OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 50


__ADS_3

Permainan ketiga laki-laki itu berlangsung lama. Berkali-kali mereka bergantian. Sama-sama hebat. Belum ada yang jadi pemenangnya.


Dinda mulai bosan melihat mereka yang masih saja terus bermain. Dia merasa haus. Dinda lalu berdiri meninggalkan lapangan basket itu, kemudian berjalan kearah cafe, di seberang bangunan itu.


Billy yang duduk disamping Dinda, hanya bersandar di kursi, sampai hampir terbaring. Dia tidak protes saat Dinda pergi. Billy sendiri sudah merasa lelah, apalagi karena sisa efek alkohol yang tadi, membuat dia rasanya ingin cepat istirahat.


Rudi saat melihat Dinda pergi, lalu berhenti bermain begitu saja. Dia kehilangan minat untuk bermain lagi. Dia duduk ditengah lapangan.


Begitu juga Alex. Karena tidak ada perlawanan dari Rudi, dia juga duduk dilantai ditengah lapangan bersama Rudi.


Keduanya seakan kehilangan semangat untuk bermain basket lagi.


"Aku tahu kalian mau pamer 'kan dengan Dinda?" ujar Rudi.


"Sayangnya dia sepertinya tidak perduli dengan kalian..." sambung Rudi. Dia tersenyum sinis.


"Kalian? Apa Billy juga?" tanya Alex.


Rudi tidak merespon.


Alex tertawa terbahak-bahak.


"Permainannya makin seru kalau begitu. Kamu kira aku nggak bisa membuatnya tertarik padaku?" kata Alex.


"Kamu bermimpi. Dinda nggak seperti gadis-gadis lain yang biasa kamu pacari!" kata Rudi.


"Aku tahu Dinda sepertinya sulit didekati. Tapi, justru itu yang membuatku makin bersemangat mengejarnya!" Kata Alex enteng.


Kemarahan Rudi memuncak, saat mendengar perkataan Alex. Dia berdiri seakan mengajak Alex untuk berkelahi.


Alex ikut berdiri. Dia siap melawan Rudi.


"Apa yang kalian lakukan?" teriak Billy.


Alex dan Rudi menoleh kearah Billy yang berlari ketengah lapangan mendekati mereka.


"Kalian kenapa?" tanya Billy, setelah mereka sudah berhadap-hadapan.


"Rudi berani menantangku berkelahi!" kata Alex.


"Apa kamu juga mau?" sambung Alex sambil mengayun-ayunkan tinjunya kearah Billy.


Billy melongo. Dia tidak merespon tindakan Alex. Kalau bukan karena rasa lelahnya, mungkin Billy sudah memukul Alex disitu.


"Memangnya ada apa?" tanya Billy, dia bingung melihat tingkah Alex.


"Kamu juga mengejar Dinda 'kan?" ujar Alex pada Billy.


Billy menatap Rudi. Dia merasa ini aneh. Jadi semua sudah saling tahu, apa yang mereka mau.


Billy masih merasa sangat lelah. Dia berniat pergi mandi untuk menyegarkan badannya kembali. Billy berjalan meninggalkan mereka.

__ADS_1


"Dasar pengecut! Kamu mau menyerah?" teriak Alex.


Billy berbalik setelah mendengar teriakan Alex. Dia berjalan kembali, lalu mendaratkan tinjunya diwajah Alex.


Alex langsung menyerang Billy. Mereka berdua bergulat.


Biar bagaimanapun Rudi sempat lama berteman dengan Alex. Begitu juga Billy yang sudah membantunya agar bisa kembali berhubungan dengan Dinda. Rudi akhirnya berusaha meleraikan mereka berdua.


"Kamu pikir aku menyerah?" ujar Billy.


"Hahaha... Kalian tidak ada satu pun yang mampu menyaingi aku!" Seru Alex.


Kali ini kata-kata Alex memancing kemarahan Rudi dan Billy. Mereka bertiga bergelut. Tidak ada yang menang, tidak ada juga yang kalah. Sampai semua kelelahan. Akhirnya mereka bertiga terduduk dilantai.


Kalau seperti ini, Rudi tidak tahu bagaimana nanti respon Dinda kalau sampai tahu. Kemungkinan Dinda malah tidak mau melihat satupun dari mereka, pikir Rudi.


Mereka lalu satu persatu pergi keruang ganti, tanpa bicara apa-apa. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.


