
Telepon genggam Billy bergetar berulang-ulang.
Rudi melirik kearah Billy. Ponsel Billy ada ditangannya, tapi Billy tampak tidak menghiraukan, hanya memegang dan menatap layarnya tanpa bereaksi.
Rudi kembali melihat layar ponselnya. Dia tidak perduli dengan tingkah Billy.
Kemudian terdengar nada dering dari kamar Dinda. Telepon genggam Dinda lagi yang berbunyi. Rudi melihat Dinda menyambut telponnya. Tidak terdengar oleh Rudi apa yang dibicarakan Dinda.
Sekitar beberapa menit kemudian, Rudi melihat Dinda beranjak dari kasur. Dinda meletakkan handphonenya ke meja disamping ranjangnya. Dinda lalu berdiri dipintu kamar.
"Billy! Aku mau bicara denganmu!" kata Dinda.
Dinda kembali ke dalam kamarnya. Billy menyusul tanpa banyak bersuara.
Dinda duduk dikursi di dekat jendela, Billy ikut duduk didekatnya. Mereka berdua mengobrol disitu.
Rudi hanya bisa melihatnya dari tempat duduknya. Dia tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan Billy dengan Dinda.
Rudi terus menatap mereka yang bercakap-cakap disitu, sampai Billy berdiri lalu berjalan keluar dari kamar Dinda.
Billy melewati Rudi yang masih terduduk diam di ruang tengah itu, tanpa menoleh atau berkata apa-apa. Billy berlalu pergi dari rumah Dinda dengan mobilnya.
Rudi penasaran, tapi dia tidak berani bertanya.
Dinda keluar dari kamar. Dia mendekati Rudi, lalu duduk disampingnya.
"Kerjaanmu tidak apa-apa ditinggal terus seperti ini?" tanya Dinda, yang kemudian menyandarkan kepalanya di lengan Rudi, dan menggenggam tangan lelaki itu.
Dinda tahu semestinya Rudi masih dikantor. Jam kerja belum usai, dia sudah harus menjenguk Dinda.
"Nggak apa-apa... Aku tadi hanya menyusun berkas. Beberapa hari ini, kami belum ada pertemuan dengan klien," jawab Rudi.
Rudi berpikir untuk bertanya dengan Dinda, ada apa, tapi dia mengurungkan niatnya. Dia memilih menunggu kalau kalau Dinda mau bercerita tanpa Rudi perlu bertanya.
Rudi mengangkat sebelah tangannya dan meletakkannya di belakang Dinda, agar Dinda bisa bersandar di dadanya.
"Besok aku sudah kembali kerja," celetuk Dinda.
"Bulan ini aku sudah terlalu banyak ijin," sambung Dinda lagi.
"Memangnya kamu sudah bisa bekerja?" tanya Rudi.
"Bisa aja," sahut Dinda.
"Kamu bisa temani aku mengantar mobilku ke bengkel?" tanya Dinda.
"Bisa! Kapan?" Rudi balik bertanya.
"Kalau sekarang, sempat nggak ya?" tanya Dinda lagi
Rudi melihat jam ditangannya. Sudah sore.
"Sebentar!" kata Rudi.
Rudi mengambil ponselnya. Dia mengetik dan mengirim pesan.
Tak lama, ada pesan balasan masuk.
__ADS_1
"Sempat aja." Rudi ternyata mengirim pesan pada temannya yang memiliki bengkel reparasi.
"Agak jauh tempatnya. Kalau mau, kita harus segera pergi. Temanku sudah menyuruh anak buahnya menunggu kita," Kata Rudi.
Dinda berdiri dari kursi.
"Aku mandi dulu bentar bisa?" tanya Dinda,
Rudi mengangguk.
Dinda buru-buru kekamarnya. Setelah mandi dan berpakaian, dia lalu keluar lagi sambil menenteng tas kecil.
"Aku pamit sama mbok Inah dulu ya?!" kata Dinda.
Setelah pamitan dengan mbok Inah, Dinda memberikan kunci mobilnya pada Rudi.
Mereka kemudian pergi bersama-sama menggunakan mobil Dinda.
Diperjalanan Dinda menarik sunshield. Dia melihat wajahnya di cermin yang menempel disitu. Dia lalu menepuk bedak tipis di wajahnya dan memoles lipgloss berwarna pink di bibirnya.
Rudi melirik Dinda dengan ujung matanya. Dinda sangat cantik meski hanya memakai bedak, dan lipgloss tipis begitu.
Setelah Dinda selesai, dia memasukkan barang-barangnya kembali kedalam tas, lalu meletakkan tangannya di atas pahanya.
Rudi melirik tangan Dinda. Dia lalu memegangnya.
Dinda menoleh kearah Rudi yang memegang tangannya. Lelaki itu fokus menyetir menatap ke jalanan. Dinda tidak bereaksi apa-apa hanya membiarkan Rudi menggenggam tangannya.
