
Udara pagi terasa sangat menyegarkan bagi Dinda, yang sudah sejak tadi berjemur didermaga. Dinda tampak menikmati sinar matahari pagi yang menerpa kulitnya.
Beberapa hari tinggal di vila, baru kali ini Dinda bisa bangun pagi seperti sekarang. Rengekkan Dinda semalam bisa membuat Billy berhenti melakukan s*x dengannya.
Dinda tertawa saat teringat dia membohongi Billy dengan mengatakan kalau ada 'bercak' dipakaian dalamnya.
Kemarin siang terasa cukup menyenangkan bagi Dinda yang merasa jenuh dengan rutinitas berulang. Apalagi Billy hampir tidak bisa diajak mengobrol tentang hal baru. Dinda teringat Edo. Lelaki itu memang keren.
Ada rasa bangga saat Dinda bisa bertemu langsung dengannya.
Dinda sudah sering mendengar nama Edo di lingkungan kerjanya. Beberapa kasus besar berhasil dimenangkannya dipersidangan. Itu sebabnya Edo sering jadi perbincangan di dalam kantor tempat Dinda bekerja.
Dinda teringat cerita rekan-rekan kerjanya yang tampak sangat mengagumi sosok pengacara bernama Edo Gatrick.
Sayangnya Dinda tidak pernah melihat wajah pengacara itu sampai kemarin, saat di rumah makan yang juga ternyata millik Mamanya Edo.
Pantas saja rekan-rekan kerjanya seakan tergila gila dengan lelaki itu. Edo seperti paket lengkap yang mahal. Pintar, pemberani, dengan tampang dan fisik yang menarik. Dinda tersenyum sendiri.
Mungkin kalau dia mengenal Edo lebih dulu dibandingkan Billy dengan Rudi, mungkin Dinda akan jatuh cinta dengan lelaki itu, bukan dengan Billy, bukan juga dengan Rudi.
Dari jauh Billy bisa melihat Dinda yang duduk hampir terbaring didermaga, sedang senyum senyum sendiri. Billy jadi ingin tahu apa yang menarik yang dipikirkan Dinda.
Billy berjalan mendekati Dinda.
"Apa yang membuatmu senyum-senyum begitu?" tanya Billy, sambil ikut duduk disamping Dinda.
"Oh,, aku tadi ingat rekan kerjaku yang mengidolakan Edo,, kalau mereka tahu aku sudah bertemu langsung dengannya,, mereka semua pasti iri," ujar Dinda jujur
"Kamu memangnya nggak naksir dengan Edo?" tanya Billy hati-hati.
Dinda menggeleng.
"Dia memang hebat juga kece,, tapi aku tidak mengenal baik dia seperti apa,, bagaimana mungkin bisa langsung naksir dengan orang yang baru ditemui?!" celetuk Dinda.
"Kamu mengejekku?" tanya Billy suaranya terdengar kesal.
Dinda menoleh kearah Billy. Dari kemarin, Billy tampaknya lebih sensitif seperti perempuan yang sedang datang bulan.
"Kenapa kamu kira aku mengejekmu?" Dinda balik bertanya. Dia tidak mengerti penyebab kekesalan Billy.
"Aku denganmu,, bukan cuma naksir, tapi aku langsung jatuh cinta,, jadi darimana kamu bisa bilang itu tidak mungkin?" tukas Billy
__ADS_1
Dinda menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Begitu,, ok aku salah bicara,, maksudnya aku nggak semudah itu naksir dengan orang yang baru aku temui,," ujar Dinda dengan suara datar.
"Kamu kenapa sih ? Maunya maraaah aja terus!" celetuk Dinda "Masih pagi,, sudah marah-marah aja kerjaanmu,, udah ah,, aku males," Dinda sudah tidak tahan lagi dengan sikap sensitif Billy.
Dinda lalu berdiri dari situ kemudian berjalan kembali ke vila.
Billy lalu mengejar Dinda, kemudian menahan tangannya.
"Maafkan aku,, aku juga nggak tahu kenapa jadi gampang kesal" Ujar Billy bersungguh-sungguh.
Dinda hanya menghela nafas panjang yang terasa berat. Dinda lanjut berjalan tidak menghiraukan pegangan tangan Billy ditangannya. Akhirnya Billy hanya mengikuti langkah Dinda.
Didalam kamar, Dinda melihat ponselnya yang berkedip. Dinda membatalkan niatnya untuk mandi. Dia memeriksa ponselnya terlebih dahulu. Panggilan tidak terjawab dari kantor kepolisian.
Dinda menelpon nomor itu kembali. Setelah berbincang sebentar Dinda lalu seolah menyetujui sesuatu.
Billy yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Dinda hanya berdiam diri memandanginya dari tempat duduk didekat jendela.
