OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 92


__ADS_3

Dinda merasa sangat gelisah pagi itu. Sudah waktunya untuk Dia berangkat kerja, tapi dia belum bisa melepaskan pelukannya pada Billy.


"Kamu nggak kekantor hari ini?" tanya Billy, sambil mengelus rambut dibagian belakang kepala Dinda.


"Kamu temani aku ke kantor, yaa?" pinta Dinda manja.


"Iya. Siap-siap sudah sana! Nanti aku temani kamu sampai parkiran," ujar Billy.


"Itu bukan temani, itu cuma ngantar kalau cuma sampai parkiran," ujar Dinda merengek.


"Lah! Terus, kamu mau aku ikut kedalam kantormu?" tanya Billy, sambil tertawa pelan.


Dinda kesal ditertawakan Billy seperti itu.


"Iya!" jawab Dinda ketus.


"Yaa sudah...! Siap sudah sana!" ujar Bily lembut.


Dinda berdiri, lalu mulai bersiap untuk berangkat kerja.


Billy kemudian mengantarkannya ke kantor.


"Aku tunggu disini?" tanya Billy, saat mereka sudah diparkiran kantor Dinda.


Dinda cemberut.


"Aku nggak mau kerja..." ujarnya memelas.


Dinda berpindah tempat duduk, keatas pangkuan Billy. Dia merangkul leher Billy, lalu menyandarkan wajahnya di pipi lelaki itu.


Billy jadi bingung sendiri, menghadapi Dinda yang jadi kelewatan manja.


Billy memeluknya, sambil mengusap-usap punggung Dinda.


"Serius kamu mau berhenti kerja? Atau cuma mau libur sementara?" tanya Billy, setengah berbisik di telinga Dinda.


"Aku nggak mau kamu jauh dariku..." ujar Dinda.


"Bagaimana baiknya yaa?" Dinda balik bertanya. Dia juga bingung, dengan apa yang dia mau.


"Aku bantu ijinkan kamu hari ini kalau begitu," ujar Billy, menenangkan Dinda.


Billy tahu kalau bukan karena bawaan orok, Dinda tidak akan mau berhenti kerja begitu saja.


Dinda merasa sangat senang, saat mendengar perkataan Billy. Dia mengecup pipi lelaki itu, kemudian mempererat rangkulannya.


"Eehh...! Aku nggak bisa nafas nanti!" ujar Billy, sambil terkekeh.


Dinda menatap Billy lekat-lekat.


Billy mengecup bibir Dinda sekilas, agar Dinda berhenti menatapnya.


Tapi Dinda malah mendekat, kemudian mencium bibir Billy dengan lembut.


Billy gemas dengan kelakuan Dinda. Dia membalas ciuman Dinda, sampai Dinda yang kewalahan, dan akhirnya mundur sendiri.

__ADS_1


"Kenapa berhenti? Sendiri yang mau tadi, 'kan?" ujar Billy, sambil tersenyum.


Dinda kembali mendekatkan wajahnya, sampai hidungnya menempel di hidung Billy. Dia mengusap-usap pipi Billy, dengan kedua tangannya.


Billy hanya memegang pinggang Dinda, dan membiarkan Dinda berbuat apa yang Dinda mau diwajahnya.


Selama Billy kenal Dinda, tidak pernah Dinda yang memancingnya seperti itu. Segitunya 'kah, orang yang ngidam, nih? Untungnya denganku, bukan dengan orang lain, pikir Billy.


Bibir Dinda dicium Billy lagi dengan lembut. Dia tahu caranya, agar Atasan Dinda tidak mengganggu Dinda meski Dinda tidak bekerja sementara.


Tapi, bagaimana caranya bicara dengan Papa? Apa papanya mau mengerti? Billy tinggal menunggu mamanya saja, yang mungkin bisa membantu memberi solusi.


Billy tidak tega kalau cuma karena bawaan hamil, lalu Dinda harus mengorbankan cita-citanya. Dinda sudah berusaha, dan hampir sampai ditujuan. Tidak mungkin Billy biarkan Dinda gagal, saat tinggal beberapa bulan lagi selesai.


"Aku nanti coba uruskan, agar kamu bisa istirahat bekerja, sampai kamu sudah nggak clingy kayak gini lagi," celetuk Billy.


Dinda tidak menyahut. Kalau dia bisa mengatur keinginannya, dia sebenarnya tidak mau merepotkan Billy. Dinda merasa bersalah, tapi dia juga tidak tahu harus bagaimana.


Dinda tertunduk.


Billy memegang dagu Dinda, lalu mengangkat wajahnya.


"Nggak apa-apa. Nggak usah dipikirkan..." Billy menatap mata Dinda lekat-lekat.


"Kata mama, dia begini juga dengan papa, waktu lagi mengandungku," sambung Billy. Dia tidak mau Dinda merasa sedih.


"Ini juga salahku, membuatmu hamil di waktu yang kurang tepat untukmu..." ujar Billy, seakan menyesali perbuatannya.


Meski dalam hati Billy yang sebenarnya, tidak ada rasa penyesalan, dia malah senang. Karena dengan begini, Billy tidak perlu khawatir, Dinda akan bersama orang lain.


Dinda tidak menyalahkan Billy, semua sudah terjadi. Toh, Billy mau bertanggung jawab, pikir Dinda.


"Kita pulang saja? Atau mau yang lain?" tanya Billy.


"Kita pulang aja..." jawab Dinda. Dia kembali duduk dikursi penumpang di samping Billy, yang kemudian menyalakan mesin mobil, membawa mereka kembali kerumah Dinda.


Billy menggendong Dinda kedalam kamar, saat mereka sudah sampai dirumah Dinda.


