OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 104


__ADS_3

Tidak terasa sudah berberapa hari berlalu sampai hitungan minggu. Hari pernikahan Billy dengan Dinda makin dekat.


Sejak pindah ke vila milik Billy, rutinitas Dinda berulang-ulang tidak jauh dari meja makan dan ranjang. Dinda terlalu lelah untuk pergi kekota setelah menikmati Billy yang menyerangnya diranjang. Padahal Mama Billy sempat beberapa kali mengajak Dinda berjalan jalan dengannya.


Meskipun Dinda menyukai sensasi s*x nya dengan Billy, tapi dia mau juga melakukan hal yang lain. Setiap hari hanya sampai direncana. Rencana akan kesana-kesini selalu batal. Tanpa disadari, waktu habis begitu saja.


Dinda mengenakan tanktop dipadankan dengan celana pendek karet, berbaring diatas ranjang. Rambut panjangnya yang masih basah digulungnya dengan handuk. Dia menghitung hitung dengan jari-jari tangannya.


Billy yang hanya mengenakan celana pendek, membiarkan dada bidangnya terbuka sampai keperutnya yang kencang berotot. Billy memperhatikan gerak-gerik Dinda diatas ranjang.


"Ngapain?" tanya Billy.


"Dari tadi pagi sampai sore ini, kita sudah tujuh kali melakukannya," celetuk Dinda spontan kelepasan.


Dinda tersipu malu. Dia tidak sadar telah mengatakan apa yang ada dalam kepalanya.


Billy hanya tersenyum. Dia juga kaget bercampur heran, kenapa Dinda menghitung hal itu.


"Kenapa? Kamu bosan?" tanya Billy. Dia berbaring diatas paha Dinda dengan wajahnya yang menatap langit langit kamar.


"Bukan begitu,, Apa kamu nggak bosan denganku nanti kalau keseringan?" ujar Dinda. Dia tidak perduli lagi apa yang mungkin Billy pikirkan tentangnya. Toh nanti dia juga jadi istri Billy.


"Nggak,, aku nggak akan bosan denganmu,, kalau kamu nggak minta berhenti, malah aku bakalan membawamu melakukannya lebih dari tujuh kali," kata Billy sambil tertawa pelan.


Billy berpindah berbaring disamping Dinda. Tiba-tiba dia mengarahkan tangan Dinda menyentuh miliknya.


"Ini aja sudah siap lagi" kata Billy


Dinda menarik tangannya dari situ sambil tertawa pelan.


"Bener, kan?" ujar Billy yang sudah menindih tubuh Dinda. "Kayaknya, aku nggak bakalan bosan denganmu,, karena aku nggak tertarik dengan wanita lain," sambung Billy sambil menatap mata Dinda.


"Kamu tahu kan kalau selama aku diluar negeri, aku nggak pernah dekat apalagi pacaran dengan orang lain,, Bukan aku nggak pernah mencobanya,, ada yang sudah tinggal kulit berhadapan denganku,,


Tapi saat kulihat wajahnya, aku cuma ingat kamu,, Milikku tidak bisa menegang seperti sekarang,, aku sangat marah denganmu waktu itu," ujar Billy yang tetap menatap Dinda, sampai hampir tak berkedip.

__ADS_1


"Aku malunya bukan main saat dia meneriaki ku 'impoten',, tapi lama-lama aku nggak perduli lagi, akhirnya aku menghindari wanita lain, dari pada nanti dipermalukan seperti itu,," sambung Billy.


"Kamu nggak usah khawatir aku bosan denganmu,, aku tidak pernah merasa seperti ini selain denganmu,," Billy lalu mencium bibir Dinda, yang sedari tadi hanya terdiam mendengarnya bicara.


Milik Billy semakin menegang menekan disela paha Dinda, saat lidah Billy beradu dengan lidah Dinda. Nafasnya memburu, dia tidak mau kalau dia tidak bisa merasakan miliknya masuk kedalam tubuh Dinda.


Dinda tidak bisa menolak. Dia tahu kalau dia sendiri yang memancing Billy. Tanpa perlu disuruh, Dinda melepas tanktop yang dia pakai tanpa dalaman.


Begitu juga celana pendeknya yang ditarik Billy meluncur melewati kakinya, bersamaan dengan segitiga pelindung dibawah sana.


Billy seakan memberi tanda pada Dinda dengan matanya kalau dia mau menikmati bagian bawah tubuh Dinda dengan mulutnya.


Dinda mengangguk.


