OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 34


__ADS_3

Belum begitu lama Rudi pergi, Billy mendekat ke ranjang Dinda.


Billy mengelap bibir Dinda menggunakan jempol tangannya.


Dinda menepis tangan Billy.


"Apa-apaan kamu ini?" kata Dinda kesal


"Aku menghapus bekas bibirnya yang kotor. Takut kamu tambah sakit..." ujar Billy enteng


"Hah?" Dinda terbelalak.


"Bagaimana? Aku menepati janji ku kan?" tanya Billy.


Dinda hanya bengong mendengar pertanyaan Billy


"Sakit sekali aku melihat kamu bersama dia. Tapi aku bisa menahannya 'kan?" tanya Billy menjelaskan maksud pertanyaan yang tadi dia lontarkan.


Dinda memalingkan wajahnya dari Billy.


"Dinda! Kamu lupa janjimu?" bentak Billy


Dinda mendengus. Dia kembali menatap Billy.


"Kamu pucat sekali sayang. Apa yang sakit?" tanya Billy. Kali ini suaranya lembut bertanya kepada Dinda.


"Kepala ku yang sakit, gara-gara melihat kamu!" jawab Dinda masih merasa marah. Wajah gadis itu cemberut.


"Kamu makin cantik kalau lagi jutek begitu" Kata Billy. Lelaki itu sama sekali tidak terganggu dengan kemarahan Dinda.


Dinda jadi makin kesal.


"Dasar gila!" ujar Dinda


Billy tertawa.


Billy mengusap rambut di kepala Dinda, kemudian tangannya membelai pipi Dinda dengan lembut.


Dinda membiarkan Billy menyentuhnya.


Dinda pikir, percuma saja kalau dia melarang atau marah-marah. Yang ada nanti Billy makin menjadi-jadi.


"Maaf kan aku...!" kata Billy


Dinda menatap wajah Billy lekat-lekat. Gadis itu tidak berkata sepatah kata pun.


Mata Billy tampak sedih.


"Apa mungkin kamu sakit karena aku?" tanya Billy. Terdengar nada penyesalan dari suara nya


Hati Dinda tersentuh mendengar suara Billy. Dinda benar-benar dibuat bingung dengan sikap Billy.


"Nggak usah terlalu dipikirkan... Aku sakit karena memang kurang istirahat aja. Bukan karena kamu..." kini Dinda bicara dengan tenang.


"Aku kelelahan. Pekerjaan cukup membuat ku stres!" sambung Dinda


"Bos mu menyulitkan mu?" alis Billy terangkat.


"Iya, lumayan...! Tapi masih wajar aja sih!" jawab Dinda


"Kamu mau aku apakan Bos mu itu?" tanya Billy

__ADS_1


Dinda terbelalak. Dia menatap Billy. Lelaki itu tidak main-main.


"Jangan macam-macam. Biasa aja kalau ketemu atasan begitu. Aku rasa juga sikap keras atasan ku itu bagus bagus aja kok!" Kata Dinda.


Dinda mau Billy tetap tenang. Toh, selama Dinda bekerja, Dinda baik-baik saja. Hanya sejak Billy jadi klien, barulah pekerjaannya dirasa jadi lebih sulit.


"Aku tadi menelpon ke kantormu, katanya kamu sudah pulang karena sakit. Jadi aku menyusul mu. Aku baru saja sampai di depan rumahmu, waktu aku lihat kamu diangkat Rudi ke dalam mobilnya.


Kamu tampak nggak sadarkan diri. Aku pikir kamu sudah tak bernyawa," kata Billy sambil menghela nafas panjang.


"Untung saja kamu masih baik-baik saja" Billy hampir menangis. Billy tampak bersungguh-sungguh mengkhawatirkan Dinda.


Dinda terharu melihat kesungguhan Billy. Serapuh itu kah lelaki ini? Semakin rumit hidup ku kalau begini, pikir Dinda.


Dinda membelai pipi Billy.


"Aku nggak apa-apa... Aku masih disini. Jangan sedih gitu!" kata Dinda


"Aku nggak habis pikir..." kata Billy kemudian.


Billy mengerutkan alisnya.


"Kata Rudi, kamu menyetir pulang sendiri. Kenapa kamu berani begitu? Kamu mati-matian melarangku menyetir kalau lagi sakit, tapi kamu malah yang begitu.


Kamu sudah bosan hidup? Kamu mau membunuhku? Nggak cukup kamu menyiksaku selama ini?" Suara Billy bergetar.


Dinda bisa merasakan kasih sayang Billy kepadanya, hanya dengan melihat jauh kedalam mata lelaki itu. Dinda tidak tega melihat Billy seperti itu. Dia membuka kedua tangannya lebar lebar, seakan memberi kesempatan untuk Billy memeluknya.


