OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 90


__ADS_3

Billy membuka matanya.


Dari sela-sela gorden kamar Dinda, sinar matahari merangsek masuk. Dinda masih tersandar di dadanya. Billy mengelus pipi Dinda lembut.


Billy bergerak perlahan hendak ke kamar mandi. Dia tidak mau membangunkan gadis itu.


Terlambat, baru saja Billy bergerak sedikit, tangan Dinda sudah merangkul lehernya.


"Kamu mau kemana?" tanya Dinda, yang masih memejamkan mata.


"Aku mau mandi...!" ujar Billy, yang terkejut di rangkul Dinda tiba-tiba.


Dinda mendengus.


"Nanti aja!" Dinda mempererat rangkulannya di leher Billy.


"Tanganku kram!" ujar Billy, mencari alasan sambil menahan senyum.


Dinda mendongak, kemudian menatap Billy tajam. Dinda bisa melihat Billy, yang menatapnya sambil tersenyum.


Bukannya bergeser, Dinda malah naik dan menindih tubuh Billy. Dia membenamkan wajahnya didada lelaki itu.


Billy tertawa, sampai membuat Dinda terguncang diatas dadanya.


"Ayo kita mandi bareng, biar segar!" ujar Billy, sambil mengelus kepala Dinda.


Dinda tidak menyahut.


Billy berusaha duduk, dengan Dinda yang masih diatas badannya. Dinda menempel seperti perangko. Billy menggendong Dinda ke kamar mandi. Billy mulai merasa kalau sikap Dinda itu mulai aneh.


Dinda memang terkadang manja, tapi nggak segitunya. Kali ini, Dinda agak berlebihan tidak mau terlepas dari Billy. Tangan Dinda melingkar di leher Billy.


Bukannya Billy tidak senang, hanya saja kalau begini Billy tidak bisa ngapa-ngapain.


Dibawah jatuhan air pancuran kamar mandi, mereka saling menggosokkan badan dengan sabun.


Terkadang Billy menggelitik Dinda, tapi Dinda tidak terpengaruh, dia hanya ingin memeluk Billy.


Selesai mandi, Dinda seolah tidak mengijinkan Billy berpakaian. Akhirnya Billy dan Dinda hanya memakai jubah mandi.


Billy duduk di pinggir ranjang, sambil membiarkan Dinda tetap dipangkuannya.


"Kenapa? Tumben sekali kamu begini..." ujar Billy, dengan suara lembut, sambil menatap mata Dinda.


"Beberapa hari kemarin, setiap pagi kepalaku terasa pusing sampai mual," ujar Dinda.


"Hari ini aku nggak merasakan itu," sambung Dinda, menjelaskan dengan wajah sedih.


Dia tahu sikapnya itu sudah berlebihan, dan merepotkan Billy.


Tapi, dia memang merasa mau terus menempel ke Billy.


Tidak perlu sampai melakukan s*x, Dinda hanya tak mau Billy menjauh meski sebentar. Dia juga tidak tahu kenapa. Dinda menundukkan kepalanya.


Dinda terpikir kalau ada wanita hamil, pengen makan ini itu yang aneh-aneh.


Mungkin begini rasanya, hanya saja Dinda bukan mau makanan, dia hanya mau tubuh Billy.


Billy memegang dagu Dinda, dan mengangkat wajahnya.


"Nggak apa-apa... Aku cuma heran aja," ujar Billy lembut.


"Kayaknya aku ngidam," celetuk Dinda, sambil menatap Billy. Dia mau tahu tanggapan Billy.


"Hmmm... Yaa sudah...! Kalau begitu, aku nggak heran. Ada yang mau kamu makan?" tanya Billy, yang mengira Dinda mau makanan, yang tidak biasa.


Dinda menganggukkan kepalanya.


"Kamu!"


Billy tertawa geli. Tapi saat dia melihat Dinda tidak tertawa, dia sadar kalau Dinda tidak bercanda.


"Serius?" tanya Billy, sambil membelalakkan matanya.


"Nggak dimakan! Aku cuma mau kamu tetap memelukku. Aku mau terus melekat ditubuhmu," sahut Dinda dengan wajah serius. Dia tidak perduli dengan tanggapan Billy, yang melihatnya dengan tatapan heran.


Billy merasa bingung. Ini bakal jadi menyenangkan atau merepotkan nantinya. Dia menatap Dinda lekat-lekat.

