OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 102


__ADS_3

Mama Billy memperbaiki posisi duduknya. Raut wajah wanita itu tampak kalau dia sedang bersedih hati.


"Apa yang terjadi, Ma?" tanya Billy penasaran.


Mama Billy menyesap kopi panas dari gelasnya pelan.


"Waktu itu kamu masih tiga tahun,, masih manja manjanya,, tapi papa sudah mau punya anak lagi,, biar ramai dirumah katanya" Mama Billy tersenyum sekilas.


"Kamu waktu itu masih sering minta digendong mama,, meski papa mengajakmu agar dia yang menggendongmu tapi kamu nggak mau,, kamu tetap mau mama yang menggendong kesana kemari,," Mama Billy menghela nafas


"Kata dokter, kandungan mama itu lemah,, maklum waktu itu pengobatan belum secanggih sekarang,, saat mama menggendongmu, perut mama tiba tiba terasa sangat sakit,, papa mau mengambilmu dari gendongan mama tapi seperti biasa kamu gak mau,"


"Akhirnya mama keguguran saat itu,, mama melahirkan calon adik perempuanmu yang belum siap keluar dari kandungan,," Mama Billy seakan hendak menangis. Dinda menggenggam tangan wanita itu.


"Meski begitu,, kamu yang belum mengerti apa-apa, terus saja minta digendong hampir setiap saat,, Mama lalu jatuh sakit, cukup lama,, Kamu akhirnya dibawa papa tinggal di vila bersama nanny" Mama Billy kembali menyesap kopi dari gelasnya.


"Mama di vonis dokter kalau tidak bisa lagi memiliki anak,, kandungan mama terlalu lemah,, setahu mama, papamu sangat kecewa karena tidak bisa menambah anggota keluarga seperti rencananya,,


Tapi mama juga bingung kenapa papa dan kamu malah jadi berjarak seperti sekarang" ujar Mama Billy.


Mereka terdiam sebentar.


"Berarti papa menyalahkanku karena mama keguguran apalagi mama sampai sakit sangat lama,," celetuk Billy.


"Aku juga membencinya karena dia melarangku bertemu mama sampai aku dikirimnya bersama nanny kerumah grandpa di Australia" sambungnya lagi.


"Itu hanya dugaanmu saja,, Papa mu menyayangimu,, cuma dia tidak tahu cara menunjukkannya padamu,," ujar Mama Billy


"Papa sampai memaksa agar kamu kembali ke Australia saat kami disana,, dia pikir kalau kamu sudah sebesar itu, kamu bisa mengerti keadaan mama saat kamu ditinggal bersama nanny,, tapi kamu seakan tidak perduli dengannya" sambung mama Billy


"Dia juga tidak memperdulikan ku!" suara Billy meninggi. "Dia hanya mau aku begini begitu, sesuai kemauan dia" suara Billy bergetar.


Mama Billy menghela nafasnya berat.


"Itu sebabnya mama mau kalian bisa bicara,, kalian sama-sama salah paham,, yang mama tahu dia menyayangimu,,


Kalau kamu mau marah, marah ke mama,, papamu hanya menjaga mama,, sampai dia menyerahkan kamu pada nanny" ujar Mama Billy.


"Terus apa alasannya memaksaku menikah dengan wanita pilihannya?" tanya Billy.


Mama Billy menatap Billy lekat-lekat.


"Itu bukan kemauan papa mu,, dia hanya membantu rekan bisnisnya agar lepas dari jeratan mafia,,


Papa mu tidak tega melihat anak perempuan rekan bisnisnya itu kalau terpaksa harus menikah dengan lelaki tua yang kejam" ujar Mama Billy

__ADS_1


"Dia dan temannya berpura-pura kalau anak perempuannya sudah menikah denganmu,, jadi ketua mafia brengsek dan sombong itu bisa mencari wanita lain, dan rencana mereka berhasil,, " Mama Billy masih terus menjelaskan


"Untuk ego nya, ketua mafia itu tidak mau wanita yang berstatus janda apalagi istri orang,, papamu juga yang membantu membayar hutang rekan bisnisnya kepada mafia itu sampai lunas" sambungnya lagi.


"Kamu sama saja ikut menyelamatkan anak perempuan itu" Mama Billy kembali menyesap kopinya yang mulai dingin.


"Mama baru beritahu papa tanggal pernikahanmu,, Mama sengaja belum beritahu papa kalau Dinda sekarang sedang hamil,,


Mama mau kamu yang bicara langsung dengannya,, nanti biar kamu lihat sendiri bagaimana reaksinya,," ujar Mama Billy.


Dinda melihat Billy masih mengerutkan alisnya. Billy tampak masih mencerna perkataan mamanya. Dinda tidak tahu harus berbuat apa untuk mendinginkan suasana.


"Apa Dinda mau temani mama belanja disitu?" tanya Mama Billy tiba tiba, sambil menunjuk stand yang berjualan kosmetik.


