
"Jadi hang out bareng?" Begitu isi chat whatsapp Maman di layar ponsel Dinda.
Dinda yang sedang berbaring di kasurnya, merasa sangat malas bergerak. Dia baru saja sampai dirumah. Dia tidak membalas pesan itu.
Dinda menelpon Papanya. Setelah dirasanya puas mengobrol, mereka lalu mengakhiri panggilannya.
Dinda lalu bergegas pergi mandi. Kulitnya terasa lengket berminyak.
Merasa segar setelah mandi, capek dan malasnya tadi menghilang.
Dinda mengambil telepon genggamnya. Dia mulai mengetik
"Diajak hang out, kamu ikut juga kah?" Dinda mengirim chat kepada Laura
"iya, ayo kongkow bareng!"
"Kemana?"
"Kami sudah di taman, dekat pantai" isi balasan chat Laura.
Dinda membayangkan tempat itu. Bagus. Kalau jam segini sudah ramai pengunjung, gak jauh juga dari tempat tinggalnya. Lumayanlah untuk tempat santai sebentar.
"Ok, bentar aku siap-siap dulu" Dinda membalas pesan itu.
Dinda lalu bersiap-siap. Dia melajukan sepeda motornya, setelah berpamitan dengan mbok Inah.
Sesuai dugaannya pengunjung pantai sudah ramai. Dinda agak kesulitan mencari tempat untuk memarkir sepeda motornya.
Malam sabtu selalu saja padat begini, tapi seru juga sih, pikirnya.
Mata Dinda melihat kesana kemari mencari temannya. Tidak ketemu. Dinda mengambil ponselnya, lalu menelpon Laura.
"Hallo! Kamu dimana?" tanya Laura dari seberang.
"Aku sudah sampai. kalian duduk dimana?"
"Kamu ke pak lek gulali yang biasa kita beli, nanti kami kesitu!" kata Laura.
"Ok!" jawab Dinda yang kemudian mematikan telponnya.
__ADS_1
Tidak berapa lama, seseorang kemudian menepuk punggungnya.
Dinda berbalik.
Senyum diwajah tampan seorang pemuda menyambutnya. Rudi sudah berdiri disitu.
"Ayo, mereka di dekat air," kata Rudi.
Tanpa menunggu jawaban Dinda, Rudi memegang tangan gadis itu dan mengajaknya pergi.
Dinda merasa canggung, tapi setuju saja karena terlalu banyak orang disitu. Kalau tidak berpegangan tangan dia bakalan terpisah dengan Rudi. Nanti gak ketemu dimana Laura dan yang lain berkumpul, pikirnya.
Mereka kemudian terjebak diantara kerumunan orang banyak. Genggaman tangan Rudi hampir terlepas, Rudi lalu melingkarkan tangannya di pinggang Dinda, dan menerobos kerumunan itu.
Dinda merasa canggung dengan perlakuan Rudi.
Pemuda itu berbahu lebar dengan perawakan tinggi lebih dari rata-rata orang sebayanya. Sehingga dengan mudah, mereka berdua bisa berlalu dari situ. Dinda merasakan kehangatan pelukkan Rudi. Dia mencium aroma harum parfum ditubuh pemuda itu.
Jantungnya berdegup kencang.
Astaga, jangan bodoh kamu baru saja mengenalnya, Dinda memaki dirinya sendiri.
Tanpa sadar tangan Rudi masih melingkar di pinggang Dinda sampai mereka tiba ditempat teman temannya duduk.
Rudi melepas tangannya dari pinggang Dinda. Wajah Dinda memerah karena malu.
Dinda duduk didekat Laura dan Eko yang juga duduk berdampingan di tikar yang dialas disitu. Sedangkan Rudi duduk disamping Maman, yang hampir berhadapan dengan Dinda.
Dinda melihat Rudi tersenyum kearahnya. Gadis itu merasa canggung sekali. Tapi dia berusaha tersenyum dan bertingkah biasa.
Mata mereka, Rudi dan Dinda terkadang beradu disela sela obrolan.
Dinda selalu mengalihkan pandangannya ketika itu terjadi.
Eko mengajak Laura berjalan menyusuri pantai. Sedangkan Maman sibuk memainkan game di telepon genggamnya.
Rudi dan Dinda bertatapan.
"Mau jalan kesana?" tanya Rudi memecah keheningan diantara mereka.
__ADS_1
Dinda melihat kesana kemari, Eko dan Laura jauh diujung pantai. Dia melirik Maman.
Tidak ada yang bisa diajak mengobrol, pikir Dinda.
"Iya," jawab Dinda, meski merasa sedikit enggan.
Mereka berdua lalu melangkah pelan di pinggir pantai. Ombak terkadang membasahi kaki Dinda yang sudah tidak memakai sendalnya lagi.
"Nggak dingin?" tanya Rudi.
"Nggak, sih!" jawab Dinda santai.
Mereka lalu mengobrol sambil berjalan jalan. Rudi ternyata orang yang menyenangkan.
Dinda menikmati perbincangannya dengan Rudi. Gadis itu merasa seakan sudah lama mengenal Rudi, karena percakapan mereka saat itu. Mereka berjalan sampai jauh dari tempat semula.
Ketika berjalan mengarah kembali ke tempat duduk mereka, tiba tiba ombak yang datang cukup besar, cukup membuat cipratan sampai ke kaus Dinda.
Dinda mulai merasa dingin angin pantai. Dia melihat ketempat mereka duduk tadi. Masih lumayan jauh. Jaketnya disitu tadi. Seketika dia menyesali kebodohannya berjalan di dekat air. Badan gadis itu gemetar ketika tertiup angin.
Rudi yang menyadari itu langsung memeluk Dinda.
"Biar nggak kedinginan," kata Rudi duluan menjelaskan, seolah tahu apa yang akan dikatakan Dinda.
Akhirnya Dinda pasrah saja. Dia hanya terdiam tanpa sempat berkata-kata.
Pelukan Rudi menimbulkan perasaan aneh muncul lagi. Dinda kembali berdegup kencang.
Dinda kehilangan konsentrasinya. Gadis itu terjatuh ke pasir. Rudi yang memeluknya ikut tertarik beban tubuh Dinda ke pasir. Mereka berdua terjatuh bersampingan. Wajah Rudi dekat sekali jaraknya dengan wajah Dinda.
Mereka bertatapan. Masih terbaring di pasir, Rudi menggeser rambut Dinda, yang menutup sebagian wajah gadis itu sambil tertawa kecil.
Entah siapa yang mendekat terlebih dahulu, selanjutnya bibir mereka berdua sudah bertemu.
Mereka berciuman penuh hasrat.
Rudi mel*mat bibir Dinda. Gadis itu pun membalas ciuman Rudi tanpa ada rasa penolakkan.
Mereka menikmati ciuman itu beberapa saat, sebelum mereka seakan tersadar.
__ADS_1
Rudi berdiri menyodorkan tangannya untuk membantu Dinda berdiri. Mereka berdua meneruskan perjalanan kembali ke tempat teman temannya duduk, tanpa mengeluarkan satu patah kata pun.
Sampai mereka semua bubar dari tempat itu, tidak satu pun dari Dinda maupun Rudi, yang mengeluarkan suara. Mereka hanya sesekali bertatapan tanpa ekspresi.