OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 69


__ADS_3

Masih didepan rumah Dinda.


Kepala Billy sudah beberapa kali terangguk-angguk, hampir terjatuh dari kursi.


Begitu juga Rudi, yang susah payah menahan kantuknya, tapi tetap saja tertidur dikursi teras rumah Dinda.


Mbok Inah membuka pintu, lalu menyentuh pundak Billy.


"Tuan! Tuan Billy!" ujar mbok Inah, mencoba membangunkan Billy dari tidurnya.


Billy terkejut lalu membuka matanya. Dia memperbaiki posisi duduknya di kursi.


"Iya mbok!" ujar Billy.


"Kenapa nggak istirahat didalam?" tanya mbok Inah, saat Billy membuka matanya. Wanita tua itu lalu melihat ke arah lain. Saat melihat Rudi yang ikut terbangun karena suara mbok Inah sedang berada disitu, mbok inah merasa bingung.


"Loh, tuan Rudi juga ada disini?" tanya wanita itu dengan ekspresi heran.


"Non Dinda dimana?" sambung mbok Inah.


Billy bertatap-tatapan dengan Rudi. Mereka berdua tidak mau mbok Inah khawatir.


"Dinda menginap dirumah temannya mbok," jawab Billy, yang mau tidak mau harus berbohong.


Mbok Inah tampak tidak percaya, tapi dia tidak mau mempertanyakan perkataan Billy.


"Kenapa nggak istirahat di dalam?" tanya Mbok Inah lagi.


"Nggak apa-apa mbok! Kami lagi menunggu teman Dinda, mengantarkan Dinda pulang," jawab Billy mencari alasan.


"Mbok! Billy minta kopi latte ya mbok?!" sambung Billy, untuk mengalihkan perhatian wanita tua itu.


Mbok Inah mengangguk, lalu menoleh kearah Rudi. Wanita itu belum sempat bicara apa-apa. Rudi langsung berkata, kalau dia juga mau kopi latte seperti Billy.


Mbok Inah lalu masuk kedalam rumah.


Billy meregangkan tubuhnya. Terasa sakit karena tertidur dengan posisi yang tidak nyaman.


Billy kemudian memeriksa ponselnya.


Masih belum ada kabar apa-apa dari Dinda. Begitu juga dari semua kenalannya yang Billy minta, untuk mencari informasi keberadaan Dinda.


"Ada sesuatu?" tanya Rudi penasaran.


Billy menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Wajah kedua lelaki itu terlihat kusut karena lelah. Keduanya terdiam, masing-masing memikirkan apa yang bisa dilakukan di hari itu.


Tak lama, Mbok Inah keluar sambil membawa dua gelas kopi dengan dua potong roti. Dia menyajikan makanan, dan minuman itu diatas meja.


Setelah selesai menata, mbok Inah lalu berjalan masuk kembali kedalam rumah.


Billy menyeruput kopi panas. Dia ingin pikirannya cepat segar, agar bisa mencari cara untuk menemukan Dinda.


"Setahu aku Dinda berteman dengan Laura kan?" tanya Billy pada Rudi, yang sedang menyeruput kopi dari gelasnya


"Iya. Tapi kata Dinda, Laura sudah semingguan ini tidak bisa dihubungi," ujar Rudi.


"Sebentar aku coba menelponnya!" sambung Rudi.


Rudi mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Dia lalu mencoba menelpon Laura. Rudi menunggu, sambil ponselnya ditempel ke telinganya


"Memang benar kata Dinda, nomor Laura nggak aktif" ujar Rudi. Dia lalu memperhatikan ponselnya hampir kehabisan baterai lagi.


"Dasar benda bodoh!" Maki Rudi yang merasa kesal, hampir saja dia membanting benda itu, tapi dia teringat, bagaimana kalau Dinda menghubunginya lagi.


Rudi melihat Billy sibuk menempel ponselnya di telinga. Saat menurunkan benda itu lagi, Billy menggeleng-gelengkan kepalanya. Begitu tingkah Billy berulang-ulang.


Rudi melihat kesana kemari. Dia melihat ada terminal listrik didinding samping rumah, didekat saklar lampu taman. Dengan cepat dia berlari ke mobilnya lalu kembali sambil membawa charger, kemudian dia mencolok dan mencharge ponselnya disitu.


"Masih nggak bisa dihubungi?" Rudi seolah mengerti, kalau Billy sedang menelpon ke nomor Dinda.


