OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 10


__ADS_3

Mahasiswa berhamburan keluar ruangan. Dinda berjalan pelan bersama Laura. Wajah keduanya tampak lesu.


"Banyak banget tugas kali ini..." keluh Laura.


"Setiap mata kuliah dosen itu pasti gini. Capek!" Dinda ikut mengeluh.


Keduanya melangkah mengarah ke perpustakaan.


"Kita kerjakan bareng lagi, biar cepat kelar," kata Laura bersemangat.


Mereka berdua kemudian terlihat sibuk memilih buku, diantara sekian banyak buku-buku yang ada di dalam perpustakaan.


"Kayaknya sudah semua, deh!" kata Dinda sambil meletakkan dua buku diatas buku-buku lain yang sudah menumpuk diatas meja.


Keduanya menatap buku-buku itu. Astaga, banyak sekali yang harus dibaca.


Kedua gadis itu mengeluarkan Laptop mereka dari tas masing masing.


Ketika mereka mulai mengerjakan tugas kuliah disitu, ada yang memperhatikan gerak gerik mereka dari kejauhan.


Orang itu tampak seakan sedang sibuk mengerjakan sesuatu di laptopnya, sehingga tidak kentara kalau dia sedang mengawasi kedua gadis itu. Headset menempel ditelinganya. Sesekali dia menatap lama kedua gadis itu.


"Akhirnya selesai juga..." Dinda merasa lega.


Laura meregangkan tubuhnya. Punggungnya terasa sakit karena terlalu lama duduk.


"Ayo kita pergi makan!" kata Laura sambil memegang perutnya yang sudah keroncongan sejak tadi.


Saking banyaknya tugas yang menghabiskan banyak waktu, kedua gadis itu sampai harus melewatkan jam makan siang.


"Kita makan dimana?" tanya Dinda yang mulai merapikan barang barang diatas meja.


"Di depan kampus aja. Kan ada rumah makan seafood baru di samping cafe. Aku mau mencobanya. Mau?" tanya Laura.


"Oke," jawab Dinda singkat.


Mereka berdua mengembalikan buku-buku kembali ke atas rak.


***


Rumah makan terlihat lengang.


Kok sepi? Kedua gadis itu bertatapan seakan saling memahami apa yang dipikirkan masing-masing.


Dinda melihat jam ditangannya. Sudah menunjukkan pukul tiga siang. Pantas saja, pikirnya.

__ADS_1


"Sudah jam tiga, pantasan sudah hampir nggak ada orang disini," ujar Dinda.


Laura hanya mengangguk. Dalam hati dia tetap khawatir, jangan-jangan makanannya memang tidak enak. Namun dia tetap memesan makanan, dan minuman untuk mereka berdua.


Diatas meja sudah tersaji seporsi udang asam manis, dua porsi nasi dan dua es teh manis.


"Kenapa pesannya gini aja? katanya lapar?" tanya Dinda merasa heran dengan porsi makanan didepan mereka.


"Kita coba aja dulu" jawab Laura enteng. Gadis itu menyuapkan sesendok makanan kemulutnya.


"Hmm..." Laura menggumam.


"Mbak! Aku mau cumi pedas!" kata gadis itu kepada seorang pelayan.


Tak lama kemudian, meja mereka sudah tersedia beberapa macam lauk. Ternyata makanannya enak. Laura menjadi kalap dan mulai memesan banyak.


Dinda hanya tersenyum melihat Laura makan dengan lahap.


Kembali disitu, ada lagi sepasang mata yang mengawasi mereka. Kali ini, Dinda mulai menyadarinya. Tapi dia masih menganggap kalau itu kebetulan saja.


Mereka menghabiskan makanannya. Lebih tepatnya, Laura yang banyak menghabiskan makanan pesanan. Kedua gadis itu kekenyangan.


