OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 46


__ADS_3

Hari ini, hari terakhir sebelum libur akhir pekan minggu itu. Dinda ingat janjinya dengan Mita. Sore nanti Mita akan ke rumahnya lagi.


Dinda ingin menghabiskan waktu nya dengan sahabat lamanya itu, sebelum Mita kembali ke Australia pekan depan.


Saat jam makan siang. Dinda tetap bekerja, agar pekerjaannya cepat selesai.


Beberapa kali Dinda melirik ke arah ruangan Atasannya. Aman, tidak ada tanda-tanda bos mencarinya.


Setelah dirasa pekerjaannya sudah beres, Dinda bersiap siap untuk pulang. Dia lalu mengambil ponsel dari dalam tasnya. Masih seperti sehari sebelumnya.


Dinda hari itu tidak menyalakan daya ponsel sejak malam tadi.


Saat layar ponsel menyala, Dinda memeriksa notifikasi yang masuk.


Tidak ada yang menarik.


Dinda kembali memasukkan benda itu ke dalam tasnya. Dia berjalan kearah meja sekertaris Atasannya.


"Aku balik dulu! Kalau-kalau Bos ada perlu, tolong hubungi nomorku ya?!" kata Dinda pada sekertaris wanita yang duduk disitu.


Dinda berjalan keluar dari kantor, menuju mobilnya diparkiran basement.


Ketika Dinda menyalakan mobil, telepon genggamnya berbunyi.


Laura yang menelpon. Fitting nya hari ini lagi? hmmm, Dinda masih gak mood melihat gaun gaun pengantin itu.


"Halo!" kata Dinda


"Halo! Apa kamu masih kerja?" tanya Laura


"Nggak nih, baru aja mau pulang. Kenapa?"


"Apa aku bisa bertemu denganmu?" ujar Laura dari seberang.


Dinda berpikir sebentar.


"Datang aja ke rumahku. Kita ngumpul bareng," kata Dinda


"Sama siapa?"


"Sama Mita, katanya dia mau kerumah nanti," ujar Dinda


"Ok, bentar aku meluncur kesitu!" ujar Laura.


Panggilan lalu terputus.


"Untung aja bukan tes baju lagi..." kata Dinda pada dirinya sendiri, sambil menyalakan mobilnya.


***


Dinda menata belanjaannya diatas meja teras depan rumahnya. Dia tadi sempat membeli camilan di toko retail, saat dijalan pulang.


Bunyi mobil berhenti di depan rumahnya, membuat Dinda menoleh kearah jalan.


Billy terlihat keluar dari dalam mobil.


Dinda tidak menghiraukan kedatangan Billy. Dia tetap sibuk dengan apa yang dia buat.


Billy berjalan mendekati Dinda.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Billy saat dia sudah berdiri dilantai teras.


"Baik!" jawab Dinda tanpa menoleh kearah Billy.


"Ada acara apa ini? Apa aku boleh duduk disitu?" tanya Billy lagi.


Dinda melihat kearah Billy. Something suspicious.

__ADS_1


"Duduk aja. Nanti ada Mita kesini, juga ada temanku Laura. Kalau kamu mau gabung dengan kumpulan perempuan," ujar Dinda.


Lelaki itu lalu melangkah kearah ayunan, kemudian duduk disitu.


Biasanya Dinda jengkel dengan adanya Billy di sekitarnya. Tapi hari ini, Billy sedikit berbeda. Tumben nggak ngajak berantem, dia bicara dengan tenang pada Dinda.


"Mita ada disini?" tanya Billy


"Iya! Katanya cuma sampai minggu depan, dia nanti balik lagi ke Australia," jawab Dinda yang kemudian duduk dikursi.


"Kalau begitu aku tetap disini, aku mau bertemu dengannya. Bisa?" Billy benar-benar tidak seperti beberapa minggu belakangan. Billy seakan kembali menjadi dirinya saat mereka masih SMA.


"Hmmm... Apa ada yang terjadi kemarin?" Dinda balik bertanya.


"Memangnya kenapa?" kali ini Billy yang bingung dengan pertanyaan Dinda.


"Nggak apa-apa..." jawab Dinda.


Billy kemudian berdiri dari tempat dia duduk, lalu berkata


"Sebentar ya...!"


Billy pergi ke mobilnya. Dia membuka bagasi, ada sesuatu yang dia ambil. Saat dia kembali, dia membawa beberapa kaleng bir.


Dinda melotot.


"Untuk apa kamu bawa itu kesini?" tanya Dinda heran


"Mita menyukai ini. Aku membelinya untukku nanti, tapi karena kamu bilang ada Mita, it's oke untuk diminum bareng dia!" ujar Billy


Dinda tidak mau protes. Terserah aja deh, toh bukan anak kecil lagi, pikir Dinda.


Tak lama mobil Laura tiba, disusul kemudian Mita yang berbonceng motor dengan teman lelaki bule nya.


Laura menunggu Mita turun dari motor, kemudian setelah teman lelaki Mita pergi, barulah mereka berdua berjalan masuk ke halaman rumah Dinda.


Mita yang melihat Billy, langsung berlari dan memeluk lelaki itu. Mereka berpelukkan, tanpa memperdulikan kedua pasang mata gadis yang melihatnya.


Laura duduk disamping Dinda. Dia mendekatkan wajahnya ke telinga Dinda.


"Siapa itu?" tanya Laura berbisik


"Billy, kami semua teman sekolah waktu SMA." jawab Dinda.


