OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 106


__ADS_3

Ponsel Billy tidak berhenti bergetar.


Billy dan Dinda masih terlelap. Dinda hanya bergerak sedikit, tanpa bisa membuka matanya. Dia masih sangat mengantuk. Dinda merapatkan lagi tubuhnya ke tubuh Billy. Dia meletakkan tangannya ke atas dada Billy.


Ponsel Billy masih saja bergetar. Membuat kebisingan yang cukup mengganggu Billy.


Billy meraba-raba keatas meja, sambil tetap memejamkan mata. Setelah ponsel sudah didapatnya, baru dia membuka mata melihat layar benda itu.


Mama Billy yang menghubunginya.


Billy melihat Dinda yang masih tertidur pulas disampingnya. Dia tidak mau membangunkan Dinda. Billy menyambut panggilan Mamanya sambil berbisik.


"Iya, ma"


"Billy,, kalian harus mencoba pakaian kalian,, tinggal tiga hari loh,, kalau masih belum pas, kan masih harus diperbaiki,," suara Mama Billy terdengar mendesak.


"Benrtar ma,, Dinda masih tidur,," sahut Billy dengan suara pelan


Hening.


"Sekarang sudah hampir jam sembilan,, Dinda sakit?" tanya Mama Billy dengan suara cemas.


"Dinda kurang enak badan,," jawab Billy.


"Kenapa? Apa masih 'mabuk'?" tanya Mama Billy dari seberang.


"Iya,, dia kurang tidur,," sahut Billy lagi.


Meskipun Billy sudah berusaha bicara dengan suara sepelan yang dia bisa, Dinda tetap saja terbangun.


Dinda mendengar percakapan Mama Billy dengan Billy di telpon. Dinda tidak mau membuat Mama Billy cemas.


Dinda membuka matanya pelan. Dia lalu mengecup dada Billy kemudian menengadahkan kepalanya sampai Billy bisa melihat wajahnya.


"Aku sudah bangun,, kita bisa pergi bersama mama" kata Dinda hanya dengan menggerakkan mulutnya tanpa mengeluarkan suara.


Dinda lalu berbalik, kemudian berusaha bangkit dari tempat tidur.


"Dinda sudah bangun,, sebentar kami kesana" ujar Billy kemudian buru buru mematikan ponselnya, tanpa menunggu respon Mamanya.


Billy melihat Dinda yang tampak kesulitan berdiri. Dinda tampak bergerak pelan menggeser badannya turun dari ranjang. Billy berdiri lalu memegang Dinda.


"Mestinya aku bilang ke mama kalau kamu masih mau istirahat,," ujar Billy tampak cemas


"Sudah,, nanti mama cemas,, dia sudah cukup sibuk mengurus acara pernikahan kita,, kita tidak membantu sama sekali,," kata Dinda sambil berpegangan di lengan Billy.


Kaki Dinda terasa sangat pegal sampai ke pangkal pahanya. Sampai sampai Dinda keseulitan melangkahkan kakinya.


Billy tidak tahan melihat Dinda berjalan pelan seperti itu, dia lalu menggendong Dinda.

__ADS_1


"Aku mau berendam dulu,, mungkin bisa agak mendingan rasanya,, baru kita menyusul mama" ujar Dinda kemudian menyandarkan kepalanya ke leher Billy.


Dinda masih dalam gendongan Billy, saat Billy menyalakan air hangat kedalam bath tub. Dia lalu menurunkan Dinda didalam situ.


Billy berdiri sambil memandangi Dinda, yang mulai menggosok gosok paha sampai ke kakinya dengan busa mandi sebentar, sebelum dia ikut masuk kedalam bath tub lalu duduk dibelakang Dinda.


Dia menjulurkan kakinya agar Dinda berada dalam hapitannya. Billy memijat-mijat pelan dari pinggul sampai ke telapak kaki Dinda yang tertekuk.


Dinda merasa nyaman dipijat seperti itu. Dia bersandar di dada Billy, membiarkan tangan Billy memijatnya.


"Enakkan?" tanya Billy setengah berbisik. Kedua tangannya tetap sibuk memijat pergelangan kaki Dinda.


"Iya,, mendingan,," sahut Dinda, sambil tetap menggosok-gosok pelan pahanya dengan busa mandi.


Dinda bisa merasakan sesuatu menekan dibagian belakangnya.


"Billy!" seru Dinda, sambil menjauhkan punggungnya dari Billy.


"Maaf,, aku nggak akan melakukannya,," Billy lalu menarik Dinda pelan agar bersandar kembali didadanya. Dia lanjut memijat Dinda yang tadi sempat terhenti.


Belum berapa lama Billy kembali memijat Dinda, tiba-tiba Billy memegang pinggiran bath tub, lalu berdiri keluar dari dalam situ. Dia berdiri dibawah shower lalu menyalakan keran. Billy membasahi tubuhnya dengan air dingin, tanpa mau menoleh kearah Dinda.


Dinda tersenyum melihat Billy. Dinda memijat sendiri kakinya. Dia tidak mau meminta Billy yang melakukannya lagi.


Dinda tahu kalau itu hanya akan memancing Billy. Dinda tetap berendam sampai kakinya terasa agak mendingan, baru dia membilas tubuhnya dibawah air hangat pancuran.


