
Rudi berjalan masuk kedalam rumah Dinda. Dia melihat kesana kemari, tapi Dinda tidak terlihat. Rudi lalu melihat mbok Inah keluar dari kamarnya.
"Mbok, dimana Dinda?" tanya Rudi.
"Oh, tadi Non Dinda pergi berziarah ke makam orang tuanya bersama tuan Billy," jawab mbok Inah.
"Sudah lama mereka perginya?" tanya Rudi lagi.
"Lumayan... Sepertinya sudah lebih dari satu jam yang lalu" kata mbok Inah.
"Tuan Rudi mau menunggu Non Dinda?" mbok Inah kembali bertanya
"Tuan Rudi mau minum apa?" tanya mbok Inah lagi.
"Hmm, nggak usah mbok! Kalau aku haus, nanti aku ambil sendiri aja!" kata Rudi.
"Baik, Tuan!"
Setelah dirasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan dengan Rudi, mbok Inah lalu permisi melanjutkan kembali pekerjaannya mengurus rumah.
Rudi duduk di kursi di teras depan. Di kantor pekerjaannya sudah selesai. Dia berniat menemani Dinda. Tak disangka Dinda ternyata pergi bersama Billy.
Rudi memilih untuk menunggu disitu sampai Dinda kembali.
Dengan Billy? Kenapa tiba-tiba mereka ke makam orang tua Dinda?
Rudi masih bertanya-tanya dalam hati, ketika sebuah mobil berhenti di depan rumah Dinda.
Billy turun lebih dulu dari mobilnya, lalu membukakan pintu untuk Dinda.
Dinda lalu berjalan masuk ke halaman, dengan Billy yang merangkul bahu Dinda.
Beberapa kali Dinda terlihat mengelap wajahnya dengan tangan.
Rudi mendekat kearah Dinda dan Billy datang.
Ketika melihat Rudi, Dinda hanya tertunduk dan terus melangkah pelan. Hati Dinda masih kacau, dia masih terbawa suasana sedih karena merindukan orang tuanya.
Tanpa bicara apa-apa, Rudi menghadang langkah Dinda dan Billy.
Dinda berhenti melangkah, gadis itu masih menundukkan kepalanya.
Rudi memegang dagu Dinda lalu mengangkat wajah gadis itu. Mata Dinda sembab, dia baru saja menangis lama.
Dinda menatap Rudi, mata gadis itu masih berair. Dinda lalu memeluk Rudi.
Rudi memeluk Dinda erat-erat. Sedangkan Billy yang sudah melepas rangkulannya dari bahu Dinda, hanya terdiam melihat mereka berpelukkan.
Rudi membawa Dinda masuk. Disusul Billy yang berjalan dibelakang mereka.
Dinda berbisik pada Rudi, kalau dia mau sendirian dulu dikamarnya.
__ADS_1
Rudi mengangguk dan mengantarkan Dinda sampai kekamar. Dinda sudah berbaring di ranjang, lalu Rudi keluar dari situ.
"Apa yang terjadi?" tanya Rudi pada Billy yang masih berdiri memandangi Dinda, dari pintu kamar.
Billy melihat Rudi sekilas, lalu pergi duduk di sofa yang ada diruang tengah. Rudi menyusulnya lalu ikut duduk disitu.
"Dinda rindu orang tuanya," kata Billy, ketika Rudi sudah duduk.
"Tadi mbok Inah nggak sengaja menyinggung tentang masa-masa kami SMA dulu," sambung Billy.
Kali ini Billy bisa bicara baik-baik. Agak mengherankan bagi Rudi, tapi Rudi masih mau tahu kenapa Dinda sampai sesedih itu.
"Maksudnya?" tanya Rudi lagi tidak mengerti.
Billy menatap Rudi. Laki-laki ini memang tidak mengenal Dinda dengan baik, pikir Billy.
"Tadi aku bercanda dengan Dinda. Lalu mbok Inah tertawa melihat kami. Mungkin karena itu, Dinda jadi ingat Mamanya yang biasanya memang tertawa begitu, kalau melihat kami lagi bercanda," kata Billy.
Billy melihat Rudi masih menatapnya, seperti menunggu penjelasan tambahan. Billy lanjut berkata
"Aku dulu akrab dengan papa mama Dinda. Aku sering main kesini. Kadang-kadang kami bertingkah seperti anak kecil yang saling mengganggu. Kebanyakkan sih, aku yang mengganggu Dinda.
Kalau Dinda sudah marah, dia biasanya mengejarku, untuk dia pukul. Mama Dinda meski melihat aku mengganggu Dinda, tidak akan marah denganku. Mama Dinda hanya tertawa saat melihat Dinda mengejarku kesana kemari.
Begitu juga dengan Papa Dinda yang tidak pernah marah dengan kelakuan kami, dia hanya membiarkan saja kami kejar-kejaran nggak jelas," kata Billy. Dia bicara panjang lebar, menjelaskan pada Rudi.
Dalam hati Billy, ada rasa penyesalan karena tidak bisa berada disisi Dinda, saat Mama dan Papa Dinda meninggal dunia. Makanya saat membicarakan orang tua Dinda, Billy jadi serius.
