OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 91


__ADS_3

"Bagaimana perkembangan kasus Mita?" tanya Billy, saat mereka berdua sedang sarapan bersama.


"Aku kurang tahu... Waktu aku dipanggil untuk diperiksa, nggak ada di jelaskan detail perkembangan kasusnya. Hanya yang aku tahu, kalau Mita masih tidak mau bicara," jawab Dinda, dengan rasa enggan. Dia tidak berminat membicarakan Mita.


"Apa nggak ada diberitahu, kapan dimulai persidangan Mita?" tanya Billy.


"Katanya sih, nggak lama lagi," ujar Dinda asal.


Billy menyadari ketidak sukaan Dinda membahas hal itu. Jadi dia memilih untuk berhenti menanyakan itu pada Dinda.


"Kamu mau jalan-jalan?" tanya Billy, mengalihkan pembicaraan.


"Males," ujar Dinda. Wajahnya tampak lesu.


"Hmm..." Billy menggumam.


"Kenapa?" tanya Dinda.


"Aku tadi minta bantuan mama, untuk uruskan acara pernikahan kita. Aku cuma penasaran, kalau kamu mau mencoba melihat-lihat gaun pengantin, untuk kamu pakai," ujar Billy, sambil senyum-senyum.


Dinda terdiam. Dia berpikir kalau hal itu masih terlalu terburu-buru. Tapi dia juga tidak mau, kalau anaknya lahir saat dia belum menikah. Mumpung perut belum membesar, dalam waktu dekat ini, dia memang harus sudah menikah.


"Aku siap-siap dulu!" ujar Dinda bersemangat, sambil berdiri, dan berjalan kearah kamarnya.


Billy lalu merapikan peralatan makan bekas mereka, dari atas meja. Kemudian menyusul Dinda kekamar. Dia melihat Dinda memoleskan lipgloss di bibirnya. Billy mendekat kemudian memeluknya dari belakang.


Dinda berbalik.


"Ayo kita pergi! Aku begini saja ya?!" ujar Dinda, yang hanya mengenakan kaus, dan celana selutut, dengan sepatu kasual.


Billy mengangguk kemudian mencium bibir Dinda.


"Percuma, aku pake lipstik kalo begini..." ujar Dinda menggerutu.


Billy tidak perduli, dia kembali mencium bibir Dinda dengan penuh kasih sayang. Dia memeluk Dinda, sampai kaki gadis itu terangkat dari lantai.


Sambil menggendong Dinda, Billy berjalan keluar dari rumah menuju ke mobilnya. Billy membawa Dinda ke salah satu toko, yang menjual gaun pengantin, berpatokan pada rating di google maps.


Satu persatu, Dinda mencoba gaun pengantin, dibantu karyawan toko. Billy hanya senyum-senyum tanpa membantu Dinda memilih.


"Yang mana? Capek loh...!" keluh Dinda, dengan wajah cemberut.


Billy mendekat lalu memeluk Dinda.


"Aku juga bingung... Kamu kelihatan sangat cantik," ujar Billy, sambil mengecup pucuk kepala Dinda.


"Apa aku harus khawatir?" tanya Billy lembut.


"Khawatir apa?" tanya Dinda heran.


"Khawatir kalau kamu direbut orang," celetuk Billy.


"Hadeh...! Kamu ini ada-ada aja." Dinda balas memeluk Billy erat-erat.


"Aku coba lagi, yaa!" seru Dinda, dia mau cepat menyelesaikan pencarian itu.


Billy mengendurkan pelukannya. Kini, dia ikut berkeliling melihat-lihat gaun pengantin, yang disimpan dalam kotak-kotak kaca. Matanya tertuju pada salah satu, yang dia rasa menarik perhatiannya.


"Sayang...! Coba kamu pakai itu!" ujar Billy, sambil menunjuk gaun yang dia lihat tadi, kepada Dinda.


Dinda mengangguk.


Karyawan toko lalu membuka kotak kaca, dan mengambil gaun untuk di pakai Dinda.

__ADS_1


Billy terpana melihat Dinda dalam gaun itu. Kekasihnya itu terlihat sangat cantik. Billy kemudian melihat Dinda dari dekat.


