
Setelah menyelesaian semua administrasi dan beberapa berkas, dua hari lagi Ken akan pergi. Nanti malam ada sebuah pesta perpisahan di kediamannya. Hanya beberapa teman dekatnya saja yang ia undang ke acara ini. Tetapi semua anggota OSIS ia undang semuanya, tak terkecuali Al, tapi tidak dengan Ve.
"Ve, nanti kamu mau temani aku pergi ke pesta perpisahan Ken nggak?"
"Perpisahan? Emangnya beneran pindah?"
"Iya, kan semuanya sudah diurus, tinggal keberangkatannya aja yang belum."
Al mencoba memandang ke arah Ve. Ada tatapan kosong yang ia dapatkan ketika menatap bola matanya. Tapi Ve segera mengubah mimik wajahnya agar tidak terlihat sedih.
"Nggak, Kak. Aku ada acara pengajian di rumah bareng nenek, jadi aku tidak bisa keluar rumah nanti malam."
"Ya sudah kalau begitu."
"Biarkan saja mereka menghabiskan malamnya bersama Ken. Kalau kamu nggak datang aku juga nggak akan datang."
Ve menoleh ke arah Al. Ia bukanlah tipikal orang yang tega. Jika orang lain terluka karena dirinya ia pun tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Ya sudah, biar nanti aku bicara sama nenek, apakah boleh aku keluar atau tidak. Soalnya sebelum ini aku belum pernah keluar rumah pada malam hari."
"Benarkah?"
Ve mengangguk.
"Maaf karena aku telah memaksamu Ve, ini semua demi kebaikan kalian."
Beberapa saat lalu.
Sean sempat berpapasan dengan Al di perpustakaan. Ia mencekal lengan Al saat ia hendak keluar dari perpus.
"Mau apa Lu?"
"Maaf, Kak. Bisa kita bicara sebentar," ucap Sean sopan.
__ADS_1
"Boleh, silakan aja, tapi jangan lama-lama, aku nggak mau bikin anak-anak di kelas kelamaan menunggu."
"Iya, sans aja, Kak."
Sean kemudian mengajak Al duduk di tengah perpustakaan sebentar, lalu ia mulai mengatakan keinginannya.
"Trus, mau Lu apa?"
"Ajak Kak Ve datang ke rumah Kak Ken nanti malam."
"Nggak, nggak bakal gue lakuin hal itu. Lagian ini nggak ada untungnya buat Ve, yang ada dia semakin terluka jika mengetahui hal ini."
.
.
🍃Malam harinya.
"Nek, terima kasih sudah memberikan ijin pada kami untuk keluar rumah," pamit Al pada Nenek Safa.
"Siap, Nek."
Melihat kepergian Ve malam ini entah kenapa membuat hati nenek tidak tenang.
"Semoga Allah melindungimu selalu Ve, Aamiin."
.
.
"Ve, kamu beda banget malam ini, kelihatan makin cantik," puji Al berterus terang padanya.
"Makasih."
__ADS_1
Beruntung malam itu ia memakai gaun pemberian dari Al. Tapi Ve memakai gaun yang tertutup. Al benar-benar memilihkan gaun yang pas untuknya. Tapi ia juga tidak menyangka jika Al memaksanya pergi malam itu.
Dua puluh menit membelah jalanan ibu kota, kini tibalah mereka di kediaman milik orang tua Kenzo. Sebuah rumah bergaya klasik dengan halaman yang luas di depan rumah.
Al memarkirkan mobilnya di samping mobil Dion. Lalu ia pun menggandeng mesra Ve masuk ke dalam rumah.
"Woi, Pak Ketos datang," seru anak-anak lain yang melihat kedatangan Al.
"Wah, siapa yang digandeng itu ya, manis banget."
"Kenalin dong, ehem ..."
Meski wajah Ve tertutup sebuah topeng, tapi pahatan lekuk tubuhnya tak bisa membohongi siapa pun yang memandang Ve. Begitu pula dengan Ken yang memandanginya dari kejauhan.
Rasa sakit itu kembali menyerang kepala Ken dengan sangat kuat. Belum lagi detak jantung Ken yang menjadi berpacu lebih cepat.
"Kau kenapa Ken? Sakit lagi?" tanya Sean yang menyadari jika Ken kesakitan.
"Lepas! Biarkan aku disini!" ucap Ken sambil mengibas lengan Sean yang mencoba menyentuh kepalanya.
Jika sudah seperti ini, Sean lebih memilih pergi dan mengawasi Ken dari kejauhan. Sejak Ken hilang ingatan, tingkat emosinya juga sudah sangat berubah. Akan lebih mudah berdekatan dengannya sebelum ia kecelakaan.
Bukan hanya Sean yang menyadari hal itu tetapi semua pelayan di rumah itu juga merasakan hal yang sama.
Langkah Ve terhenti ketika melihat Ken dari kejauhan. Ada rasa aneh yang kembali menyerang hatinya saat ini. Tapi ia tak bisa pergi dari sana karena tangan Al mencegahnya.
Kini Ve dan Ken terjebak dalam masalah yang sama, dan mereka tak bisa membuka tabir misteri yang ada dihadapan mereka. Akankah ingatan masa lalu mereka akan segera kembali ataukah menghilang untuk selamanya.
.
.
Sambil nunggu up boleh mampir ke karya teman Fany, yaitu Adam dan Hawa karya kak Lavinka.
__ADS_1