Pintu kamar Dinda masih terbuka. Rudi memandang Dinda yang berbaring diranjangnya, yang tepat berseberangan dengan sofa ruang tengah tempat Rudi dan Billy duduk.
Rudi tidak sempat bertemu dengan Mama Dinda. Saat Rudi mengenal Dinda, Mamanya sudah meninggal dunia. Rudi juga jarang bertemu Papa Dinda. Sebelum Papa Dinda wafat, Papa Dinda sering bekerja keluar kota.
Langkah mbok Inah yang mendekati Rudi dan Billy, membuyarkan lamunan Rudi.
Mbok Inah mendekati Billy.
"Tuan Billy mau minum apa?" tanya mbok Inah pada Billy.
"Kopi latte aja mbok!" jawab Billy.
Mbok Inah mengangguk. Dia lalu bertanya kepada Rudi.
"Tuan Rudi mau minum apa?"
"Nggak usah mbok!" sahut Rudi.
Mbok Inah berjalan ke dapur. Rudi melihat punggung mbok Inah menghilang dari sekat yang memisahkan ruang tengah dan ruang makan.
Rudi lalu menatap Billy.
Billy balik menatapnya.
__ADS_1
"Kamu nggak mau kopi?" tanya Billy heran. Karena beberapa kali mereka bertemu, Rudi biasanya minum kopi.
"Ah, aku nggak mau merepotkan mbok Inah!" jawab Rudi.
Billy tersenyum.
"Kamu nggak tahu ya?! Apa kamu nggak lihat? Mbok Inah itu nggak mau diam. Pekerjaan dirumah ini tidak banyak. Kadang-kadang dia mengulang-ulang pekerjaan yang sebenarnya sudah beres. Dari dulu, Mbok Inah senang kalau ada yang kita minta dia kerjakan. Mungkin supaya dia merasa kalau dia berguna," Kata Billy.
Saat Billy sedang berkata itu, Dinda sudah berdiri dipintu kamar. Dinda mendengar semua perkataan Billy tentang mbok Inah. Ternyata Billy tahu apa yang mbok Inah mau, pantas saja mbok Inah terlihat lebih memperhatikan dan sayang dengan Billy, dibanding orang-orang lain yang pernah bertamu ke rumah Dinda.
Dinda berjalan lurus ke dapur. Dia tidak menyapa atau melihat kearah Billy dan Rudi.
Rudi dan Billy sama-sama hanya melihatnya. Sepertinya mereka berdua sadar, kalau Dinda lagi tidak mau diganggu.
Sampai Dinda kembali dari dapur sambil membawa segelas air putih di tangannya, kedua lelaki itu tetap berdiam diri.
Dinda masuk lagi kekamarnya.
Rudi melihat Dinda, lalu melihat kearah Billy yang sudah sibuk dengan telepon genggamnya. Rudi tidak tahu mau berbuat atau berkata apa.
Tak lama mbok Inah kembali mendekati kedua lelaki itu. Ditangannya ada nampan dengan segelas kopi dan sepiring kecil kue kering. Mbok Inah menyajikan keatas meja dihadapan Rudi dan Billy.
"Makasih, mbok!" kata Billy dan Rudi hampir berbarengan.
Mbok Inah hanya mengangguk lalu berjalan kembali kedapur.
"Aku tadi sempat mengira kalau Dinda sudah kembali bekerja," kata Rudi basa basi.
Billy menoleh ke arah Rudi.
"Dinda semestinya tidak perlu bekerja di Firma buruk itu," celetuk Billy.
Billy lalu meletakkan ponselnya keatas meja.
"Kenapa?" tanya Rudi.
"Bisnis Papa Dinda hasilnya jauh lebih besar dari pada gaji Dinda disitu," sambung Billy. Lelaki itu memancing Rudi, seakan tahu sesuatu tentang kantor tempat Dinda bekerja.
"Oh, kalau itu aku sudah tahu. Dinda sudah cerita kalau sejak Papanya meninggal, Pamannya yang mengurus bisnis Papanya sementara ini. Dinda mau jadi pengacara handal, jadi dia memilih firma itu," kata Rudi.
"Kenapa kamu bilang kalau Firma itu buruk?" sambung Rudi bertanya pada Billy.
Billy menatap Rudi lekat-lekat. Billy memastikan apa Rudi memang benar-benar tidak tahu maksud Billy.
Setelah melihat raut wajah Rudi yang bertanya-tanya. Billy jadi yakin kalau Rudi memang tidak tahu apa-apa.
"Buruk ya buruk. Atasan Dinda yang tak berguna itu selalu menekan anak buahnya!" Billy menjawab asal. Dia menutup-nutupi apa yang dia tahu dari Rudi. Kembali Billy memegang ponselnya. Dia tidak mau bicara lagi dengan Rudi.
Kalau cuma itu sih aku sudah tahu, pikir Rudi.
Rudi lalu bersandar di sofa, mengeluarkan ponsel miliknya, dari saku celananya lalu sibuk disitu.
__ADS_1