OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 100


__ADS_3

Billy memandangi wajah Dinda yang sudah sejak tadi tertidur. Billy merasa Dinda tampak sedih dalam tidurnya. Perasaan bersalah timbul dalam hati Billy. Apa yang dikatakan Rudi terakhir kali memang benar. Billy yang merusak hubungan Rudi dengan Dinda.


Andaikan Billy bisa melupakan Dinda semudah itu, dia tidak akan mengganggu mereka. Billy sadar, kalau sampai Rudi memiliki perasaan pada Dinda yang sama sepertinya, maka Rudi tidak akan berhenti sampai keinginannya tercapai.


Billy harus memutar otak agar Dinda tidak berpaling darinya. Dia harus membuat Dinda lebih mencintainya, sampai Dinda benarbenar melupakan Rudi.


Rasa khawatir menghantuinya. Saat Dinda melihat Rudi tadi, tampak jelas bagi Billy kalau Dinda walau sedikit masih menyimpan sisa rasa cinta untuk Rudi, meskipun Dinda berusaha menutupinya. Wajar saja, Dinda sudah bersama Rudi sampai bertahun tahun lamanya. Billy memahami itu.


Ini semua karena Papa.


Billy semestinya tidak pergi ke luar negeri waktu itu, sampai harus meninggalkan Dinda sendirian. Mestinya Billy tidak memberi kesempatan bagi siapa pun untuk bersama Dinda, apalagi sampai selama itu.


Dia makin membenci papanya, tapi dia juga membenci dirinya yang tidak mampu melawan pria itu.


Billy mengelus rambut di pucuk kepala Dinda, gadis itu bergerak sedikit. Tangan Billy berhenti bergerak, dia tidak mau membangunkan Dinda. Saat dia melihat Dinda masih tertidur, dia menyentuh pipi Dinda pelan.


Billy teringat saat dia baru saja pindah sekolah. Saat dia melihat Dinda yang jadi teman sekelas barunya, detik itu juga jantungnya seakan berhenti berdetak. Detik itu juga dia merasakan yang namanya jatuh cinta.


Ketika dia tahu kalau Dinda akrab dengan Mita dan Dovi, Billy berusaha menjadi teman Dovi agar bisa dekat dengan Dinda. Meskipun waktu itu Dinda tampak tidak terlalu memperdulikan keberadaannya.


Sampai ditahun berikutnya baru dia memberanikan diri untuk mengakui perasaannya pada Dinda.


Gayung bersambut, Dinda menerima cinta Billy. Dadanya seakan mau meletus, sesak rasa nafas Billy saking senangnya. Billy tidak mengenal yang namanya cinta monyet. Sampai detik ini, rasa sayangnya pada Dinda tidak pernah berubah, malah makin menjadi-jadi.


Dinda tiba-tiba membuka matanya. Dia melihat Billy yang menatapnya sambil senyum-senyum sendiri. Dinda mengucek matanya.


"Apa aku tidurnya lama?" tanya Dinda yang kemudian menguap sambil menutup mulutnya dengan tangan.


Billy melihat arloji ditangannya.


"Kurang lebih satu jam,," sahut Billy.


"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Dinda lagi sambil mendekatkan wajahnya sampai hidung mereka bersentuhan.


"Hmm,, Aku hanya teringat waktu kita baru bertemu waktu SMA dulu" ujar Billy masih saja tersenyum. "Aku ingat gugupnya aku saat pertama kali melihatmu menatapku dikelas,, aku takut kalau ada yang salah denganku" sambung Billy. Dia menggenggam tangan Dinda.


Dinda tersenyum. Dia juga ingat merasakan hal yang sama. Dinda sampai bertanya pada Mita kalau kalau bedaknya ketebalan.


Dinda tertawa pelan. "Sama saja,,"


Billy ikut tertawa. "Aku jatuh cinta denganmu sejak pertama kali melihatmu,," ujar Billy, kemudian dia mencium bibir Dinda dengan lembut.


Saat Billy melihat Dinda memejamkan matanya saat dia menciumnya. Billy berharap Dinda mengingat kenangan itu, saat Dinda hanya mencintainya.


"Kamu mencintaiku?" tanya Billy sambil menatap mata Dinda dalam dalam.

__ADS_1


Dinda mengangguk. "Iya,, aku mencintaimu"


Billy menarik nafas lega. Dia bisa melihat kalau Dinda bersungguh-sungguh mengatakannya.


Billy mendapat ide. Jika dia bisa membuat kenangan Dinda bersama Billy sebelum hadirnya Rudi, bisa bertahan dan berulang, mungkin Dinda bisa benar benar melupakan Rudi.


"Kita pergi ke vila,, mau nggak?" tanya Billy.


Dinda terdiam. Dia berpikir sejenak.


"Nginap?" Dinda balik bertanya


"Kita tinggal disana," ujar Billy


Dinda kembali terdiam.


"Disana udaranya masih lebih segar juga nggak terlalu bising,, kamu bisa istirahat dengan baik,, aku nggak mau kamu sakit lagi" ujar Billy beralasan.


Dinda yang tidak tahu rencana Billy yang sebenarnya, menyetujui ajakkannya untuk pindah kesana.


Mereka kemudian bersiap-siap. Mereka membawa mbok Inah ikut serta dengan mereka ke vila.


Billy merasa rencananya bisa berhasil, belum tentu Rudi tahu kalau mereka pindah kesana. Bisa saja Rudi berpikir kalau Dinda pergi kemana saja bersama Billy.


