
Perut Billy dan Alex sudah kenyang. Kerasnya kandungan kafein dari kopi yang mereka minum, tidak mampu membuat mata mereka tetap terbuka. Kedua lelaki itu sangat lelah.
Alex berbaring di kursi. Begitu juga Billy yang tak mampu lagi menahan kantuknya, saat melihat Alex sudah tertidur. Billy berbaring di kursi, yang berseberangan dengan Alex.
Mereka tertidur pulas disitu sampai pagi. Mereka sama sekali tidak menyadari kedatangan perawat, yang memeriksa Dinda.
Alex terbangun duluan, ketika perawat itu tidak sengaja menyenggol tangannya, yang menjuntai diatas kepalanya kearah pintu.
Alex cepat-cepat berdiri, lalu menyusul perawat tadi. Dia menanyakan kondisi Dinda.
"Kalau dokter sudah datang memeriksa, baru kita dengar apa yang jadi perintah dokter. Saya hanya memeriksa infusnya saja tadi," ujar perawat itu, yang kemudian berjalan pergi menjauh dari Alex.
Saat Alex kembali, Billy juga sudah terbangun.
"Dari mana kamu Lex?" tanya Billy. Dia masih menguap beberapa kali.
"Tadi ada perawat memeriksa Dinda. Tapi, dia bilang tunggu dokter aja, kalau mau tahu kondisi Dinda..." sahut Alex, yang kemudian mengintip Dinda dari kaca pintu.
"Dinda kelihatannya belum ada bereaksi apa-apa. Dari tadi malam perasaanku dia masih kelihatan begitu-begitu saja..." celetuk Alex, yang masih cemas.
Billy berdiri lalu mendekat ke pintu. Dia ikut mengintip kedalam ruangan itu. Benar kata Alex, Dinda seperti belum ada bergerak sedikitpun. Billy ikut merasa cemas.
"Aku mau minum kopi. Kamu mau aku belikan?" tanya Alex
"Biar aku aja yang pergi belanja. Sekalian aku mau meluruskan kaki, tadi malam sempat beberapa kali kakiku keram," kata Billy. Dia lalu berjalan pergi dari situ, meninggalkan Alex yang menjaga Dinda.
Ketika Billy berjalan di koridor sudah dekat ke ruangan Dinda, dia bisa melihat ada beberapa orang memakai jas putih panjang, sedang berdiri di depan ruangan Dinda, sambil berbicara dengan Alex.
Billy mempercepat langkahnya. Dia hanya berpapasan dengan dokter dan perawat itu, dia tidak sempat ikut mendengar apa yang mereka bicarakan dengan Alex tadi.
"Kenapa?" tanya Billy.
"Katanya kondisi vital Dinda sudah membaik, meskipun Dinda belum sadarkan diri," sahut Alex.
"Nanti sebentar lagi Dinda bisa dipindahkan. Perawat masih mempersiapkan ruangan untuk Dinda...
Kita tunggu aja!" sambung Alex, yang kemudian mengambil segelas kopi dari tangan Billy, lalu duduk kembali.
Billy ikut duduk disitu.
__ADS_1
Beberapa kali mereka berdua menyeruput kopi ditangan masing-masing, tanpa bicara apa-apa, sampai datang tiga orang perawat, masuk kedalam ruang isolasi itu.
Alex dan Billy berdiri melihat kedalam melalui kaca.
Terlihat para perawat sibuk merapikan alat alat medis yang dipakai Dinda. Kemudian mereka mendorong ranjang Dinda keluar dari ruangan itu.
Alex bersama Billy mengikuti kemana ranjang Dinda dibawa.
Dinda dibawa diruangan rawat inap.
Para perawat kemudian sibuk lagi mengatur alat-alat medis, sebelum akhirnya mereka keluar dari situ.
"Tolong jangan memaksa pasien untuk bangun! Pesan dokter tadi, pasien memang masih butuh istirahat banyak untuk pemulihan...
Jadi, tadi saya menyuntikkan obat-obatan yang dikasih dokter, agar dia tetap tertidur," kata salah satu perawat, menjelaskan apa yang dia perbuat tadi di infus Dinda.
Tertinggal mereka bertiga di ruangan itu.
Alex duduk dikursi di sebelah kiri Dinda, sedangkan Billy mengambil kursi, lalu duduk di sisi sebelah kanannya Dinda.
