
Pada keesokkan harinya setelah Dinda menjalani operasi pengangkatan usus buntu, Dokter akhirnya mengijinkan Dinda untuk rawat jalan saja, karena Dinda yang bersikeras meminta pulang.
"Bekas lukanya terlihat baik. Nanti obatnya rutin diminum. Hindari stress. Makan teratur. Istirahat yang cukup setiap ada kesempatan. Bekerja boleh, tapi kesehatan tetap harus dijaga. Nanti, kontrol lagi kesini sesuai jadwal." begitu kata dokter kepada Dinda ketika dia memeriksa bekas luka dan tanda tanda vital Dinda, sore itu.
Dinda dibekali dengan beberapa macam obat-obatan.
Rudi sebenarnya kurang setuju dengan kemauan Dinda. Rudi mau Dinda tetap beristirahat di rumah sakit dulu. Tapi Dinda tetap keras kepala dengan kemauannya, Rudi hanya bisa menurut.
Rudi membantu mengemas barang-barang Dinda, sedangkan Billy sejak dia pulang kemarin, belum tampak lagi batang hidungnya.
Dinda tidak memikirkan ketidak-beradaan Billy. Yang dia pikir hanya pekerjaan yang menumpuk, karena dia tinggalkan kemarin.
Sesudah membereskan semuanya, Dinda juga sudah berganti pakaian, Rudi mengambil kursi roda untuk dipakai Dinda.
Dinda menolak, dia memilih untuk berjalan sendiri.
"Sudah nggak sakit! Bekas lukanya cuman dikit," kata Dinda.
"Aku mau berjalan saja, nanti berpegangan denganmu," sambung Dinda. Gadis itu mengedipkan matanya sebelah, sambil tersenyum manis-semanisnya, agar Rudi tidak memaksanya memakai kursi Roda.
Melihat tingkah Dinda, Rudi menyerah. Lelaki itu tertawa, lalu mengangguk setuju.
Mereka berdua berjalan keluar dari sana. Rudi menggandeng tangan Dinda. Kepala gadis itu bersandar di lengan Rudi.
"Awas kalau lukamu terasa sakit! Nanti kutinggal kamu disini!" goda Rudi saat mereka berjalan dikoridor.
Mendengar Rudi menggodanya, Dinda mencubit lengan Rudi, gemas. Lelaki itu hanya tertawa.
Dirumah, mbok Inah sudah menunggu. Wajah wanita tua itu menjadi cerah, saat melihat Dinda keluar dari mobil Rudi.
"Duuh, non! Apa sudah nggak sakit?" tanya mbok Inah.
"Nggak mbok!" Dinda merangkul mbok Inah dan mengajaknya masuk, disusul Rudi dari belakang.
Dinda duduk di sofa diruang tengah. Sedangkan mbok Inah terus berjalan ke dapur, mengambilkan minum untuk Rudi dan Dinda. Rudi membawa barang bawaan dari rumah sakit, masuk ke kamar Dinda.
"Non, mau makan apa?" tanya mbok Inah, setelah meletakkan gelas berisi kopi latte dan satu gelas lagi berisi coklat panas, seperti permintaan Dinda.
"Nanti aja mbok, Dinda belum lapar!" jawab Dinda.
Rudi melihat jam ditangannya, sudah hampir jam tujuh malam. Tanpa berkata apa-apa Rudi menatap Dinda.
Dinda mengerti kalau Rudi mau dia makan tepat waktu. Baru saja Dinda hendak bicara, mbok Inah sudah terlebih dahulu berkata
"Non, mau sup sayuran?"
"Iya itu aja, sama sosis goreng!" jawab Dinda. Dia lalu melirik Rudi. Raut wajah lelaki itu sudah kembali normal pikir Dinda.
"Tuan Rudi mau makan apa?" tanya mbok Inah lagi.
__ADS_1
"Nggak usah repot-repot mbok. Bikinkan untuk Dinda aja," jawab Rudi.
Mbok Inah masih berdiri disitu.
Kini Dinda yang berbalik menatap tajam kearah Rudi.
"Yaa udah... Sama aja dengan Dinda, mbok!" sambung Rudi ketika melihat Dinda, yang memasang tampang sangar.
Mbok Inah berjalan ke dapur, dia mulai mempersiapkan makanan untuk Dinda.
"Kenapa nggak minta yang lain?" tanya Dinda.
Dinda merasa kalau Rudi sepertinya tidak suka sup. Selama ini Dinda belum pernah melihat Rudi makan makanan itu. Gadis itu menarik tangan Rudi yang berdiri didepannya.
Rudi lalu duduk di dekat Dinda.
Dinda mengangkat kedua kakinya dan meletakkannya di pangkuan Rudi. Gadis itu bergelayut manja dileher Rudi, lalu kepalanya dia sandarkan di dada lelaki itu.
"Nggak apa-apa, kasihan mbok Inah kalau harus masak macam-macam," Kata Rudi.