Mereka berdua hanya berdiam diri, tidak ada yang mau bicara. Rudi juga tidak mau menyinggung kejadian tadi siang. Dia tidak mau Dinda kembali bersedih.
Mereka tiba di bengkel reparasi milik teman Rudi.
Dalam pagar, ada kafe di disamping bengkel dan lapangan Basket di bagian belakang.
Rudi mengajak Dinda ke kafe, sambil menunggu mobil Dinda diperbaiki.
Rudi dan Dinda melihat kesana kemari. Tempatnya nyaman.
Dinda lalu melihat Rudi seakan terpana melihat ke satu arah.
"Ada apa?" tanya Dinda
"Kayaknya seru kalau main disitu!" kata Rudi menunjuk ke lapangan basket.
Seseorang menepuk pundak Rudi, tepat saat tangan Rudi sedang terangkat menunjuk tempat itu.
"Ada yang menarik?" tanya orang itu.
Rudi menoleh. Dia lalu berdiri. Mereka berdua tertawa lalu saling beradu jotos.
"Dinda ini temanku Alex, dia owner tempat ini" kata Rudi bersemangat.
"Lex, ini tunanganku Dinda!" lanjut Rudi lagi.
Dinda berdiri lalu menyalami tangan Alex, yang sudah menjulur kearahnya.
Saat Dinda duduk kembali, Alex dan Rudi masih berdiri. Alex mendekat ke Rudi lalu berbisik ditelinganya "Cantik"
__ADS_1
Rudi tersenyum mendengar bisikkan Alex.
Meskipun Alex berbisik, tapi masih bisa didengar oleh Dinda. Gadis itu tidak bereaksi, seolah dia tidak mendengar apa-apa.
"Kamu nunjuk apa tadi?" tanya Alex membuka percakapan saat mereka bertiga sudah duduk.
"Itu! Lapangan basket!" kata Rudi.
Mendengar perkataan Rudi, Alex memasang raut wajah aneh.
"Mau single kayak dulu lagi?" tanya Alex pada Rudi.
Rudi menatap Dinda.
Dinda mengangkat kedua bahunya. Mengisyaratkan kalau itu terserah Rudi. Nggak masalah bagi Dinda.
"Ayo!" ujar Alex bersemangat.
Alex merangkul Rudi. Mereka berjalan kearah lapangan basket, disusul Dinda dari belakang.
Dinda duduk dikursi penonton, Rudi mendekat.
"Bener nggak apa-apa aku main dulu?" tanya Rudi.
"Nggak apa-apa, aku juga mau menonton kalian bermain," ujar Dinda.
Rudi menarik sedikit gulungan lengan bajunya, lalu membuka beberapa kancing kemejanya, membuat dada Rudi terlihat jelas oleh Dinda.
Rudi mengedipkan sebelah matanya, sebelum pergi ketengah lapangan
"Wish me luck!" ujar Rudi.
Dinda tersenyum, dia membentuk "OK" dengan jari tangannya dan memperlihatkannya kepada Rudi.
Dinda menonton permainan kedua laki laki itu. Mereka bergerak lincah memainkan bola basket. Keduanya sama sama jago. Bergantian memasukkan bola ke keranjang.
Dinda memperhatikan. Rudi dan Alex punya perawakan yang mirip. Berbadan tinggi dengan warna kulit kuning langsat. Keduanya berwajah tampan.
Saat di sekolah dulu, mereka berdua ini pasti jadi idaman banyak gadis, pikir Dinda. Dia senyum-senyum sendiri.
Alex dan Rudi seakan memiliki tenaga lebih, keduanya bermain basket cukup lama, sampai keduanya terduduk dilantai. Entah apa yang mereka bicarakan, keduanya tertawa.
Dinda hanya melihatnya, dia tidak beranjak dari tempat duduknya. Dinda asyik menyeruput minuman yang diantarkan pelayan cafe, kesitu.
Alex dan Rudi lalu berdiri dari lantai. Rudi berjalan mendekati Dinda. Rambut dan badannya basah dengan keringat. Kemeja yang basah jadi transparan, menampakkan tubuh Rudi yang atletis.
Dinda menelan liur.
Rudi yang sudah berdiri didepan Dinda, sempat melihatnya. Dia menunduk lalu mencium bibir Dinda.
"Aku mandi dulu! Kamu tunggu sini bentar ya?!" kata Rudi sambil melihat ke bajunya yang basah.
"Emang ada baju ganti?" tanya Dinda.
"Ada! Punya Alex! Ukuran baju kami berdua sama," ujar Rudi.
"Ok!" jawab Dinda
__ADS_1
Sekali lagi Rudi mencium bibir Dinda, sebelum akhirnya dia pergi menyusul Alex ke ruang ganti.
Dinda merasa tenggorokannya seret karena terlalu banyak minum es yang manis. Dinda duluan pergi kembali ke cafe, dia mencari air mineral. Dinda lalu duduk di cafe itu menunggu sampai Rudi dan Alex kembali.