MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU

MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU
SEMAKIN DEKAT


__ADS_3

Dari hasil meeting tadi, sudah diputuskan jika panitia OSIS akan bekerja sama dengan pihak BANTARA sekolah untuk menghandle acara camping bulan depan.


Salah satu nama yang cukup membuat Al dan Kenzo geram adalah salah satu nama anak kelas 1A yang bernama Dion Wardana. Al dan Ken saling menatap satu sama lain, antara percaya dan tidak tapi kenyataannya memang hal itu yang terjadi.


Sepulang rapat, secara tak sengaja Al melihat Ve bersama Dion. Mereka berdua terlihat saling melempar senyum satu sama lain di sana. Membuat sebuah tanda tanya di hatinya.


Mungkinkah Ve mempermainkan hati Ken, tapi kenapa malah hatinya yang sakit saat ini. Tak terasa, salah satu tangannya mengepal. Sampai ketukan halus menyadarkan dirinya.


"Ngelamun, Bro?" tanya Tristan sambil menjilat lolipop miliknya.


Al segera menyingkirkan tangan Tristan yang masih setia menempel pada bahunya.


"Cemburu! atau masih ragu buat nyatain rasa suka loe ke dia?" ucap Tristan dengan entengnya.


Al segera memandang wajah Tristan.


"Maksud loe?"


"Dih, pakek kagak ngaku pula, kau ...."


"Kalau cinta bilang cinta, Bos. Jangan dipendam, cewek tu nggak bakal tau kita suka atau enggak kalau elu kagak bilang ma dia!"


"Apalagi ceweknya model Ve! Awokawok... dah ah gue mau pulang, ketimbang ngenes liat elu!"


Tanpa mau mendengar jawaban Al, Tristan segera berlalu untuk meninggalkannya.


Sementara Al masih memikirkan perkataan Tristan barusan. Apa benar gue sepenakut itu? Tak mau berlama-lama ia pun segera pergi meninggalkan area sekolah.


"Hei ...." sapa Ken pada Ve dan Dion.


"Cowok kamu dah jemput!" celetuk Dion pada Ve.


"Makasih, Bro! Udah jagain cewek gue."


Tak menjawab perkataan Ken, Dion hanya memberi hormat pada Ken lalu segera berlalu meninggalkan mereka.


Setelah kepergian Dion, Ve dan Ken segera pergi menuju parkiran untuk mengambil motor.

__ADS_1


"Duh, mau hujan nih, salah gue nggak bawa mobil."


Ken tampak menggerutu kali ini.


"Udah, nggak apa-apa, masih keburu kok, cuzz!"


Ken hendak memasangkan helm pada Ve tapi ia sudah lebih dulu selesai memakai helm miliknya sendiri. Tak mau menunggu lama, Ken segera memacu motornya meninggalkan area sekolah.


Tapi baru setengah jalan, hujan turun dengan derasnya.


BYUR ...


Air hujan turun dengan derasnya. Tapi Ken dan Ve tak mau berteduh karena sedikit lagi sampai di rumah Ve.


Di tengah guyuran hujan yang semakin lebat, mereka malah tampak menikmati moment itu sambil tertawa senang. Bahkan tangan Ve kini merentang seolah sedang bersiap memeluk hujan.


"Kamu suka Ve?"


"Suka banget, Kak. Aku rindu main air hujan," serunya dengan bahagia.


Meski matanya pedih, tapi dalam hati Ken ia bahagia melihat gadisnya sama sekali tak mengeluh ketika terkena air hujan. Berbeda sekali dengan cewek lain, pasti akan marah-marah ketika kehujanan.


Lima menit kemudian, motor Ken sudah memasuki area pekarangan rumah Ve. Mereka lalu bergegas untuk berlari ke arah teras karena teriakan nenek.


"Kalian kok hujan-hujanan, mana pulang sore lagi"


Dengan bibir bergetar, Ken menjawab pertanyaan dari Nenek.


"Ma-maaf, Nek. Tadi Ve aku ajak ikutan rapat OSIS, jadi pulangnya terlambat, maaf."


"Oalah, nggak apa-apa, ya sudah, ayo kalian masuk dan segera ganti baju biar nggak masuk angin."


Ve dan Ken saling memandang lalu mengangguk secara bersamaan. Setelah itu mereka bergantian ketika mengunakan kamar mandi. Maklum saja, kamar mandi milik Ve cuma satu, nggak kaya di rumah Ken yang banyak ruangannya.


Selesai mandi dan berganti baju, Ve segera membuatkan minuman hangat dan roti bakar untuk Ken dan dirinya. Sedangkan Ken sedang mandi dan berganti baju.


Sebelumnya, Ve meminjami kaos pada Ken dan celana bekas milik ayah Ve yang masih di simpan oleh nenek.

__ADS_1


Saat keluar dari kamar mandi, ketampanan Ken sama sekali tidak luntur meski ia memakai baju bekas milik ayahnya.


"Eh, pas ya? Enggak kegedean atau kekecilan, 'kan?" tanya nenek yang baru saja masuk ke ruang makan.


"Alhamdulillah pas, Nek."


"Maaf, bajunya nggak sebagus punya Kakak."


"Nggak apa-apa, Ve. Lagi pula ini pas kok, dan bersih."


"Ya, sudah silakan dimakan dulu, Kak."


"Apa ini, buatan kamu ya, makasih Ve," ucap Ken dengan mata berbinar.


Ia belum pernah merasakan kehangatan keluarga seperti ini sebelumnya. Kedua orang tuanya bahkan lebih sering tinggal di luar negeri ketimbang menemaninya tinggal di Indonesia.


Kedua mata Ve sangat terharu melihat hal seperti ini, matanya hampir berair kali ini. Ve yang kebetulan melihat raut wajah Ken yang sendu memegang tangan Ken.


"Kakak kenapa? Nggak enak ya? atau ...."


"Enggak kok, aku cuma terharu aja."


"Kenapa?"


"Selama ini aku selalu hidup sendiri Ve, Papa sama Mama lebih sayang dengan bisnisnya ketimbang dengan aku. Jadi mereka jarang tinggal di sini. Terakhir kali satu minggu yang lalu mereja tinggal lalu tiga hari kemudian sudah balik ke luar negeri."


"Maaf, aku nggak tau."


"Nggak apa-apa lagi, makasih ya buat roti bakarnya, enak banget, masih ada lagi nggak?"


"Ada, Kakak mau lagi, ayok bikin bareng."


"Oke, aku habiskan ini dulu ya!"


Akhirnya wajah sendu Ken kini telah berubah menjadi ceria kembali. Lalu kedua remaja tadi sudah bercanda ria di dapur sederhana milik Ve.


.

__ADS_1


.


...🌹Bersambung🌹...


__ADS_2