
"Benar-benar kejutan yang luar biasa, kita bisa berkumpul di rumah Dinda. Bagaimana kamu bisa ada disini, Lex?" ujar Rudi.
"Billy mengajakku kesini tadi. Ternyata disini rumah Dinda. Amazing! Aku juga nggak nyangka kita bisa ketemu seperti ini. It's fun!" seru Alex. Dia tersenyum sinis.
Rudi melotot kearah Billy.
Billy tak mau kalah, balik melotot pada Rudi.
"Kalian nggak ada yang penah bilang, kalau kalian berteman," ujar Billy.
"Kalau aku tahu kita sebenarnya bisa sering ketemuan. Mungkin main basket bareng?!" sambung Billy lagi.
"Ditempat Alex bisa tuh!" ujar Rudi.
"Gimana?" tanya Rudi
"Ok, kapan kita bisa main bareng?" kata Billy bersemangat.
"Hmmm..." Alex menggumam
"Mulai besok tempat ku di sewa anak-anak SMP untuk bertanding, sampai minggu depan," kata Alex
"Kalau sekarang ini bagaimana?" tanya Alex
"Boleh!" seru Billy dan Rudi hampir berbarengan. Mereka berdua memang berniat membawa Alex pergi dari situ.
"Rud! Dinda dibawa, dia bisa jadi jurinya," ujar Alex.
Dinda yang sedari tadi hanya mendengarkan mereka bicara, lalu menggeleng saat ditanya Alex.
"Kamu harus ikut!" kata Alex.
"Apa kamu nggak mau lihat Rudi kalah dariku?" sambungnya.
Dinda menatap Rudi dan Billy bergantian. Kedua lelaki itu hanya melihatnya tanpa menunjukkan ekspresi apa-apa.
"Aku belum mandi. Kalian duluan aja, aku tahu tempatnya, nanti aku menyusul" kata Dinda.
"Kalian berdua duluan aja! Nanti aku bareng Dinda!" ujar Rudi.
Alex kemudian berjalan kearah mobilnya, disusul Billy.
"Billy!" teriak Dinda
Billy berhenti berjalan, lalu berbalik. Dia melihat Dinda berlari kearahnya.
"Apa kamu sudah nggak pusing?" tanya Dinda setengah berbisik. Dia masih khawatir kalau Billy menyetir sendiri.
Billy gemas dengan sikap perhatian Dinda. Dia mencubit pipi Dinda pelan.
"Nggak, kok! Aman aja!" kata Billy sambil tersenyum manis pada Dinda.
Rudi masih diteras, sedangkan Alex sudah hampir melewati pagar, mereka berdua hanya terdiam melihat tingkah Billy dengan Dinda.
Dinda berbalik kembali kerumahnya. Billy dan Alex lanjut berjalan ke arah mobil yang terparkir. Mereka berdua berlalu pergi, dengan mobil masing-masing.
Rudi dengan Dinda masuk kedalam rumah.
"Aku mandi dulu!" kata Dinda.
Rudi duduk diruang tengah menunggu Dinda.
Tak lama Dinda keluar, sudah segar. Dia mengenakkan kaus oblong, berpadanan dengan celana selutut.
Rudi tidak berhenti merasa kagum dengan kecantikan Dinda. Tidak heran kalau Billy dan Alex bisa tertarik dengan Dinda, pikir Rudi.
__ADS_1
"Ayo kita pergi!" ujar Dinda membuyarkan lamunan Rudi.
Rudi mencium bibir gadis itu, lembut. Lalu dia merangkul Dinda, sambil berjalan keluar ke mobilnya.
Diperjalanan, Rudi yang sedang menyetir lalu bertanya pada Dinda.
"Waktu kamu chat aku tadi, kamu mau ngomong apa?"
"Hmmm... Begini! Bukannya aku nggak mau menikah denganmu. Sebenarnya, aku mau masa magangku berakhir dulu. Aku memang menunda-nunda, karena aku mau aku jadi rekanan di firma...
Sesudah itu baru aku nanti memikirkan pernikahan..." kata Dinda.
Dinda bicara dengan mantap kali ini. Dia ingat yang dikatakan Billy, kalau dia harus bisa mengatakan, apa yang dia mau pada Rudi. Dinda lalu menatap Rudi, dia menunggu respon Rudi.
Rudi tertegun mendengar perkataan Dinda. Sekarang dia tidak tahu apa dia sedih atau senang.
Di lain sisi Rudi mau Dinda cepat jadi miliknya seutuhnya, disisi lain dia juga tidak mau membuat Dinda harus memilih antara cita-citanya atau Rudi.
Rudi sebenarnya terbawa emosi karena ada dua orang laki-laki lain yang sama-sama mengejar Dinda. Dia mau cepat menikah, agar Dinda nanti hanya untuknya. Dia khawatir kalau kalau Dinda nanti berubah pikiran, jika terlalu sering di kitari dua lelaki itu.
Rudi tidak menjawab apa-apa. Dia hanya memegang tangan Dinda.
"Oh iya, kamu bilang apa ke Billy tadi?" tanya Rudi yang tadi sempat penasaran.
"Ooh... Tadi tuh, kami nyantai dirumah! Billy, Laura dan teman lamaku, Mita. Terus, Billy dengan Mita minum bir cukup banyak. Aku khawatir dia menyetir sendiri kalau dia masih mabuk," kata Dinda
Rudi mendengar kata-kata Dinda. Meskipun ada rasa cemburu pada Billy, tapi dia senang karena Dinda mau bicara. Billy juga masih memberi Rudi kesempatan, sampai Dinda bisa menghubungi Rudi tadi.
Ketika mereka berdua sampai di lapangan basket, Billy dan Alex sudah pemanasan.
