
Billy mengantarkan Dinda pulang. Disepanjang perjalanan, mereka tidak ada yang bicara.
Sesekali Billy melihat Dinda yang terus menatap keluar jendela. Dia tidak mau mengganggu Dinda, jadi dia membiarkan Dinda tetap begitu.
Sesampainya dirumah Dinda, Dinda langsung masuk ke kamarnya. Dia benar-benar tidak mau memperdulikan Billy, yang mengikutinya masuk kedalam rumah.
Sebelum Dinda menutup pintu kamarnya, dia sempat melihat Billy sedang bicara dengan mbok Inah di ruang tengah.
Tidak terlalu lama Dinda berbaring di ranjang, dia bisa mendengar suara rem mobil mendecit di halaman rumahnya.
Dinda masih tidak menghiraukan siapa yang datang.
Kemudian Dinda terpikir kalau mungkin Rudi yang datang.
Dengan rasa enggan, dia turun dari ranjang, membuka pintu lalu berjalan keluar. Dia melihat Billy sudah tidak ada di ruang tengah.
Dinda lanjut melangkahkan kakinya, dia berjalan keluar, kedepan rumah. Dia bisa mendengar sayup-sayup suara orang berbicara di luar.
Dinda membuka pintu depan.
Tepat saat Rudi terlihat meninju wajah Billy.
Sedangkan Billy hanya pasrah, tidak ada tanda-tanda akan melawan. Dinda melihat Rudi, yang masih akan melayangkan tinjunya lagi kearah Billy.
"Hentikan!" Seru Dinda. Badan Dinda gemetar.
Dinda melihat Rudi yang sudah melihat kearahnya.
Dinda lalu melihat Billy, terlihat darah mengalir dari bibirnya. Dinda melotot, melihat apa yang ada didepannya itu.
Billy meludahkan darah dari mulutnya, ke tanah yang berumput di depan rumah Dinda, kemudian menatap Dinda.
Dinda kembali melihat Rudi, dia melihat ke tangan lelaki itu yang masih terkepal. Darah juga terlihat membasahi disitu.
Dinda menangis, air mata mengalir deras dipipinya, meskipun dia tidak mengeluarkan suaranya. Pemandangan itu sungguh tidak mengenakkan hati. Nafasnya terasa sesak.
Rudi dan Billy tidak tega melihat Dinda seperti itu, mereka berdua sama-sama mendekat.
Tapi Dinda mundur.
Kedua lelaki itu menghentikan langkahnya. Mereka hanya menatap Dinda tanpa bicara apa-apa.
__ADS_1
Dinda menghela nafas panjang, dan menghembuskannya pelan. Dia berusaha menenangkan dirinya. Dia kemudian menatap kedua lelaki itu bergantian.
Dinda melihat Rudi yang masih tampak marah. Kemudian dia melihat Billy yang kelihatan menyesal.
Dinda berpikir kalau Billy pasti sudah menceritakan kejadian tadi pada Rudi. Kembali Dinda menghela nafasnya panjang lalu menghembuskannya kasar.
"Kalian berdua, duduk!" seru Dinda. Dia tidak mau terlalu memikirkan yang sudah terjadi, atau apa yang akan terjadi nanti.
Mendengar perintah Dinda, kedua lelaki itu dengan cepat menurutinya. Rudi duduk dikursi teras sedangkan Billy duduk di atas ayunan. Mereka berdua tidak ada yang bersuara.
Dinda melihat mereka yang bertingkah seperti anak kecil sebentar, sebelum dia berbalik masuk kedalam rumah.
Dinda menggeleng-gelengkan kepalanya saat berjalan masuk. Dia tidak percaya apa yang dia lihat.
Dinda kembali keluar, sambil membawa kotak p3k, dan dua bungkus plastik kacang polong beku.
Dia mengobati tangan Rudi terlebih dahulu. Lalu memberikan satu bungkus makanan beku untuk dikompres dilukanya.
Kemudian dia mendekati Billy, memeriksa bibirnya yang sobek, lalu mengobatinya. Sama seperti Rudi, Dinda memberikan satu bungkus kacang polong beku pada Billy untuk ditempelkan ke wajahnya.
"Aku cuma kasih obat sementara. Kalian pergi berobat ke dokter nanti!" ujar Dinda saat dia duduk di kursi, yang letaknya diantara tempat duduk Billy dengan Rudi.
Mendengar perkataan Dinda, keduanya mengangguk. Dinda menghela nafas panjang melihat tingkah mereka.
