OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 45


__ADS_3

Coffee shop didekat taman bermain jadi pilihan mereka untuk duduk-duduk.


Sesudah memesan tiga gelas kopi dan camilan, mereka mulai mengobrol disitu.


Dinda sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya.


"Apa itu tadi?" tanya Dinda pada Mita


"Kamu nggak jadi nikah dengan Dovi?" tanya Dinda lagi.


Mita menghela nafas nya berat.


"Aku jadi nikah dengan Dovi..." jawab Mita.


"Lah, trus kamu ngapain?" tanya Dinda lagi


Mita menatap mata Dinda dan Laura bergantian.


"Aku mendapati Dovi selingkuh. Jadi dari pada harus bercerai, aku dan Dovi sepakat untuk menjalani open marriage," jawab Mita.


Dinda memijat dahinya. Dia jadi ingat Billy, ini Mita lagi.


Kenapa dengan orang-orang ini? kenapa memilih konsep pernikahan aneh itu? kenapa menikah sepertinya tidak ada artinya, hanya sekedar catatan diatas kertas? Kepala Dinda penuh dengan pertanyaan.


Dinda menatap Laura.


Seakan mengerti maksud Dinda, Laura hanya mengangkat bahunya. Dia tidak tahu.


Dinda tidak mau terlalu memikirkannya, kepalanya pusing.


"Kamu kapan sampai? Kenapa nggak kabari aku?" tanya Dinda mengalihkan pembicaraan.


"Aku sampai tadi pagi. Siang tadi aku kerumahmu, tapi hanya ada mbok Inah, dia bilang kamu pergi bekerja. Kupikir nanti malam sepulang mengajak teman lelaki ku tadi jalan, baru aku ke rumahmu lagi," Kata Mita


Dinda masih bingung mau bicara apa lagi, di kepalanya masih saja terpikir akan konsep menikah terbuka, yang dipilih orang-orang dekatnya.


Belum sempat Dinda berkata apa-apa lagi, teman lelaki Mita mendekat, dan membisikkan sesuatu di telinga Mita.


"Aku pergi dulu ya! Nanti kalau aku pulangnya nggak terlalu larut, aku singgah di rumah mu. Atau gini, nanti aku kontak kamu. Sini nomor telpon mu! Nomor lamamu yang aku simpan, nggak aktif lagi," kata Mita terburu buru.


"Hah? Eh, bentar!" Dinda gelagapan.


Setelah Dinda memberitahu Mita nomor telponnya, Mita lalu berdiri kemudian berjalan pergi dengan lelaki tadi.


Dinda melihat lelaki itu merangkul pinggang Mita. Sedangkan Mita bersandar dilengan laki laki itu. Mereka berdua terlihat mesra.


Dinda menghela nafas panjang.


"Open marriage?" tanya Dinda pada Laura.


"Kayaknya seru, sih!" ujar Laura enteng.


"Hah? Kamu bercanda?" tanya Dinda heran.


"Gini loh Din, kamu lihat aku 'kan? Selama kamu mengenalku, apa kamu pernah melihat aku dekat dengan laki-laki lain, selain Eko?" tanya Laura.


Dinda menggeleng.


"Selama ini Eko selalu saja berkeliling dalam hidupku. Aku nggak pernah punya kesempatan mengenal lelaki lain. Belakangan, aku sering ikut Papa ku keluar kota.

__ADS_1


Tanpa adanya Eko disekitar ku, aku beberapa kali bertemu lelaki lain yang cukup menarik perhatianku.


Aku tidak selingkuh, cuma aku jadi merasa kalau aku sepertinya terlalu terburu buru memilih Eko. Masih banyak laki-laki lain yang sepertinya jauh lebih baik darinya.


Ini yang membuatku merasa ragu untuk menikah, tapi aku juga belum berniat untuk berpisah dengan Eko selamanya...


Aku masih mencintainya, meskipun aku bisa merasa tertarik dengan laki-laki lain," jelas Laura


"Kalau sekarang aku menikah dengan konsep itu, aku bisa mengenal orang lain tanpa harus langsung berpisah dengan Eko" sambungnya lagi.


Dinda terdiam. Kepalanya terasa makin pusing. Sedikit dalam hati Dinda ada rasa mengerti dengan keinginan Laura, tapi tetap saja dia masih merasa aneh.


Dinda dibesarkan oleh orang tua nya yang saling mencintai, benar-benar setia sampai akhir hayat mereka. Dinda merasa konsep pernikahan itu tidaklah wajar.


"Trus?! Sekarang kamu mau bagaimana?" tanya Dinda pada Laura.


"Hmmm... Nggak tahu," jawab Laura.


Mereka minum kopi pesanan mereka tadi sambil memakan camilan. Mereka menikmati live music di tempat itu, tanpa mengobrol lagi. Keduanya mengunci mulut rapat-rapat.


Saat dirasa sudah cukup larut, Dinda lalu mengajak Laura pulang.


"Kalau aku pergi fitting lagi, kamu bisa temani kan?" tanya Laura saat turun dari mobil Dinda.


"Iya. Nanti kamu hubungi aja aku, ya?!" jawab Dinda


Laura kemudian masuk ke mobilnya. Mereka berdua berpisah jalan.


Dinda sampai dirumahnya. Badannya baru terasa lelah sekali. Dengan lemas masuk ke kamarnya lalu berbaring. Rasanya dia malas mandi. Tapi karena badannya terasa lengket dengan keringat, Dinda akhirnya pergi membersihkan diri.


