OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 64


__ADS_3

Setelah mendapat telepon yang mengatakan kalau Rudi kecelakaan tadi, Dinda sangat kalut. Dia tidak bisa berpikir jernih.


Apalagi setelah beberapa kali Dinda menghubungi nomor Rudi, tapi tidak bisa tersambung.


Dinda menyetir mobilnya sambil menangis. Dia menuju tempat yang diberitahukan orang lewat telepon tadi.


Dinda memperhatikan kondisi jalan yang sepi, dia hanya terpikir akan keadaan Rudi. Dia merasa bodoh karena tidak sempat menanyakan Rudi pergi kemana.


Tapi karena merasa sangat khawatir, Dinda mengebut di sepanjang jalan itu.


Saat sudah menempuh perjalanan yang cukup jauh, sekitar hampir satu jam dia menyetir, Dinda mencoba menghubungi Rudi lagi.


Masih dalam keadaan mengebut, Dinda berusaha mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.


Dinda melihat layar ponselnya sambil terus menyetir, saat dia kembali melihat kejalan, tiba-tiba dia melihat ada sebuah motor tergeletak ditengah jalan.


Dinda membanting setir mobil kekanan, sambil menginjak rem.


Tapi karena mobilnya melaju terlalu kencang, butuh waktu beberapa menit, baru lah rem nya berfungsi.


Mobilnya tidak bisa langsung berhenti sampai menabrak pohon besar dipinggir jalan. Dinda jatuh pingsan didalam mobilnya. ~


Di tempat lain, Rudi sedang ada pertemuan dirumah klien. Sejak pagi mereka sudah berbincang-bincang, perut Rudi sudah mulai lapar.


Karena lelah menyetir di perjalanan panjang tadi malam, Rudi bangun kesiangan. Dia tidak sempat sarapan. Dia melihat tangannya, jam tangannya ketinggalan.


Disela sela pembicaraan mereka, Rudi mengambil ponselnya hendak melihat jam disitu. Tapi ponselnya mati, dia lupa mencharge benda itu sampai kehabisan baterai.


Rudi melihat-lihat kedinding di sekelilingnya. Ada jam dinding kecil dipojokkan, agak jauh dari tempat mereka duduk.


Rudi memicingkan mata.


Sudah hampir jam empat sore.


Klien-nya melihat gerak-gerik Rudi. Seakan baru menyadari pertemuan mereka yang terlalu lama, klien Rudi lalu mengajak mereka untuk istirahat. Kemudian menjamu mereka makan siang meski sudah terlambat.


Rudi, temannya dan klien mereka itu makan bersama, sebelum Rudi dan temannya permisi untuk pergi.


"Lama amat ngobrolnya!" ujar Rudi pada temannya, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Mereka kembali ke penginapan tempat mereka singgah beristirahat. Besok masih ada satu perjalanan lagi, pikir Rudi.


Saat sudah dikamarnya, Rudi mencharger ponselnya sambil berbaring di ranjang. Sesekali dia melihat layar benda itu, masih belum menyala. Dia kembali berbaring.


Sekitar beberapa waktu kemudian, barulah ponselnya menyala. Melihat kilatan cahaya dari benda itu, Rudi lalu mengambilnya sambil tetap menyambung kabel charger di benda itu.


Rudi terbelalak, saat melihat layar handphonenya. Belasan kali Dinda menghubunginya.

__ADS_1


Buru-buru Rudi menelpon Dinda kembali. Terdengar nada sambung, sempat dua kali suara itu bisa di dengar Rudi, kemudian terputus. Rudi mencoba menghubungi Dinda lagi. Nomornya sudah tidak aktif.


Tubuh Rudi gemetar hebat. Lututnya terasa lemas, dia merasa mungkin terjadi sesuatu yang buruk. Kembali dia mencoba menghubungi Dinda berulang-ulang, tetapi sama saja. Nomor Dinda tidak bisa dihubungi.


Rudi teringat Billy, dia tidak menyimpan kontak lelaki itu. Dia memeriksa bekas panggilan kemarin. Setelah memeriksa satu persatu, ada satu panggilan masuk yang dia rasa itu dari Billy.


Setelah yakin, dia lalu menelpon ke nomor itu.


"Halo!" sahut Billy dari seberang.


"Halo! Billy!" ujar Rudi.


"Iya, kenapa?" sahut Billy lemas.


"Kamu lihat Dinda? Ada dia hubungi kamu?" tanya Rudi tergesa-gesa


"Nggak! Aku di vila sejak kemarin. Kenapa?" Billy mulai terdengar cemas.


