OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 96


__ADS_3

Rudi sangat terkejut mendengar pengakuan Dinda. Rudi seakan menjadi tuli sementara waktu, dia tidak bisa mendengar suara yang lain selain detak jantung nya sendiri dan suara darah yang mengalir cepat ditubuhnya.


Denyut nadi berkedut cepat, urat dipelipisnya yang menegang sampai menonjol keluar dari kulit kepalanya. Rudi berpikir keras.


Bagaimana Dinda bisa hamil? Tidak mungkin Dinda sampai sebodoh itu melakukan hal itu tanpa memakai 'pengaman'. Rudi teringat saat Billy mengakui kejadian waktu itu, sehari sebelum kecelakaan terjadi pada Dinda.


Kalau bukan karena Dinda hamil, semestinya Dinda tidak harus menikah dengan Billy. Dinda berarti masih mencintainya, sampai dia tidak menyalahkan Rudi atas kecerobohannya.


Darah Rudi serasa mendidih. Kemarahannya memuncak. Rudi menatap Billy dengan sorot mata yang tajam.


"Dasar brengsek!" Rudi membentak Billy.


"Kamu bermain kotor!" sambung Rudi. Kali ini dia sudah berdiri seakan menantang Billy bertarung.


Begitu juga Billy yang ikut berdiri yang terpicu amarahnya, karena merasa Rudi merendahkannya.


"Kamu yang pengecut!" bentak Billy yang sudah mengepalkan tangan hendak meninju wajah Rudi


Dinda berdiri kemudian memeluk Billy, untuk menahannya dari melakukan hal yang bodoh.


"Jangan!" seru Dinda. "Tolong,, jangan berkelahi" suara Dinda bergetar. Ini yang dia tidak mau kalau kedua lelaki itu harus berhadap-hadapan.


Billy melemah. Dia tidak tega melihat tubuh Dinda yang gemetar ketakutan memeluknya.


Rudi masih sangat marah, tapi sama seperti Billy, dia menahan amarahnya saat melihat Dinda seperti itu. Dia mendekat lalu memegang pundak Dinda, dengan salah satu tangannya.


"Maafkan aku,," ujar Rudi pelan, tangannya masih gemetar karena kemarahannya pada Billy.


Dari sentuhan tangan Rudi, Dinda bisa merasakan Rudi yang masih menyimpan rasa sayang yang besar bagi Dinda, sampai memaksa Rudi menahan emosi seperti itu.


Kekuatan Dinda seakan menghilang, tubuhnya terasa lemas. Kakinya seakan tak mampu menahan tubuhnya agar tetap berdiri. Pelukkannya di pinggang Billy terlepas. Dia hampir pingsan.

__ADS_1


Billy dan Rudi bersamaan memegang tubuh Dinda agar tidak terjatuh. Mereka merasa sangat bersalah saat melihat mata Dinda yang terpejam meneteskan airmata yang kemudian mengalir pelan dipipinya.


Billy menepis tangan Rudi lalu menggendong Dinda. Dia membawa Dinda pergi ke mobilnya. Billy membawa Dinda pulang kerumah. Billy menyesal memaksa Dinda bertemu Rudi, padahal Dinda tadi sudah menolak.


Setelah menggendong dan membaringkan Dinda diranjang. Billy melihat Dinda yang meringkuk di atas ranjang. Dinda berbaring memunggungi Billy. Dia tidak mau lagi kalau kalau Billy membahas tentang Rudi.


Billy merasa bodoh karena terlalu ego. Kini saat melihat Dinda begitu, dia jadi khawatir kalau hal tadi akan jadi beban pikiran Dinda. Billy mengelus rambut Dinda pelan, tanpa bicara apa-apa.


Rudi ternyata menyusul mereka kerumah Dinda. Dia berdiri di depan pintu kamar Dinda lalu memberi kode pada Billy untuk ikut dengannya keluar dari situ.


Billy mengikuti Rudi yang berjalan ke teras depan rumah Dinda.


Setelah mereka berdua duduk. Rudi terlihat menghela nafas panjang dan berat.


"Kamu memang brengsek" ujar Rudi. Nada suaranya terdengar biasa saja.


"Kamu bilang kamu mau bersaing baik-baik, tapi apa yang kamu lakukan?" sambung Rudi.


"Kamu kira cuma kamu yang bisa menghamili Dinda? Kamu tidak berpikir apa akibatnya?" tanya Rudi.