Mita melepaskan pelukkannya dari Billy. Mereka berdua duduk bersebelahan di atas ayunan.


"Ini Laura, temanku!" kata Dinda ketika melihat Billy menatap Laura, yang ada disamping Dinda.


"Oh..." jawab Billy singkat


Billy dan Mita kemudian berbisik-bisik. Mereka berdua tampak sibuk sendiri.


Laura dan Dinda bertatapan. Seakan mengerti sesuatu, Dinda lalu berdiri dan berjalan masuk ke dalam rumah disusul Laura dari belakangnya.


"Apa mereka pacaran?" tanya Laura yang penasaran.


"Setahu aku sih dulunya mereka cuma berteman. Nah, nggak tahu sekarang. 'Kan aku sudah lama nggak ketemu mereka berdua?!" jawab Dinda.


Dinda mengambil air es dari dalam kulkas. Dia menuangkannya kedalam gelas diatas meja.


"Mau?" tanya Dinda


Laura mengangguk.


"Billy ganteng banget!" celetuk Laura. Gadis itu senyum-senyum sendiri.


"Hmmmm... Naksir?" tanya Dinda enteng.

__ADS_1


Laura tertawa.


"Apa dia masih single?" tanya Laura


"Sudah menikah. Tapi sama kayak Mita, open marriage..." kata Dinda.


"Tema-teman lamamu unik ya?!" celetuk Laura lagi


"Bukan unik, tapi aneh! Aku masih nggak mengerti dengan gaya hidup seperti itu," kata Dinda sambil menenggak air ditangannya.


"Kamu masih menolak konsep itu?" tanya Laura.


"He'eh... Tapi karena mereka teman-temanku, aku coba untuk maklumi kemauannya," jawab Dinda


"Hmm... Padahal itu yang mau aku bicarakan dengan mu," ujar Laura. Wajah gadis itu kelihatan lesu.


"Kamu mau menikah dengan konsep itu? Nggak apa-apa! Aku temanmu... Aku nggak akan menilaimu buruk. Itu pilihanmu... Tapi apa Eko mau?" tanya Dinda


"Aku belum memikirkan cara berbicara dengannya..." ujar Laura.


"Kalau begitu, masalahnya cuma itu aja. Kamu liat sendiri 'kan, Mita dan Billy memilih menikah seperti itu. Aku anggap itu mungkin yang terbaik bagi mereka.


Begitu juga denganmu, kalau kamu memilih yang sama seperti Mita atau Billy, itu juga nggak masalah buatku. Aku akan tetap mendukungmu" kata Dinda sungguh-sungguh.


Laura memeluk Dinda tiba-tiba, sampai gelas ditangan Dinda hampir jatuh.


"Kira-kira menurutmu bagaimana aku bisa bicara dengan Eko?" tanya Laura saat melepaskan pelukannya dari Dinda.


"Gini aja! Kita ngobrol dengan Mita dan Billy, nanti kita cari tahu, bagaimana mereka bisa kompak dengan suami dan istri mereka. Ok?" kata Dinda


"Ok!" ujar Laura bersemangat.


Mereka berdua lalu kembali bergabung dengan Mita dan Billy, di teras depan.


Mita dan Billy sudah mulai minum bir yang di bawa Billy, ketika Laura dan Dinda kembali ke teras depan.


Sekian lama mereka disitu, masing-masing sibuk sendiri. Kaleng demi kaleng bir, diminum Mita dan Billy. Sedangkan Laura dan Dinda hanya meminum soda.


Dinda merasa agak kesal karena dia tidak bisa bercerita bebas dengan Mita. Ada juga sedikit rasa cemburu dalam hatinya, melihat Mita dan Billy tampak lebih akrab dari pada waktu mereka SMA dulu. Dinda memasang wajah masam.


Billy melihat raut wajah Dinda yang kelihatan tidak senang. Billy lalu berdiri dan mengajak Dinda masuk kedalam rumah sebentar, dengan alasan dia mau ke kamar mandi.


"Ada apa? kamu marah?" tanya Billy pada Dinda saat mereka sudah diruang tengah.


"Nggak juga... Aku cuma mau mengobrol dengan Mita... Tapi kayaknya kalian berdua sedang sibuk," ujar Dinda.


Billy menatap wajah Dinda. Untuk beberapa lama, lelaki itu tidak berpaling dari situ.


Dinda jadi grogi ditatap lama-lama seperti itu, dia lalu mendorong Billy yang dekat sekali dengannya.


"Katanya tadi mau ke kamar mandi. Pergi sudah sana!" kata Dinda


Billy menarik Dinda masuk kekamarnya. Lalu menutup pintu kamar Dinda.


"Aku ingin menciummu sebentaaar aja! Aku kangen...!" kata Billy lembut.


Dinda hanya terdiam menatap Billy.


Billy lalu mendekatkan wajahnya, lalu mencium bibir Dinda pelan.


Dinda tidak membalas ciuman itu.


Billy lalu berhenti. Dia menatap Dinda lekat-lekat. Dia kembali mencium bibir Dinda. Tangannya dia letakkan diatas dada Dinda.


Billy menghentikan ciumannya. Dia lalu keluar dari kamar Dinda.


Billy kembali duduk di atas ayunan. Wajah Billy tanpa ekspresi.

__ADS_1


Tak lama Dinda menyusul keluar lalu duduk dikursi. Dinda melihat Laura yang kini sudah asik bercerita dengan Mita.


__ADS_2