__ADS_1


"Apa aku nggak bisa melepasmu biar sebentar?" tanya Billy.


Dinda menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana kalau aku mau ke toilet?" tanya Billy lagi.


Dinda terdiam sebentar. "Boleh," jawab Dinda dengan wajah sebal.


"Asal jangan alasan ke toilet aja terus!" sambung Dinda tegas.


Billy tertawa.


"Waduh! Bagaimana ini?! Okelah, kalau aku harus pergi mengecek pekerjaanku, kamu bisa ikut. Tapi bagaimana kalau kamu berangkat kerja? Apa aku harus ikut kekantormu?" tanya Billy.


Dinda terdiam. Yang dibilang Billy ada benarnya.


"Liat aja besok!" ujar Dinda. Dia sama sekali tidak tersenyum, apalagi tertawa. Dinda tetap memasang tampang serius. Dia tidak mau bicara lagi.


Dinda menempelkan wajahnya dileher Billy.


Billy membiarkannya, sambil mengelus belakang kepala Dinda yang rambutnya masih agak basah.


Billy teringat sesuatu. Dia mengambil ponselnya yang ada diatas meja dekat ranjang. Dia mulai mengetikkan sesuatu disitu, dan mengirimkan pesan pada seseorang. Sesekali dia mengecup kepala Dinda yang masih diatas pangkuannya.


Setelah beberapa kali mengirim pesan, dan menerima balasan, Billy terbelalak membaca salah satu pesan disitu.


"Memang ada yang begitu. Mama juga waktu hamil kamu, nggak mau jauh dari papamu. Sampai dia pergi bekerja, mama masih saja minta dipeluk, hehe" begitu isi pesan, yang ternyata dari mamanya Billy.


Billy meletakkan ponselnya, kembali keatas meja.


Dinda tidak bisa menahan rasa ngidam.


Tinggal Billy saja yang harus ekstra sabar menghadapinya.


Billy memeluk erat-erat tubuh Dinda. Untung saja pekerjaan Billy sekarang tidak seperti Papanya dulu. Billy tidak perlu datang ke kantor setiap hari, cukup memantau seperlunya.


Billy membayangkan repotnya Papanya, saat mamanya bersikap seperti Dinda sekarang.


Sedikit rasa sedih timbul dihati Billy, karena dia tidak bisa dekat dengan Papanya. Dalam hati, Billy bertekad untuk berusaha dekat, dengan anaknya nanti.


Getaran ponsel Billy, mengejutkan Billy dari lamunannya.


"Halo, Ma!" ujar Billy.


Dinda mengangkat kepalanya dari leher Billy, dan menatap Billy saat wajah mereka sejajar berhadapan.


"Oh, iya! Mama tolong bantu uruskan, yaa!" seru Billy.


"Iya, Ma! Bentar!" ujar Billy, yang kemudian mengarahkan ponselnya kepada Dinda


"Mama mau bicara denganmu," kata Billy, pada Dinda.


Dinda mengambil ponsel dari tangan Billy.


"Halo!" ujar Dinda


"Halo, Dinda! Kata Billy kamu sedang mengandung cucu mama. Beneran 'kan?" ujar Mama Billy dari seberang


"Hmm... Iya, tante!" sahut Dinda.


"Jangan panggil tante lagi, Dinda...! Mama, dong!" ujar Mama Billy.


"Eh, iya Ma!" sahut Dinda.


"Gitu dong! Bagaimana kabarmu nak? Mama nggak sabar mau bertemu kamu,"


"Baik aja, Ma!" ujar Dinda yang masih canggung.


"Mama masih mencari penerbangan. Kalau mama sudah sampai di Indonesia, nanti mama hubungi kalian. Mama mau secepatnya bertemu kamu lagi," ujar Mama Billy bersemangat.


"Eeh... Iya, Ma! Kami tunggu...!" sahut Dinda.


"Jaga kesehatanmu! Beritahu ke Billy apa aja yang kamu mau, oke?! Bye, sayang...! Nanti kita ketemu disana," ujar Mama Billy.


"Iya, Ma!" jawab Dinda.


Panggilan itu kemudian terputus.

__ADS_1


Dinda menyodorkan ponsel itu kembali pada Billy.


"Kamu sudah bilang ke Mamamu?" tanya Dinda heran.


"Iya. Tadi aku chat mama. Sekalian tanya-tanya kalau ngidam itu seperti apa," ujar Billy enteng.


