
Mita bersama teman lelakinya, sedang duduk ditambatan perahu danau. Laura juga terlihat sedang asyik bersenda gurau, dengan teman lelaki yang dia bawa.
Dinda tidak tahu mau apa. Dia pikir dia bisa mengobrol dengan kedua teman wanita nya itu, tapi ternyata mereka benar-benar sibuk sendiri.
Dinda berbalik ke kabin. Dia rasa tidak ada yang menarik diluar.
Karena Dinda buru-buru berbalik arah, hampir saja dia bertabrakan dengan Billy yang dari tadi masih berjalan dibelakangnya.
"Eeh!" ujar Billy
"Kenapa balik lagi?" tanya lelaki itu.
"Aku bingung mau ngapain. Mereka sibuk sendiri. Aku nggak enak kalau harus mengganggu. Apalagi teman lelaki mereka, nggak ada yang aku kenal," kata Dinda.
Billy lalu berpikir sebentar.
"Kita ke sebelah sana aja!" Billy menunjuk hammock yang bergantung diantara beberapa pohon besar. Letaknya dipinggir danau, tapi agak berjauhan dari dermaga.
Dinda melihat kesitu. Boleh juga, pikir Dinda.
Dinda mengangguk, kemudian mulai berjalan kesana.
Dinda bersama Billy lalu berbaring di hammock yang bersebelahan, sambil melihat permukaan air danau, yang berkilauan diterpa sinar matahari sore itu.
"Aku akan bercerai dari istriku awal tahun depan," ujar Billy tiba-tiba.
Dinda menoleh kesamping, dimana hammock Billy tergantung.
"Bagaimana ceritanya sampai kamu mau menikah, kalau kamu tidak mencintainya?" tanya Dinda.
"Papa mau melebarkan bisnisnya. Supaya berhasil tanpa gangguan dia memaksa aku menikah dengan anak koleganya. Perjanjiannya setelah targetnya tercapai, baru aku bisa berbuat apa yang aku mau," kata Billy. Lelaki itu tampak sangat kecewa dengan Papanya.
"Kalian menikah sudah berapa lama?" tanya Dinda lagi.
"Bulan depan tepat dua tahun," ujar Billy.
Mereka berdua lalu terdiam, tidak ada lagi yang punya minat untuk bicara satu sama lain. Keduanya tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
Dinda berpikir tentang dirinya yang selama ini berhubungan dengan suami orang.
Dinda merasa sangat malu. Dia tidak tahu apakah dia memang mencintai Billy. Apakah hanya nafsu belaka, atau hanya karena rasa bersalah, karena menggantung perasaan Billy begitu saja.
Yang jelas yang Dinda tahu, dia telah tenggelam terlalu dalam, sampai tidak bisa bernafas. Dinda menyalahkan dirinya sendiri yang tidak bisa mengendalikan diri.
Apalagi, dia berkali-kali mengkhianati Rudi.
'Rudi' lelaki itu yang selama ini berada disisi Dinda. Dinda merasa sangat sedih mengingat lelaki itu. Dinda yakin kalau dia mencintai Rudi.
Dinda tidak pernah berpaling darinya, sampai Billy muncul kembali di hidupnya.
Apa sebenarnya yang terjadi dengan Rudi ?
Setahu Dinda Rudi setuju, dan mendukung keinginannya untuk jadi pengacara. Kenapa sekarang tiba-tiba Rudi, jadi memaksa begini?
Apa ada hubungannya dengan munculnya Billy?
Tapi kalau begitu, bukannya Dinda sudah bilang, kalau Dinda tetap memilih dia? Rudi tidak percayakah dengan Dinda? Apa Rudi tahu sesuatu tentang Dinda dan Billy?
Pertanyaan demi pertanyaan muncul dikepala Dinda.
Dinda menatap langit. Dinda kali ini merasa sangat bersalah. Jika bisa mengulang waktu, Dinda ingin kembali disaat Billy berangkat ke luar negeri.
Semestinya Dinda waktu itu menyelesaikan perasaan yang ada baik-baik, mungkin tidak akan ada kejadian seperti ini. ~
__ADS_1
Lain lagi dengan Billy.
Billy merasa dia hampir berhasil mencapai tujuan yang dia mau. Meskipun dia kecewa karena harus memenuhi permintaan gila orang tuanya, tapi kini hal itu hampir berakhir.
Billy memiringkan kepalanya. Dia memandangi Dinda. Billy senang karena rasanya dia mendekati keberhasilan. Dia merasa peluangnya semakin besar.
Billy tidak pernah berhenti mencintai Dinda. Selama ini, dia hampir gila memikirkan gadis itu terus menerus. Billy tidak bisa memandang gadis lain, seperti dia memandang Dinda.
Sakit hatinya kalau melihat Dinda dekat dengan lelaki lain. Tapi ada rasa bersalah saat dia melihat Dinda sedih karena hubungannya dengan Rudi tidak berjalan lancar.
Melihat Dinda sedih, Billy juga ikut sedih.
Billy benar-benar bingung. Dia mau Dinda bahagia, tapi dengannya bukan dengan orang lain. Sedangkan dari apa yang dia lihat, Dinda selalu saja sedih karena Rudi. Lelaki itu tampaknya sangat berpengaruh bagi Dinda.
Mestinya Rudi tidak ada di dunia ini, pikir Billy. ~
"Tuan! Hari hampir gelap, Tuan mau saya nyalakan api?" suara lelaki tua pengurus vila, mengagetkan Billy dan Dinda.
"Oh... Iya!" jawab Billy.
