut dicurigai Al dan Kenzo. Terlebih penyelidikan kasus Ve masih terus berlangsung.
Sementara Al dan Kenzo sangat khawatir pada keselamatan dan tak mau lagi kecolongan. Sudah cukup kapan hari mereka kecolongan tapi mulai saat ini, mereka setia menjaga Ve.
Tak lama kemudian, bus datang. Ve segera masuk ke dalam bus itu. Ketiga remaja tampan itu mengiringi kepergian Ve dari kejauhan. Mungkin karena rumah Ve yang sulit dijangkau dengan mobil, ketiga remaja tadi sama-sama mengunakan sepeda motor.
Dua puluh menit kemudian, Ve sudah sampai di depan gangnya. Ia segera turun dan berjalan menuju rumahnya.
"Alhamdulillah aman," gumam Al dan Kenzo yang mengawal kepulangan Ve dari sekolah.
Setelah memastikan Ve pulang dengan aman, Al dan Kenzo melajukan kembali motornya menuju rumah masing-masing. Tetapi tidak dengan Dion yang terus membuntuti Ve. Dion turun dari motornya lalu mengejarnya.
Merasa ada yang membuntuti langkahnya, Ve semakin mempercepat langkah kakinya. Sayangnya, Dion berhasil menyusulnya, bahkam kini ia sudah dihadapan Ve.
Kali ini Ve sudah memasang kuda-kudanya.
"Mau apa kamu!" gertak Ve.
"Tenang Ve, aku nggak mau ngapa-ngapain kamu, kok!"
"Bohong!" sarkas Ve setengah berteriak.
"Pergi nggak, atau gue teriak!"
"Oke-oke, aku bakal pergi, setelah kamu menjawab pertanyaan dariku."
Masih bermuka masam, Ve mulai mengarahkan bogemnya ke arah Dion. Ve menumpahkan kekesalannya pada pemuda di depannya itu secara membabi buta.
Siang itu, Dion sengaja mengalah, hanya untuk mendapat kejelasan tentang jati diri Ve. Sayangnya hari itu Dion tak mendapatkan apapun kecuali bogem mentah dari Ve.
...🌹Bersambung🌹...
Sambil nunggu up jangan lupa mampir di karya teman Fany ya, terima kasih
__ADS_1