Dinda tanpa bicara apa apa, juga hanya meletakkan ponsel keatas meja lalu pergi ke kamar mandi.
Selesai mandi, Dinda langsung berpakaian. Sambil memilih pakaian, dia lalu berkata pada Billy
"Aku akan kekantor polisi,, apa kamu yang mengantarku atau aku pergi sendiri?" suara Dinda datar, seakan dia masa bodoh dengan apa yang akan dijawab Billy.
"Aku akan mengantarkanmu,, bisa tunggu aku mandi dulu sebentar?" ujar Billy.
Dinda hanya menganggukkan kepalanya.
Billy buru-buru pergi mandi lalu bersiap siap mengantar Dinda.
Di sepanjang perjalanan, tidak ada yang mau bicara. Keduannya tenggelam dalam kesunyian. Hanya suara mesin dan angin dari jendela yang terdengar dari jendela yang terbuka disisi Dinda.
"Kami kesulitan menginterogasi tersangka selama ini, karena dia hanya berdiam diri,, tapi tadi dia tiba tiba berkata kalau dia akan bicara kalau Anda mau menemuinya" Kata Seseorang yang memakai seragam polisi saat Dinda tiba disana.
Dinda menyetujui permintaan Mita yang mau bertemu dengannya. Dalam hati Dinda merasa kesal karena proses pemeriksaan Mita yang terlalu lambat.
Kali ini dia berharap Mita sudah akan bicara. Mau sampai kapan menunggu kejelasan akan adanya persidangan? Dinda sudah lelah dan bosan menunggu.
Ditemani seorang petugas polisi Dinda dibawa kesebuah ruangan tertutup. Dinda menghela nafas panjang, sebelum memasuki ruangan itu.
__ADS_1
"Apa aku bisa ikut kedalam?" Pertanyaan Billy mengagetkan Dinda yang sudah tegang sejak tadi.
"Maaf pak,, tidak bisa banyak orang,, juga tersangka hanya mau bertemu dengan Nona Dinda,, Nanti saya yang akan menemani Nona Dinda di dalam." ujar polisi itu.
"Bapak bisa melihat dari ruangan sebelah." sambungnya sambil menunjuk pintu yang tepat bersebelahan dengan pintu yang akan dimasukki Dinda.
Billy meski berat hati, hanya menuruti perkataan petugas itu. Kemudian masuk keruangan sebelah. Dia bisa melihat Mita yang sedang duduk dari balik kaca besar yang ada diruangan itu.
Mita tampak acak-acakkan. Matanya liar menatap kearah pintu saat Dinda masuk kedalam ruangan itu.
"Apa kabarmu?" tanya Dinda membuka percakapan saat dia sudah duduk berseberangan meja dengan Mita.
"Kamu jangan bercanda sayang,, apa kamu tidak bisa melihat buruknya keadaanku sekarang?" ujar Mita sambil tersenyum sinis.
"Kamu sekarang dengan siapa? Rudi atau Billy?" ujar Mita lagi.
Dinda tidak tertarik untuk membicarakan itu dengan Mita, dia hanya menghela nafas panjang.
"Kenapa sayang? Aku lihat kamu sekarang agak gendutan,, tampaknya kehidupanmu sekarang lebih baik" ujar Mita dengan sinis.
"Terserah kamu mau bilang apa tentangku,, hanya saja kamu sebaiknya bicara apa yang kamu mau sampai kamu meminta untuk bertemu denganku" kata Dinda datar.
"Aku mau tahu apa kamu bersama Billy atau Rudi sekarang?" suara Mita meninggi.
"Kenapa kamu tega melakukan itu padaku? Aku menyayangimu seperti saudaraku sendiri" Dinda mengalihkan pertanyaan Mita.
"Kamu jangan berpura-pura baik,, kamu wanita murahan tak berguna, tidak cocok untuk dicintai siapapun, apalagi Billy"
Kata-kata Mita cukup membuat Dinda tersinggung.
Dinda mengerutkan alisnya.
"Aku akan menikah dengan Billy," ujar Dinda.
Mita terbelalak. Tatapan matanya makin liar. Tanpa aba-aba dia menerjang Dinda, tangannya yang diborgol dipakainya untuk menangkap leher Dinda lalu dengan lututnya Mita sempat menghantam perut Dinda berulang-ulang sampai petugas berhasil melepaskan Dinda dari cengkeraman Mita.
Billy dan beberapa petugas, berlari menuju ruang sebelah. Dengan cepat Mita diseret petugas, pergi dari situ.
Billy melihat Dinda yang menunduk meringis kesakitan sambil memegang perutnya. Billy memegang pundak Dinda.
Saat Dinda mengangkat wajahnya, matanya sudah basah. Dinda menangis, darah segar mengalir dikedua kakinya sampai kelantai. Dinda lalu kehilangan kesadarannya.
__ADS_1