MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU

MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU
BAB 82. DUKUNGAN MAMA


__ADS_3

Setelah makan siang selesai, Al mengajak Ve pulang. Sebenarnya di dalam kelopak mata Aiden ada rasa tidak rela jika anaknya buru-buru diajak pulang oleh Al, tapi mau bagaimana lagi, nyalinya hanya sebesar biji jagung saat bertemu dengan Ve. Berbeda halnya saat ia menghadapi Lisa ia bisa menjadi lelaki bergigi taring di hadapannya.


"Sebentar lagi, Papa akan mengatakan semuanya kepadamu, sayang," batin Aiden sambil menatap kepergian Ve.


Begitu banyak rasa bersalah yang menghantui Aiden, sehingga untuk mengakui bahwa dia adalah ayahnya, Aiden tidak mempunyai rasa percaya diri sama sekali. Bahkan saat Ve dan Al berpamitan tadi Aiden masih tampak kaku menjawab sapaan mereka.


"Al, kenapa Om tadi aneh banget sih sikapnya? kelihatan nggak bersahabat banget, atau Om tadi lagi banyak masalah ya?"


Ve juga merasa aneh ketika melihat tatapan Aiden kepadanya tadi sedikit berbeda dengan orang kebanyakan. Ia seperti sudah lama mengenal Ve, tetapi Ve sama sekali tidak mengenalinya.


Sepertinya ada sesuatu yang ingin ia sampaikan padanya tetapi mungkin belum saatnya, sehingga Aiden hanya mampu menatapnya saja tanpa berani mengatakan apa pun lagi saat ini. Hingga Ve pun membiarkannya.


"Loh, emangnya kamu nggak kenal Om tadi?"


Ve menggeleng, tetapi tiba-tiba Al menjadi lebih cerewet saat ini. Hingga tanpa ia sadari membuat mood Ve menghilang. Oleh karena itu ia hanya bisa menjawab seperlunya saja, toh Al juga yang mulai bikin suasana menjadi tegang dan tidak nyaman.


"Emang saat tadi aku nyebut namanya kamu nggak familiar?"


"Enggak."


"Apa kamu juga lom kenalan sama Ayah Ken?"


"Belum."


"Pantas saja."


Ve mulai tersulut emosinya ketika melihat Al mulai menyebalkan. Pertanyaan yang diberikan padanya membuat ia kehilangan jati diri.


"Pantas kenapa?" ucap Ve mulai jengah.


"Kamu tadi nggak perhatikan pas aku nyapa beliau?"


"Dibilang enggak ya enggak, masa nggak ngerti sih!"


Ve mulai kesal dengan pertanyaan-pertanyaan dari Al. Kenapa juga dia malah mancing emosinya dengan menanyakan hal-hal yang tidak penting.


"Kok sewot, sih?"


"Enggak, siapa juga yang sewot, aku cuma mau bilang, kalau tadi aku kepikiran nenek, jadi nggak fokus ketika kamu ajak ngomong."


Ve mencoba mengalihkan pembicaraan karena Al berubah menjadi sosok yang menyebalkan siang itu, tetapi justru ia tidak menyadari akan ucapannya itu. Al sendiri juga bingung bagaimana caranya ia menjelaskan pada Ve tentang siapa sosok Aiden sebenarnya.


"Ish, dasar," gerutu Al.


Entah kenapa, Al juga tersulut emosinya, saat berhadapan dengan wanita yang unik secantik Ve


"Rupanya tadi saat aku bilang dia Ayah Ken, Ve tidak memperhatikannya," batin Al.


"Memangnya kenapa sih, kamu kok ikut-ikutan nyebelin kayak Om tadi," gerutu Ve sambil bersedekap dada.


Sementara Al menjadi salah tingkah akibat ulah Ve barusan. Ia baru menyadari jika sikap prosesifnya bisa menjadi bumerang buat kita.

__ADS_1


"Huh, biarin, ntar juga baik-baik sendiri," batin Al.


"Lama-lama kamu nyebelin!"


Tak mau mencampuri urusan Ve lebih dalam, Al lebih memilih diam dan memikirkan hubungannya dengan Ve ketimbang hubungan Ve dengan ayahnya ataupun Ken. Al memfokuskan kembali pandangannya ke depan. Kali ini tujuan utamanya adalah rumah, lalu setelahnya ia akan menuju Rumah Sakit.


Sementara itu Aiden masih terpaku di dalam mobil. Ia belum juga menjalankan mesinnya. Ia bingung harus pergi kemana saat ini. Ke rumah tidak mungkin, karena Lisa pasti berada di dalam rumah saat ini. Kembali ke kantor Dimitri lebih tidak memungkinkan kembali.


"Lebih baik aku pergi ke Rumah Sakit saja. Mungkin aku bisa berbagi cerita dengan Ken," pikir Aiden.


Sesaat kemudian, Aiden lalu menginjak gas mobilnya untuk menuju Rumah Sakit. Sementara Ken masih menyelesaikan biaya administrasi untuk Nenek Safa. Hari ini beliau sudah diperbolehkan pulang dengan catatan berobat jalan.


Ceklek.