"Kamu cantik sekali sayang...!" ujar Billy lembut. Dia tidak bisa menahan rasa kagumnya, melihat sang calon pengantin. Billy mencium bibir Dinda lama, sampai karyawan toko menjauh dari situ.


Dinda melepas pelukan, dan ciuman Billy.


"Sudah! Aku malu!" ujar Dinda, pipinya memerah.


Billy tersenyum. Kemudian memanggil karyawan toko itu, meminta mereka mempersiapkan gaun itu.


"Untuk resepsinya nanti, apa ada modelnya yang kamu mau? Biar sekalian kita pergi ke penjahit sekarang," ujar Billy saat mereka sudah didalam mobil.


"Nanti aja! Aku mau singgah minum dulu," sahut Dinda.


Billy lalu membawa Dinda, pergi ke sebuah cafe yang tidak jauh dari situ.


Ketika mereka berdua sedang duduk menunggu pesanannya diantar, ada sesuatu yang membuat Dinda jadi merasa kurang nyaman.


Tidak jauh dari tempat mereka duduk, Dinda melihat Rudi, Alex, dan Laura sedang duduk bersama.


Billy juga melihatnya. Dia merasa ini kesempatan yang tepat untuk memberitahu mereka sekaligus.


Billy berdiri, tanpa memberitahu tujuannya pada Dinda, langsung mendatangi tempat teman-temannya itu duduk.


Dinda tidak sempat menahan Billy. Dia hanya bisa terdiam menatap Billy.


Tak lama, ketiga temannya itu berdiri, lalu ikut dengan Billy, berpindah tempat duduk di meja tempat Dinda, dan Billy duduk.


"Aku pikir kamu sibuk, makanya aku nggak menghubungimu saat aku kumpul-kumpul dengan mereka," ujar Laura, sambil memberi tanda dengan matanya pada Dinda, kalau Rudi tidak siap bertemu dengan Dinda.


Dinda mengerti isyarat Laura.


"Nggak apa-apa. Memang, beberapa hari kemarin aku sibuk dikantor," ujar Dinda. Dia bisa melihat kalau Rudi tidak mau menatapnya.


"Kami akan menikah dalam waktu dekat ini," celetuk Billy, tanpa aba-aba.


Semua membelalakkan mata.


Laura berdiri hampir meloncat dari kursinya, lalu mendekat pada Dinda, dan memeluknya erat-erat.


"Serius?" tanya Laura.


Dinda menganggukkan kepalanya.


"Aaahh...! Selamat, yaa!" seru Laura bersemangat.


Rudi mengangkat wajahnya, kemudian menatap Dinda. Mata lelaki itu berkaca-kaca seolah sedang menahan tangis. Tapi dia tidak mengeluarkan kata apa-apa dari mulutnya.


Dinda bertatapan dengan Rudi.


Rudi bisa melihat kalau tatapan Dinda, sudah tidak sama seperti saat mereka bersama. Mata Dinda tidak menyiratkan rasa cinta kepada Rudi, seperti dulu.


Rudi sangat kecewa, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa. Itu semua karena kesalahannya sendiri.


Air mata Rudi yang sudah diujung, tak terbendung. Lelaki itu menangis tanpa bersuara. Rudi mengusap air matanya dengan kasar, kemudian berdiri, lalu pergi dari situ, tanpa bicara apa-apa.


Dinda dan yang lainnya, hanya bisa melihat Rudi pergi, tanpa ada yang mau menghentikan langkah lelaki itu.


Suasana di tempat itu jadi kurang menyenangkan.


Semuanya terdiam untuk beberapa waktu, tenggelam dalam pikiran masing-masing.


"Kamu nggak apa-apa?" bisik Billy, sambil memegang tangan Dinda.

__ADS_1


Dinda mengangguk pelan. Dia tidak menyalahkan siapa-siapa, apalagi Billy. Tidak salah jika Billy memberitahu hal itu, cepat atau lambat mereka semua pasti akan tahu.


"Kalian kok baru kasih tahu sih?" tanya Laura.


"Baru kemarin kami terpikir rencana itu," ujar Dinda pelan.


