OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 107


__ADS_3

Billy merasa gerah saat melihat Edo anak kenalan mamanya yang tampak cepat sekali akrab dengan Dinda.


Edo pengacara yang cukup terkenal dikota itu. Memiliki basic sekolah dan pekerjaan di bidang hukum, dengan mudahnya dia bisa mengobrol dengan Dinda.


"Senangnya ya jeng,, anakku masih belum ketemu jodohnya" celetuk teman Mama Billy.


Semua mata menatap wanita itu, lalu menatap Edo.


"Mama,," ujar Edo dengan suara lembut tapi tetap tidak mengurangi maskulinnya.


Billy meski merasa bangga mendengar perkataan teman mamanya, tetap saja merasa sebal dengan gerak-gerik Edo yang seakan menyukai perbincangannya dengan Dinda.


Billy bisa merasakan kalau Edo tertarik dengan Dinda dari cara lelaki itu menatapnya.


Billy melihat Dinda yang selalu tersenyum didepan Edo saat mereka bercakap cakap. Dia makin kesal melihat pemandangan itu.


Apalagi saat Billy hendak memegang tangan Dinda, entah disengaja atau tidak, Dinda mengambil gelas minuman lalu mengangkat kemulutnya sebelum Billy sempat memegang tangan Dinda.


Sedari tadi, Mama Billy asyik bercerita dengan temannya. Begitu juga Dinda tampak seru bercerita dengan Edo. Sedangkan Billy hanya terdiam melihat mereka.


Billy kuliah jurusan ekonomi bisnis, dia kurang memahami tentang hukum. Jadinya dia tidak bisa nyambung dalam obrolan Edo dengan Dinda.


"Makannya kapan? Aku sudah lapar!" celetuk Billy.


Kali ini semua mata memandanginya. Mama Billy yang paling terlihat kalau tidak senang dengan tingkah anaknya itu.


Teman Mama Billy memanggil pelayan. Mereka kemudian memesan beberapa macam makanan. Lalu kembali mengobrol seperti semula.


Tak lama, pelayan mengantarkan makanan dan menyajikannya didepan mereka.


Billy mengira obrolan orang-orang didepannya akan berhenti saat mereka makan, ternyata situasinya masih seperti tadi. Sambil mereka makan, mereka tetap asyik dengan perbincangan masing-masing.


Hanya Billy yang makan tanpa ada teman bicara.


Sampai mereka semua selesai makan, tidak ada yang menghiraukan Billy. Tidak tahan lagi, Billy lalu berdiri.


"Ma,, kami pulang dulu,, aku capek" ujar Billy.


Mama Billy melihat Dinda. Dia masih mau bersama anak perempuan itu. Mama Billy senang membanggakan calon mantunya yang cantik juga pintar pada teman dan anak temannya itu.


Mama Billy juga bisa melihat kalau Edo dan Dinda menyukai pembicaraan mereka tentang pekerjaan.


"Kamu bisa pulang duluan,, nanti Dinda mama yang antar ke vila" ujar Mama Billy


Mama Billy kemudian menatap Dinda yang tadi sudah ikut berdiri dengan Billy.

__ADS_1


"Jangan pulang dulu,, mama masih mau bersamamu,, 'kan nggak tiap hari mama bisa bersama Dinda" kata Mama Billy.


Dinda terdiam. Akhirnya dia hanya bisa tersenyum terpaksa sambil menganggukkan kepalanya. Dia merasa tidak enak kalau harus menolak permintaan Mama Billy.


Billy yang melihat Dinda setuju dengan permintaan mamanya, kemudian berjalan pergi dari situ. Dia memacu mobilnya kembali ke vila meninggalkan Dinda bersama Mamanya.


Mama Billy tidak memperdulikan tingkah anaknya. Dia menganggap Billy sudah bukan anak kecil lagi, tidak bisa terlalu manja. Kasihan Dinda kalau Billy terlalu memaksa mengatur Dinda sesuai kemauannya.


Dinda tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya tahu kalau Billy pasti akan sangat marah dengannya juga kepada mamanya.


Bodo amat, paling paling juga kalau Dinda pulang nanti bakal baikkan lagi asal Dinda bisa membujuknya, pikir Dinda.


Mama Billy masih lanjut berbincang dengan temannya, begitu juga Dinda kembali berbincang dengan Edo.


"Kalau kamu kamu jadi rekanan di firma tempatku bekerja,, bisa hubungi aku,, aku akan mengurusnya," kata Edo.


Dinda dan Edo lalu saling memberi nomor kontak mereka berdua.


Mama Billy tampaknya sudah selesai bercerita dengan temannya. Dia lalu mengajak Dinda untuk pergi dari situ.