Di cafe, Dinda sama sekali tidak menyadari apa yang terjadi di gedung sebelah. Dia asyik menikmati minumannya, sambil menonton live music disitu. Sesekali dia melihat kearah luar. Belum terlihat mereka tadi yang bermain basket.


Billy menarik tempat duduk di samping Dinda. Tak lama, Rudi yang ikut duduk di sisi sebelah Dinda yang kosong, menyusul Alex yang hanya bisa duduk didepan Dinda.


Awalnya Dinda tidak terlalu memperhatikan, sampai waktu mereka bertiga mulai minum. Ketiganya meringis kesakitan.


"Ada apa dengan kalian?" tanya Dinda. Dia melihat bibir laki-laki itu satu persatu. Semuanya terluka.


"Bibir kalian kenapa?" tanya Dinda lagi. Dia merasa heran.


Mereka bertiga bertatap-tatapan.


Dinda bingung melihat mereka seperti itu. Perasaan aneh muncul, kok bisa lukanya sama begitu.


Apa memang bisa luka begitu kalau cuma kena bola? pikir Dinda.


Tapi dia tidak terlalu memperdulikan, karena mungkin saja, bola basket 'kan cukup berat, pikirnya.


Dinda menyeruput minumannya.


"Siapa yang menang?" tanya Dinda.


"Nggak ada!" Billy dengan cepat menjawabnya.


Mainnya lama banget, ujung-ujungnya nggak ada yang menang. Ya iyalah, wajar, sama sama postur tubuhnya mirip.


Jelas sama kuat.


Mestinya main biasa aja, nggak usah sok-sokan tanding, pikir Dinda.


Beberapa lama mereka semua duduk disitu. Dinda berkali-kali melihat mereka bertiga bergantian, yang dari tadi hanya diam.


Tidak ada yang bicara ataupun mengajak ngobrol.

__ADS_1


Ketiganya sibuk memainkan gelas minumannya.


"Aku lapar!" kata Dinda sekedar memecah suasana disitu.


"Mau makan apa?" tanya Billy.


"Terserah aja!" ujar Dinda. Gadis itu melirik Rudi yang masih sibuk dengan gelasnya. Dinda merasa kesal karena hanya Billy yang merespon omongannya.


"Ayo, pergi cari makan!" ajak Billy yang kemudian berdiri.


Dinda melihat kearah Rudi. Lelaki itu masih terdiam.


Rudi benar-benar tenggelam dalam pikirannya. Dia tidak menyadari, Billy yang mengajak Dinda pergi makan.


Dinda berdiri. Lalu berjalan dengan Billy yang sudah sedari tadi berdiri menunggunya.


Rudi baru tersadar ketika Dinda mulai berjalan. Dia lalu berdiri dari tempat duduknya.


Dinda menoleh kearah Rudi, lalu berkata


"Aku pergi dulu! Nanti aku hubungi kalau sudah selesai makan!"


Rudi hanya terdiam mendengar kata-kata Dinda. Dia hanya melihat Dinda berjalan pergi bersama dengan Billy.


Rudi sadar kalau salah dia sendiri tidak merespon omongan Dinda, karena terlalu sibuk dengan pikirannya, yang mencari cara menyingkirkan Alex dan Billy.


Wajar saja kalau Dinda jadi kesal, dan meninggalkan dia disitu.


Saat Dinda sudah tidak terlihat. Rudi kembali terduduk disitu.


Alex menatapnya, kemudian tersenyum sinis.


"Billy cukup berat untuk disaingi!" kata Alex


"Dinda berteman akrab sekali dengannya." sambung Alex


"Billy akrab dengan keluarganya juga. Dinda pernah pacaran dengannya dulu!" kata Rudi


"Hah?" Alex terkejut. Dia kemudian tertawa.


"Kalau begitu, Billy tidak mudah digeser!" kata Alex.


"Harus ekstra biar bisa mengalahkannya!" kata Alex serius.


Rudi melihat Alex yang tampak aneh. Tapi Rudi tidak perduli lagi. Rudi hanya bisa berharap Dinda tidak terpengaruh dengan kedua lelaki itu.


Rudi masih duduk disitu dengan Alex cukup lama. Sampai penyanyi di atas panggung itu, berganti dengan penyanyi yang lain.


Rudi lalu berdiri meninggalkan Alex yang masih disitu, tanpa berkata apa-apa.


Alex pun tidak menghiraukan kepergian Rudi.

__ADS_1


__ADS_2