OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 84


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Dinda sudah selesai mandi, dan bersiap siap untuk berangkat ke kantor. Kemeja polos berwarna biru muda, dan rok hitam pendek selutut jadi pilihannya.


Sepatunya hanya bisa dipakai disebelah kakinya, tapi Dinda tidak merasa itu bukan masalah. Dia memakai sepatu datar, tanpa hak.


Dinda keluar dari kamarnya lalu menuju kedapur dimana mbok Inah sedang sibuk mempersiapkan sarapan untuk mereka.


Disitu terlihat Laura juga sudah berpakaian rapi, duduk di meja dapur.


"Kamu mau kemana?" Dinda bertanya, karena merasa heran melihat penampilan Laura, yang tampak formal memakai rok selutut, dengan blouse berenda di dadanya.


"Aku rencananya mau mencari pekerjaan baru hari ini," ujar Laura, sambil menyuap sesendok nasi goreng buatan mbok Inah, ke dalam mulutnya.


"Ooh...!" Dinda tidak mau berkomentar banyak pada Laura, karena dia tidak mau menyinggung perasaannya.


Dinda kemudian ikut duduk disitu. Tongkatnya dia berdirikan di pinggir meja. Setelah mbok Inah menyodorkan sepiring nasi goreng, Dinda juga ikut memakan sarapannya disitu.


"Kamu yakin sudah siap kembali bekerja?" tanya Laura khawatir, melihat Dinda yang masih menggunakan gips dikakinya.


"Iya...! Aku nggak tahan kalau cuma bengong dirumah," Dinda menjawab, sambil menyuap makanan ke mulutnya.


Mereka berdua lalu menghabiskan sarapannya, dan meminum jus jeruk yang disiapkan mbok Inah.


Selesai makan, tertatih-tatih Dinda berjalan kedepan rumah bersama Laura.


"Kamu pakai apa ke kantor?" tanya Laura.


"Aku tadi sudah pesan taksi online." Dinda terus berjalan.


"Kayaknya jemputanku sudah datang," Kata Dinda, yang melihat chat masuk dari pengemudi taksi.


Dinda berusaha mempercepat langkahnya.


Dinda melambaikan tangannya pada Laura, saat mobil taksi mulai berjalan.


Tak lama, mobil taksi jemputan Laura juga tiba dirumah Dinda. Laura kemudian berlalu pergi, dengan menumpang taksi itu.~


Sepanjang perjalanan, Dinda sibuk memeriksa ulang barang bawaannya di dalam tas. Dia mau memastikan, kalau tidak ada yang tertinggal.


Meskipun sudah bangun sejak pagi-pagi sekali, tetap saja, Dinda tidak bisa maksimal menggunakan waktu dalam mempersiapkan diri, dan barang-barang keperluannya untuk bekerja. Dinda bergerak sangat lambat, karena kondisi kakinya.


Seperti nya tidak ada yang ketinggalan, pikir Dinda.

__ADS_1


Sesampainya dikantor, Dinda bisa melihat Atasannya sudah berada didalam ruang kerjanya. Dinda terus berjalan kearah meja kerja Dinda.


Baru saja Dinda terduduk di kursi, sekertaris Atasannya datang menemui Dinda.


"Bos, mau bertemu kamu!" kata wanita itu pada Dinda.


Dinda kembali berdiri dan memakai tongkatnya, berjalan masuk keruang kerja Atasannya itu.


"Pagi, Bu!" ujar Dinda yang masih berdiri.


Atasan wanita itu, melihat dari ujung rambut sampai ke ujung kaki Dinda.


"Duduk dulu!" kata wanita itu, mempersilahkan Dinda.


Dinda kemudian duduk berhadapan dengan atasaannya itu.


"Kamu sudah bisa bekerja lagi?" tanya Wanita itu.


"Iya, Bu! Mungkin saya belum bisa berjalan dengan cepat, tapi saya sudah bisa bekerja seperti biasa," ujar Dinda.


"Baik! Ada beberapa berkas, yang saya mau kamu rapikan. Juga nanti diperiksa ulang, sebelum nanti dikembalikan lagi kesini," kata wanita itu, sambil memberi tanda pada sekertarisnya, untuk memberikan beberapa lembar map, pada Dinda.


"Baik, Bu! Saya kembali ke meja saya sekarang!" ujar Dinda, setelah mengambil lembaran map map berkas itu.


Dinda bertekad untuk menyelesaikan pekerjaannya yang banyak terbengkalai, karena sempat berhari-hari dia tidak masuk kerja.