"Nak Ken," sapa Nenek Safa.


"Hai, Nek."


"Bagaimana keadaan Nenek? Sudah membaik, 'kan?"


"Alhamdulillah sudah lebih enakan, Nak."


"Alhamdulillah."


Ken tersenyum lalu duduk di sebelah brankar milik Nenek. Tapi pandangan Nenek Safa tampak melihat ke kanan dan ke kiri, mencari seseorang di sana.


"Ngomong-ngomong, Ve mana ya, kok belum kelihatan?"


Ken melihat ke arah Nenek.


"Oh, ya, kamu kenapa nggak sekolah, malah nungguin Nenek di sini," ucap Nenek tidak enak hati.


"Saya masih cuti sekolah Nek, minggu depan baru sekolah kembali."


Memang saat ini, Ken baru mendaftarkan kembali sekolahnya. Ia akan kembali masuk ke SMA TUNAS BANGSA. Mungkin dengan begitu ia bisa mengawasi adiknya sambil sekolah. Ia juga sudah memutuskan untuk tidak ikut dengan kedua orang tuanya yang lebih memilih untuk tinggal di Paris.


.


.


Salsa masih mematut dirinya di depan cermin. Hari ini tanpa meminta ijin dari Al, ia akan menyambangi kediaman Al sekaligus mendekatkan diri dengan calon mertuanya. Begitulah pemikiran Salsa saat ini. Setelah merasa sudah pantas, ia segera mencangklong slim bag miliknya lalu bergegas turun ke lantai bawah


"Loh, mau kemana, Sayang, kok tumben pakaiannya rapi banget?" sapa Nenek Salsa.


"Mau ke rumah Al Nek, boleh, 'kan?"


"Boleh sih."


"Udah ijin Mama sama Papa kamu belum?"


Salsa menggeleng. Nenek mengusap kepala Salsa.

__ADS_1


"Lebih baik kamu tetap menghormati kedua orangtuamu Salsa. Bagaimanapun mereka tetap ayah dan ibumu."


"Iya, Nek. Lain kali saja, Salsa pamit dulu, Nek."


Lalu Salsa mencium punggung tangan neneknya itu lalu bergegas pergi. Sebenarnya Mama Salsa sudah sehat, tapi sakitnya lebih sering kambuh ketimbang fase sehatnya, sehingga Salsa enggan untuk mendekatinya. Sementara ayahnya lebih memilih bersama istri mudanya ketimbang di rumah itu.


Salsa segera mengambil mobilnya di bagasi, lalu ia menjalankan mobilnya ke rumah Al. Ia sudah hafal rute ke rumah Al sejak lama. Hanya saja ia belum pernah ke sana sendiri. Biasanya ia datang ketika mendapatkan undangan dari Keluarga Al ataupun ada acara di rumah Al.


Tetapi ia sudah capek ketika harus menunggu undangan dari Al, lebih baik ia pergi ke sana sendiri atas dasar keinginan hatinya. Lagi pula Ve sudah terlalu dekat dengan Al sehingga ia tidak boleh menyia-nyiakan setiap kesempatan yang ada.


.


.


🍂Kediaman Keluarga Tiyan.


"Assalamu'alaikum ...."


"Wa'alaikum salam, cantiknya Mama sudah pulang," sambut Putri yang langsung memeluk Ve daripada anaknya sendiri.


"Nah loh, anak sendiri dilupain, udah ada yang baru sih," gumam Al sambil cemberut.


Tentu saja Al menjadi cemberut ketika Mamanya lebih memilih menyambut Ve ketimbang dirinya, tetapi ia teringat memang sejak dulu Mamanya menginginkan seorang anak perempuan, dan kini hal itu bisa ia dapatkan ketika Ve berkunjung ke rumah Al.


"Aku nggak dipeluk nih?" protes Al yang merasa ingin dimanja juga.


"Ish, nggak usah, kamu mah udah gede, ngapain peluk-peluk, mending sama Ve, mama udah sejak lama ingin punya anak cewek."


"Iya-iya, Al ngalah."


Al kemudian melenggang pergi meninggalkan Mama dan Ve untuk menuju kamarnya. Ve hanya tersenyum melihat kecemburuan yang diperlihatkan Al kepadanya.


"Ya sudah, ayo kalian ganti baju lalu makan siang bareng."


Merasa tidak enak karena ditunggu untuk makan siang bareng, ia pun segera meminta maaf pada Mama Putri.


"Maaf tante, Ve dan Al sudah makan siang barusan."


"Eh, ya udah, nggak apa-apa."


Putri melirik Al lalu tersenyum dan mengacungkan jempolnya.


"Pinternya anak mama, udah bisa memanjakan seorang wanita," pujinya dalam hati.


"Good," ucap Mama sambil mengedipkan satu matanya.


Al malah cekikikan ketika mendapat dukungan dari Mamanya. "Pokoknya Al bakal berubah kok, Ma, santai aja kali."


Lalu seperti apa ya jika Salsa bertemu dengan Ve di rumah Al, apakah akan terjadi peperangan? Simak di update selanjutnya.


.

__ADS_1


.


...🌹Bersambung🌹...


__ADS_2