
Saat Dinda terbangun, dia melihat sekelilingnya. Dia didalam ruangan yang dipenuhi hampir semua orang terdekatnya.
Billy yang duduk tepat disampingnya, kemudian Mama Billy, Laura, Alex, Paman dan tantenya, yang berdiri disisi sebelahnya lagi, juga ada seseorang yang tidak jelas terlihat wajahnya, sedang duduk di sofa.
Paman dan keluarganya berarti sudah datang dari luar kota, pikir Dinda.
Dinda berusaha untuk duduk, tapi ditahan mereka semua yang ada disitu.
"Paman dan tante kapan sampai kesini?" tanya Dinda
"Baru saja,, kami langsung kesini,, tepat saat kamu tersadar," jawab tantenya Dinda.
Dinda masih bingung. Apa yang terjadi? Dia lalu teringat kejadian saat dia bertemu Mita.
Dia melihat tangannya, lagi-lagi sudah tertancap selang infus. Berarti dia berada di rumah sakit. Dinda menatap Billy dan Mamanya yang terlihat sembab seperti habis menangis lama.
Billy berulang-ulang mengecup punggung tangan Dinda, masih meneteskan air matanya.
Dinda belum pernah melihat Billy menangis sampai seperti itu. Dia lalu menyentuh tangan Billy yang memegang sebelah tangannya.
"Sudah,, Aku nggak apa-apa" ujar Dinda.
Billy menatap Dinda.
Tak lama, seorang perawat tampak berjalan mendekati mereka.
"Maaf bapak-bapak, ibu-ibu, pasiennya harus banyak istirahat,, bisa tolong bergeser dulu,, mendekatnya bergantian saja,," celetuk perawat itu.
Mereka kemudian berpindah duduk semua ke sofa. Tertinggal Billy yang tidak mau bergerak dari samping Dinda.
Setelah beberapa saat memeriksa Dinda, perawat itu lalu berkata
"Kalau ada apa-apa, bisa pencet tombol itu yaa" perawat itu menunjuk tombol yang ada didekat ranjang. Dia kemudian berjalan pergi dari situ.
Dinda melihat Billy yang seakan tidak mau berhenti menangis.
"Kenapa?" tanya Dinda.
Makin deras air mata mengalir diwajah Billy.
__ADS_1
"Kandunganmu keguguran" ujar Billy dengan suara bergetar.
Saat mendengar perkataan Billy, entah kenapa Dinda tidak terlalu merasa sedih. Dia sudah menduga itu saat melihat darah yang mengalir dikakinya waktu itu.
Dinda terdiam sebentar. Dia melihat betapa sedih Billy yang sangat mengharapkan bisa memiliki seorang anak dengannya. Dinda mengusap kepala Billy.
"Jangan terlalu dipikirkan yang sudah terlanjur terjadi," ujar Dinda pelan.
Laura yang sedari tadi tidak sabar ingin mendekat pada Dinda, lalu berdiri menghampiri Dinda.
"Kamu pendarahan hebat karena Mita,, Bagaimana acaranya besok kalau kamu masih sakit?" tanya Laura yang terlalu bersemangat dengan acara pernikahan Dinda.
Dinda terdiam. Selain Billy dan Mamanya memang tidak ada lagi yang tahu kalau dia sedang mengandung. Pantas saja Laura berpikir kalau itu cuma pendarahan perut biasa.
Billy merasa jengkel saat mendengar pertanyaan Laura. Dia tidak mau omongan Laura menambah pikiran Dinda. Billy lalu berdiri dan membawa Laura untuk menjauh.
Laura yang kebingungan hanya menurut saja, sampai dia akhirnya tersadar kalau pertanyaannya memang tidak pantas dia ucapkan saat kondisi Dinda seperti itu.
"Maaf" Laura menggerakkan mulutnya tanpa mengeluarkan suara sambil melihat Dinda.
Dinda mengangguk pelan.
Billy kembali duduk disamping Dinda saat Laura sudah duduk di sofa.
Dinda memperhatikan orang-orang yang duduk disofa seolah sedang melakukan perbincangan serius dengan suara berbisik bisik.
Dinda kehilangan minatnya untuk menikahi Billy. Meski dia mencintai lelaki itu, tapi tidak ada lagi dorongan dihatinya untuk buru-buru menikahi Billy.