"Jangan lupa hubungi aku nanti yaa,, Kami butuh pengacara wanita, yang pintar sepertimu," ujar Edo sambil tersenyum manis, saat bersalaman dengan Dinda.


Mama Billy sangat bangga mendengar pujian Edo pada calon mantunya.


"Nanti aja urusan kerjaannya,, mereka masih sibuk mengurus pernikahannya." ujar Mama Billy "Nanti datang ya," sambung mama Billy.


Setelah Dinda dan Mama Billy pergi ke mobilnya, Mama Edo lalu berkata


"Mama belum pernah melihat kamu seperti tadi dengan seorang wanita,, Kamu tampak sangat tertarik dengan wanita itu,"


Edo masih menatap kearah Dinda sampai mobil Mama Billy pergi dari situ.


"Iya,, aku menginginkannya," kata Edo dengan nada kecewa.


"Mau bagaimana lagi,, dia akan jadi istri orang" kata Mama Edo, sambil mengelus lengan anaknya.


Edo tersenyum sinis. Entah apa yang dia pikirkan. Matanya menyiratkan sesuatu yang aneh.~


Mama Billy lalu membawa Dinda pergi ke sebuah toko sepatu, mereka berdua melihat-lihat dan melilih yang mereka sukai disitu.


Sambil bercanda, layaknya seorang ibu dengan anak perempuannya yang heboh saat belanja bersama. Mereka berdua lupa waktu.


Mama Billy dan Dinda terkejut saat mereka keluar, cahaya matahari sudah menghilang diganti dengan cahaya lampu kota yang menerangi kegelapan malam.


"Billy pasti mengamuk," celetuk Dinda spontan

__ADS_1


"Biarkan aja,, dia memang anak manja" sahut Mama Billy.


Mama Billy dan Dinda bertatapan lalu tertawa. Mereka seakan tidak perduli meski Billy akan sangat marah dengan mereka berdua.


Mama Billy meminta supirnya mengantar mereka kembali ke vila.


Benar saja. Billy tampak gelisah menunggu didepan pintu.


Saat melihat mobil Mamanya datang, Billy langsung mendekat, lalu mengajak Dinda keluar dari situ.


"Mama langsung pulang aja,, sudah puas jalan-jalannya kan?!" ujar Billy ketus lalu membawa Dinda masuk kedalam Vila tanpa menunggu respon Mamanya.


Mama Billy hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat Billy dan Dinda masuk ke vila, kemudian Billy menutup pintu. Mama Billy lalu memerintahkan supirnya untuk membawanya pulang kerumah dikota.~


"Kamu senang? Kelihatannya sih begitu,, kamu kelihatan senang ngobrol dengan lelaki itu, meski ada aku disitu" Billy terdengar frustasi.


Dinda hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Benar kata Mama Billy, Billy memang kelewatan manjanya.


Maunya, dia aja yang diperhatikan. Dinda menahan tangan Billy yang sedari tadi berjalan mondar mandir di dekat ranjang tempat Dinda duduk dipinggirnya.


"Aku cuma ngobrol,, nggak ada yang lebih," bisik Dinda sambil memeluk pinggang Billy. Samping wajah Dinda menyentuh perut Billy. "Kamu lupa,, aku akan jadi istrimu,, nggak ada yang bisa menggantikanmu,," sambung Dinda.


Billy masih tampak gusar. Dia tidak mau menyentuh Dinda.


"Aku mencintaimu," ujar Dinda lagi, berharap Billy akan tenang.


Dan berhasil. Tak lama Billy lalu memegang bahu dan kepala Dinda, sampai benar merapat kebadannya.


"Aku cemburu,," ujar Billy lirih.


Dinda tertawa di dalam hati. Semudah itu menenangkan anak manja seperti Billy. Dinda tidak bisa menahan rasa geli membayangkan kekonyolan Billy, dia akhirnya tertawa.


Billy tersadar kalau Dinda seakan hanya mengejeknya.


"Apa yang lucu?" ujar Billy ketus. Dia mer*mas kedua bahu Dinda dengan tangannya.


Dinda berhenti tertawa.


"Sakit,," ujar Dinda pelan.


Billy melemahkan pegangannya dibahu Dinda. Dia menatap Dinda yang sudah menengadahkan kepala, sambil menatapnya sejak tadi.


Billy melihat Dinda yang seolah pasrah dengan apa yang akan Billy lakukan padanya. Billy mendorong Dinda sampai terbaring ditempat tidur dengan kasar.


Billy menunduk, menahan badannya agar tidak menindih Dinda, dengan kedua tangannya diletakkan disisi sisi samping kepala Dinda. Tatapan matanya berubah jadi sayu saat wajah Dinda dekat sekali dengan wajahnya.

__ADS_1


"Tadi kamu sudah janji,"


__ADS_2