OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 31


__ADS_3

Mendengar perkataan Dinda, Billy makin kesal.


Dinda yang sedang berdiri di dekat ranjang, ditariknya sampai terbanting ke atas kasur. Billy menindih tubuh Dinda. Tangan lelaki itu menahan kedua tangan Dinda yang meronta, keatas kepala gadis itu.


"Kamu berani mengejekku?" suara Billy bergetar.


"Lepasin aku Billy! Kamu ini kenapa? Aku cuma bercanda..." kata Dinda.


"Aku nggak mau kamu membandingkan lagi aku dengan dia! Rudi itu lelaki lemah!"


"Matamu! Dari mana kamu bisa bilang dia lemah?" sahut Dinda.


"Dia memang lemah. Dia pasti cemburu tapi tetap aja membiarkanmu bersamaku..." ujar Billy


"Itu bukan lemah. Dia sayang dengan aku, dia mengalah karena dia nggak mau kami bertengkar. Nggak kayak kamu, yang sukanya memaksakan kemauanmu saja!" kata Dinda tidak mau kalah.


Kekesalan Billy memuncak.


"Jadi kamu bilang dia lebih baik dari aku?" kata Billy setengah berteriak


"Iya, kenapa?" tantang Dinda


"Semakin kamu begini, nggak bakalan aku lepasin kamu untuk dia!" Mata Billy merah menyala.


Billy membuka paksa baju Dinda. Bibirnya menempel di bibir Dinda. Sedangkan tangannya membuka kancing baju Dinda.


Dinda berusaha menepis tangan dan wajah Billy.


Tidak ada gunanya, Billy tetap berhasil membuka kancing kemeja Dinda. Rok pendek yang dipakai Dinda ditarik Billy sampai terlepas dari tubuh Dinda.


Dinda mengerahkan sekuat tenaganya untuk mendorong Billy agar menjauh dari badannya.


Billy tidak menyerah. Dia tidak mau berhenti begitu saja.


Tubuh kecil Dinda tak mampu menggeser badan Billy yang jauh lebih besar darinya.


Billy tetap menindih tubuh Dinda. Dia membiarkan Dinda meronta-ronta sampai gadis itu kelelahan sendiri.


Nafas Dinda tersengal, tenaganya habis.


Billy melanjutkan aksinya. Dia melepas b*a yang menutup buah dada Dinda.


Billy memegang dan memainkan p*tingnya.


Yang awalnya Dinda menolak. Akhirnya dia ikut menikmatinya juga.


Billy lanjut melepas selembar kain yang tersisa dibagian bawah tubuh Dinda.


Bagian bawah Dinda kini terlihat jelas. Billy menenggelamkan wajahnya disitu. Dinda hanya menggeliat dan menggigit bibirnya sendiri, karena perlakuan lidah Billy di bagian bawah tubuhnya.


Mereka berhubungan intim lagi, dan lagi waktu itu.


Keperkasaan Billy membuat Dinda rasanya mau pingsan karena kelelahan.

__ADS_1


Gadis itu menyesali kejadian itu. Meskipun dia merasakan kenikmatan dunia bersama Billy, rasa nikmat itu tidak sebanding dengan rasa bersalahnya dengan Rudi.


Dinda merasa dirinya begitu hina.


Hanya menggunakan jubah mandi, Dinda terduduk di kursi tempat dia membaca buku tadi. Matanya melihat keluar jendela, cahaya bulan yang terpantul dari air danau, berkilauan. Pikirannya hilang dalam lamunan.


Billy yang tadinya sempat keluar dari kamar, kemudian kembali membawa dua gelas es teh lemon.


Tidak ada sedikitpun rasa bersalah dihati lelaki itu. Setelah meletakkan minuman keatas meja sudut, dengan santainya dia memeluk Dinda dari belakang, kemudian berkata


"Batalkan pertunanganmu dengan Rudi!"


Buyar lamunan Dinda mendengar perkataan Billy.


Mata Dinda melotot. Dia membalikkan badannya agar bisa menatap wajah Billy.


"Apa kamu bilang?" tanya Dinda tak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Aku bilang, batalkan pertunanganmu. Kamu harus bersamaku!" Billy mengulangi perkataannya tanpa ada beban sedikitpun.


Dinda melepaskan pelukan Billy, kemudian berdiri menjauh.


"Bisa bisanya kamu ngomong begitu?!" kata Dinda


"Iya, kenapa? Apa yang kamu harapkan dengan lelaki begitu?"


