OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 82


__ADS_3

Didalam kamar rumah sakit, Dinda terlihat sibuk dengan ponselnya. Dia sedang malas untuk mengobrol dengan siapa pun yang ada disitu. Jari tangannya dan mata Dinda terfokus dilayar benda itu.


Alex mengambil tempat duduk disofa. Sedangkan Rudi yang merasa tidak diperdulikan, lalu mengajak Laura untuk mengobrol dengannya diluar ruangan itu.


"Kamu mau pergi ke kafetaria dibawah?" tanya Rudi kepada Laura.


Laura melirik Dinda yang tidak bergeming. Seolah orang-orang yang ada disitu, tidak tampak bagi dia.


Laura mengangguk. Sebenarnya Laura masih merasa lelah karena baru saja kembali dari berjalan-jalan ditaman tadi. Tapi, dari pada bengong disitu, dia menerima ajakkan Rudi.


"Apa cuma perasaanku saja... Tapi sejak Billy pergi hari itu, Dinda sepertinya makin lama makin tidak terlalu memperdulikan kita," ujar Rudi, saat dia dan Laura, sudah duduk dikafetaria rumah sakit itu.


"Terlebih denganku," Wajah Rudi tampak sedih.


"Tadi aku sempat bicara dengan Dinda. Katanya, kamu juga yang nggak mau bicara, jadi dia tidak mau memaksamu untuk berbicara dengannya," sahut Laura, yang kemudian menyeruput minumannya, yang baru saja diantar pelayan kafetaria itu.


Rudi tidak menyahut. Memang benar apa yang dibilang Laura, tapi Rudi masih terus merasa bersalah yang membuatnya cemas, saat akan berbicara dengan Dinda.


"Aku besok tidak kesini... Rencananya aku mau mencari pekerjaan baru," sambung Laura.


"Kenapa?" tanya Rudi.


"Kamu lupa?! Aku sedang tidak baik-baik saja dengan papa!" ujar Laura ketus.


"Oh... Maaf! Maksudnya aku, kamu 'kan nggak perlu buru-buru cari pekerjaan. Kamu bisa istirahat saja dulu. Apalagi dengan semua kejadian yang kamu alami," sahut Rudi.


"Nggak! Mungkin aku bisa tinggal menumpang dirumah Dinda. Tapi, nggak mungkin aku berharap Dinda yang mengongkosi semua kebutuhanku," kata Laura, dengan wajah sedih.


Dia memang tidak tega kalau Dinda harus repot dengan dia. Sedangkan kondisi Dinda juga sedang sakit.


"Terserah kamu kalau begitu... Kamu lakukan yang mana menurutmu baik saja," ujar Rudi, mengerti perasaan Laura yang tidak mau membebani Dinda.


"Tadi Alex bicara dengan Dinda tentang nama baiknya yang rusak di Australia. Aku nggak mengerti... Tapi, saat Alex bilang itu ada hubungannya dengan Mita dan Billy, Dinda jadi kelihatan gusar," kata Laura.


"Sepertinya itu sebabnya, Dinda tadi bersikap seperti itu. Karena sejak perbincangannya dengan Alex ditaman, sampai kita pergi tadi, Dinda tidak mau bicara lagi. Alex juga kelihatan kesal," sambung Laura.


"Apa kamu tahu maksud omongan Alex itu?" tanya Laura penasaran.


"Hmmm... Waktu Alex di Australia, dia sempat jadi tersangka kasus penculikan dan pembunuhan seorang wanita disana. Tapi, aku cuma tahu itu... Itu pun cuma aku anggap isu, karena tidak tahu pasti kebenarannya," sahut Rudi, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.


"Aku nggak pernah tanya dengan Alex, karena Alex juga tidak pernah menyenggol atau bercerita tentang masalah itu. Kalau Dinda bereaksi dengan omongan Alex, berarti Alex sudah cerita kronologi kejadian itu dengan versi Alex kepada Dinda," sambung Rudi.

__ADS_1


"Kalau aku dengar pembicaraan mereka tadi, Alex menganggap Mita yang jadi pelaku kejadian di Australia. Karena Mita yang terobsesi dengan Billy... Alex tidak terima kalau Mita cuma dianggap gila oleh Dinda, lalu tidak mempertanggung jawabkan perbuatannya," ujar Laura.


"Mita?" Rudi memasang tampang heran.


"Iya! Kata Alex begitu," sahut Laura.


Rudi terdiam. Dia tidak tahu mau bilang apa lagi. Yang jelas, Dinda berarti percaya, kalau Alex tidak melakukan apa yang dituduhkan padanya.


