
Laura sesekali terlihat mengangguk-angguk, saat Mita bicara.
Dinda memperhatikan tingkah kedua temannya itu. Disini dia merasa kalau dia seperti terasing. Padahal karena dialah, mereka bisa bertemu.
Semua ini gara-gara pernikahan bodoh itu, pikir Dinda.
Dinda termenung sendiri. Dia lalu melihat kearah Billy, yang duduk melamun diatas ayunan. Dinda berpindah tempat duduk kesamping Billy.
Billy seakan tak percaya apa yang dia lihat. Tumben sekali Dinda mau mendekat padanya.
"Ada apa?" tanya Billy.
"Aku masih nggak ngerti apa yang kalian pikirkan..." celetuk Dinda.
"Maksudnya apa?" tanya Billy lagi memastikan.
"Kalian mau menikah tapi menjalaninya seperti orang yang cuma pacaran. Kenapa nggak pacaran aja? Kenapa harus menikah kalau cuma seperti itu aja?" kata Dinda.
Billy memegang tangan Dinda. Gadis itu membiarkannya.
"Aku 'kan sudah bilang kalau aku menikah cuma karena perjanjian bisnis Papa..." kata Billy
"Atau apa kamu lagi bicarakan tentang Mita ? Kamu nggak tahu apa yang terjadi antara dia dengan Dovi?" tanya Billy.
"Aku sudah tahu. Yang jadi masalahnya, sekarang Laura juga mau menikah dengan cara kalian," ujar Dinda
"Kamu nggak setuju ?" tanya Billy
"Iya...! Tapi mau bagaimana lagi, kayaknya dia mau betul seperti itu. Ah sudahlah! Aku muak dengan urusan nikah menikah!" ujar Dinda yang lalu melepas pegangan Billy, ditangannya.
Billy menatap Dinda. Billy menyadari kalau terjadi sesuatu dengan Dinda. Dia kembali memegang tangan Dinda.
"Apa ada yang terjadi antara kamu dengan Rudi?" tanya Billy.
Mendengar pertanyaan Billy, Dinda balik menatap lelaki itu. Dinda melepas pegangan tangan Billy dengan kasar.
"Jangan memancingku! Aku lelah!" ujar Dinda
Billy bersandar, lalu mulai mendorong kursi ayunan, sampai mulai berayun pelan.
"Ternyata itu sebabnya..." kata Billy
"Apa yang kamu tahu!" seru Dinda. Suara Dinda cukup nyaring sampai bisa membuat Laura dengan Mita terkejut dan melihat kearahnya.
__ADS_1
Dinda merasa tidak nyaman. Dia mau mengalihkan perhatian mereka. Dinda memegang tiang ayunan agar kursinya berhenti berayun.
"Aku mau ke kamar mandi dulu!" ujar Dinda mencari alasan agar teman temannya tidak tersinggung, saat dia hendak meninggalkan mereka disitu sementara waktu.
Dia lalu berdiri, berjalan masuk kedalam rumah. Dinda muak dengan pembicaraan tentang pernikahan.
Maunya Dinda untuk happy happy berkumpul dengan teman temannya, bukan untuk bicara hal itu-itu saja.
Dinda masih kesal mendengar kata "menikah". Hal itu yang membuatnya bertengkar dengan Rudi. Selama dia berpacaran dengan Rudi, baru kali ini mereka berdua tidak bicara sampai berhari-hari.
Dia berniat menenangkan diri sendiri dulu, sebelum keluar menghadapi teman temannya.
Dinda minum segelas air sambil duduk dimeja dapur.
Dinda masih duduk disitu, Billy sudah menyusul kesitu.
"Kamu nggak mau cerita, apa yang membuatmu marah?" tanya Billy
Dinda tidak menghiraukan pertanyaan Billy. Dia hanya berdiam diri.
Billy ikut duduk disitu.
"Aku dulu teman mu sebelum kita pacaran. Anggap aja kita sekarang seperti waktu itu..." kata Billy dengan suara tenang-setenangnya. Persis seperti awal Dinda mengenalnya.
"Aku bertengkar dengan Rudi. Sudah beberapa hari ini aku gak bicara dengannya," kata Dinda.
"Kenapa?" tanya Billy.
"Dia memaksa untuk cepat menikah. Aku belum siap. Aku masih mau menyelesaikan masa intern ku dikantor," kata Dinda.
