MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU

MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU
AKU BENCI KALIAN


__ADS_3

Sebuah trauma memang agak sulit disembuhkan kecuali ia mendapat dukungan dan semangat dari anggota keluarga untuk memulihkan kondisi psikis sang korban. Begitu pula dengan Ve, ia tidak mau berbicara dengan siapapun sampai saat ini. Ia lebih banyak mengurung dirinya di kamar, sehingga hari ini ia tidak masuk sekolah.


"Raya, sarapan dulu, Nak."


Nenek Safa mengetuk pintu kamar Ve, tetapi ia tetap tidak membukanya. Di dalam kamar, sorot mata Ve masih terlihat kosong, ia seperti kehilangan jiwanya. Padahal ia sedang memikirkan cara, bagaimana ia harus bertindak setelah ini.


Ia sangat yakin, hal ini pasti ada hubungannya dengan Salsa ataupun Dion, karena selama ini, hanya mereka berdua yang selalu berusaha mengusik hidup Ve di sekolah. Ia tak menyangka jika mereka mengunakan cara kotor seperti ini.


Setelah tak terdengar suara dari luar kamar, Ve segera mengambil jaket kulitnya. Tak lupa ia mengeratkan tali sepatunya. Meski saat ini ia bukan siapa-siapa tapi ia yakin, Kenzo akan membantunya.


Sementara itu, Nenek Safa sangat bingung dengan apa yang terjadi dengan cucunya tersebut. Ia tak menyangka keputusan Ve untuk masuk ke sekolah elit akan berdampak seperti ini.


...⚜⚜⚜...


...Sekolah Tunas Bangsa...


Al memandang sedih kursi kosong di sebelahnya itu. Biasanya tingkah Ve yang unik dan ceria selalu menemani hari-harinya. Tapi kursi itu begitu sepi dan menyedihkan.


Tak disangka, kehadiran Ve mampu mengubah kesepian di hati Al menjadi sedikit berwarna. Meski terkadang menyebalkan, ternyata ketidakhadirannya membuat Al kesepian dan merindukan Ve.


Apalagi senyuman gadis manis dengan gigi gingsul itu sudah mencuri hati Al. Tetapi sayang senyuman manisnya itu kini telah menghilang, berubah menjadi sebuah tatapan yang memilukan.


Bayangan wajah Ve yang murung itu semakin mengusik pikiran Al, ia kehilangan konsentrasi belajarnya pagi itu. Pelajaran matematika yang biasanya seru, kini terasa hambar. Apalagi Ve yang selalu mengajaknya bersaing, kini sedang absen.


Materi yang biasanya diberikan Pak Prapto sama sekali tak ada yang bisa masuk ke dalam pikirannya. Isi kepalanya hanya berisi Ve dan Ve.


Sedangkan di kursi belakang, Dion duduk satu bangku dengan Salsa. Ia masih bersikap biasa, tetapi lain halnya dengan Salsa yang terlihat tidak nyaman dan sedikit panik.


"Cantik, gimana udah kamu sebar, link tadi?"


Salsa seketika menoleh, ia sama sekali tidak suka membicarakan hal begitu penting di sekolah. Terlebih jarak tempat duduknya dengan Al hanya terpaut dua meja. Bisa jadi Al mendengar semua pembicaraan mereka nanti.


"Ish, diam! Ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal itu," ucapnya seraya berbisik.


"Ish, gitu aja marah, nanti cantiknya ilang, loh."


"Nyebelin!" ucap Salsa gemas akan tingkah Dion.


Sedangkan Dion hanya tersenyum simpul karena berhasil membuat Salsa kesal. Dion memang menyebalkan, ia selalu suka mengerjai Salsa. Hal itu memang ia lakukan untuk menyembunyikan jati dirinya yang sesungguhnya.


"Dion, jangan dekat-dekat deh!"


Entah kenapa lama-kelamaan, Salsa merasa risih dengan sikap Dion yang selalu menempel. Padahal ia tak kalah cakep dengan Al, sayang di mata Salsa hanya Al yang paling mempesona.


🍃Empat jam kemudian.

__ADS_1


Saat ini Al sudah bersama dengan Kenzo di sebuah cafe. Sepulang sekolah mereka langsung bertemu di situ. Mereka memilih tempat duduk di sudut cafe.


"Cepat kamu ceritakan bagaimana keadaan Ve padaku, tumben hari ini Ve sampai tidak masuk sekolah," cecar Kenzo.


Al menengguk boba miliknya sambil matanya menerawang jauh ke depan.


"Jadi begini ...."


"Kemarin kebetulan aku melewati jalan A, sebuah jalan yang kalau tidak salah di sana ada beberapa gedung tua bekas pabrik."


"Tumben kamu lewat sana?"