Laura mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian berbisik ditelinga Dinda.


"Aku juga pacaran dengan Alex. Baru jadian tadi malam," bisik Laura senang.


Dinda terbelalak. Dia lalu menatap Alex yang tampak biasa aja.


"Nggak usah kamu pikirkan Rudi... Nanti juga dia bisa mengerti. Kalau aku sih sudah merasa, kalau kamu akan memilih Billy. Aku bisa melihat dari caramu melihat kami," celetuk Alex.


"Aku lebih baik mundur teratur," sambung Alex, sambil tersenyum.


Billy tampak sangat bangga. Dia merangkul pundak Dinda.


Mereka kemudian berbincang-bincang santai, sambil menikmati minumannya ditempat itu.


Dinda mengunci rapat-rapat soal kehamilannya.


Saat Billy hampir bicara tentang itu, Dinda mengalihkan pembicaraan mereka. Billy tidak protes. Billy mengerti, kalau Dinda masih belum mau bicara tentang itu.


"Kamu marah denganku nggak?" tanya Billy, saat mereka sudah berpisah dengan teman-teman yang lain, dan sudah dalam perjalanan pulang kerumah Dinda.


"Nggak," jawab Dinda singkat.


"Maafkan aku... Aku bukannya mau membuat kamu merasa nggak nyaman dengan Rudi. Aku cuma mau mereka tahu, karena mereka teman-teman mu juga," ujar Billy, sambil memarkirkan mobilnya didalam halaman rumah Dinda.


"Mereka tetap akan tahu juga nantinya..." ujar Dinda pelan, sambil membuka pintu hendak turun dari mobil.


Mereka berdua berjalan pelan masuk kedalam rumah.


Sambil duduk diruang tengah, mereka berdua menonton siaran ditelevisi.


"Aku penasaran... Apa kamu masih ada hati untuk Rudi?" tanya Billy cemas.


"Aku nggak mau bohong. Jelas masih ada meski hanya sedikit, kami kan baru saja berpisah setelah sekian lama bersama. Tapi tampaknya, dia memang bukan untuk aku. Dia sendiri yang berhenti ditengah jalan," kata Dinda menjelaskan. Dia menyadari kalau Billy masih merasa khawatir.


Billy mempererat rangkulannya di pundak Dinda, yang bersandar di dadanya.


"Terus terang aku takut kalau kamu masih memikirkan Rudi. Kita menikah nggak pakai konsep open merid. Aku hanya untukmu, begitu juga aku mau kamu, hanya untuk aku," ujar Billy tegas.


Dinda tersenyum.


"Kamu pikir aku setuju dengan konsep itu?! Yaa enggak, lah! Aku malah bingung, kalau ada yang mau begitu, kayak kamu dengan mantanmu!" ujar Dinda, menggoda Billy.


Billy mengangkat wajah Dinda, agar mereka bisa bertatapan.


"Aku mencintaimu...! Jangan kamu bandingkan dengan kontrak bisnis!" ujar Billy, sambil menatap mata Dinda, dengan sorot mata tajam.


Dinda tersenyum.


"Masa sih? bukannya enak kalau sudah menikah tapi bisa pacaran sana-sini?" ujar Dinda, masih saja menggoda Billy.


Billy mengangkat Dinda, lalu meletakkannya berhadap-hadapan diatas pangkuannya.


"Jangan bercanda...! Aku nggak rela, kalau kamu sampai bersama orang lain. Kecuali, kamu mau membunuhku," kata Billy serius.


Dinda kembali tersenyum nakal.


"Kamu berani menggodaku? Aku akan menciummu sampai kamu berhenti melakukannya," ujar Billy.

__ADS_1


Billy tahu kalau Dinda memang hanya berniat menggodanya terus. Billy tidak marah, dia ikut tersenyum lalu mencium bibir Dinda. Dia tidak perduli dengan Dinda, yang meronta dipelukannya.


"Iya... Aku menyerah!" ujar Dinda, dengan nafas terengah-engah. Dia kemudian menyandarkan wajahnya di leher Billy, dan mengecupnya pelan.


__ADS_2