Mereka tidak memperdulikan mbok Inah, yang menatap mereka dengan tatapan heran. Billy hanya menyapa sekedarnya pada mbok Inah, sambil terus berjalan masuk ke kamar.


Dinda menarik Billy, agar terbaring diatas ranjang. Dia lalu duduk diperut Billy, yang sudah terlentang.


Dinda kemudian buru-buru membuka kancing kemeja yang dipakai Billy, membiarkan lelaki itu bertelanjang dada.


Dinda membenamkan wajahnya di dada lelaki itu, dan menghirup aroma tubuh Billy yang wangi.


Rasanya, Dinda seakan bisa gila, kalau dia tidak bisa menikmati harumnya tubuh Billy. Dia meraba-raba dada Billy dengan tangannya, sambil wajahnya masih menempel disitu.


Billy merasa geli, karena hembusan nafas, dan gerakan jari tangan Dinda, yang berputar-putar didadanya. Dia tertawa pelan.


Meski, karena Billy tertawa membuat kepala Dinda agak berguncang, tapi dia tidak perduli, tetap saja Dinda bersandar disitu. Jari tangannya bermain sampai keperut Billy.


Billy menahan tangan Dinda, yang menyentuh hampir ke kancing celananya.


Dinda mengangkat wajahnya. Dia menatap Billy yang memegang tangannya.

__ADS_1


"Kalau kamu sampai ke bawah sana, aku nggak mau berhenti!" ujar Billy, yang kemudian meletakkan tangan Dinda diatas dadanya.


Larangan Billy seperti jadi perintah bagi Dinda. Dia merayap menuruni perut Billy. Tangan Dinda membuka kancing, dan ritsleting celana panjang Billy. Dia mengeluarkan milik Billy, lalu memasukkannya ke mulutnya.


Dinda memainkan milik Billy didalam mulutnya, sesekali dia menjilati kantong yang menempel dimilik Billy.


Billy terduduk. Dia tak tahan dengan gerak-gerik mulut Dinda di miliknya. Billy menarik badannya, lalu menyandarkan punggungnya dikepala ranjang.


Dinda menarik lepas celana yang Billy pakai. Dia kemudian menikmati milik Billy yang sudah mengeras, dengan mulutnya.


Billy tak bisa menahannya lagi, dia mengangkat tubuh Dinda, agar berhenti bermain disitu. Billy mendudukan Dinda diatas pangkuannya. Dengan agak kasar, melepas semua yang Dinda pakai, sampai tak ada yang menutupi kulit Dinda lagi.


Billy menunduk sedikit, sampai mulutnya mencapai buah dada Dinda. Dia menikmati kenyalnya benda itu. Kedua tangannya juga tidak mau kalah aktif, ada yang memegang buah dada, ada yang meremas pipi bokong Dinda.


Billy menciumi leher Dinda. Tangannya memainkan p*ting Dinda yang mulai mengeras. Dinda menggeliat. Billy mengangkat bokong Dinda, kemudian menurunkannya lagi sampai miliknya tenggelam dalam tubuh Dinda.


Kedua tangan Billy memegang bokong Dinda. Dia membantu menggerakkan badan Dinda diatasnya.


Keduanya mend*s*h.


Dinda memajukan dadanya, agar Billy bisa memainkan buah dadanya dengan mulut Billy, sedangkan tangan Dinda, melewati bagian belakang Dinda, menyentuh pangkal paha Billy sampai ke kantong yang lembut. Tangan Dinda memainkannya.


Semakin lama, gerakkan mereka semakin cepat dan kasar.


Billy menekan miliknya, agar tenggelam semuanya kedalam tubuh Dinda. Nafas memburu, keringat mulai menetes sampai tubuh bergetar hebat. Keduanya mengerang bersamaan.


Billy mencium leher Dinda. Dia seakan tak mau berhenti sampai leher Dinda berbekas merah. Mereka tidak bergeser, milik Billy masih di dalam tubuh Dinda.


Saat Billy sibuk di leher dan buah dada Dinda, gadis itu mengelap sisa cairan dengan tissue. Sampai dia merasa cukup kering, Dinda mulai bergerak lagi. Tangannya memainkan kantong millik Billy.


Billy makin ganas menikmati buah dada Dinda, milik Billy kembali siap beraksi.


Dinda bisa merasakan tekanan didalam tubuhnya, dia tidak berhenti memainkan kantong Billy sampai milik Billy, benar-benar terasa kuat menekan kedalam tubuh Dinda.


Mereka berciuman, sambil bergerak menikmati setiap gesekkan yang terasa hangat, dan berkedut membuat jantung berpacu lebih cepat.


Semakin lama, semakin mereka mempercepat gerakannya. Sampai keduanya kembali mengerang.~


"Aku lapar...!" ujar Dinda.


Billy lalu membawa Dinda, untuk membersihkan diri dikamar mandi.


Setelah berpakaian, baru mereka keluar dari kamar langsung menuju meja makan. Tak lama mereka duduk disitu, terlihat mbok Inah berjalan masuk sambil membawa keranjang belanjaan.


"Non masih sakit?" tanya mbok Inah.


Dinda menggeleng.


"Nggak, mbok! Cuma mau istirahat aja dulu," sahut Dinda.


"Ooh... Mbok kira, Non Dinda sakit. Ini, mbok mau masakkan sup," ujar mbok Inah.


"Nanti siang aku makan supnya, Mbok!" ujar Dinda, sambil menunjukkan roti sandwich, yang dia dan Billy makan.


"Eh! Mama mungkin nyampe siang ini. Aku akan menjemputnya dibandara. Kamu ikut?" tanya Billy.

__ADS_1


"Iya," jawab Dinda, sambil menyuap potongan roti ke mulutnya.


__ADS_2