"Kamu sudah ngomong dengan dia apa maunya kamu?" tanya Billy lagi. Dia benar-benar mempertahankan gaya bicaranya, agar Dinda bisa terus bercerita.
"Aku nggak sempat kasih tahu. Aku hanya mencari alasan untuk menunda," ujar Dinda.
"Mestinya kamu ngomong dengan Rudi. Mungkin dia bisa mengerti," ujar Billy.
Dinda mengerutkan alisnya. Dia menatap Billy tajam.
"Dia tiba-tiba saja minta buru-buru menikah. Aku nggak tahu harus ngomong apa. Kamu tahu aku kan nggak suka kalau ditekan," ujar Dinda, mengingat bagaimana dia dengan Billy dulu, sampai bisa lost contact.
"Iya, aku tahu! Tapi Rudi tahu nggak?" tanya Billy.
Dinda terdiam. Dia memalingkan wajahnya. Jari tangannya diputar-putar mengelilingi bibir gelas di depannya.
__ADS_1
"Ah...! Bodo amat!" ujar Dinda
Billy menghela nafas. Dinda memang masih seperti dulu, malah sama sekali nggak berubah, pikirnya. Billy bingung apakah dia senang karena Rudi kemungkinan besar akan tersingkir, atau justru kesal dengan sikap keras Dinda yang satu ini.
"Yaa sudah...! Nggak usah terlalu dipikirkan sekarang. Ayo kita kedepan, Laura dan Mita menunggu!" ajak Billy.
"Duluan aja, aku cuci gelas ini dulu bentar!" kata Dinda yang kemudian pergi mencuci gelas, di bak cuci piring.
Billy berjalan keluar terlebih dulu. Dia tidak mau memaksa Dinda, meski dia tahu Dinda mencari alasan untuk lambat kembali kumpul dengan teman-temannya.
Dinda akhirnya menyusul Billy. Dia lalu mengambil sebungkus keripik, dan ikut bergabung dalam pembicaraan Laura dengan Mita.
"Kata Mita kamu dulu penyendiri. Sampai sekarang kan masih begitu juga. Kok bisa ya kami mau berteman denganmu?" kata Laura menggoda Dinda.
Dinda bisa tersenyum, dengan candaan Laura.
"Ooh... Jadi kalian bercerita buruk di belakangku?" ujar Dinda. Dengan gemas Dinda mencubit lengan Laura dan Mita.
Mereka bertiga lalu tertawa bersama. Kemudian lanjut bercanda disitu.
Dinda kini terlihat lebih ceria, dia banyak tersenyum dan tertawa. Kedua sahabatnya tidak membahas soal pernikahan. Semua hanya asyik bercerita tentang kebodohan mereka di masa-masa lalu.
Billy yang sedang duduk diayunan, mengambil sekaleng bir, lalu menenggak isi kaleng yang sudah terbuka. Dia tidak berhenti memandangi Dinda, meskipun Dinda tidak menyadarinya.
Dirasa sudah cukup lama mereka berkumpul, Mita yang sudah dijemput teman lelakinya pulang, disusul Laura yang lalu ikut pamit pulang juga.
Mereka masih sempat janjian untuk berkumpul lagi, sebelum Mita kembali ke luar negeri.
Tertinggal Billy disitu bersama Dinda.
Dinda mulai beres-beres. Dia membersihkan bekas makanan dan minuman, yang berhamburan.
Billy ikut membantunya.
Setelah semua sudah rapi kembali, Billy masih belum beranjak pulang. Dia duduk kembali di ayunan, mendorong kursi agar berayun-ayun pelan. Dinda lalu ikut duduk disitu.
"Kamu ingat nggak, kita berdua dulu sampai nggak ada kontak lagi? Sama seperti kamu dengan Rudi sekarang..." celetuk Billy.
"Menurutku kamu harus bicara dengannya. Kalau dia sudah tahu apa mau kamu, trus dia masih memaksa kemauannya, nah, itu terserah kamu aja lagi nanti. Mau lanjut atau mau putus...
Yang jelas, kamu harus kasih tahu dia dulu. Jangan diamkan seperti itu! Aku tahu rasa sakitnya digantung, saat masih sayang-sayangnya," sambung Billy lagi.
Dinda mendengarkan Billy bicara tanpa merespon apa-apa. Dia merasa omongan Billy ada benarnya. Dinda lalu bersandar dilengan Billy. Lelaki itu memegang tangan Dinda.
__ADS_1
"Apapun yang terjadi nanti, aku akan tetap ada untukmu..." kata Billy.