Tidak menunggu lama, Billy sudah membenamkan wajahnya dibawah situ. Memainkan lidahnya sampai masuk kedalam tubuh Dinda, membiarkan Dinda menggeliat sampai gemetar hebat.


Billy seakan tahu kalau Dinda sudah siap, kemudian melepas celana pendek dan dalaman yang dia pakai. Kemudian dengan terburu-buru mendesak miliknya masuk kedalam Dinda.


"Aku cuma mau kamu,," bisik Billy sambil bersandar di dada Dinda.


Keduanya mengerang puas, saat Billy menaikkan tempo gerakkannya.


"Kita nggak kemana mana,, kamu masih mau?" bisik Billy ditelinga Dinda. Kemudian Billy menatap Dinda.


Dinda bisa merasakan milik Billy masih keras menekan didalam sana. Dinda mengangguk setuju.


Billy mengubah posisi. Dia benar-benar menyerang Dinda tanpa ampun. Dinda sudah kehabisan tenaga, membiarkan Billy yang berulang-ulang mengiring milknya sampai puas.


"Berapa kali?" tanya Billy sambil mengelap keringat didahinya.


"Nggak tahu,, aku sudah tidak menghitungnya lagi,," ujar Dinda yang kelelahan. Keringatnya tidak kalah banyak dibandingkan dengan Billy.


"Kalau kamu masih menghitung lagi,, aku akan melakukannya sampai kamu lupa hitunganmu," ujar Billy yang kemudian tertawa puas.


Dia juga merasa lelah karena Dinda tidak mampu bergerak, jadinya dia yang bekerja keras.

__ADS_1


"Kamu puas denganku?" Billy yang masih menindih Dinda, menyandarkan kepalanya didada gadis itu.


"Iya,," jawab Dinda tanpa malu-malu lagi.


Dinda memainkan rambut dikepala Billy dengan jari jari tangannya.


Saking lelahnya, mereka tertidur sebentar. Masih tetap dengan posisi yang sama.~


Dinda terbangun duluan. Bagian bawah tubuhnya terasa geli, karena milik Billy masih menempel disitu. Dinda tidak mau membangunkan Billy. Nanti Billy mau melakukannya lagi.


Dinda membiarkan Billy yang tertidur pulas diatasnya. Sesekali Dinda mengecup kepala Billy. Dia juga mengelus punggung Billy dengan lembut. Hangat tubuh Billy membuat Dinda merasa nyaman, Dinda kembali tertidur.


Saat Dinda terbangun lagi, badannya sudah bertutupkan selimut. Sedangkan Billy tidak ada disitu. Dia melihat ke sekeliling kamar, memang hanya ada dia sendirian.


Dinda beranjak turun dari ranjang, pangkal pahanya terasa pegal. Dia berjalan pelan menuju kamar mandi, kemudian membersihkan dirinya disitu.


Setelah itu Dinda memakai pakaian yang tadi sempat dia pakai saat baru saja habis mandi, tapi Billy membuatnya harus melepas pakaian itu lagi. Dinda kemudian berjalan keluar dari kamar. Tampaknya sudah malam, diluar tampak gelap dilihat dari sela sela gorden jendela.


Dinda terus berjalan keluar dari vila.


Dimana Billy?


Saat mata Dinda melihat kearah garasi, hanya ada dua mobil disitu. Mobil yang sering dipakai Billy tidak kelihatan. Dinda kembali masuk kedalam vila, mencari mbok Inah atau pengurus vila.


Pria tua pengurus vila tampak sedang mengupas bumbu masakkan bersama mbok Inah. Dinda tersenyum melihat mereka berdua.


"Mbok,, Kemana Billy? Apa ada dia beritahu?" tanya Dinda saat mbok Inah melihatnya.


"Nggak tahu non,, tadi tuan Billy langsung pergi, tanpa bilang apa apa," sahut mbok Inah.


Dinda mengangguk-anggukkan kepalanya. Tumben,, biasanya Billy selalu mengajaknya kemana mana saja dia pergi.


"Non mau makan? Biar mbok siapkan," ujar mbok Inah tiba-tiba.


"Iya mbok,," sahut Dinda. Dia lalu duduk disitu sambil menunggu mbok Inah mengambilkan makanan untuknya.

__ADS_1


Dinda makan sendiri sambil melamun. Dia sudah terbiasa dengan adanya Billy dimana-mana Dinda berada. Makan sendirian begitu, rasanya Dinda kurang berselera.


__ADS_2