Mendengar jawaban Billy, Rudi merasa tubuhnya lemas. Dia tidak mampu berdiri. Dia terduduk dipinggir ranjang. "Tolong kamu periksa Dinda di rumahnya!"


Tanpa menunggu jawaban Billy, Rudi langsung memutus panggilan itu. Rudi mengumpulkan kekuatannya, dia berlari ke mobilnya. Kemudian memacu mobilnya, hendak kembali mencari Dinda.


Rudi tidak menghiraukan temannya yang tadi duduk di lobby berteriak-teriak memanggilnya, sampai ke pinggir jalan.


Rudi hanya melirik temannya dari spion. Dia mengebut pulang ~


Ada apa dengan Dinda, sampai-sampai Rudi meminta nya untuk menemui Dinda dirumahnya?


Dia mencoba menghubungi Dinda, nomornya tidak aktif. Billy mencobanya lagi, masih sama. Dia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Rem mobil Billy mendecit, saat sampai didepan rumah Dinda.


Billy buru buru keluar dari mobil, dia membanting pintu mobilnya lalu berlari masuk kedalam rumah Dinda.


Saat itu dia langsung mencari-cari Dinda. Billy melihat mbok Inah.


"Mbok, Dinda mana?" tanya Billy


"Eh, tadi Non Dinda pamit, katanya mau ketemu Tuan Rudi," jawab mbok Inah.


Billy terbelalak.


Astaga!


Apa yang sebenarnya terjadi?


Billy menatap mbok Inah, dia tidak mau orang tua itu khawatir. Billy berusaha agar tetap terlihat tenang didepan mbok Inah.

__ADS_1


"Mbok, aku mau menunggu Dinda di depan, bisa mbok buatkan aku minum?" ujar Billy.


Mbok Inah mengangguk lalu berjalan kedapur. Dia menyiapkan minuman untuk Billy.


Billy duduk di kursi teras. Dia lalu menelpon Rudi.


"Halo!" sahut Rudi


"Dasar bodoh! Kata mbok Inah, Dinda pergi menemuimu! Kenapa kamu membuatku panik begini?" ujar Billy membentak Rudi.


"Aku nggak ada janjian ketemu dengan Dinda. Apa kamu lupa kalau aku keluar kota kemarin?" Rudi tak mau kalah, dia berteriak di seberang telepon.


"Terus? Apa Dinda tahu kamu dimana?" tanya Billy.


"Kemarin, aku nggak sempat kasih tahu, aku pergi kedaerah mana," suara Rudi terdengar bergetar.


Billy lemas, kemana Dinda pergi?


Mbok inah lalu datang, dan menyajikan minuman dimeja, lalu kembali masuk kedalam rumah.


"Kamu dimana sekarang?" tanya Billy kesal.


"Aku dijalan kembali!" sahut Rudi, suaranya sedikit terganggu, dengan suara kendaraan lain yang berpapasan dengannya dijalan.


"G*blok! Kalau terjadi sesuatu dengan Dinda, akan kuhabisi kamu!" bentak Billy, yang lalu memutus panggilan itu


Billy tertunduk dikursi, dia memegang kepalanya dengan kedua tangannya.


Dia kembali menghubungi Dinda. Tidak berhasil. Berkali-kali dia mencoba tetap tidak berhasil.


Kira-kira apa yang terjadi dengan Dinda? Billy menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. Dia gelisah, dia lalu berdiri, kemudian berjalan mondar-mandir. Seakan mendapat pencerahan. Billy duduk kembali.


Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan Alex.


Billy lalu menghubungi nomor Alex.


"Halo!" terdengar suara Alex menyahut dari seberang.


"Halo! Kamu dimana Lex? Mau main basket?" ujar Billy berpura-pura.


"Sudah tiga hari ini aku diluar kota, besok lusa baru aku balik. Tunggu aku balik nanti, baru kita main lagi, ok?!" sahut Alex.


Billy memperhatikan suara Alex, tenang seperti dia tidak tahu apa-apa.


"Okelah kalau gitu! Kabari aku kalau kamu sudah kembali!" ujar Billy. Dia lalu memutus panggilannya dengan Alex.


Billy menelpon beberapa kenalannya, menyuruh mereka mencari informasi tentang keberadaan Dinda. Billy mengirim foto Dinda dan mobilnya ke beberapa kenalannya itu.

__ADS_1


Kepala Billy penuh dengan pertanyaan. Mau nggak mau, dia harus menunggu kabar disitu sampai Dinda pulang, atau Rudi datang.


__ADS_2