OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 59


__ADS_3

Suasana hening tercipta saat itu.


Dinda menatap kearah jalanan yang padat merayap. Hari libur seperti ini pasti saja macet. Dinda ingin cepat-cepat sampai dirumah. Badannya terasa penat.


Setelah mendengarkan perkataan Dinda, Mita hanya berdiam diri. Dia tidak tahu harus berkata apa. Terlebih lagi dia masih belum tahu apa yang Dinda pikirkan.


Mita tidak mau mengganggu Dinda. Hanya sesekali melihat Dinda dari spion diatas kepalanya.


Saat tiba di rumah Dinda. Barulah Mita berani bicara.


"Aku singgah ditempatmu dulu!" ujar Mita. Dia tahu sahabatnya pasti butuh teman bicara, meskipun Dinda tidak mau meminta.


Dinda tidak menyahut, dia hanya mengambil tas yang sudah dikeluarkan teman lelaki Mita.


Mita berbicara dengan teman lelakinya, kemudian menggandeng Dinda masuk kedalam rumah. Sedangkan teman lelaki Mita lanjut menjalankan mobilnya ke rumah Mita.


Dinda berbaring diranjangnya, sambil ditemani Mita.


"Aneh nggak, kalau aku tidak merasa cemburu melihat Rudi bersama orang lain?" celetuk Dinda sambil memiringkan kepalanya, menghadap Mita.


Mita memiringkan badannya menghadap Dinda. Dia menahan kepalanya dengan sebelah tangannya.


"Kamu nggak cemburu?" tanya Mita memastikan. Dia rasanya tidak percaya dengan apa yang dikatakan Dinda


"Awalnya aku cemburu," ujar Dinda " Tapi saat kita pergi tadi, rasa cemburu itu hilang. Yang tersisa hanya merasa sedih,"


"Kok bisa?" Mita masih bingung dengan jawaban Dinda. Dia menatap wajah Dinda lekat-lekat.


Dinda berpaling, dia menatap langit-langit kamarnya.


"Tadi aku sempat memikirkan saat aku bersama Billy, aku sudah lebih dulu mengkhianati Rudi," ujar Dinda. Dia memutar-mutar cincin dijari tangannya. "Apa mungkin karena itu ya?"


Mita makin bingung dengan jalan pikiran Dinda.


"Aku nggak tahu. Aku nggak mengerti sama sekali," Mita lalu kembali terlentang diatas ranjang. Dia ikut menatap langit-langit kamar Dinda.


Setelah beberapa lama berpikir. Mita kemudian merasa kalau dia mengerti kenapa Dinda bisa merasa begitu. Dinda berarti merasa bersalah pada Rudi, dan Dinda menganggap itu adalah balasan yang pantas untuknya.


Mbok Inah mengetuk pintu kamar Dinda yang masih terbuka. Suara ketukkan mbok Inah mengagetkan kedua sahabat itu, bersama-sama mereka menoleh kearah pintu, dimana mbok Inah sudah berdiri.


"Non! Ada tuan Rudi didepan, mencari Non Dinda!" kata Mbok Inah.


Dinda menatap Mita, seakan meminta pendapatnya. Tetapi Mita hanya menggerakkan bahunya, menandakan kalau dia tidak tahu.


"Bilang aja mbok, kalau aku belum mau bertemu siapa-siapa, aku mengantuk!" ujar Dinda.


"Baik, Non!" ujar mbok Inah yang kemudian berjalan pergi.


Mita memandang Dinda dengan tatapan heran.


"Kamu nggak mau bicara dengannya?" tanya Mita.


"Belum sekarang. Nanti aja!" jawab Dinda. Suara Dinda terdengar tenang, seakan tidak ada yang terjadi.

__ADS_1


Mita hanya terdiam, dia tidak mau terlalu mencampuri urusan temannya.


Tak lama, mbok Inah kembali.


"Non! Tuan Rudi tidak mau pergi. Dia..." belum sempat selesai mbok Inah bicara, Rudi yang sudah ikut berdiri di pintu Dinda, langsung memotong.


"Aku mau bicara denganmu!" ujar Rudi.


Dinda terkejut. Dia melihat kearah pintu, Rudi berdiri menatap Dinda, dengan sorot mata tajam. Dinda berpaling, dia kembali melihat kearah Mita. Tetapi Mita hanya diam menatapnya.


Akhirnya Dinda berdiri dari ranjang. Dia bicara dengan mbok Inah, yang kemudian berlalu pergi dari situ meninggalkan Mita.


"Aku keluar sebentar!" ujar Dinda kepada Mita.


Mita mengangguk.


Dinda berjalan keluar dari kamarnya, lalu duduk disofa ruang tengah rumahnya.


Rudi ikut duduk disitu.


"Ada apa?" tanya Dinda dengan suara yang tenang.


"Aku tadi bersama temanku yang baru datang dari luar kota," kata Rudi sambil menatap Dinda penuh harap.


"Oh... Terus?" ujar Dinda datar.


Rudi terdiam, dia tidak paham dengan raut wajah Dinda, yang tidak ada ekspresi apa-apa.