Dalam hati Dinda sedikit heran dengan porsi makan Laura. Gadis itu makannya banyak tapi badannya tetap saja kurus. Metabolisme nya bagus banget, pikir Dinda. Dinda lalu tertawa kecil.


Laura bingung melihat temannya tertawa sendiri.


"Hehe, aku cuma heran. Makanmu banyak, tapi nggak gemuk-gemuk. Semua cuma jadi pup, kah? hahaha..." Dinda akhirnya tertawa lepas.


Laura cemberut. Gadis itu mencubit lengan Dinda.


"Kamu ini," Laura gemas dengan kata-kata Dinda yang menggodanya.


"Aku rutin nge-gym, Siisst!" Laura mengangkat lengannya menunjukkan sedikit otot yang menonjol dengan bangga.


Dinda tersenyum menahan tawanya.


Mereka berdua masih rumah makan itu sampai hari sudah hampir senja.


Tak sengaja Dinda melihat kearah seseorang disitu. Orang yang dari tadi menatap Dinda, jadi salah tingkah.


"Coba kamu liat tuh. Apa kamu kenal?" tanya Dinda, menunjuk orang itu dengan matanya.


Laura menoleh. Gadis itu terdiam, berpikir sejenak. Dia ingat sesuatu.


"Itu kan Rudi. Itu loh yang barengan ama Eko kemarin," kata Laura menjelaskan.

__ADS_1


Tanpa aba-aba, Laura lalu memanggil pemuda yang duduk agak jauh dari tempat mereka.


"Rud-Rudi!" teriak Laura.


Pemuda itu menoleh dengan perasaan gugup. Namun dia akhirnya memberanikan diri untuk menyahut.


"Iya!" jawab nya singkat.


"Sini Rud, duduk sini aja!" ajak Laura.


Pemuda itu berdiri dari bangkunya lalu berjalan mendekat.


Dia menarik salah satu bangku lalu duduk disitu.


Badan Rudi sedikit gemetar. Untung saja Laura orang yang ceria, bisa membantunya menghilangkan rasa salah tingkahnya.


"Sudah lama disini ? Kenapa nggak langsung datangi tempat duduk kami?" tanya Laura.


"Aku nggak enak, soalnya 'kan kita baru saja kenal. Takut dikira sok akrab," Rudi berusaha santai.


Dinda yang dari tadi hanya terdiam lalu berkata


"Padahal nggak apa-apa kok. Dari pada melihatin kami terus, bisa-bisa dikira lagi nguntit,"


Mendengar perkataan Dinda membuat jantung Rudi berdegup kencang.


Sebenarnya memang begitu adanya. Rudi merasa tertarik dengan Dinda sampai membuatnya ingin mengikuti agar bisa puas melihat wajah gadis itu.


Rudi menarik nafas berusaha tenang.


"Aku ngerjakan tugas tadi. Pas selesai, lalu kelaparan. Nggak taunya kalian juga ada disini. Mau aku datangi kalian berdua, tapi nggak enak, jadinya aku duduk disebelah sana" jelas Rudi menutupi niat aslinya.


Mereka lalu mengobrol disitu. Saling bercerita tentang kuliah mereka. Ternyata Rudi juga berkuliah di kampus yang sama dengan kedua gadis itu.


"Sorry, selama ini aku nggak perhatikan kalau kita itu satu ruangan," Kata Laura sambil menepuk jidat.


Dinda ikut mengangguk. Dia sadar kalau dia juga tidak terlalu memperdulikan rekan sekampusnya.


"Nggak apa-apa, aku juga nggak perhatikan kok" Kata Rudy masih berusaha santai.


"Kalau gitu nanti kita bisa kerjakan tugas bareng dong?!" Kata Laura bersemangat.


"Bener juga ya. Mau?" tanya Dinda.


Rudi mengangguk. Akhirnya kesempatan itu datang juga, pikirnya lega.

__ADS_1


Dia menunduk, menyembunyikan senyum kepuasannya.


__ADS_2