"Aku nanti sore harus keluar kota," celetuk Rudi. "Sebenarnya aku tadinya mau minta Billy menjagamu, tapi malah begini kejadiannya" sambung Rudi.
Rudi menatap Billy dengan wajah kesal, sambil mengertakan giginya.
"Nggak usah! Aku nggak perlu Billy untuk menjagaku. Sudah libur akhir pekan, aku akan dirumah aja, beberapa hari ini!" ujar Dinda sambil merebahkan punggungnya, ke sandaran kursi.
"Kamu nggak usah khawatir! Kalau harus keluar kota, kamu pergi aja!" sambung Dinda kepada Rudi.
Rudi terdiam, lalu menatap Billy. Rudi masih memasang tampang sangar. Rudi kecewa dengan Billy. Dia benar-benar kesal.
Billy hanya memalingkan wajahnya, dia tidak mau menanggapi tatapan Rudi, yang seolah-olah mengajaknya berkelahi.
Dinda melihat gerak-gerik Rudi dan Billy. Dia jadi merasa malas melihat mereka.
"Sebaiknya kalian pergi berobat aja ke dokter sana!" ujar Dinda.
"Aku lelah!" sambung Dinda sambil berdiri seakan mempersilahkan kedua lelaki itu pergi.
__ADS_1
Billy duluan berdiri lalu pergi dari situ dengan mengendarai mobilnya.
Rudi kemudian ikut berdiri, dengan pikiran yang kacau. Meski sedikit ada rasa kagum dengan Billy yang berani bertanggung jawab dengan memberi tahu Rudi, kesalahan apa yang telah Billy perbuat.
Tapi tetap saja, Rudi masih merasa kesal dengan lelaki itu.
Rudi menyempatkan memeluk Dinda sebentar untuk berpamitan, "Aku pergi keluar kota tiga hari. Kalau ada apa-apa cepat hubungi aku! Jangan jalan keluar rumah sendirian!" ujar Rudi.
"Aku langsung pergi, aku harus siapkan barang yang harus aku bawa, jadi aku mungkin nggak singgah kesini lagi. Ingat omonganku, ya?!" sambung Rudi.
Rudi mencium bibir Dinda sebelum dia pergi.
Dinda melambaikan tangannya, saat dia melihat mobil Rudi sudah mulai berjalan. Dinda kemudian mengunci pintu pagar, lalu masuk kedalam rumah.
Seperti yang Dinda bilang pada Rudi, dia tidak butuh siapa-siapa menjaganya, karena dia memang tidak kemana-mana. Malam itu dia menghabiskan waktu dikamarnya, sampai dia tertidur.
Pagi-pagi sekali, Dinda sudah bangun. Seperti biasa dia pergi sarapan, yang sudah disiapkan mbok Inah. Lalu bersantai didepan televisi.
Tidak ada yang menarik yang bisa dia tonton, dia lalu mematikan televisi itu. Kemudian dia mencoba mengirim pesan pada Laura. Tidak terkirim, nomor kontak Laura sejak saat itu, tidak pernah aktif lagi sampai sekarang.
Dinda berpikir mungkin Laura sedang tidak bisa untuk diganggu. Coba kalau Mita belum kembali keluar negeri, bisa Dinda mengajaknya kerumah.
Mbok Inah terlihat sedang bersih-bersih, mendekat ditempat Dinda duduk.
Dinda tidak mau mengganggu pekerjaan wanita tua itu, jadi Dinda masuk kembali kekamarnya, yang baru saja selesai dibersihkan mbok Inah.
Dia menonton video dari aplikasi di layar ponselnya. Tidak terasa Dinda malah tertidur lagi.
Sekitar satu jam kemudian, saat Dinda masih tertidur, ponselnya berdering. Suara dan getaran benda itu membangunkan Dinda.
Dinda melihat panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Awalnya dia tidak menghiraukannya, kemudian benda itu bergetar lagi.
Panggilan masuk masih dengan nomor yang sama.
"Halo!" ujar Dinda menyambut panggilan itu.
Seseorang bicara dari seberang cukup lama. Raut wajah Dinda berubah. Dia jadi panik. Setelah panggilan itu terputus, Dinda menelpon Rudi.
Berkali-kali dia mencoba menghubungi Rudi, tapi nomor Rudi tidak aktif.
Dinda mengganti bajunya buru-buru, sambil tetap mencoba menelpon Rudi. Nihil, dia tidak bisa menghubunginya.
__ADS_1
Dinda berpamitan dengan mbok Inah, lalu berlari keluar. Dia memacu mobilnya di jalanan.