Melihat Rudi yang hanya diam, Dinda menghela nafas panjang. Dia ingin tetap terlihat tenang.


"Kamu nggak marah?" Rudi balik bertanya.


"Entah itu cuma temanmu atau siapa, kenapa aku harus marah? Bukannya kita memang sudah nggak ada hubungan lagi? Sudah berhari-hari kamu nggak menghubungi aku...


Jadi, aku anggap kita sudah tidak ada apa-apa lagi," ujar Dinda, sambil memalingkan wajahnya dari Rudi.


Rudi menarik nafasnya yang berat. Lelaki itu melihat kesana kemari. Seakan mencari sesuatu. Tak lama dia berdiri dan menarik Dinda masuk kedalam kamar tamu, lalu mengunci pintu.


Dinda yang tidak menyadari apa yang akan dilakukan Rudi, hanya bisa mengikuti tarikan tangan Rudi di tangannya.


Rudi membanting Dinda keatas ranjang.


"Apa yang kamu lakukan? Kamu sudah gila? Ini dirumahku!" seru Dinda.


"Aku cuma mau bicara denganmu!" ujar Rudi yang mulai berjalan mondar-mandir. Dia kelihatan sangat gusar.


"Kita bisa bicara diluar!" ujar Dinda. Dia berjalan kepintu.


Belum sempat Dinda memutar kuncinya, Rudi memeluknya dari belakang, lalu membawa Dinda menjauh dari pintu.


Dia membaringkan Dinda diatas ranjang dengan kasar, lalu menindihnya. Dinda melawan, tapi Rudi menahan tangan Dinda dengan tangannya, diatas kepala Dinda.


Rudi menunduk, mendekatkan wajahnya ke wajah Dinda.

__ADS_1


"Aku tahu kamu ada hubungan lebih dengan Billy. Iya, kan?" Mata Rudi merah mengkilat. "Aku mengikuti kalian malam itu," Lelaki itu mengertakan gigi, dia menahan amarahnya.


Dinda terdiam, dia memalingkan wajahnya.


Dengan tangannya yang sebelah lagi, Rudi menahan wajah Dinda agar tetap berhadapan dengannya.


"Aku sakit hati. Aku memang berniat memutus hubunganku denganmu. Wanita yang bersama ku tadi, aku yang mengajaknya bersamaku agar aku bisa menghapusmu dari pikiranku," ujar Rudi berbisik. Dia kemudian terdiam sebentar, sambil tetap menatap mata Dinda.


"Nggak bisa... Aku nggak bisa... Saat melihatmu tadi, aku seperti orang bodoh berlari kembali untukmu," suara Rudi bergetar, pegangan tangannya di tangan Dinda semakin kuat.


Rudi seakan mau meremukkan tangan Dinda.


"Aku tidak perduli meski kamu sudah berselingkuh dariku. Aku mencintaimu...! Jangan tinggalkan aku Dinda...!" kini Rudi melepaskan pegangannya. Dia tersandar diatas badan Dinda. Lelaki itu memeluk Dinda erat-erat.


Dinda sebenarnya sudah berharap untuk mereka mengambil jalan masing-masing.


Tapi, Dinda tidak tega melihat lelaki itu.


Dalam hati Dinda tahu kalau dia mencintai Rudi, lebih dari rasa sayangnya pada Billy. Dia tidak tahu harus bagaimana. Rasa bersalah terus mengganggu pikirannya.


Dinda mendorong Rudi pelan-pelan. Dinda tetap memilih untuk mengakhiri ini semua.


Rudi mengangkat kepalanya, dia menatap Dinda, yang masih mendorongnya. Rudi lalu duduk dipinggir ranjang, membiarkan Dinda yang berusaha untuk duduk.


Rudi menunduk, wajahnya menghadap kelantai. Dia memegang kepalanya, dengan kedua tangannya.


Dinda berdiri didepan Rudi. Lalu memegang tangannya untuk membawa Rudi keluar dari situ.


Rudi menatap Dinda.


"Kamu mau kembali bersama Billy?" tanya Rudi


Dinda menggeleng.


"Kamu masih mencintaiku?" tanya Rudi lagi


Dinda terdiam.


Rudi menatap Dinda lekat-lekat. Dia lalu berdiri dan memeluk Dinda.


"Kamu masih mencintaiku..." ujar Rudi senang.


Dinda hanya terdiam.


Rudi memegang dagu Dinda, dan mengangkat wajahnya.


"Kamu nggak bisa berbohong! Aku tahu kamu masih mencintai aku... Aku bersama kamu cukup lama, aku bisa melihatnya dari matamu, meskipun kamu tidak bicara," Rudi mencium bibir Dinda penuh kasih sayang.


Dinda membalas ciuman Rudi. Dinda tidak bisa membohongi hatinya, yang memang untuk Rudi.


Rudi memeluk Dinda sampai tubuh Dinda terangkat. Rudi menggendong Dinda sambil tetap menciumnya.


"Mulai sekarang, aku nggak akan memberikan kesempatan, untuk Billy dekat-dekat denganmu lagi," bisik Rudi.

__ADS_1


Dia lalu kembali mencium bibir Dinda.


__ADS_2