Billy memeluk Dinda erat-erat.


"Aku mencintaimu... Selama ini aku menunggumu. Kamu jangan coba-coba meninggalkan aku!" kata Billy.


Dinda terdiam. Dia hanya memeluk Billy sambil mengusap punggung lelaki itu.


Billy mengendurkan pelukannya. Dia mencium dengan lembut bibir Dinda. Billy meluapkan rasa sayangnya melalui ciuman itu.


Dinda tidak menolak. Dinda membiarkan Billy melampiaskan rasa yang ada di hati lelaki itu untuk dia.


Billy seakan tidak bisa puas. Dia tidak berhenti mencium bibir Dinda sampai gadis itu merasa hampir kehabisan nafas.


Dinda mendorong dada Billy sedikit.


Billy menghentikan ciumannya kemudian menatap Dinda. Mata lelaki itu penuh tanya.


"Aku hampir nggak bisa bernafas!" ujar Dinda, seakan mengerti arti tatapan Billy.


Billy tersenyum. Sekilas, dia mengecup bibir Dinda.


Billy memegang tangan Dinda.


"Besok, usus buntu mu di operasi ya?" tanya Billy.


" Iya!" jawab Dinda singkat.


"Aku akan menemanimu..." kata Billy.


"Nggak usah! Kamu pulang aja! Ada Rudi yang menjagaku..." celetuk Dinda spontan


Billy mengerutkan alisnya. Billy memasang tampang tidak suka mendengar perkataan Dinda.


"Bisa aja sih kalau kamu mau tetap disini. Tapi apa kamu nggak capek?" Kata Dinda lagi yang menyadari ketidak-senangan Billy.

__ADS_1


"Nggak! Aku nggak capek!" jawab Billy asal.


Terdengar suara pintu terbuka. Dinda menarik tangannya dari genggaman Billy.


Billy tidak protes, dia tetap duduk disamping ranjang Dinda.


Rudi melangkah masuk.


"Kamu belum tidur?" tanya Rudi kepada Dinda.


Dinda menggeleng.


"Aku belum ngantuk..." jawab Dinda


Rudi sudah kelihatan segar dan rapi.


Rudi melihat Billy yang masih duduk disamping ranjang Dinda.


Kedua lelaki itu bertatap-tatapan. Billy kemudian berdiri dari situ lalu berpindah ke sofa.


Rudi mengecup kening Dinda.


Rudi lalu duduk disamping ranjang Dinda menggantikan Billy.


"Apa masih ada yang sakit?" tanya Rudi.


"Nggak kok, tenang aja...!" jawab Dinda.


Rudi meletakkan barang bawaannya kedalam lemari kecil didekatnya.


"Bagaimana keadaan mbok Inah?" Tanya Dinda.


"Aku sudah beritahu mbok Inah kalau kamu baik baik saja. Dia sudah kelihatan jauh lebih tenang," jawab Rudi yang kemudian menggenggam tangan Dinda.


"Waktu kamu pingsan, mbok Inah benar-benar histeris. Aku kasihan melihatnya. Lain kali, ingat ya?! Jangan sampai terjadi begini lagi! Kalau kamu rasa nggak enak badan, cepat hubungi aku!" ujar Rudi


Dinda mengangguk.


Dinda membayangkan tubuh tua mbok Inah yang panik. Dinda menyesal telah membuat orang tua itu khawatir.


"Mbok Inah tadi membuatkan kamu makanan, tapi aku tidak membawanya. Aku bilang kalau kamu harus puasa, persiapan operasi besok pagi," kata Rudi


"Oh iya, mbok Inah tadi titip pesan, katanya kalau kamu sudah bisa makan, kasih tahu dia kalau kamu mau makan apa, nanti mbok Inah bikinkan" sambung Rudi


"Hmmm, aku nggak mau merepotkan mbok, biar dia istirahat aja dulu" kata Dinda.


Rudi mengangguk.


Mata Dinda mulai terasa berat.


"Aku ngantuk..." ujar Dinda


"Tidur aja, aku tetap disini!" kata Rudi


Dinda melihat kearah Billy yang berbaring di sofa.


Dia lalu berbisik


"Kamu tidur disampingku. Nggak enak juga kalau aku harus mengusir Billy untuk pulang." kata Dinda. Dia menggeser badannya sedikit kepinggir ranjang. Memberi tempat yang cukup untuk Rudi berbaring.


Rudi naik keatas ranjang. Rudi berbaring disamping Dinda. Kemudian mematikan lampu diatas ranjang.

__ADS_1


Rudi memeluk Dinda.


Tidak berapa lama, Dinda sudah tertidur dipelukan Rudi.


__ADS_2