"Astaga...! Dimana Dinda sekarang? Sudah semalaman masih nggak ada kabar," keluh Billy yang merasa frustrasi.


Rudi hanya terdiam, dia masih menyalahkan dirinya sendiri. Dia hanya bisa menunduk, sambil memegang kepala dengan kedua tangannya.


Rudi dan Billy benar-benar kehabisan akal. Semakin lama mereka berpikir, bukan mendapat solusi, mereka malah makin pusing.


Billy lalu teringat sesuatu.


"Rudi! Kita pergi ke workshop Alex. Tapi kamu yang turun, aku tunggu di mobil. Coba kamu cari tahu keberadaan Alex disana. Alex akan curiga kalau aku yang kesana mencarinya," ujar Billy.


"Ayo!" sahut Rudi bersemangat. Dia langsung berjalan kearah mobilnya


Billy menyeruput kopi lalu menggigit roti, sambil mengunyah roti berjalan menyusul Rudi ke mobilnya.


Rudi memacu mobil dijalanan. Dengan tujuan yang pasti. Workshop milik Alex.


Sesampainya mereka disana, sesuai rencana. Rudi yang mencari informasi keberadaan Alex. Sedangkan Billy mengawasi dari dalam mobilnya.


Billy memperhatikan gerak-gerik Rudi di tempat itu. Dia bisa melihat Rudi berjalan kesana-kemari, bertemu dengan karyawan Alex yang bekerja disitu.

__ADS_1


Saat Billy sedang terfokus pada Rudi, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Ada panggilan masuk dari Mita. Billy merasa heran tapi dia tetap menyambutnya.


"Halo, Mita!" ujar Billy.


"Iya, aku mau bertemu denganmu!" sahut Mita dari seberang.


"Bukannya kamu sudah ke Australia?" tanya Billy heran


"Aku baru kembali pagi ini!" sahut Mita.


"Aku belum bisa ketemu sekarang! Aku lagi mencari Dinda," ujar Billy.


Panggilan lalu terputus. Billy tidak terlalu memperdulikan, pikirannya masih sibuk dengan Dinda.


Billy kembali melihat kearah workshop Alex.


Rudi terlihat berjalan setengah berlari kembali ke mobil.


"Kata anak buahnya, Alex sudah beberapa hari ini tidak kelihatan. Kata mereka, Alex mungkin pergi berburu diluar kota," ujar Rudi pada Billy, saat dia sudah didalam mobil.


"Berarti Alex tidak berbohong. Tapi, entahlah!" kata Billy, yang kemudian merebahkan punggungnya di jok mobil.


Mereka berdua kembali terdiam, mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.


"Kalau memang begitu, Alex dulu pernah cerita tentang kabin milik Almarhum papanya. Apa dia kesitu?! Tapi aku nggak ingat tempatnya dimana," Rudi masih mencurigai Alex.


"Ada ide lain?" tanya Billy, yang merasa sangat suntuk.


Rudi menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu, kita kekantor polisi saja dulu, baru kembali kerumah Dinda. Siapa tahu ada informasi baru disana," ujar Billy.


Rudi mengiyakan. Dia lalu menjalankan mobilnya menuju kantor polisi, tempat mereka membuat laporan tadi malam.


Disana mereka belum mendapat biar sedikitpun titik terang. Billy mulai emosi dengan tingkah petugas polisi, yang tampak menyepelekan laporan mereka.


Rudi menarik Billy keluar dari situ, sebelum terjadi hal yang tidak di inginkan. Kemudian membawa Billy kembali ke rumah Dinda.


"Kamu menunggu disini?" tanya Billy saat keluar dari mobil Rudi.


"iya," jawab Rudi singkat.


"Aku pulang mandi dulu! Aku nggak bisa mikir kalau kusut begini. Kabari aku secepatnya, kalau kamu mendapat informasi apa pun." Billy lalu berjalan ke mobilnya.


Tiba tiba, Rudi melihat Billy berbalik kembali, kearah Rudi.

__ADS_1


"Coba kamu ingat-ingat dimana kabin Alex yang kamu bilang tadi. Kalau kamu ingat, kita bisa coba kesana," ujar Billy, kemudian dia pergi menggunakan mobilnya.


Sedangkan Rudi, kembali terduduk di kursi teras rumah Dinda.


__ADS_2