
Sejak Dinda dipindahkan dari ruang isolasi ke ruangan rawat inap pagi tadi, teman-temannya tidak pernah meninggalkan Dinda sendirian, tanpa ada yang menjaga.
Bergantian mereka duduk disamping ranjang Dinda.
Sore itu Dokter dan perawat datang lagi untuk memeriksa kondisi Dinda.
"Dosis obatnya sudah dikurangi, semestinya pasien akan terbangun dalam satu atau dua jam kedepan...
Tapi jangan dipaksa bangunkan ya, cukup ditunggu saja, biar nanti pasiennya terbangun sendiri!" Kata Dokter yang sudah kelihatan berumur itu, kepada teman-teman Dinda, yang menunggu di situ.
"Kalau pasien terbangun, nanti panggil perawat didepan, biar bisa diperiksa lagi perkembangannya, ok?!" ujar Dokter itu, yang kemudian berjalan keluar, dari ruang tempat Dinda dirawat.
Benar saja, setelah beberapa jam belakangan Dinda hanya terbaring tanpa ada pergerakan sama sekali, sekitar satu jam dari kunjungan dokter, tangan Dinda mulai bergerak-gerak.
Billy yang masih memegang tangan Dinda, hampir meloncat saking senangnya.
Mereka berempat berkumpul didekat ranjang Dinda, saat mata Dinda bergerak terbuka pelan-pelan.
Mata Dinda berjalan melihat mereka disitu. Matanya terhenti di Alex yang sudah menetes air matanya, saking senangnya melihat Dinda.
Dinda menggerakkan tangannya pelan lalu menyentuh wajah Alex.
"Jangan nangis! Aku belum mati...!" ujar Dinda pelan.
Alex tersenyum lebar. Dia memegang tangan Dinda yang menyentuh wajahnya, lalu menciumnya berkali-kali.
Billy lalu keluar memanggil perawat, sedang yang lain masih menunggu di samping ranjang Dinda.
Dinda menatap Laura dan Rudi. Saat melihat Rudi dia mengerutkan alis.
"Rudi! Kamu nggak apa-apa?" tanya Dinda, masih menatap Rudi, yang sudah tertunduk.
Dinda lalu memberi tanda pada Alex, untuk menaikkan ranjangnya sedikit, agar Dinda bisa dalam posisi agak terduduk.
Alex memencet tuas ranjang, sampai Dinda merasa cukup nyaman.
"Aku minta maaf! Aku nggak apa-apa... HP ku cuma kehabisan baterai, waktu kamu menghubungiku..." kata Rudi, dengan suara pelan.
Dinda tampak bingung, "Lalu bagaimana bisa ada yang menelponku, bilangnya kamu kecelakaan? Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Dinda kamu tenang dulu. Kami juga belum tahu. Kami masih mencari tahu siapa yang membohongi kamu..." kata Alex, sambil mengelus-elus tangan Dinda.
Kini Dinda menatap Laura seolah minta penjelasan.
Belum sempat Laura bicara, Billy sudah kembali dengan membawa perawat.
__ADS_1
Perawat lalu memeriksa kondisi Dinda. Mereka semua hanya berdiam diri sampai perawat itu menyelesaikan pekerjaannya.
Setelah mencatat macam-macam di papan berkas pasien, perawat itu kemudian berkata,
"Jangan terlalu dipaksa ya, Bu! Ibu masih harus banyak istirahat."
Kemudian perawat itu berjalan keluar, sambil membawa berkas Dinda tadi.
"Aku selama ini dilarang papa keluar rumah. HP ku disita. Makanya aku nggak bisa menghubungimu semingguan ini," kata Laura menjelaskan, sebelum Dinda bertanya.
Dinda hanya melirik Billy tanpa ada sesuatu yang rasanya dia mau tahu.
Billy mengerti kalau Dinda masih marah padanya. Dia lalu pergi duduk disofa.
Laura lalu duduk dikursi disamping Dinda.
Saat Rudi mau menyusul Billy duduk disofa, Dinda lalu berkata,
"Aku kira kamu benar kecelakaan. Aku khawatir terjadi apa-apa denganmu waktu itu."
Rudi membalikkan badannya tapi dia tidak tahu harus berkata apa, jadi dia terus menuju sofa lalu ikut duduk dengan Billy.
Billy yang memang sudah menunggu Dinda sadar, lalu berdiri kembali. Dia tidak mau membuang-buang waktu. Pertanyaan demi pertanyaan dikepalanya, seakan membuat kepala Billy mau meletus.
