
"Dion ...."
"Iya, Ma!" teriak Dion dari arah belakang.
"Besok masuk sekolah, 'kan?"
Dion mendekati ruang dapur melihat Mamanya sibuk memasak. Ia memeluk Mamanya dari arah belakang.
"Haish, anak nakal, kenapa lagi?"
Dion menghembuskan nafas kasarnya di sana. Ia begitu bodoh dengan sikap wanita. Rasanya lebih mudah mengerjakan matematika ketimbang harus menaklukan seorang wanita.
"Hubunganku dengan Ve renggang Ma."
Mama Jihan menoleh."Loh, kok bisa?"
Dion melepaskan pelukan pada Mamanya lalu duduk bersandar pada meja. Matanya menerawang jauh memandang halaman belakang rumah yang hijau dan asri.
Mama Jihan menghentikan acara masaknya, lalu menaruh pisau di meja. Ia menoleh memandangi putranya yang menemaninya selama beberapa tahun ini. Ada gurat sendu yang terpancar di wajahnya.
"Coba katakan sama mama, memangnya ada apa sih, kamu kok sampai berkata seperti itu?"
"Aku ngerasa aku nggak pantas buat Ve, lagi pula ia sudah jauh berbeda. Dia teramat cantik untukku sementara aku ini apa," ucap Dion sambil menunduk dan tersenyum gamang.
"Apalagi banyak lelaki yang juga menyukai Ve. Kalau tidak salah dia juga satu sekolah kok, malah satu kelas."
"Trus kamu menyerah begitu saja?"
Dion mengangguk.
"Sebuah alasan yang klasik," ucap Mama.
Mama Dion melepas celemek yang ia pakai.
"Jadi lelaki tuh jangan cemen, masa beraninya sama Mama aja, pas berhadapan dengan wanita lain nyalinya menciut, trus kapan Mama bisa dapat mantu?"
"Mama, apaan sih, pacar juga belum punya masa disuruh cari mantu?"
"Wkwkwk, makanya cari pacar gih."
"Tapi aku sukanya cuma sama Ve."
"Ya kejar dong!"
"Takut sakit."
"Cemen ih, Mama nggak suka."
"Kamu itu belum berusaha, Sayang. Mungkin Ve belum menerima, karena kamu memang jauh berbeda dari dulu."
"Dulu kamu bagaikan pangeran berkuda putih yang selalu ada buat dia, bahkan tanpa dia minta kamu setia berada di sisinya."
"Apa aku terlalu insecure ya, Ma?"
"Mungkin."
Mama Jihan menoleh pada putranya.
"Kalau ingin mendapatkan hatinya, setidaknya jadilah dirimu yang pernah hadir dalam hidupnya. Jangan sekali-kali menjadi orang lain atau mencoba menjadi seperti yang ia suka."
"Be yourself, Dion," ucap Jihan sambil menepuk bahu putranya.
Dion mengangguk, lalu menoleh memandangi Mamanya. Sudah sejak lama Dion mengagumi sosok Mamanya. Ia menginginkan sosok wanita yang sama dengan Mamanya ini.
Hingga saat itu tiba, ia akhirnya menemukan sosok Ve yang sangat mengusik hatinya. Tetapi sepertinya Ve hanya menganggap hal itu seperti cinta monyet. Hingga ia lebih memilih bersama Al daripada dirinya. Mungkin karena ia terlalu lama bersembunyi sehingga posisinya tergantikan oleh yang lain, yaitu Al.
Tahun berganti hingga ia terpaksa pindah bersama kedua orang tuanya. Dion mencoba menghapus bayangan Ve, tetapi sama sekali tidak bisa. Rasa yang ia pupus itu berganti dan menjadi lebih besar saat ini.
__ADS_1
"Apakah aku mampu menjadi seperti yang ia mau, Ma?"
"Bisa, asal kamu berusaha semuanya bisa terjadi sesuai kehendakmu."
Mama Jihan merentangkan kedua tangan, membuat putra semata wayangnya datang dan memeluk dirinya. Dibelai dengan penuh kasih sayang rambut Dion, sambil sesekali diberi kecupan hangat khas seorang ibu.
"Mama selalu mendoakan kamu, Sayang."
"Terima kasih, Ma."
"Sama-sama, sayang."
.
.
...🌹Bersambung🌹...
.
.
...⚜⚜⚜...
...Rumah Sakit....
"Bagaimana keadaan, Nenek?"
Dokter sudah selesai memeriksa keadaan Nenek Safa. Tubuh tua itu terbaring dengan selang infus di salah satu tangannya, dengan wajah yang terlihat letih tergambar jelas di sana.
"Maaf, saya tidak bisa mengatakannya di sini, saya harap perwakilan dari keluarga ikut ke ruangan saya sebentar."
Ken, Ve dan Al saling memandang satu sama lain. Lalu Ve mengisyaratkan agar dirinya yang ikut dengan dokter tersebut.
"Biar, aku aja yang ikut sama dokter. Kalian jaga nenek."
"Mari, Nona. Ikut saya."
Setelah itu Ve segera mengekor dokter tersebut dan meninggalkan ruang rawat nenek. Sementara itu Al mencekal tangan Ken yang hendak pergi juga.