Dinda melihat Billy yang masih menatap kopi digelas yang dia pegang. Dinda kemudian melihat Mama Billy.


"Biarkan dia berpikir sendiri dulu disitu" Mama Billy berbisik pelan ditelinga Dinda.


Mama Billy kemudian berdiri.


Dinda melihat Billy sebentar, kemudian ikut berdiri dan berjalan mengikuti Mama Billy. Jangankan Billy, Dinda juga bingung dengan cara berpikir Papanya Billy, tapi Dinda merasa kalau Papa Billy orang yang baik.


Mereka berdua berjalan sambil bergandengan tangan meninggalkan Billy terduduk sendiri di meja cafe.


"Papa Billy menyayangi Billy,, saat mama bilang Billy akan menikah denganmu,, Papanya senang karena kalian bisa menikah,, dia tahu kalau Billy mencintaimu,," ujar Mama Billy sambil melihat wajahnya dicermin.


"Dasar laki-laki,, keduanya ego nya terlalu tinggi" celetuk Mama Billy.


"Cocok nggak?" ujar Mama Billy memamerkan warna bibirnya.


Dinda tersenyum. "Cocok,, Mama kalau pakai warna agak terang juga kayaknya bagus aja," Dinda lalu mengambil lipstik berwarna merah.


Mama Billy kemudian mencoba memolesnya. Benar saja, wajahnya kelihatan lebih segar.


Mama Billy tersenyum.


"Mama nggak biasa memakai warna terang,, kurang pede, takut nggak cocok,, tapi yang ini terlihat bagus yaa?" ujar Mama Billy tampak senang.


Dinda mengangguk.


"Pilihkan warna untuk mama lagi" pinta Mama Billy.


Dinda dan Mama Billy sibuk memilih lalu membeli kosmetik yang mereka sukai. Mereka sudah selesai belanja barulah Billy terlihat menyusul mereka.


"Mama sudah selesai? Aku mau membawa Dinda pulang,," ujar Billy datar, sambil merangkul pinggang Dinda.

__ADS_1


Mama Billy melihat Dinda. Kemudian menatap Billy lagi.


"Iya,," sahut mama Billy.


"Dinda,, Nanti kita jalan-jalan lagi yaa" ujar Mama Billy, menahan rasa kecewanya. Dia masih belum puas menghabiskan waktu bersama Dinda.


Mereka kemudian berpisah di parkiran.


"Kasihan mama kayaknya tadi masih mau bersama kita," celetuk Dinda saat dia sudah didalam mobil bersama Billy.


"Nanti aja, kapan-kapan lagi," sahut Billy masih dengan suara datar.


Mobil Billy melaju dijalanan. Sebelum kembali ke vila, Billy menyempatkan singgah di sebuah toko khusus bahan makanan segar. Billy turun sendiri, sedangkan Dinda menunggu didalam mobil yang terparkir didepan toko.


"Sudah,, nanti tinggal mereka antar barangnya ke vila,, Kita langsung balik ke vila yaa?" ujar Billy saat kembali duduk di jok supir.


Dinda mengangguk pelan.


Sesampainya di vila Dinda langsung masuk kekamar, membiarkan Billy yang berjalan pergi ke bagian belakang vila.


Sambil duduk bersandar di kepala ranjang, Dinda meluruskan kakinya lalu mengutak atik layar ponselnya diatas ranjang, sampai Billy menyusul kekamar.


Billy lalu ikut berbaring diranjang. Dia meletakkan kepalanya di atas paha Dinda. Wajahnya menghadap keatas.


Dinda masih menatap layar ponselnya sambil mengusap usap kepala Billy dengan sebelah tangannya.


"Ada yang menarik?" tanya Billy yang tampak kesal karena mata Dinda sibuk menatap layar ponsel.


Dinda menatap Billy. Dia melihat wajah Billy seperti anak kecil yang sedang merajuk. Dinda lalu meletakkan ponselnya keatas meja disamping ranjang.


"Kenapa?" tanya Dinda dengan lembut.


Dinda menatap mata Billy. Tangannya memegang pipi Billy, sambil tangannya yang sebelah masih mengelus rambut dikepala Billy.


Raut wajah Billy berubah jadi lebih tenang. Dia memegang tangan Dinda yang ada dipipinya. Kegusarannya menghilang. Billy menatap mata Dinda sampai hampir tidak berkedip.


Dinda mengusap usap lembut bibir Billy dengan jempol tangannya.


"Apa kamu mau bicara sesuatu?" tanya Dinda lagi.


"Nggak,, aku cuma mau kamu fokus denganku aja" ujar Billy.


Dinda tertawa pelan. Dia membiarkan Billy yang mau bermanja-manja dengannya.


"Iyaaa,, sudah nih,," ujar Dinda sambil tersenyum manis memandangi wajah Billy.

__ADS_1


__ADS_2