
Rudi menemani Dinda di rumahnya sampai malam.
"Balik dah, besok kerja! Rehat yang baik malam ini!" kata Dinda.
"Beeuuh... Aku diusir dong?!" kata Rudi. Lelaki itu meremas tangan Dinda
"Aku mau tidur disini...!" jari tangan Rudi mencuil-cuil bahu Dinda.
Dinda tertawa melihat tingkah Rudi yang seperti anak kecil.
"Ada-ada aja..." kata Dinda menggeleng gelengkan kepalanya.
Rudi memeluk gadis yang dicintainya itu.
"Bener nih, nggak boleh tidur disini?" kata Rudi lagi merengek.
"Cuma tidur kok, nggak ngapa ngapain!" sambungnya sambil mengedipkan sebelah matanya, nakal.
Dinda memasang wajah tak percaya.
"Kamu ini! Nggak ada cerita kamu cuma mau tidur doang..." Dinda melirik Rudi dengan ujung matanya.
Rudi tertawa.
"Paling paling cuma pengen peluk kok!" kembali Rudi bertingkah nakal.
"Nih peluk ni jari!" kata Dinda.
Dinda mencubit pinggang Rudi.
Rudi meringis, kali ini cubitan Dinda memang terasa sakit.
Rudi memegang bekas cubitan Dinda.
Dinda melihatnya.
"Maaf sayang...! Aku nggak sengaja! Aku cuma bercanda!" Dinda menunduk dan mengangkat kaus Rudi.
"Eeeh, mau ngapain? Biar kebelet tapi jangan disini juga kali?!" kata Rudi sambil tertawa kecil.
Wajah Dinda berubah masam. Dia melepas pegangannya dari kaus Rudi dengan kasar.
Rudi memeluk gadis itu.
"Jangan marah-marah, nanti lekas tua!"
"Ah, biarin!" kata Dinda. Gadis itu merajuk.
__ADS_1
"Aku cuma bercanda sayang...!" Rudi mengecup kening Dinda.
Dinda bisa merasakan besarnya rasa sayang Rudi padanya. Dinda melingkarkan tangannya di tubuh Rudi, membalas pelukan kekasihnya itu.
"Nggak usah pulang deh! Tidur aja di kamar tamu. Besok pagi pagi kamu balik!"
"Ok!" Kata Rudi cepat dan bersemangat. Dia tidak mau menggoda Dinda lagi. Dia tidak ingin melihat gadis itu ngambek.
Akhirnya Rudi menginap dirumah Dinda malam itu.
***
Pagi-pagi sekali mereka berdua sudah bangun.
"Kamu nggak mau barengan?" tanya Rudi
"Nggak usah, kamu balik aja! Nanti kita sama-sama telat kekantor kalau saling menunggu!" kata Dinda
"Ya udah! Aku pulang ya?! Kalau nggak sibuk, jangan lupa kontak aku ya sayang?!"
Rudi menyempatkan untuk memeluk dan mengecup kening Dinda, sebelum akhirnya dia pergi.
"Hati-hati dijalan!" Dinda melambai kearah mobil Rudi, yang sudah mulai berjalan.
Rudi mengangkat jempolnya, lalu melambaikan tangannya.
Dinda melajukan mobilnya.
Seperti hari hari biasa dikantor. Tekanan -pekerjaan dari atasan Dinda tidak ada kendurnya.
Sejak Bos wanita itu datang, Dinda dan rekan kerja wanita yang lain, merasa hampir tidak sempat bernafas. Sampai mendekati jam makan siang, Dinda masih sibuk lalu-lalang dengan berkasberkas.
Dinda melirik jam ditangannya. Sudah pukul dua belas siang lewat dua puluh menit. Dia masih didalam ruangan Atasannya itu.
Perut Dinda berbunyi keroncongan.
Atasannya melirik Dinda.
"Sudah, kita istirahat makan siang dulu!" Wanita itu lalu berdiri dari kursi kerjanya, kemudian berjalan keluar.
Dinda menyusul dibelakangnya.
"Kamu sudah makan siang?" tanya Dinda kepada rekan kerja di sebelah mejanya.
Dinda rencananya mau makan siang dengan Rudi. Tapi karena tempat kerja Rudi cukup jauh, dia tidak tega kalau harus menyuruh Rudi ke kantor Dinda. Habis waktunya di perjalanan aja, apalagi kalau jalanan macet.
"Sudah!" kata temannya itu, sambil menunjuk dengan matanya roti sandwich yang baru tergigit sedikit. Kembali, rekan kerja Dinda melotot sibuk di komputernya.
__ADS_1
Dinda meletakkan beberapa map besar di tangannya keatas meja.
Aku makan di cefetaria aja deh, pikir Dinda.
Dinda memakan makanan pesanannya dengan terpaksa. Dia kurang berselera dengan makanan disitu. Tapi dari pada harus keluar lagi, nanti telat baliknya. Bos nya nanti mengamuk.
Selesai makan Dinda kembali ke lantai atas, tempat dia bekerja. Dan benar saja, Bosnya sudah menunggu disana, dengan mata melotot.
Gini amat kerjanya, apa wanita itu tidak mengunyah makanannya? cepat sekali dia kembali ke kantor, pikir Dinda.
Dalam hati dia merasa geli membayangkan Bosnya menelan makanannya dalam sekali suap. Dinda tersenyum.
"Kita lanjut yang tadi!" kata Atasan Dinda.
Belum berapa lama mereka meneruskan pekerjaan, telepon di meja kerja Atasan Dinda berdering.
"Halo, Selamat siang! Oh... Iya, pak! Siap! Baik pak! Selamat siang!"
Wanita itu meletakkan kembali gagang teleponnya.
Atasan Dinda menatap tajam kearah Dinda.
"Kamu sudah punya kontak Pak Billy Harper ?" tanya wanita itu.
"Sudah ada, Bu!" jawab Dinda.
"Bagus, kalau begitu kamu hubungi klien itu sekarang! Dia meminta untuk bertemu denganmu,"
"Baik, Bu!"
Dinda lalu berdiri, baru selangkah kaki, Atasan Dinda kembali berkata
"Ingat, layani klien khusus itu dengan baik! Ikuti kemauannya, meskipun kamu harus bekerja dengannya sampai jam kerja usai. Tidak masalah meski kamu tidak kembali kekantor. Nanti ada rekanmu yang akan saya suruh menggantikan kerjaan mu disini. Jaga jangan sampai dia berpindah ke firma lain!"
"Baik, Bu! Permisi...!" Dinda kembali berbalik
Mendengar perkataan atasannya itu, Dinda menyadari kalau Billy bukan orang biasa di mata Bos nya.
Dinda tidak mengerti se-istimewa apa Billy bagi atasannya itu. Tapi dia tidak mau terlalu memikirkannya.
Dinda menelpon Billy.
"Halo!" kata Dinda ketika panggilannya sudah tersambung.
"Aku tunggu di basement kantormu!" terdengar suara Billy dari seberang.
Sebenarnya Dinda merasa malas bertemu Billy, meskipun dia klien VIP. Tapi mau bagaimana lagi.
__ADS_1
Dalam hati Dinda bingung, bagaimana kalau Bosnya tahu hubungannya dengan Billy. Apa dia masih tetap menyuruhnya melayani Billy? Lelaki itu benar-benar mengambil kesempatan, dengan memanfaatkan pengaruhnya.