Saat Billy memegang tangan Dinda, dia menyadari kalau tidak ada satu pun cincin di jemari tangan Dinda.
Dan benar saja, kata salah satu petugas disitu barang-barang pasien nanti diantarkan kesitu, karena kemungkinan masih diruang penyimpanan.
Billy menunggu petugas itu membawakan barang-barang yang dipakai Dinda. Baju kaus lengan panjang, celana olah raga, selembar selimut, dan sepasang anting-anting.
Tapi, cincin pemberian Billy dan Rudi tidak ada disitu.
Billy memastikan kalau tidak ada benda lain yang ketinggalan, tapi petugas itu bersikeras kalau cuma itu saja.
Billy merasa heran.
Tapi, Billy tidak mungkin menuduh petugas rumah sakit yang mencurinya. Dia harus menunggu sampai Dinda sadar, baru dia bisa tahu dimana benda-benda itu.
Billy lalu kembali keruangan Dinda.
"Kamu kemana tadi?" tanya Alex.
"Aku pergi memeriksa barang yang dipakai Dinda," Billy lalu meletakkan barang-barang tadi, di dalam lemari kecil dekat ranjang Dinda.
__ADS_1
"Waktu kamu menolong Dinda, apa ada kamu melihat cincin yang dia pakai?" tanya Billy.
Alex yang memegang tangan Dinda, kemudian melihat ke tangan Dinda, sambil mencoba mengingat apa yang dia lihat.
"Sepertinya nggak ada deh! Yang aku tahu ada kalung kecil dileher Dinda. Tapi, putus waktu aku menarik Dinda keluar dari mobil. Aku cari tapi nggak ketemu, kayaknya jatuh kelumpur," kata Alex.
Terus, kalau nggak salah Dinda pakai anting permata kecil. Itu aja," sambung Alex. Dia ingat anting di telinga Dinda berkilauan, karena terkena cahaya api perapian, saat dia mencium bibir Dinda malam itu.
"Kalau tangannya aku nggak terlalu perhatikan. Karena yang aku perhatikan yang mana bagian tubuh Dinda yang ada lukanya aja," sambung Alex lagi.
"Memangnya kenapa?" Tanya Alex, yang heran dengan Billy, yang sibuk dengan perhiasan Dinda
"Nggak... Soalnya ada cincin yang aku dan Rudi berikan pada Dinda. Biasanya dia selalu memakai dua cincin itu," Billy tampak bingung, tapi Alex tidak terlalu memperdulikan.
Billy lalu duduk dikursi disamping Dinda. Ponselnya bergetar saat dia baru saja duduk. Dia lalu berdiri lagi mengeluarkan benda itu dari saku celananya.
Panggilan masuk dari Rudi. Billy berjalan menjauh dari ranjang Dinda.
Rudi bersama Laura sudah kembali ke rumah sakit.
Rudi bingung karena Dinda tidak ada diruangannya yang tadi malam. Jadi dia menelpon Billy, mencari tahu dimana Dinda dipindahkan.
Laura dan Rudi masuk keruangan Dinda bersamaan. Mereka berdua bertatap-tatapan saat melihat kedua tangan Dinda sudah di pegang Alex dan Billy.
Billy dan Alex menoleh saat melihat Rudi dan Laura datang, tapi mereka tidak menghiraukannya.
Billy sempat menatap Laura yang tersenyum. Tapi dia kembali melihat Dinda.
Laura duduk di sofa diikuti Rudi.
"Untung saja, Dinda punya tiga hero seperti kalian..." celetuk Laura.
Rudi menatap Dinda, yang belum ada reaksi sama sekali.
"Mereka berdua saja yang hero, bukan aku... Aku hanya menyulitkan keadaan Dinda. Dia hampir meninggal gara-gara kebodohanku," ujar Rudi berbisik. Tampak diwajah lelaki itu yang masih menyesali kecerobohannya.
Laura mengusap-usap punggung Rudi, saat mendengar pernyataan rendah diri dari lelaki itu.
"Sudah...! Nggak usah terlalu dipikirkan... Yang sudah terjadi ya sudah. Sekarang, tinggal mikirkan ke depannya nanti seperti apa," bisik Laura berusaha menenangkan Rudi.
__ADS_1