Pria tua itu lalu mengumpulkan beberapa potong kayu, lalu membuat api unggun kecil disitu.
"Kamu mau minum atau makan apa?" tanya Billy pada Dinda
"Aku mau soda!" kata Dinda
"Pak, tolong bawakan soda sama bir!" ujar Billy pada lelaki paruh baya itu.
Pengurus vila itu mengangguk, dia lalu mengambilkan minuman yang diminta Billy. Beberapa kaleng soda dan bir, diletakkan diatas tikar kecil yang dia bawa.
Billy mengambil soda untuk Dinda. Dia lalu membuka sekaleng bir untuk dirinya.
"Wah...! Asyik disini!" seru Mita.
Billy berpindah duduk ke hammock, yang dipakai Dinda. Memberi rombongan itu tempat untuk duduk.
Dinda yang berbaring lalu ikut duduk, berdampingan dengan Billy.
Tiga hammock yang tergantung disitu, kini penuh di duduki masing-masing pasangan.
"Tuh, diminum!" kata Billy menawarkan soda, dan bir yang ada disitu.
Mereka lalu mulai minum, tapi masing-masing masih sibuk bercerita, dan bersenda gurau dengan pasangannya.
Billy bertatapan dengan Dinda. Meski disitu ada banyak orang, tapi seperti mereka hanya berdua saja. Karena tidak ada yang mengajak salah satu dari mereka bicara.
"Cheers!" kata Billy pelan. Dia mengangkat kaleng birnya sambil tetap menatap Dinda.
Mereka berdua tertawa.
"Sejak kapan kamu berpacaran dengan Rudi?" tanya Billy.
"Kalau nggak salah, waktu semester lima," kata Dinda
"Baru kenal langsung pacaran atau gimana ceritanya?" tanya Billy.
Dinda menatap Billy. Dia tidak mau membahas tentang itu.
"Dari pada kita berdua cuma bengong. Mendingan juga kalau ada cerita yang bisa aku dengar," ujar Billy santai, sambil menenggak sedikit bir dari kalengnya.
"Hmm... Waktu itu kalau nggak salah kami di semester kedua. Suasananya hampir seperti ini. Bedanya kami lagi ngumpul-ngumpul di tepi pantai.
Nggak ada yang mengajak kami ngobrol. Jadi kami berjalan-jalan berdua di pinggir pantai. Nggak nyangka juga dari situ, kami bisa dekat.
__ADS_1
Awalnya cuma sebatas teman. Kami baru pacaran pas sudah di semester lima." kata Dinda.
"Cuma jalan-jalan?" selidik Billy.
"Nggak pakai pura-pura pingsan?" Billy menggoda Dinda.
"Nggak!" seru Dinda. Dia mendaratkan cubitan di lengan Billy.
"Aahh...! Sakit!" kata Billy.
"Trus gimana?" sambung Billy.
"Gimana apa lagi?" tanya Dinda.
"Cerita yang jelas, dong! Singkat amat!" ujar Billy.
Dinda menghela nafas. Dia melihat kedua temannya masih sibuk sendiri. Dia lalu menatap Billy yang menunggu.
"Awalnya aku baru kenal Rudi, mungkin dua harian. Belum berteman. Waktu Laura ajak untuk santai di pantai, aku datang terlambat kesitu.
Jadi Rudi menjemputku dari parkiran di pantai itu. Dia membantuku lewat di keramaian, biar bisa sampai dimana Laura dan yang lain duduk...
Waktu ngumpul-ngumpul, mereka malah sibuk sendiri. Jadi aku dengan Rudi jalan jalan, di pinggir pantai. Bajuku basah kena cipratan air.
Mungkin karena dia melihatku kedinginan, Rudi memelukku. Aku grogi lalu jatuh kepasir. Rudi ikut terjatuh. Kami berdua berciuman saat itu...
Tapi nggak ada yang terjadi.
Selanjutnya kami cuma berteman, sampai ada salah satu mahasiswa baru... Mark, menembakku. Rudi baru mengaku kalau dia sudah suka denganku sejak lama.
Aku lalu setuju untuk pacaran dengannya, karena aku juga tertarik dengannya," Dinda merasa agak sedih mengingat hal itu.
"Sudah! Puas?" ujar Dinda.
"Hmm... Berarti kamu menggantung si Mark dong?" kata Billy.
"Arrgghh...! Kamu ini! Sudah ah, aku males cerita lagi!" ujar Dinda.
"Lah, iya kan bener? Kamu menggantung Mark? Ckckck... Kamu memang suka menggantung perasaan orang..." ujar Billy. Dia kembali menenggak sedikit bir.
"Billy!" seru Dinda pelan.
Billy menatap Dinda lekat-lekat.
"Apa kamu nggak sadar kalau kamu menggantung perasaanku? Kamu diamkan aku saat aku sudah cinta mati denganmu...
Aku membencimu, karena cuma kamu yang selalu ada dipikiranku...
Karena kamu, aku nggak bisa melihat perempuan lain!
Rasanya aku lebih baik mati kalau aku nggak bisa bersama kamu!" kata Billy bersungguh-sungguh.
Dinda tidak berkata apa-apa lagi. Pikiran Dinda kalut. Dia menunduk.
Billy mengangkat wajah Dinda
"Aku bersungguh-sungguh...!" kata Billy.
Dinda menatap mata Billy, yang hampir tak berkedip.
Billy mencium bibir Dinda.
Billy tidak perduli dengan mata-mata yang terkejut, melihat dia mencium Dinda.
__ADS_1