"Siapa tahu kamu cuma ngerjain aku?!" sambung Billy, sambil melirik Dinda dengan ujung matanya, saat meletakkan ponselnya kembali keatas meja.


Dinda tahu kalau Billy menggodanya. Dinda jadi gemas. Dia mencubit pinggang Billy sambil cemberut.


Billy meringis kesakitan, tapi dia tidak protes. Kemudian Billy mencium bibir Dinda.


Dinda memalingkan wajahnya.


Billy tidak menyerah, dia menahan wajah Dinda dengan kedua tangannya. Kemudian kembali mencium bibir Dinda dengan lembut, sampai Dinda ikut membalas ciuman Billy.


Lelaki itu lalu memeluk Dinda erat-erat, tanpa melepaskan bibirnya dari bibir Dinda.


Dinda memegang pipi Billy dengan tangannya, sedangkan tangannya yang sebelah lagi, menyentuh leher Billy.


Lelaki itu menikmati ciuman, dan perlakuan Dinda. Billy merasa kalau miliknya menegang.


Billy mengangkat badan Dinda, yang masih dipangkuannya, menggeser sedikit bagian bawah jubah mandi yang mereka pakai, sampai terbuka.


Billy menurunkan Dinda, sampai milik lelaki itu yang sudah siap, masuk kedalam tubuh Dinda.


"Aaahh...!" keduanya mende*ah.


"Sakit nggak?" tanya Billy, saat menyadari milik Dinda belum terlalu basah.


Dinda menggeleng.


"Bergerak sesukamu!" ujar Billy, dengan mata sayu menatap Dinda.


Dinda yang mengiring, bergerak perlahan. Gerakannya diatas pangkuan Billy, membuat lelaki itu menggigit bibirnya sendiri. Kedua tangan Billy meremas pipi bokong Dinda.


Billy mencium bibir Dinda penuh gairah. Sambil tangan yang satu meremas buah dada Dinda bergantian, dan memelintir pelan ujung p*tingnya.


Dinda benar-benar tera*ngs*ng. Bagian bawah tubuhnya terasa basah dan licin. Gerakannya jadi lebih kasar. Semakin kasar gerak Dinda, semakin terasa nikmatnya.


Tangan Billy makin keras mer*emas bokong Dinda. Dia menekan Dinda, agar miliknya masuk semua tak bersisa, kedalam tubuh Dinda.


Jantung keduanya berdegup kencang. Tubuh bergetar hebat. Seakan ada aliran listrik menjalar didalam tubuh.


Dinda mengerang, Billy makin kuat menekan miliknya, dan ikut mengerang puas.


Dinda tidak mau berdiri dari pangkuan Billy. Dia tetap menahan posisinya sebentar, sebelum Dinda kembali bergerak pelan.


Satu tangan Dinda memegang leher belakang Billy, dan sebelah tangannya lagi memegang kantong biji salak milik Billy, dan memainkannya pelan, sampai milik Billy kembali mengeras.


Karena merasa gemas dengan tingkah Dinda yang memancingnya, Billy mencium bibir Dinda sambil menggigitnya pelan.


Degup jantung keduanya berpacu. Mereka sampai lagi dipuncaknya.


Tepat saat pintu kamar Dinda diketuk dari luar.


Dinda yang tersandar kepalanya di leher Billy, kemudian bertanya,


"Iya?"


"Non! Mau makan apa hari ini? Mbok mau belanja kepasar didepan," suara mbok Inah, terdengar dari balik pintu.


"Terserah mbok aja! Nggak apa-apa," seru Dinda.


"Baik, Non! Kalau Non mau sarapan, sudah ada Mbok bikinkan tadi. Ada diatas meja!" sahut mbok Inah.


"Iya, makasih mbok!" ujar Dinda, sambil mengelus pipi sampai ke leher Billy.


Suasana jadi hening sebentar.


"Kita sudahi dulu. Nanti lagi yaa?!" ujar Billy, sambil mengelus rambut dibagian belakang kepala Dinda.


Dinda mengangguk pelan. Tangannya menggelayut di leher Billy.


Billy menggendongnya, dan mereka berdua membersihkan diri di kamar mandi.


Kali ini Dinda tidak protes meski Billy berjalan keluar sendiri hanya berlilit handuk, pergi mengambil kopernya.

__ADS_1


Dinda berpakaian, begitu juga Billy yang sudah kembali ke kamar, setelah mengambil baju ganti.


__ADS_2