Butir-butir keringat diwajah mereka berdua berkilau terkena cahaya lampu lapangan. Mereka berdua hanya mengenakan celana pendek.
Dinda lalu duduk di kursi penonton. Sedangkan Rudi mendatangi Alex di tengah lapangan. Keduanya terlihat berjalan keruang ganti, meninggalkan Billy yang asyik mendrible bola basket ditangannya.
Rudi dan Alex kemudian terlihat kembali ke tengah lapangan. Seakan tak mau kalah, Rudi juga hanya memakai celana pendek, lalu meminta bola dari Billy. Rudi mulai pemanasan, dengan mendrible bola basket ditengah lapangan.
Dinda grogi melihat dari dekat bentuk tubuh ketiga lelaki itu yang atletis, dengan perut mereka yang seperti roti sobek. Gadis itu seperti sedang melihat finalis bintang iklan minuman protein.
Dinda gelagapan.
"Kamu bisa hitung poin?" tanya Billy pada Dinda.
"Aku nggak tahu! Emangnya kalian nggak bisa hitung sendiri?" ujar Dinda.
Mereka lalu berbisik-bisik. Rudi dan Alex lalu berjalan kembali ke tengah lapangan. Sedangkan Billy duduk disamping Dinda.
"Kenapa kamu nggak ikut main?" tanya Dinda
"Kami gantian. Yang berhasil mengeluarkan dua lawan berturut-turut, dia pemenangnya," jawab Billy
Dinda dan Billy menonton permainan Alex lawan Rudi. Kedua lelaki itu sudah memulai permainannya.
"Kamu sudah ngomong dengan Rudi?" tanya Billy
"Sudah! Cuma kayaknya dia masih pikir-pikir. Belum ada tanggapan darinya," jawab Dinda.
"Ooh... Baguslah kalau begitu!" kata Billy.
"Apanya yang bagus?" tanya Dinda
"Bagus kalau kamu sudah bisa ngomong. Cuma lebih bagus lagi kalau dia menyerah denganmu," ujar Billy. Lelaki itu memasang wajah mengejek kearah Dinda.
Dinda tahu kalau Billy sedang menggodanya.
"Apa kamu bilang?" seru Dinda.
__ADS_1
Billy hanya tertawa.
Dinda refleks mencubit paha Billy.
"Sakiiit! Pahaku biru-biru semua loh!" kata Billy
"Mana? Cubitnya pelan aja kok!" kata Dinda.
"Beneran...! Mau lihat?" Billy lalu menarik sedikit celana pendek longgar yang dia pakai, memperlihatkan bekas cubitan dipahanya.
"Nah! Biru kan?" kata Billy
Dinda melihat paha Billy. Cuma merah doang, pikir Dinda
"Kenapa liat-liat? Pengen?" sambil tertawa, Billy menggoda Dinda lagi.
Dinda gemas dengan tingkah Billy, yang masih menggodanya. Dinda lalu menjitak kepala Billy.
Billy mengelus kepalanya. Kini Dinda yang tertawa melihat Billy kesakitan.
Dari tengah lapangan, Rudi dan Alex sekali-sekali melihat kearah kursi penonton tempat Dinda duduk bersama Billy. Kedua lelaki itu tidak bisa konsentrasi, melihat Dinda yang tertawa dengan Billy.
Seakan gadis itu merasa nyaman saat bersama Billy, dan tidak memperdulikan mereka, yang adu kehebatan ditengah lapangan.
Rudi yang paling teralihkan perhatiannya saat melihat Billy dengan Dinda, akhirnya kalah poin dari Alex. Rudi kemudian pergi duduk disamping Dinda.
Billy lalu berdiri, ini gilirannya bermain bersama Alex.
Dinda melihat Rudi sudah mulai keringatan. Dinda mengeluarkan tissue dari dalam tasnya, lalu mulai mengelap wajah Rudi.
"Capek?" tanya Dinda
Rudi mengangguk.
Rudi menghentikan tangan Dinda, yang mengusap wajahnya. Dia lalu memegang tangan Dinda.
"Kamu nggak suka nonton basket?" tanya Rudi, yang melihat Dinda tidak terlalu memperhatikan permainan mereka.
"Suka aja! Cuma aku nggak biasa nonton yang pemainnya cuma dua orang gitu..." kata Dinda
"Biasanya 'kan yang main itu satu tim!" sambung Dinda.
Belum berapa lama Rudi duduk, Alex sudah mendekat kesitu.
"Aku kalah dari Billy!" ujar Alex.
Rudi melepaskan tangan Dinda. Dia berdiri, lalu bermain menggantikan Alex.
Saat Alex duduk didekat Dinda, gadis itu lalu memperhatikan Rudi, yang sudah mulai bermain bersama Billy.
"Sepertinya, kamu nggak senang dengan aku!" kata Alex pada Dinda yang menonton permainan Rudi dengan Billy.
"Nggak kok! Biasa aja! Kenapa kamu ngomong gitu?" ujar Dinda
"Soalnya, kamu seolah tidak menganggap aku ada disini!" kata Alex. Suara lelaki itu terdengar sedih.
"Nggak! Jangan salah paham! Kita baru kenal, rasanya aku nggak bisa sok dekat gitu kan?!" kata Dinda.
"Kalau gitu, apa kamu mau ngobrol dengan aku?" tanya Alex
Dinda mengerutkan alisnya.
"Bukannya kita lagi ngobrol?" Dinda balik bertanya
"Hadeh...! Maksudnya ngobrol biasa... mungkin kita bisa ngobrol, 'kemarin abis maling jambu pak Rt'... Gitu!" kata Alex.
__ADS_1
Dinda tersenyum mendengar perkataan Alex.
Melihat Dinda begitu, Alex ikut tersenyum.