
Happy reading all😘
Ternyata ancaman dari Dion dan Salsa bukan sekedar gertakan saja. Hari itu mereka benar-benar mengeksekusi Ve. Mungkin hari itu akan menjadi hari yang tak akan pernah dilupakan seumur hidupnya. Karena hal itu pula, ia tak akan menjadi gadis yang mudah percaya pada orang lain lagi.
Sepulang sekolah, seperti biasa Ve berjalan menuju halte di dekat sekolah. Hari itu Kenzo tidak bisa pulang bareng Ve, karena ia ada janji untuk mengantar ibunya ke sebuah acara sosialita.
"Ve, maaf aku nggak bisa pulang bareng kamu."
"Elah, nggak apa-apa lagi, Kak."
"Ya dah, aku pergi dulu, papay," pamit Kenzo pada Ve.
Lalu ia pun sampai di halte. Keadaan siang itu begitu sepi, mungkin karena hanya dirinya yang naik bus. Maklum saja, kebanyakan teman satu sekolah Ve adalah anak orang kaya, tidak seperti dirinya.
Berapa saat kemudian, ada seorang nenek yang menghampiri Ve. Ia meminta tolong pada Ve agar membantunya menyeberang jalan. Karena merasa iba, ia pun menolong nenek tersebut.
Belum sampai di tepi jalan, ternyata Ve dibius dari belakang. Ia sempat memberontak, sayangnya obat itu lebih cepat bereaksi ketimbang ia bisa melarikan diri darinya.
Ia dibawa dan dimasukkan ke dalam mobil. Salsa merasa senang karena ia bisa menaklukkan Ve dengan cepat, tanpa perlawanan yang berarti.
"Siapa suruh kamu berani dekat-dekat dengan Al, belum lagi sok kecantikan pakek deketin Kenzo pula!" gertak Salsa pada tubuh Ve yang pingsan.
Sementara itu, Dion yang menyetir hanya tertawa melihat tingkah Salsa. Bagi Dion hal seperti ini masih kurang extrim buat mengerjai seseorang. Bahkan di luar negeri ia bisa melakukan hal yang lebih dari rencana kali ini.
"Depan belok kiri," seru Salsa dari kursi belakang.
Dion pun mengikuti perintah dari Salsa. Karena jujur saja ia sama sekali tidak hafal dengan rute jalan di kota itu. Tetapi lain halnya Salsa yang terbiasa hidup unik, sangat hafal dengan tempat-tempat seperti ini.
"Good, kita udah sampai."
Di dalam mobil itu hanya ada Dion, Salsa dan Ve yang masih pingsan karena pengaruh obat bius. Salsa masih tertawa membayangkan jika nanti di sekolah Ve akan menjadi bahan bullying setelah rencananya kali ini berhasil.
Salsa berjalan lebih dulu, sementara itu Dion menggendong Ve dan berjalan di belakang Salsa.
Ternyata di dalam sana tak seburuk bayangan Dion. Meski itu sebuah gedung tua, di dalamnya cukup bersih dan tertata rapi.
"Hm, sepertinya tempat ini masih sering dipakai," gumam Dion sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.
"Syut, Dion, sini!"
__ADS_1
Dion kembali melihat Salsa yang sudah melambaikan tangan ke arahnya.
"Taruh aja Ve di situ." Salsa menunjuk kepada sebuah tumpukan kardus yang sudah disiapkan seperti alas untuk tidur.
"Loh, kok bengong! Cepetan, ntar keburu bangun orangnya!" ucap Salsa panik.
"Iya, cerewet banget, sih!"
Meski menggerutu, ternyata Ve benar-benar di taruh di sana. Tubuh Ve dibiarkan tergeletak di atas kardus bekas itu.
"Nih, tutup kepala buat kamu!"
Salsa lalu menyerahkan sebuah tutup kepala seperti topeng agar tidak keliatan saat nanti melakukan aksi bejatnya. Sesaat kemudian Dion sudah memakai tutup kepala itu.
"Buka bajunya, biar aku yang merekam!" titah Salsa.
Benar saja, Dion segera membuka satu persatu kancing baju seragam milik Ve. Terlihat jelas kulit berwarna sawo matang gadis itu begitu menggoda. Belum lagi dua bongkahan padat yang tertutup oleh kain hitam yang mengintip.
"Boleh juga tubuhnya," batin Dion.
Dion menelan salivanya secara kasar, ketika melihat kemolekan tubuh Ve. Sementara Salsa yang merekam adegan itu sudah gemas, karena Dion terlalu lama memandangi tubuh Ve.
