
Billy memacu mobilnya kembali ke vila. Dia benar-benar kalut. Dia kesal dengan Rudi tapi dia juga menyalahkan dirinya sendiri.
Kalau tidak ada kejadian dibasement kantor Dinda kemarin, maka Dinda tidak akan marah dengannya. Mestinya kemarin dia masih bisa menemani Dinda dirumahnya.
Billy menyesal dengan kebodohan yang dia lakukan. Dia mengebut, dia mau cepat kembali lagi ke rumah Dinda.
Saat mobilnya masuk dihalaman vila, Billy melihat mobil yang dipakai Mita waktu datang dengan rombongan Dinda dan Laura, terparkir di depan bangunan.
Billy keluar dari mobil, lalu berjalan masuk. Dia tidak melihat siapa-siapa disitu. Dia terus berjalan kekamarnya. Billy sangat terkejut saat dia sudah membuka pintu kamarnya.
Mita hampir telanjang bulat, berbaring di kasur Billy.
Mita berdiri lalu berjalan mendekati Billy. Dia hanya memakai sehelai thong untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Dia lalu memegang kerah kemeja Billy, lalu mencoba mencium bibir Billy.
Billy bisa mencium bau alkohol dari nafas Mita. Dia menghindari ciuman Mita.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Billy hampir berteriak.
Billy memegang bahu Mita dengan kedua tangannya, agar ada jarak antara Billy dengan Mita.
Mita bersikeras, memaksa maju mendekati Billy.
"Kamu mabuk!" seru Billy sambil mendorong Mita cukup kuat sampai Mita jatuh terduduk ke lantai dengan cukup keras.
Billy tidak tega melihatnya, tapi dia memang tidak terpikir untuk membiarkan Mita melakukan sesuatu dengan dirinya. Billy menganggap Mita sekedar teman, tidak lebih.
Selama ini cinta nya kepada Dinda telah membutakan mata Billy. Lelaki itu sama sekali tidak tertarik melihat wanita lain, meskipun tampilannya sudah seperti Mita sekarang ini.
Billy menarik selembar handuk, lalu melemparkannya kearah Mita.
Mita tidak menyerah. Dia berdiri kemudian pelan-pelan dia menarik tali pengikat thong dari pinggulnya. Dia lalu melepas perlahan thong yang dia pakai, dengan tingkah merayu Billy.
Billy makin heran dengan tingkah Mita. Dia berjalan kekamar mandi lalu mengunci pintunya. Dia meninggalkan Mita yang bertingkah gila dikamarnya.
Billy lalu mandi. Dia berpikir apa yang terjadi dengan Mita, kenapa tiba-tiba seperti itu. Tapi dia merasa mungkin karena Mita sedang mabuk, dan butuh pelampiasan nafsu ber*hinya. Dia melanjutkan membersihkan dirinya.
Billy sengaja berlama-lama di kamar mandi. Dia berharap nanti saat dia keluar, Mita sudah tertidur karena mabuk.
Dugaannya salah, saat Billy keluar sambil mengenakkan jubah mandi. Mita sudah menunggu di depan pintu, lalu melompat ke arah Billy. Dia merangkul leher Billy erat-erat, mencoba mencium bibir Billy.
Billy lalu membawa Mita yang bergantung di badannya kedekat ranjang, lalu membanting tubuh Mita keatas situ. Billy masih berdiri, wajah Billy sudah merah karena menahan marah.
"kamu sudah gila?" Billy berteriak.
Mita bergerak maju mendekati Billy, kembali dia mencoba membuat Billy agar bergairah melihatnya. Dia memegang tangan Billy, lalu meletakkannya di buah dadanya.
__ADS_1
Billy menarik tangannya, lalu menampar wajah Mita cukup keras.
Mita berhenti merayu Billy. Dia duduk terdiam diatas kasur.
Billy mengambil pakaiannya lalu mulai berpakaian, dia benar-benar tidak perduli dengan Mita, yang masih disitu.
Billy kemudian mengambil beberapa pasang baju lalu memasukkannya ke dalam tas. Billy berjalan keluar, tapi dia kembali lagi. Hanya dari pintu Billy lalu berkata
"Pakai pakaianmu, lalu pergi dari sini kalau sudah sudah nggak mabuk! Aku tidak akan kembali kesini, aku sedang mencari dimana Dinda sekarang," ujar Billy yang kemudian menutup pintu, tanpa menunggu jawaban dari Mita.
Billy lalu pergi dari situ menggunakan mobilnya, meninggalkan Mita dengan kegilaannya.
Di sepanjang perjalanan, Billy merasa menyesal telah menampar Mita. Tapi dia benar-benar kesal. Kedatangan Mita seperti itu, hanya membuatnya semakin pusing.