"Coba saja kamu bicara dengan Dinda... Dia bilang, dia malah benci kalau kamu tidak mau bicara, seperti kamu biasanya saat bersamanya," ujar Laura, sambil menyeruput minumannya lagi.


Rudi menatap Laura.


"Aku rasanya tidak bisa bicara seperti biasa dengan Dinda. Apalagi saat aku melihat kondisi kakinya yang masih seperti itu, aku dikuasai rasa bersalah," ujar Rudi.


"Dinda sepertinya nggak menyalahkan kamu kok! Jangankan kamu... Mita yang sudah mencoba membunuhnya saja, Dinda masih merasa tidak tega kalau Mita harus dipenjara," ujar Laura, meyakinkan Rudi


Rudi lalu meminum minumannya. Dalam sekali minum isi gelas itu langsung dia habiskan.


"Kamu masih mau disini atau bagaimana?" tanya Rudi, yang sudah berdiri dari kursinya.


"Aku mau kembali kekamar Dinda sebentar, nanti sore baru aku pulang." Laura juga ikut berdiri.


Mereka berdua bersama-sama, berjalan kembali keruangan Dinda.


Tertinggal Dinda sendiri disitu, masih seperti saat mereka meninggalkannya. Mata dan jari-jarinya terfokus dilayar ponselnya.


Laura menggeleng-gelengkan kepalanya. Dinda memang berubah. Tapi Laura masih tidak tahu apa sebenarnya yang membuat Dinda jadi begitu.


"Kemana Alex?" tanya Laura.


Dinda hanya menggelengkan kepalanya.


Laura menghela nafas panjang yang terasa berat. Dia lalu duduk dikursi disamping ranjang Dinda.


"Din... Dinda!" seru Laura memanggil Dinda.


"Eh! Yaa? Kenapa?" Dinda balik bertanya.


"Kamu yang kenapa? Dari tadi kamu nggak menghiraukan kami. Apa kamu nggak suka kami ada disini?" tanya Laura, yang sudah kesal.


"Aku lelah! Lagi nggak mau berdebat! Kalian maunya apa?" ujar Dinda tidak mau kalah, bicara dengan nada tinggi.

__ADS_1


Laura tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dengan cepat, dia mengambil tasnya dari meja, kemudian berjalan pergi dari situ.


Rudi memegang tangan Laura, bermaksud menahan agar Laura tidak jadi pergi, dan tetap bertahan disitu.


"Tunggu dulu!" ujar Rudi.


Laura menoleh kearah Rudi, kemudian menatap Dinda yang tetap melihat layar ponselnya, seakan tidak perduli meski Laura pergi dari situ.


Laura menyentak tangan Rudi, dia kemudian terus berjalan melewati pintu.


Rudi menatap Dinda, tapi dia tidak tahu harus bicara apa dengan gadis itu. Apalagi Dinda tetap bertingkah cuek dengan adanya Rudi disitu.


Rudi kemudian berjalan keluar menyusul Laura.


"Laura! Laura! Tunggu aku!" Rudi berteriak, sambil setengah berlari menghampiri Laura, yang sudah berhenti berjalan, saat mendengar panggilan Rudi.


"Ada apa dengan Dinda? Kenapa dia bersikap seperti itu? Apa dia kira cuma dia yang punya masalah?" ujar Laura, yang histeris.


"Nggak usah ditanggapi... Kayaknya Dinda lagi nggak mood sekarang," ujar Rudi menenangkan Laura.


"Ayo, aku antarkan kamu!" sambung Rudi.


Mereka berdua, lalu berjalan keluar dari rumah sakit, meninggalkan Dinda sendiri.


Diperjalanan, Rudi mengirim teks pesan kepada Alex. Dia menanyakan dimana Alex sekarang. Tapi lama ditunggu Rudi, Alex tidak kunjung membalas pesannya itu.


Rudi lalu menelpon Alex.


"Halo!" ujar Alex dari seberang.


"Kamu dimana?" tanya Rudi.


"Aku ke workshop, kenapa?" tanya Alex.


"Dinda sendirian di rumah sakit. Aku mengantar Laura balik," ujar Rudi.


"Dinda tidak mau aku ada disitu. Dia menyuruhku pergi tadi," sahut Alex, kemudian panggilan itu terputus.


Laura menatap Rudi, yang menyimpan ponselnya kembali ke saku celananya.


"Kenapa?" tanya Laura penasaran.

__ADS_1


"Dinda juga mengusir Alex dari sana..." jawab Rudi. Dia kembali fokus kejalanan.


Mereka berdua terdiam, disepanjang perjalanan kembali kerumah Dinda.


__ADS_2