Sepanjang hari Dinda terus saja bekerja. Sesekali dia harus mengambil file tambahan di ruang sebelah, dan itu cukup menyulitkan Dinda untuk bekerja cepat, seperti kemauannya.


Dinda merasa perutnya sangat lapar, karena dia melewatkan jam makan siang. Dia meminta pekerja kafetaria, mengantarkannya roti sandwich ke ruangannya.


Hanya mengenyangkan perutnya dengan makanan itu, Dinda kembali melanjutkan pekerjaannya.


Hari sudah sore, para pegawai kantor yang lain sudah pulang. Dinda tetap tinggal dikantor. Dia berusaha mengejar ketertinggalannya, dengan bekerja lembur.


Atasannya yang ternyata juga lembur bekerja, melihat kegigihan Dinda dalam menyelesaikan pekerjaannya.


Dalam hati atasannya itu tidak tega dan merasa salut melihat Dinda yang masih bekerja dengan kaki pincang kesana kemari menggunakan tongkat.


"Kenapa kamu tidak pulang saja? Besok bisa kamu lanjutkan lagi," wanita itu berkata pada Dinda.


Dinda terkejut melihat bosnya, yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelahnya.

__ADS_1


"Eh! Nggak apa-apa, Buk! Besok nanti ada pekerjaan baru lagi. Nanti kerjaan saya semakin menumpuk," ujar Dinda.


"Yaa sudah, kalau kamu bersikeras... Saya pulang duluan!" kata wanita itu, sambil berjalan keluar, sambil menenteng tas di tangannya.


Tertinggal Dinda dikantor, suasananya tempat itu sepi sekali. Tapi Dinda tidak kehilangan semangatnya. Dia tetap berkerja sampai hari sudah malam.


Beberapa kali ponsel nya bergetar, tapi Dinda tidak memperhatikan, karena sibuk bekerja.


Sudah hampir jam sebelas malam, baru pekerjaannya selesai dia kerjakan. Dinda merasa lega karena dia berhasil menyelesaikan, meski harus memakan waktu lama.


Dinda kemudian berjalan keluar dari kantornya. Saat dia sudah di lift, dia berencana untuk memesan taksi lagi untuk mengantarnya pulang. Dinda mengeluarkan ponselnya.


Terlihat di pemberitahuan layar ponselnya, kalau Laura berkali-kali menelponnya.


Dinda kemudian menelpon Laura.


"Halo! Dinda kenapa kamu belum pulang?" tanya Laura dari seberang, seperti tergesa-gesa saat panggilan itu tersambung.


"Aku tadi lembur. Baru selesai... Ini sudah mau pulang," sahut Dinda.


"Ooh, ya sudah! Hati-hati dijalan!" ujar Laura.


"Ok!" Jawab Dinda singkat, kemudian memutus panggilan telponnya.


Di halaman kantor, Dinda melihat kesana kemari mencari mobil taksi yang dia pesan, sambil mengecek aplikasi. Belum ada pengemudi yang mengambil orderannya.


Dinda kemudian duduk di pinggir pot bunga besar didepan kantor. Dia sudah terlanjur keluar dari kantor, pintu otomatis langsung terkunci.


Dinda mulai merasa tidak sabaran, sudah lelah bekerja masih harus menunggu seperti itu.


Dinda teringat dengan mobilnya. Kalau saja tidak terjadi kecelakaan itu, dia mestinya sudah bisa langsung pulang sekarang. Dia memikirkan kejadian itu, sambil menatap kakinya yang kaku karena kerasnya gips.


Aah, sudahlah... Tak ada yang bisa disesali. Semua sudah terlanjur terjadi...


Dinda mengutak-atik layar ponselnya. Tidak ada kabar dari Rudi. Saat Dinda pulang kemarin, Rudi belum sempat diberitahu. Berarti Rudi tidak mengunjungi Dinda lagi di rumah sakit. Entah apa maunya lelaki itu, pikir Dinda.


Akhirnya diponselnya ada chat baru masuk. Pengemudi taksi online menghubunginya. Dinda kemudian meminta agar dijemput tepat didepan kantor.


Dinda pulang malam itu dengan menumpang taksi.~


Sepanjang minggu itu, Dinda selalu bekerja lembur, demi mengejar ketertinggalannya. Saking sibuknya, Dinda tidak terlalu memikirkan masalah yang terjadi dalam hidupnya.

__ADS_1


Tidak terasa waktu yang berjalan bagi Dinda, karena kesibukkannya. Tak lama lagi gipsnya sudah bisa dibuka, pikir Dinda. Dia merasa sangat senang, karena akhirnya dia bisa beraktifitas secara normal.


__ADS_2