Di saat yang sama, Ve mulai mendapatkan kesadarannya. Lalu ia pun bergerak karena merasakan sesuatu menyentuh tubuhnya, benar saja saat ia mulai membuka mata, ada lelaki yang sedang mencium dan menyesapnya lehernya.
Teriakan Ve berhasil membuat kaget Salsa dan Dion. Salsa segera berlari dari lokasi itu karena takut ketahuan. Sementara itu Dion masih berusaha untuk tetap mengukung tubuh Ve. Entah kenapa harum tubuh Ve begitu menenangkan Dion, membuat gejolak aneh seketika membakar na*** miliknya.
Di saat Dion hampir melecehkan Ve, ia bangkit lalu mulai menghajar tubuh Dion. Untung saja semua kancing baju Ve belum sepenuhnya terlepas, hingga ia pun sempat membetulkan beberapa biji kancingnya itu.
Sayangnya Dion lebih dulu membekukan tubuh Ve untuk kedua kalinya. Kedua tangan Ve sudah ditarik dan dikunci oleh Dion dari belakang. Disaat yang sama, Dion sempat melihat tanda lahir di belakang telinga Ve.
"Tanda ini?" gumam Dion sembari kedua matanya melotot.
Merasa Dion mulai lengah, Ve menyikut perut Dion lalu menghadiahi satu tendangan maut ke arah senjata pusaka milik Dion.
"Oh, damn it you," umpatnya kasar sambil memegangi Dion junior miliknya.
Beruntung Ve jago beladiri sehingga ia bisa lolos dari aksi bejat Dion. Ia pun berlari menjauh keluar dari gudang tua itu. Sementara itu Salsa masih bersembunyi di belakang gedung. Setelah melihat situasi yang aman, ia segera kembali ke dalam dan menolong Dion.
Untung disaat yang sama, ada mobil yang melintas area itu. Ve yang masih terengah-engah hanya bisa menunduk sambil mentralkan deru nafasnya yang masih memburu.
__ADS_1
Al yang melihat hal itu, segera menepikan mobilnya. Ia sempat mengejar Ve yang berlari karena ketakutan.
"Ve, ini aku," ucap Al sambil mengejarnya.
Ve pun berbalik dan tersenyum memandang Al. Ia segera berhambur untuk memeluk Al dengan segala ketakutan yang masih ia rasakan. Al tersentuh melihat keadaan Ve yang kacau balau. Tanpa meminta persetujuan Ve, Al menggendongnya untuk masuk ke dalam mobil.
Akhirnya hari itu, Ve bisa diselamatkan. Meski pada akhirnya hal itu membuat Ve sedikit trauma, bahkan ia tidak mengucap sepatah kata pun selama perjalanan menuju rumahnya.
Sepanjang perjalanan pulang, Al sama sekali tak berani bertanya pada Ve tentang kejadian yang baru saja di alaminya. Hanya saja bekas cup*** di leher Ve sebelah kanan membuat hati Al terbakar. Ia berjanji akan mengusut tuntas hal ini.
"Ada apa dengan Ve, Nak?" tanya nenek yang sudah terlihat sangat khawatir pada cucunya itu.
"Maaf, Nek, saya kurang tahu, tadi saya menemukan Ve sudah dalam keadaan seperti itu di pinggir jalan."
"Astaga, semoga dia baik-baik saja, terima kasih ya, Nak Al."
"Sama-sama, Nek. Saya permisi," pamit Al.
"Hati-hati."
Al mengangguk, lalu segera melanjutkan perjalanan menuju rumahnya. Setelah mengantarkan Ve pulang, Al segera menghubungi Kenzo untuk untuk meminta bantuan darinya. Al membuang jauh egonya demi melindungi gadis yang sudah mengusik hatinya selama beberapa minggu ini.
"Ada apa Al, tumben kau menghubungiku."
"Ve, ini demi Ve."
"Kenapa dengan Ve? tanya Kenzo terkejut.
"Aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, tapi aku menemukan dirinya terlihat kacau di pinggir jalan tadi."
"A-apa!"
"Lalu, apa yang akan kita lakukan?"
"Kita bahas di cafe sepulang sekolah besok, oke!"
"Oke."
Lalu apa yang akan mereka lakukan setelah ini? simak di up selanjutnya, terima kasih.
__ADS_1
...🌹Bersambung🌹...
Oh ya jangan lupa dukungan like, rate dan favorit ya kak. Jangan lupa 🌹☕ dan VOTE untuk menyemangati Author, makasih banyak🙏🤗