"Memangnya kamu apa? Apa yang bisa aku harapkan dari kamu? Hah?" bentak Dinda


"Aku mencintaimu lebih dari dia. Aku bisa berikan segalanya yang kamu mau, apapun itu lebih dari dia." kata Billy.


"Kamu lucu! Dia punya segalanya yang aku mau, bukan kamu! Apa kamu lupa statusmu?"


Billy menarik lengan Dinda, kemudian memeluk Dinda rapat, sampai jarak antar wajah mereka dekat sekali berhadap hadapan.


"Kamu menertawakan aku? Aku sudah bilang aku mencintaimu. Aku tidak lupa dengan statusku, kamu yang lupa siapa yang mundur duluan..." kata Billy


"Aku nggak berhenti mencintaimu, aku selalu menghubungi mu. Kamu yang menghilang meninggalkan aku. Kamu membuatku sakit, Dinda. Apa itu lucu?" sambung Billy.


Dinda menatap Billy dalam-dalam. Dia bisa merasakan kepedihan dihati lelaki itu.


"Maafkan aku...! Tapi kamu harus sadar, sekarang keadaannya sudah berbeda. Kamu harus melupakan yang sudah lalu..." Kata Dinda


Billy menarik nafas panjang lalu menghembuskannya kasar.


Billy makin merapatkan pelukannya.


"Dinda ku sayang, kalau aku bisa melupakanmu, aku nggak bakalan seperti ini..." kata Billy.


Dinda terdiam sejenak.


"Ok, kamu bilang kamu nggak bisa melupakan aku..." Dinda menghentikan perkataannya, dia menunggu respon dari Billy.


Billy mengangguk.

__ADS_1


"Nah sama! Aku juga nggak bisa memutus hubunganku dengan Rudi begitu saja. Aku mencintainya!" Dinda mencoba membuat Billy mengerti keadaannya.


Billy menggelengkan kepalanya. Dia tidak menduga kalau Dinda akan berkata begitu.


"Kamu mencintainya?" tanya Billy


"Iya!" jawab Dinda


Kini Billy memutar otak. Bukan Billy namanya kalau mudah menyerah. Dia tidak akan melepas Dinda dengan begitu mudahnya.


"Bisa nggak aku minta sesuatu darimu?" tanya Billy.


Dalam pikiran Dinda, Billy hanya akan meminta sesuatu berupa benda. Jadi dia mengangguk.


"Janji ya?" Billy memastikan


"Kamu mau minta apa?" Dinda penasaran


"Janji dulu! Kalau kamu mau ini semua cepat berakhir!" kata Billy


"Ok, aku janji!" kata Dinda yang berharap semua drama ini usai.


"Kamu mau tetap bertunangan dengan Rudi, karena kamu mencintainya?" tanya Billy


Dinda mengangguk.


"Aku rela. Aku akan menahan rasa sakit hatiku, meski aku melihat kalian berdua'an."


Mendengar itu Dinda sudah merasa senang. kemudian Billy melanjutkan perkataannya.


"Tapi, kamu harus membagi waktumu untuk aku!"


Kaki Dinda lemas. Ternyata terlalu cepat dia merasa senang.


"Astaga, Billy...! Mana bisa begitu?" Dinda tidak habis pikir, semangatnya menghilang.


"Kamu sudah janji!" tegas Billy


"Kapan pun, kamu harus bisa membagi waktumu bersamaku!" sambung Billy


Dinda menggeliat hendak melepaskan tubuhnya dari pelukan Billy. Tetapi lelaki itu menahannya.


"Kalau tahu begini, aku nggak mau berjanji. Ini permintaan yang gila!" kata Dinda penuh penyesalan.


"Kalau kamu melanggar janjimu, aku akan merusak hubunganmu dengan Rudi. Bukan cuma itu, kamu ingat baik-baik kata-kataku ini. Bukan cuma hubunganmu yang akan ku rusak, aku akan menyakiti Rudi, sampai kalian berdua tidak akan pernah lupa denganku, selama kalian masih hidup" kata Billy mengancam.


Dinda hanya bisa mengangguk setuju.


Billy kemudian mengendorkan pelukannya.


"Aku akan pergi dan tidak akan mengganggumu lagi, kalau aku merasakan detak jantungmu untukku, berbeda dari yang aku tahu."


Astaga, Billy benar-benar jadi orang yang aneh.

__ADS_1


Billy terobsesi dengan Dinda.


Creepy... Tapi apa mau dikata, Dinda sudah terjebak disitu, dia hanya bisa berharap semua ini nanti akan cepat berakhir.


__ADS_2