"Hah?! Sekarang kamu berpikir kalau Dinda mencintaimu? Dia hanya mau kamu bertanggung jawab!" seru Rudi. "Kalau kamu nggak menghamilinya, belum tentu dia mau menikah denganmu"


"Jangan memancing emosiku" ujar Billy sambil menghela nafas panjang agar dia bisa lebih tenang berbicara dengan Rudi "Semua sudah terlanjur terjadi,"


"Kalau kamu mencintainya,, bukannya kamu harusnya senang kalau lihat dia senang?" ujar Billy "Dia sudah bahagia denganku sebelum bertemu kamu lagi" sambung Billy.


"Hmm,, hey brengsek! Bukannya semestinya kamu yang begitu? Sekian lama kamu nggak ada disini, Dinda baik-baik saja denganku,, Kamu justru yang jadi perusak hubungan kami!" ujar Rudi dengan suaranya yang meninggi.


Billy kembali menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya kasar. Dia bisa melihat kalau Rudi belum mau menyerah begitu saja. Kalau benar seperti dugaan Billy, Rudi memang akan jadi pengganggu di waktu yang akan datang.


Billy hanya mendapat keyakinan akan bisa terus bersama Dinda, karena akan memiliki seorang anak dengan Dinda. Itu pun kalau tidak ada masalah sepanjang kehamilan Dinda. Kalau Rudi masih saja muncul di kehidupan Dinda, maka akan sulit mengatasinya.

__ADS_1


"Sekarang kamu mau apa? Apa kamu senang melihat Dinda yang tertekan karena melihat kita berdua yang bersitegang didepannya?" Billy berpikir untuk menjadikan Dinda sebagai tameng agar Rudi menyingkir.


Rudi mengerti akal bulus Billy. Dia makin yakin kalau Dinda masih mencintainya, makanya Billy berusaha menyingkirkan Rudi dari kehidupan Dinda.


"Aku akan menahan diri untuk tidak memukulmu didepan Dinda,, tapi jangan kamu kira aku akan mundur begitu saja meski kamu menikahinya" ujar Rudi.


Rudi berdiri lalu berjalan masuk tanpa memperdulikan Billy yang tenggelam dalam pikirannya. Dia mendatangi Dinda dikamarnya. Rudi melihat Dinda yang memejamkan mata, berbaring dengan tubuh miring di pinggir ranjang.


Rudi berjongkok, kemudian mencium bibir Dinda.


Dinda terbelalak saat melihat wajah Rudi yang menciumnya disitu. Dia mundur melepaskan bibir Rudi dari bibirnya.


"Aku akan tetap menunggu sampai kamu siap untuk kembali denganku" ujar Rudi, sambil mengelus kepala Dinda.


Rudi kemudian berdiri dan berjalan keluar dari situ. Dia melihat Billy yang sudah berdiri di pintu sejak Rudi mencium bibir Dinda. Rudi berjalan melewati Billy yang menahan amarahnya, tanpa menghiraukan kekesalan Billy.


Rudi seakan mengejek Billy, berjalan lurus keluar menuju mobilnya kemudian pergi dari rumah Dinda.


Wajah Billy merah padam. Dia mengertakkan giginya. Billy sangat kesal sampai rasanya dia mau saja menghabisi nyawa Rudi.


Ketika Billy melihat Dinda berbalik sambil mengelap mulutnya dengan tangan, kemudian terlihat kaget karena Billy ada disitu, Billy jadi tergerak hatinya.


Billy berpikir kalau Dinda tidak menikmati ciuman Rudi. Billy merasa senang, kekesalannya memudar seketika.


Billy mendekat lalu ikut berbaring disamping Dinda. Dia memeluk Dinda. Wajah Billy hampir menempel dengan wajah Dinda, yang tampak bingung.


"Maafkan aku,, mestinya aku nggak memaksa kamu bertemu Rudi" ujar Billy pelan.


Dinda hanya terdiam menatap mata Billy.


"Aku nggak akan pernah memaksakan kemauan ku lagi" bisik Billy, kemudian mencium bibir Dinda dengan lembut.

__ADS_1


Dinda memejamkan matanya. Dia membiarkan Billy mencium bibirnya sampai lelaki itu merasa puas. Setelah Billy melepas ciumannya, Dinda bergeser turun lalu menempelkan wajahnya didada Billy. Menghirup aroma tubuh wangi Billy yang sudah jadi candu baginya beberapa waktu ini.


Dinda merasa kalau dia sudah gila, karena meski sebentar sempat terpengaruh dan hampir terjatuh dengan sisa perasaan yang ada pada Rudi. Dinda bertekad untuk melupakan Rudi selamanya. Dia membenamkan wajahnya didada Billy.


__ADS_2