"Dinda! Waktu kamu kecelakaan kamu ingat kejadiannya seperti apa?" tanya Billy. "Siapa yang menelponmu?"
Karena aku pikir tidak mungkin orang tahu nomor kontakku, kalau orang itu tidak mengenal Rudi atau aku," Ujar Dinda.
"Kenapa? Apa sepeda motor itu kecelakaan juga?" tanya Dinda.
"Sepeda motor?" Billy balik bertanya, dia bingung apa maksud Dinda
"Iya. Aku ingat aku mengebut dijalanan, setelah mendapat telepon yang bilang kalau Rudi kecelakaan...
Terus waktu aku coba menghubungi Rudi lagi waktu dijalan, aku sempat mengalihkan pandangan dari jalanan karena sibuk melihat hp ku...
Waktu aku kembali melihat kejalan, ada sepeda motor tergeletak di tengah jalan. Jadi aku membanting setir mobil kekanan jalan," kata Dinda, menjelaskan sepeda motor yang dia maksud.
"Apa ada yang kamu lihat selain itu?" tanya Billy lagi.
"Seingat ku nggak ada. Cuma yang rasanya aneh, seingatku mobilku berhenti saat menabrak pohon dipinggir jalan. Tapi, bilang Alex mobilku jatuh ke dasar lembah," ujar Dinda.
Billy terdiam. Dia ingat, berarti pohon yang dia lihat dijalan itu, yang ditabrak Dinda. Bemper putih itu milik mobil Dinda. Masih lumayan jauh dengan lokasi kabin Alex.
"Besok pagi kita lapor polisi lalu kita ke kabinmu, Lex!" ujar Billy pada Alex.
__ADS_1
"Kenapa? Apa karena telepon penipu itu? Kalau karena itu, nggak usah aja! Salahku juga yang langsung percaya..." ujar Dinda.
"Nggak... Soalnya kami sempat buat laporan orang hilang. Jadi harus dilaporkan, kalau kami sudah ketemu kamu," kata Billy berbohong, dia tidak mau Dinda khawatir, sedangkan semua belum jelas kebenarannya.
"Kamu sudah merasa baikkan?" tanya Alex pada Dinda.
"Iya! Makasih sudah menolongku..." ujar Dinda sambil tersenyum.
"Nah gitu dong! Jadi nggak kayak orang lagi marah-marah," kata Alex.
Dinda tertawa pelan. Dia bersyukur bisa bertemu orang-orang yang perduli dengannya. Dia meremas tangan Alex, yang masih memegang tangannya, saking gemasnya dengan Alex.
Billy, Laura dan Rudi hanya terdiam melihat Dinda, yang kelihatan sudah akrab dengan Alex.
Dinda lalu berbincang-bincang dengan Laura. Billy berkali-kali memberi tanda, agar Laura jangan bercerita dulu tentang kejadian di vila.
Laura mengangguk.
Alex, Rudi dan Billy pergi keluar ruangan meninggalkan Dinda, yang asyik bercerita dengan Laura.
Mereka bertiga masih sibuk memikirkan caranya memancing pelaku asli, agar mau mengaku.
"Kita laporkan sekarang aja ke polisi! Jadi mereka bisa mencari barang bukti di tempat itu. Aku khawatir kalau kita yang mencari bukti duluan trus pelaku nya mengawasi kita, lalu dia kabur. Bagaimana?" ujar Alex.
Billy berpikir itu ada benarnya.
"Kalau begitu, kamu dengan Rudi pergi melapor sekarang. Kemungkinan kalau pelakunya mengawasi, pasti mengarah ke aku dan Dinda...
Bawa HP ku! Passwordnya 'Dinda Billy' pakai huruf besar semua," ujar Billy.
Alex dan Rudi bertatapan. Kemudian berjalan pergi dari situ.
"Password apaan itu? Hadeh!" celetuk Alex, saat mereka sudah sampai diparkiran.
Rudi tidak menanggapi perkataan Alex. Dia memacu mobilnya dijalanan, menuju kantor polisi.
Billy lalu masuk kembali kedalam ruangan.
"Mana Alex dan Rudi?" tanya Laura.
"Mereka pergi membeli sesuatu," jawab Billy asal.
Billy duduk disamping Dinda. Dia lalu mengelus rambut Dinda.
"Bagaimana persaanmu sekarang?" tanya Billy pada Dinda, sambil menatap Dinda dengan tatapan penuh perhatian
__ADS_1
"Sudah mendingan... Aku nggak terlalu merasa sakit di kakiku lagi," sahut Dinda.