Billy tidak habis pikir dengan kelakuan Mita. Memangnya nggak ada tempat pelampiasan lain? kenapa harus mendatangi Billy? Aneh-aneh aja, pikir Billy. ~
Rudi memaksa otaknya, untuk mengingat dimana lokasi kabin Alex berada.
Rudi berdiri, berjalan mondar-mandir. Dia lalu menelpon Alex. Dia rencananya mau berpura-pura seperti Billy kemarin.
Nomor Alex tidak aktif. Beberapa kali dia mencoba menghubungi Alex, tapi tidak bisa tersambung.
Rudi terduduk. Hilang ketegarannya sebagai lelaki. Dia mulai menangis, pikiran tentang hal yang buruk menguasai otaknya.
Rudi menangis sesenggukan, kepalanya menunduk kedua tangannya menjambak rambutnya sendiri.
Sambil menangis Rudi menjambak rambut lalu memukul-mukul kepalanya sendiri.
Saat Rudi masih dengan kondisi seperti itu, mobil Billy sudah terparkir di depan rumah Dinda, tapi Rudi tidak menyadarinya.
Billy turun membawa sebuah tas ditangannya. Saat Billy sudah di lantai teras baru Rudi tersadar kalau Billy sudah tiba disitu.
Rudi berdiri lalu memeluk Billy. Dia terus menangis.
Billy bingung dan merasa agak aneh, saat sesama laki-laki memeluknya seperti itu.
Apalagi sambil menangis. Apa ada yang lebih aneh dari ini lagi yang akan terjadi, pikir Billy.
"Aku nggak bisa melindungi Dinda... Ini semua salahku... Aku ceroboh," ujar Rudi berulang-ulang, sambil terus menangis.
Billy menepuk-nepuk punggung Rudi.
"Sudah...! Kita berharap Dinda baik-baik saja," ujar Billy menenangkan Rudi.
Setelah Rudi sudah agak tenang, Rudi lalu melepaskan pelukannya dari tubuh Billy.
__ADS_1
Rudi lalu kembali duduk di kursi teras. Dia mengelap wajahnya yang basah karena air mata.
Billy tidak mau melihat lama-lama pemandangan itu. Dia lalu masuk kedalam rumah Dinda sambil membawa tasnya ke kamar tamu. Dia meletakkan tasnya di lantai. Kemudian terduduk di pinggir ranjang.
Billy menggeleng-gelengkan kepalanya, saat mengingat Rudi yang kehilangan ego lelaki nya, sampai menangis sesenggukan seperti itu.
Apa Rudi punya firasat buruk? Billy menepis pikiran itu. Dia masih yakin Dinda baik-baik saja.
Billy lalu keluar dari kamar tamu itu, berpapasan dengan mbok Inah yang berjalan dari dapur hendak menuju kedepan rumah.
"Eh, tuan! Non Dinda belum balik?" tanya Mbok Inah.
"Belum mbok, katanya masih dengan temannya. Jadi aku disuruhnya menemani mbok Inah disini, sampai dia kembali," kata Billy kembali berbohong.
"Ooh... Eh, mbok sudah masak dari tadi. Tuan Billy mau makan?" tanya mbok Inah.
Billy mengangguk.
"Ada Rudi juga tuh mbok, mungkin dia mau makan juga, tolong sekalian siapkan ya mbok?! Makasih!" ujar Billy.
Mbok Inah mengangguk, lalu mempersiapkan meja untuk Billy dan Rudi makan.
Billy berjalan keluar, lalu mengajak Rudi masuk untuk makan dulu.
Rudi kemudian makan bersama Billy disitu.
Saat Rudi selesai makan, dia seakan mengingat sesuatu setelah perutnya terasa kenyang. Dia lalu berdiri.
"Ayo kita pergi! Aku ingat dimana tempat kabin yang Alex bilang. Tapi kita harus buru-buru, lokasinya jauh dari perkotaan," Rudi bergegas berjalan keluar, disusul Billy yang sempat berpamitan dulu dengan mbok Inah.
Rudi yang menyetir mobil, sedangkan Billy hanya menatap jalanan yang semakin sepi dari keramaian kota.
Tiba-tiba ponsel Billy berbunyi. Ada pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Billy membuka lalu membacanya.
Billy rasanya kehilangan kekuatan saat membaca pesan itu. Ponsel yang dia pegang terjatuh kelantai mobil.
Rudi melihat ekspresi Billy yang terlihat ketakutan. Rudi kemudian menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Ada apa?" tanya Rudi.
Billy tidak menjawab. Matanya berkaca-kaca seolah akan menangis.
Rudi menunduk lalu mengambil ponsel Billy yang masih menyala dari lantai. Dia lalu membaca isi pesan itu. Seketika dia langsung merasa lemas.
"DINDA SUDAH MATI"
__ADS_1
terlihat dilayar ponsel Billy.