Masih dengan jubah mandi, Dinda melihat telepon genggamnya yang berbunyi, panggilan masuk dari Billy. Tak lama ada panggilan masuk dari Rudi. Panggilan dari kedua orang itu seperti berganti-gantian, tapi tidak dihiraukan Dinda.


Mita sudah dijalanan kompleks perumahan. Mita berkata kalau dia akan langsung singgah kerumah Dinda.


Dinda buru-buru memakai baju. Dia mengenakan kaus dan celana pendek.


Ketika Dinda membuka pintu depan, cahaya lampu mobil terlihat menyinari jalanan di depan rumah Dinda.


Mobil itu berhenti, Mita keluar dari mobil dan melambaikan tangannya. Mobil itu berlalu pergi.


Mita lalu berbalik menghadap kerumah Dinda.


Dinda menyusul sampai pintu pagar. Keduanya berjalan bersama kedalam rumah Dinda.


Di dalam kamar Dinda, mbok Inah mengantarkan dua gelas jus yang diletakkan diatas meja disamping ranjang.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Mita membuka percakapan mereka didalam kamar itu.


"Aku baik aja..." jawab Dinda datar.


"Maaf aku tidak bisa kesini waktu orang tua mu wafat," kata Mita.


Gadis itu sudah tahu apa yang terjadi dengan orang tua Dinda. Orang tua Mita sudah memberitahu Mita, waktu Mita masih di Australia.


"Nghak apa-apa... Nggak usah bahas itu, aku ngerti kok! Orang tuamu datang melayat kesini. Mereka sudah menjelaskan padaku," kata Dinda


"Kamu dengan Dovi bagaimana sekarang?" tanya Dinda


"Hmmm..." Mita menggumam

__ADS_1


"Kamu mau cerita?" tanya Dinda.


Mita mengangguk.


"Beberapa bulan sesudah kami pergi, kami langsung menikah disana, sambil tetap berkuliah. Acaranya sederhana, hanya keluarga terdekat. Awalnya baik-baik saja.


Sampai kira-kira dua tahun berlalu...


Dovi tiba-tiba berubah. Dia jadi sering mencari alasan untuk marah denganku. Dia selalu memancing pertengkaran diantara kami" Mita menghela nafas panjang.


"Awalnya itu, aku nggak nyangka kalau dia selingkuh. Benar-benar aku nggak sengaja tahu. Buku ku ketinggalan di ruang belajar di kampus. Aku kembali untuk mengambilnya.


Aku dengar ada suara mendes*h dari bagian balkon diatas ku. Waktu aku lihat kesitu, Dovi sedang asyik menciumi leher perempuan lain," kali ini air mata Mita mulai mengalir di wajahnya. Mita mengusap air matanya.


"Aku berteriak memanggil Dovi, dia melihat ku. Tapi tetap saja, dia lanjut berbuat begitu, meski dia tahu aku ada disitu. Saat dia menemuiku di apartemen, dia meminta maaf...


Katanya dia dibawah pengaruh obat-obatan, yang diberikan perempuan itu" kembali Mita menarik nafas panjang. Air matanya sudah berhenti mengalir.


"Aku masih mencintainya, aku nggak mau berpisah dengannya. Jadi aku memaafkan dia. Berkali-kali dia selingkuh, aku tahu. Tapi aku masih tidak mau melepasnya...


"Sekitar setahun yang lalu, aku bertemu Billy. Aku bercerita tentang Dovi. Billy bercerita tentang pernikahannya." kata kata Mita tiba-tiba terhenti, dia menatap Dinda.


Dinda balik menatap Mita.


"Terus?" tanya Dinda.


"Kamu sudah tahu kalau Billy sudah menikah?" Mita balik bertanya.


"Sudah!" jawab Dinda


"Kamu sudah ketemu Billy atau belum? Dia kembali kesini beberapa bulan lalu," tanya Mita lagi.


"Sudah!"


"Apa dia cerita tentang pernikahannya? Aku mengikuti konsep itu, dari pada harus bercerai dengan Dovi. Aku belum siap!"


Dinda hanya menatap Mita.


"Lelaki yang tadi bersama ku, itu cuma selingan. Just for s*x," kata Mita.


"Orang tuamu tahu?" tanya Dinda.


"Nggak, mereka nggak tahu. Sekarang mereka lagi keluar kota, minggu depan mereka kembali. Nanti, waktu itu juga aku kembali ke Australia. Aku kesini hanya mau refreshing,"


Dinda terdiam sebentar. Ada sesuatu yang menjanggal dipikirannya.


"Kamu bilang, you get s*x dengannya. Trus apa kamu masih making s*x dengan Dovi?" akhirnya dia bisa menanyakan, apa yang membuat dia penasaran.


Mita tertawa, melihat Dinda yang seperti malu-malu saat bertanya.


"Masih! Malah dengan keadaan sekarang, kami tidak pernah bertengkar lagi. Dovi jadi lebih mesra, dan bersemangat saat melakukannya bersamaku," kata Mita


***


Mita sudah pulang kerumahnya. Mereka janjian kalau besok sore Mita akan kerumah Dinda lagi


Dinda masih terpikir dengan apa yang di bilang Mita.


Aaahh... Stupid. Dinda mematikan daya telepon genggamnya, dia masih tidak mau diganggu lagi malam itu. Dia lalu tertidur.

__ADS_1


__ADS_2