Lelaki itu memeluk Dinda, dia memperbaiki posisi Dinda agar lebih nyaman di pangkuannya.
Rudi lalu menyalakan televisi, dia membiarkan Dinda tetap berdiam dipangkuannya, sambil dia menonton siaran di televisi itu.
Sesekali dia mengecup kepala Dinda. Gadis itu membalas dengan mengecup leher Rudi.
Rudi merasa geli. Rudi merapatkan kepalanya agar lehernya tertutup. Lelaki itu tersenyum.
Karena Rudi tidak mau melepaskan Dinda dari pelukannya, mau tak mau Rudi menahan rasa geli nya. Lama-lama dia tak tahan lagi, dia mau Dinda berhenti melakukan itu, Rudi mengangkat sedikit tubuh Dinda, dan mencium bibir gadis itu.
Dinda menyambut ciuman Rudi. Dia merangkul leher Rudi lebih erat. Mereka lupa dengan adanya mbok Inah dirumah itu.
"Aku disini malam ini ya?" pinta Rudi. Mata lelaki sudah memerah.
Dinda paham apa maunya Rudi. Dia hanya mengangguk. Sekali lagi mereka berciuman, sebelum terdengar suara mbok Inah menata piring diatas meja makan.
Baru kali ini Rudi mau memakan sup. Tapi, entah mengapa saat makan bersama Dinda, Rudi bisa menikmati makanannya. Mereka menghabiskan makanannya, lalu kembali duduk duduk di ruang tengah rumah Dinda.
Mereka bersantai disitu sampai malam mulai larut.
Setelah memastikan mbok Inah sudah di kamarnya. Mereka berdua masuk ke kamar tamu.
Mereka berhubungan intim. Sama sama mau memuaskan nafsu b*rahinya.
Seperti biasa, tidak akan pernah cukup sekali mencapai puncak kepuasan. Mereka berdua pasti mau merasakannya lagi.
"Sakit nggak?" Tanya Rudi menyentuh perban yang menempel di perut Dinda.
Dinda menggeleng.
__ADS_1
"Kamu bilang kalau sakit ya?!"
Rudi kembali menguasai tubuh Dinda. Rudi beberapa kali mengubah posisi, Dinda hanya menurut. Dinda selalu menikmati setiap perlakuan Rudi ditubuhnya.
Mereka mengerang, bersama-sama menyentuh puncak kenikmatan. Berulang-ulang kali, sampai mereka benar-benar merasa lelah.
Tanpa mengenakan sehelai benang pun. Mereka tertidur bersama malam itu.
Ditengah malam, tiba-tiba Dinda terbangun. Dia melihat Rudi masih tertidur pulas disampingnya.
Dinda merangkak turun dari ranjang perlahan lahan. Dia tidak mau membangunkan Rudi.
Dinda mengambil jubah mandi dari dalam lemari di kamar itu. Dia melangkah pelan pelan kearah kamarnya, meninggalkan Rudi disitu.
Dia membersihkan diri dikamar mandi yang ada dikamarnya.
Dinda sudah memakai piyama, dia berniat kembali ke kamar tamu, tempat Rudi tidur. Tapi dia mendengar telepon genggamnya bergetar dari dalam tas.
Dinda melihat ponselnya sebentar.
Matanya terbelalak. Hampir dua puluh kali miss call dari Billy.
Belum sempat dia menyimpan telepon genggamnya lagi, benda itu kembali bergetar.
Panggilan masuk dari Billy. Dinda tidak mau menyambutnya. Saat panggilan itu berhenti, tanpa berpikir panjang Dinda melihat pesan whats app yang dikirim Billy sebelumnya.
"Kenapa kamu tidak memberitahu aku kalau kamu sudah pulang?"
"Kamu sudah tidur?"
Begitu isi teks dari Billy dan masih banyak lagi.
Tak lama, masuk pesan whats app baru.
"Kalau kamu tidak mau ada keributan, terima telpon aku sekarang"
Dinda merasa sangat bodoh, dia lupa kalau chat itu bertanda kalau dibaca. Dia memukul kepalanya yang lambat berpikir.
Panggilan kembali masuk dari Billy. Mau tak mau Dinda menyambutnya,
"Singkirkan Rudi besok, aku mau waktu ku bersama kamu," kata Billy.
Dinda tidak menjawab.
"Dinda! Kamu mendengarku 'kan?" tanya Billy
"Iya," Dinda lalu mematikan telponnya.
Dinda kembali ke kamar tamu. Dia memandangi Rudi yang bertelanjang dada, selimut hanya menutupi bagian perut sampai kakinya. Dia berbaring mendekat ke tubuh Rudi. Seakan meminta perlindungan, Dinda bersandar di dada lelaki itu.
__ADS_1
Rudi membuka mata, melihat Dinda sebentar lalu memeluk gadis itu. Tanpa berpikir apa-apa, Rudi kembali tertidur.