"Ikut aku, kita bicara sebentar."
Ken mengangguk, kini mereka keluar dari kamar nenek dan duduk di depan ruangan tersebut. Beberapa saat kemudian, mereka masih terdiam menunggu situasi agak sepi. Sampai akhirnya Al segera berbicara.
"Ken, jawab pertanyaanku dengan jujur."
Al menatap Ken dengan wajah sangat serius.
"Apa yang kamu katakan sama Ve itu benar, tentang status kamu dan Ve saat ini?" tanya Al to the point.
Ken terlihat santai saat ini, ia tau suatu saat Ve pasti bercerita dengan Al. Karena menurut informasi akhir-akhir ini hubungan mereka sangat dekat melebihi bayangannya.
"Iya, aku dan Ve adik kakak, tapi aku belum bertanya lebih pada kedua orang tuaku."
"Kenapa?"
"Al, aku baru mengetahui hal ini kemarin dan kau tanya kenapa? Sejak aku kembali dari Swiss, aku bahkan belum kembali ke rumah."
Ken menjeda kalimatnya.
"Kau tau, alasan pertama kedatangan aku ke sini, kembali ke Indonesia?"
"Itu semua karena Veeya, Al."
"Aku sudah mendapatkan kembali ingatanku, dan aku berusaha untuk mengungkapkan segalanya, tapi ...."
"Tapi aku malah mendapatkan sebuah kenyataan baru."
__ADS_1
Ken menutup wajahnya, ia tak mau Al mengasihani nasibnya. Ken juga tak mampu menatap Al karena bisa saja ia tertawa bahagia karena setelah ini ia akan mendapatkan Ve seutuhnya.
Tapi respon lain diberikan oleh Al. Ia mendekati sahabatnya itu dan memeluknya.
"Terima kasih karena telah jagain jodoh gue!" ucap Al yang membuat mata Ken melotot seketika saat memandangnya.
Ken menonyor tubuh Al, meski tak sakit, Al berpura-pura kesakitan agar sahabatnya itu tersenyum.
"Iya, iya, gua bahagia kok uda bisa jagain jodoh elu," ucap Ken asal, sambil tersenyum.
Ken dan Al kini tertawa akan tingkah konyol mereka barusan. Tapi tawa itu sirna ketika melihat Ve berjalan gontai ke arah mereka.
"Ve ..." teriak mereka khawatir.
Kedua pemuda itu lantas mendekatinya lalu memapahnya untuk duduk di kursi panjang yang tak jauh dari sana.
"Ada apa, Ve?" tanya Ken lembut.
Ve memeluk tubuh Ken dan menangis. Mata Ken melihat ke arah Al untuk meminta ijin, Al mengangguk. Lantas, dibelainya rambut Ve secara perlahan dan membiarkannya menangis sepuasnya di bahunya.
"Kenapa, ada apa? Kamu cerita aja sama kita, setidaknya dengan begitu bisa melepas beban yang ada pada dirimu!"
"Nenek, Kak."
"Ada apa dengan, Nenek?"
"Nenek kena serangan jantung."
Ken mengusap perlahan punggung Ve, mencoba memilihkan kata yang tepat agar bisa membuat hati Ve membaik. Lagi pula semua ini terjadi atas ulah ibu kandungnya sendiri.
Meski terasa panas di hati, tapi Al tak mau rasa cemburu di hatinya membuatnya gelap mata. Ia pun memilih masuk ke dalam ruang perawatan nenek sambil memikirkan cara apa yang bisa ia tempuh setelah ini untuk Ve dan neneknya.
.
.
"Lisa ... " sapa Aiden dari arah tangga.
"Kenapa kamu sudah rapi, pagi-pagi begini?"
Lisa menoleh menatap suaminya yang baru saja keluar.
"Memangnya tidak boleh berpakaian rapi pagi-pagi?" ucapnya dengan nada sinis.
"Hei, aku mengijinkanmu kembali ke sini bukan berarti aku mengijinkan kamu membuat masalah kembali."
"Apa maksudmu berkata demikian? Justru aku melakukan semua ini agar semuanya kembali seperti dulu, dan kita hidup aman."
"Lisa, jangan harap kamu bisa menindas darah dagingku, aku sudah melakukan semua keinginanmu, tapi kalau sampai aku mendengar kamu berani menganggu kehidupannya, aku jamin setelah ini statusmu bukan lagi menjadi anggota Keluarga Brawijaya."
"Hahaha, aku tidak takut, yang penting rasa sakitku terbalaskan!"
"Lisa!" bentak Aiden dengan amarah yang memuncak.
Sepertinya kehidupan yang ia berikan selama ini belum cukup membuatnya puas, apalagi Ve tumbuh cantik seperti Maya, membuat rasa dendamnya kembali muncul.
.
.
..."Ketika ambisi mengalahkan logika, maka jiwa jahatmu yang akan menang. Rasa kemanusiaan yang ada di dalam hatimu pun akan terkikis dengan perlahan."...
...⚜⚜⚜...
.
.
__ADS_1
...🌹Bersambung🌹...