"Biasa, Mama minta dibelikan sesuatu."


"Owh, Tante Putri."


Al mengangguk, lalu ia melanjutkan ceritanya.


"Dari kejauhan aku melihat ada gadis yang keluar dari salah satu gedung itu, langkah kakinya terseok, belum lagi keadaan gadis itu begitu kacau."


"Kenapa kamu yakin itu Ve?"


Al menyunggingkan senyumnya. "Ternyata kamu tidak sedekat itu dengannya, hal begini saja masih bertanya," batin Al.


"Owh, lalu?"


"Saat aku menepikan mobil, aku berusaha mengejarnya, awalnya ia malah mempercepat laju langkahnya, beruntung aku berhasil menyusul, dan membawa ia masuk ke dalam mobil."


"Tetapi ...." ucapan Al terjeda.


"Selama di dalam mobil ia sama sekali tak bersuara, hanya saja aku melihat ada bekas cu**** di leher sebelah kanan, belum lagi sorot ketakutan terpancar jelas dari wajah Ve."


Kenzo mengepalkan tangannya, seolah ia cemburu akan hal yang baru saja dikatakan oleh Al.


"Niat hati ingin bertanya, tetapi aku rasa waktu itu sama sekali tidak tepat. Oleh karena itu aku pun tak bertanya lebih jauh padanya. Tetapi dari gelagatnya, aku yakin pasti ada yang tidak beres."


"Sebentar, lo bilang tadi kalau dia terlihat kacau, lalu bagaimana dengan pakaiannya?"


"Selama di perjalanan, ia selalu memegangi bajunya rapat-rapat, seperti ketakutan akan sesuatu."


Tiba-tiba ponsel milik Ken berbunyi, ada panggilan telepon dari Tristan.


"Tristan? tumben dia telepon?" batin Kenzo.


Karena penasaran, ia pun menerima panggilan tersebut.

__ADS_1


"Hallo, ada apa, Bro?"


"Bro, cepet lo liat situs sekolah, sekarang!" ucap Tristan panik.


"Memangnya kenapa?" Kenzo masih belum membuka karena ia masih menerima telepon darinya.


Kenzo pun segera memberi kode pada Al untuk membuka situs sekolah. Untung Al langsung membuka aplikasi tersebut, matanya langsung melotot tajam. Tanpa ia sadari ia menggebrak meja di depannya. Sorot mata Al memerah, seolah darah telah mendidih di dalam darahnya.


"Jadi, mereka melakukan itu padamu, Ve," gumam Al tidak terima.


"Ada apa?" tanya Kenzo khawatir.


Al segera menunjukan isi dari situs sekolah yang baru saja ia baca, lalu memberikannya pada Kenzo.


"Bu-bukankah itu, brengsek, siapa yang melakukan semua ini!" ucapnya kesal.


Kini ekspresi kedua pemuda tadi sama-sama marah, kesal dan kecewa. Seketika Kenzo memutus sambungan telepon itu.


Lalu mereka segera mengechek situs sekolah dengan cepat, ia tak mau Ve sampai tau tentang hal ini. Beruntung ia tak memiliki ponsel sehingga mereka yakin, kalau Ve tidak akan tahu tentang hal ini.


Beruntung saat itu Al dan Kenzo sudah resmi menjadi KETOS dan WAKETOS sehingga mereka bisa menyelidiki hal itu dengan cepat.


"Bagaimana ini bisa terjadi?"


"Aku seperti mengenal lelaki itu?"


"Sial, sebaiknya kita bawa hal ini ke jalur hukum!"


"Oke, sebaiknya memang begitu."


Lalu mereka sepakat untuk memberitahukan hal itu pada orangtua mereka, agar segera dilakukan rapat dewan sekolah untuk mengusut siapa yang berani menyebarkan hal seperti itu dalam situs sekolah.


Demi Ve, Al bahkan membuang rasa egonya untuk bekerja sama dengan Kenzo. Tentu saja untuk mencari siapa dalang dibalik aksi penyekapan kemarin.


Sayangnya Ve sedang bersiap untuk melakukan pembalasan dengan caranya sendiri. Kini ia pun sedang dalam perjalanan ke desa, dimana ia akan memperkuat ilmu bela dirinya.


Lalu apa yang akan dilakukan mereka, akankah Ve kembali ke sekolah dan Al bisa mengungkap semuanya? coment and like please😘


...🌹Bersambung🌹...


Oh ya jangan lupa dukungan like, rate dan favorit ya kak. Jangan lupa 🌹☕ dan VOTE untuk menyemangati Author, makasih banyak🙏🤗


Sambil nunggu othor up lagi, jangan lupa mampir di karya teman Fany


__ADS_1


__ADS_2