Dinda mulai terpikir untuk membatalkan pernikahan mereka, dan memilih untuk melanjutkan hidupnya dengan mengikuti arus yang akan membawanya berlabuh kemana.
Dinda mengalihkan pandangannya kearah Billy, yang sejak tadi menatapnya. Tatapan mata Billy penuh kesedihan. Dinda jadi gamang. Dia mulai meragukan akal sehatnya. Dinda bingung dengan pilihan apa yang harus dia ambil. Semua tinggal terserah dirinya sendiri.
Seseorang yang sedari tadi duduk di sofa, berjalan menghampiri Dinda.
Dinda melihat lelaki paruh baya yang memiliki mata seperti Billy.
Dia papanya Billy.
"Kita belum pernah bertemu langsung,, sayangnya papa baru bisa bertemu Dinda pada saat Dinda sedang sakit." suara dan cara bicara Papa Billy sangat berkharisma. Jauh sekali berbeda dengan Billy.
__ADS_1
"Dinda mengenal saya?" tanya Papa Billy.
Dinda mengangguk pelan.
"Papa sudah lama ingin bertemu dengan Dinda,, Papa penasaran dengan wanita yang membuat anak lelaki papa tergila-gila,," ujarnya lalu tersenyum manis.
Senyumnya persis seperti senyum Billy yang bisa menggetarkan hati orang yang melihatnya. Billy lalu berdiri kemudian berpindah duduk dari situ.
Papa Billy menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Billy seperti papa waktu masih muda,, tapi papa tahu kalau dia lemah kalau urusan cinta." celetuk Papa Billy yang sudah mengambil tempat duduk yang dipakai Billy tadi.
"Dinda memang harus lebih sabar menghadapi Billy yang terkadang bersikap seperti anak kecil,, Dia memang manja dengan orang yang dia cintai,, sama seperti papa" Pria itu menghela nafas panjang.
"Untung saja mama Billy bisa bertahan dengan sikap papa,," Papa Billy melihat kearah Mama Billy yang duduk disofa.
Dinda sebenarnya bingung dengan maksud pembicaraan papa Billy yang seakan tahu kalau Dinda mulai meragukan niatnya untuk menikahi Billy.
Dinda menatap heran kearah papa Billy dengan alis mengkerut.
Papa Billy seolah menyadari apa yang dipikirkan Dinda.
"Dinda sempat dekat dengan pemuda lain saat Billy ikut papa keluar negeri kan?" tanya Papa Billy.
"Mama Billy sudah memberitahu cerita Billy tentang kehamilan Dinda, yang dibuat Billy tanpa ada persetujuan Dinda,, Papa jadi berpikir kalau Dinda hanya mau menikahi Billy karena Dinda sedang hamil,,
Sekarang Dinda keguguran, papa khawatir kalau Dinda akan menjadi ragu untuk menikah dengan Billy" kata Papa Billy sambil menatap mata Dinda.
"Papa tidak mau mempengaruhi pikiran Dinda,, papa hanya ingin Dinda tahu bagaimana Billy sebenarnya" ujar Papa Billy.
"Salahnya papa memaksa Billy untuk ikut keluar negeri sampai Dinda tidak sempat mengenalnya dengan lebih baik" wajah lelaki paruh baya itu tampak menyesal.
"Itu tetap jadi pilihan Dinda,, Apalagi papa tahu sikap Billy yang suka berlebihan dalam segala hal,,
Tapi, Papa rasa Billy bisa melewatinya jika memang keadaan tidak berpihak padanya" Papa Billy lalu menggenggam tangan Dinda sejenak sebelum dia berdiri, lalu mengajak Mama Billy untuk pergi dari ruangan itu.
"Mama pulang dulu ya,, biar Dinda bisa istirahat" ujar Mama Billy yang kemudian mengecup dahi Dinda dengan lembut.
Dinda hanya memandang bagian belakang kedua orang tua Billy yang berlalu pergi, sampai tidak terlihat lagi saat mereka melewati pintu.
__ADS_1
Setelah mendengar perkataan Papa Billy, Dinda merasa tidak tahu lagi apa yang terbaik. Kalau dia memang mau membatalkan pernikahannya, dia harus segera mengambil keputusan. Sebelum acara yang akan berlangsung besok.
Dinda hanya bisa menatap Billy yang kembali duduk disampingnya, sambil menimbang nimbang pilihan apa yang akan Dinda ambil.