Billy yang sudah duluan keluar dari kamar mandi, sudah selesai berpakaian saat Dinda selesai mandi dan berjalan ke kamar hanya berlilitkan handuk.


"Bilang kalau sudah selesai, ya?!" celetuk Billy yang tetap duduk membelakangi Dinda.


Dinda menoleh kearah Billy. Dinda tertawa dalam hati melihat Billy yang tampak sangat terpengaruh saat melihat Dinda.


"Iya,, bentar lagi" sahut Dinda. Dia kemudian tersenyum.


Dinda lanjut berpakaian. Dia memilih gaun cantik yang dibelikan Mama Billy. Dinda memandangi dirinya didepan cermin.


Gaun itu memang sangat cantik, meski di bagian perut mulai terasa agak ketat. Untung saja bahan kainnya elastis, jadi Dinda tidak merasa nafasnya sesak.


"Sudah!" seru Dinda yang kemudian memoles lipstik berwarna netral dibibirnya.


Setelah mendengar ucapan Dinda, Billy lalu berbalik memandangi Dinda yang tampak sangat cantik sudah selesai berdandan. Dia berdiri lalu memeluk Dinda, kemudian mencium bibir Dinda.


"Aku baru saja memakai lipstik,, habis terhapus semua, kalau kamu masih menciumku seperti itu" ujar Dinda agak mendorong dada Billy agar berhenti menciumnya.


Dia kemudian mengelap bekas lipstik dari bibir Billy dengan jempol tangannya.


Billy kembali mencium bibir Dinda. Dia tidak perduli meski Dinda masih berusaha mendorongnya. Billy memeluk Dinda erat erat. Dia tetap mencium bibir Dinda sampai Dinda sesak nafas.


Dinda baru bisa bernafas lega setelah Billy puas menciumnya. Dinda lalu mengambil tasnya. Dengan rangkulan Billy dipinggangnya kemudian berjalan keluar dari vila.

__ADS_1


Diperjalanan, Dinda memoles bibirnya dengan lipstik tadi dengan melihat bayangannya didepan kaca spion, sambil membuka tutup, mulutnya agar warna lipstik menyebar merata di bibirnya.


Billy tidak berhenti mencuri-curi pandang kearah Dinda.


"Cukup,, jangan buat aku memutar mobil balik ke vila" ujar Billy bersungguh-sungguh.


Dinda menoleh kearah Billy yang meliriknya. Dia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Dinda menyimpan lipstiknya lagi kedalam tas, lalu menatap keluar jendela.


Dia hanya tersenyum memikirkan kelakuan Billy.


Billy melihat Dinda yang senyum-senyum sendiri. Tangan Dinda ditariknya lalu menggenggamnya sambil diletakkan diatas pahanya.


Dinda berpaling kearah Billy. Dia tidak tahan lagi, akhirnya Dinda tertawa pelan.


"Sabar,, nanti pas pulang bisa lagi kok,, kalau kita sudah selesai diluar" celetuk Dinda.


"Janji yaa,," ujar Billy lalu mengecup tangan Dinda yang ada digenggamannya kemudian kembali meletakkan keatas pahanya.


"Iya,," sahut Dinda.


Billy memacu kecepatan mobilnya.~


Mereka mencoba pakaian pengantin ditemani Mama Billy. Ukuran dan modelnya sudah pas, tidak ada yang perlu diubah atau diperbaiki lagi. Mama Billy tersenyum lega.


"Sudah selesai? Kami belum sempat sarapan tadi,, aku bawa Dinda pergi makan yaa?!" ujar Billy beralasan. Dia tidak sabar membawa Dinda kembali ke vila.


"Mama juga lapar,, kita makan bareng aja,," kata Mama Billy sambil menatap Dinda.


"Iya, ma,, mama mau makan apa?" ujar Dinda tidak perduli dengan Billy yang tampak kesal karena Dinda setuju untuk bersama Mamanya lagi.


"Kita makan di rumah makan tempat kenalan mama,, disana ada macam-macam masakan rumahan,, mau?"


"Mau,," jawab Dinda singkat.


Billy memasang tampang cemberut, tapi dia tidak bisa protes. Apalagi Dinda malah ikut semobil dengan mamanya, sedangkan dia menyetir sendiri mengikuti mobil mamanya pergi.


Mereka tiba dirumah makan yang Mamanya bilang.


Dinda tetap pura-pura tidak tahu kalau Billy sudah kesal. Dia tetap asyik bercerita dengan Mama Billy.


"Halo,," suara lembut seorang wanita terdengar memecah keseruan perbincangan Mama Billy dan Dinda.


"Haii!" Mama Billy tampak bersemangat.


"Ini kenalan mama,, pemilik tempat ini," Mama Billy memperkenalkan temannya pada Dinda. " Wah siapa ini?" sambung Mama Billy.


"Ini anakku, Edo," sahut teman Mama Billy.


Billy yang sedari tadi menatap kejalanan kemudian menoleh, tepat saat Dinda yang berdiri lalu bersalaman dengan pria gagah dengan wajah lumayan tampan.

__ADS_1


Billy ikut berdiri lalu memotong pegangan tangan Dinda dan lelaki itu.


"Billy, calon suaminya, Dinda" ujar Billy tegas.


__ADS_2