Juga Billy bisa memerintahkan penjaga vila untuk menghalangi Rudi, seandainya Rudi menyusul kesana. Jadi dia tidak bisa muncul sesukanya seperti saat mereka masih dirumah Dinda.


Billy harus melakukannya secara sembunyi-sembunyi.


Setibanya di vila, Billy membawa barang bawaan mereka masuk. Dia juga mengantar mbok Inah kekamar barunya di vila. Sedangkan Dinda berjalan jalan diluar dekat danau.


Dinda tahu kalau memang benar yang dikatakan Billy. Dinda merasa ditempat itu memang jauh lebih menenangkan dan segar dibandingkan dirumahnya yang terletak ditengah perkotaan.


Ketika Dinda asyik duduk berayun diatas hammock, Billy sudah menyusul lalu ikut duduk disitu.


"Ini,," Billy menyodorkan segelas jus apel buatan rumahan yang dibuat pekerja di vila.


"Mbok Inah ngapain?" tanya Dinda


"Masih menyusun barang-barangnya dikamar" ujar Billy, kemuadian dia merangkul Dinda.


Dinda jadi ingat tentang pakaian wanita dilemari dikamar Billy. Beberapa kali dia mau bertanya tapi tidak ada kesempatan.


"Baju-baju perempuan yang banyak didalam lemari itu punya siapa?"


"Itu bajumu,," sahut Billy enteng

__ADS_1


"Lah,, bajuku?" tanya Dinda bingung.


"Iya,, aku sudah membayangkan kalau kamu akan bersamaku lagi,, jadi waktu aku kembali dari Australia, aku membeli semua itu" ujar Billy. Dia tidak perduli kalau Dinda akan menganggap itu aneh. Dia memang berkata jujur.


Dinda merasa Billy agak creepy.


"Kamu seyakin itu kalau aku akan bersama kamu? Trus,, gimana juga kamu bisa tahu ukuran bajuku sekarang?" tanya Dinda mau tahu yang sebenarnya. Dari pada nanti dia terus merasa kalau Billy aneh.


"Sebenarnya aku nggak terlalu yakin,, Aku hanya berharap saja kamu akan bersamaku lagi,," ujar Billy. "Begitu juga ukurannya,, aku hanya mengira-ngira saja, saat aku melihatmu waktu itu"


"Ketika aku tahu kamu bekerja di firma milik papa, aku sengaja memamerkan ke kamu kalau aku sudah menikah,, aku mau membuatmu merasakan sakit hatinya digantung,, ternyata,, malah aku yang makin sakit saat melihatmu yang seakan melupakan aku,," Billy menggenggam tangan Dinda.


"Hampir saja aku kembali ke luar negeri,, tapi waktu aku bertemu kamu dikafetaria kantormu, aku tahu kalau aku nggak bisa melepaskanmu,, rasanya aku akan gila kalau aku pergi begitu saja,, aku tidak perduli meski kamu tidak menginginkanku seperti dulu,," sambung Billy.


Dinda serius mendengarkan cerita Billy, tanpa bereaksi apa apa.


"Dinda,, aku penasaran,, apa kamu marah denganku yang menghamilimu?" tanya Billy tiba tiba.


"Aku takut kamu menyesal bertemu denganku,, Sekarang terus terang aku khawatir, kalau kamu hanya mau menikah denganku karena kandunganmu, dan tidak mencintaiku seperti aku mencintaimu,,"


Dinda terdiam. Dia mencintai Billy. Sebenarnya dia mencintai dua lelaki yang pernah ada dihidupnya. Perasaannya pada Rudi dan Billy sama besarnya.


Dinda juga merasa bodoh, kenapa tidak bisa meyakinkan dirinya sendiri. Dia tidak menyesal mengandung anak Billy, tapi dia juga tidak tahan melihat Rudi terluka.


"Aku mencintaimu,, aku nggak menyesal mengandung anakmu,," ujar Dinda. Dia tidak bisa mengatakan pada Billy bagaimana perasaannya terhadap Rudi.


Mereka berdua terdiam beberapa saat, tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Demi calon bayi yang ada dikandungannya. Dengan alasan sekuat itu, dia berharap seiring berjalannya waktu, dia dan Rudi bisa saling melupakan perasaan mereka satu sama lain.


Dinda tahu kalau dia harus memutus kontaknya dengan Rudi, kalau dia mau mereka saling melupakan.


"Billy,, bisa kamu ambilkan hp ku,, tadi aku tinggal diatas dashboard mobil," kata Dinda


"Bentar,," Billy lalu berjalan menuju mobilnya yang terparkir didepan bangunan vila.


Billy kembali sambil membawa ponsel Dinda. Dia kemudian menyodorkan ponsel itu kepada Dinda, lalu kembali duduk disamping Dinda.


Dinda menyalakan layar ponsel, lalu mencari kontak Rudi. Dia kemudian memblokir Rudi agar tidak bisa menghubunginya lagi.


Billy yang berpura pura tidak melihat apa yang Dinda lakukan dengan ponselnya, tersenyum puas. Dinda sendiri yang memblokir kontak Rudi, tanpa harus Billy lakukan secara sembunyi-sembunyi. Dadanya terasa sangat lega.


Kini dia yakin kalau Dinda tidak akan terpengaruh dengan Rudi lagi.


"Kamu mau makan? Aku lapar,," ujar Billy yang sudah berdiri didepan Dinda.

__ADS_1


Dinda ikut berdiri. Lalu berjalan masuk ke vila bersama Billy.


__ADS_2