
Berbulan bulan bahkan mendekati setahun sejak pertemuan awal Dinda dengan Rudi.
Mereka berdua sering melakukan sesuatu bersama-sama.
Mulai dari mengerjakan tugas kuliah, sampai dengan hang out juga sering bersama-sama.
Akan tetapi semakin sering mereka bersama, Rudi malah tidak mendapat kesempatan untuk menyatakan perasaannya kepada Dinda. Dia terjebak dalam Friend zone.
Dinda sudah nyaman dengan hubungan pertemanan keduanya, dan Rudi tidak berani mengatakan rasa cinta. Pemuda itu khawatir, kalau itu akan meregangkan hubungannya dengan Dinda.
Hari itu seperti biasanya, Dinda, Rudi dan Laura duduk bersebelahan. Dosen sudah mulai menjelaskan materi, ketika pintu ruangan terbuka.
Seorang pemuda tampan berwajah blasteran, melangkah masuk. Dia memberi salam, sekaligus meminta maaf atas keterlambatannya kepada dosen. Pemuda itu lalu melangkah naik tangga, kemudian duduk tepat didepan barisan tempat Dinda, dan teman temannya duduk.
Laura menyenggol tangan Dinda.
Dinda menatap Laura. Gadis itu tidak mengerti maksud Laura menyenggolnya.
"Handsome..." bisik Laura.
Dinda menutup wajahnya dengan tangan.
"Aku kira kenapa," kata Dinda sambil meletakkan tangannya ke meja.
Sepanjang jam mata kuliah berlangsung, Rudi merasa ada sesuatu yang janggal. Berkali kali dia sempat melihat Dinda menatap pemuda didepannya itu. Tapi Rudi berusaha tetap tenang.
Benar saja prasangkanya. Saat mereka bertiga sedang bersantai di cafe. Dinda dan Laura menyatakan ketertarikan mereka, dengan pemuda yang juga seorang mahasiswa pindahan.
Disela percakapan kedua gadis itu, pemuda itu lalu muncul di cafe itu. Tanpa disengaja, pemuda itu mengambil tempat duduk yang berdekatan dengan Dinda, Laura dan Rudi. Wajah pemuda itu terlihat jelas.
Laura dan Dinda berbisik-bisik sambil senyum-senyum mengagumi wajah, dan penampilan pemuda itu.
Rudi yang mendengar obrolan kedua gadis itu mulai merasa gerah. Dia mengirim pesan kepada Eko lewat whatsapp
__ADS_1
"Bro, ke cafe biasa. Ada Laura dan Dinda juga disini"
Eko kuliah dijurusan yang berbeda, tapi masih di universitas yang sama.
"Bentar. Belum kelar ni!" balas Eko.
Rudi tidak sabar menunggu kedatangan Eko. Dia kesal melihat Dinda yang seperti tergila gila dengan pemuda lain.
Sekitar lima belasan menit kemudian, Eko muncul.
Laura terkejut.
Dia menghentikan pandangannya dari pemuda bule tampan itu. Dia lalu menyambut kedatangan Eko.
Dinda tertawa kecil melihat tingkah Laura, yang seperti anak kecil kedapatan mencuri permen.
Rudi merasa sedikit lega. Akhirnya kedua gadis itu bisa mengobrol tentang hal yang lain.
Kata-kata Eko seperti lirik indah ditelinga Rudi.
"Ayo kita pergi dari sini!" Rudi buru-buru berjalan kearah parkiran. Ketiga temannya hanya bengong melihat tingkah Rudi. Akhirnya mereka menyusul juga.
Masih dijalan, Dinda tiba-tiba merasa kurang enak badan. Dinda meminta Rudi untuk mengantarnya pulang.
"Kenapa Din?" kata Rudi saat mereka berdua tiba dirumah Dinda.
"Nggak apa-apa. Mungkin karena semalam aku makan cabe kebanyakan. Maag ku kumat..." kata Dinda meringis.
"Aku temani ya, takutnya tambah parah, nanti kita ke rumah sakit," Rudi tahu kalau Papa Dinda sedang keluar kota lagi. Tidak mungkin Dinda mengharapkan mbok Inah, yang mengantarnya kalau ada apa-apa.
"Nggak usah, aku nggak apa-apa!" kata Dinda.
Tetap saja Rudi bersikeras menunggui Dinda.
__ADS_1
Dinda mengalah, dia membiarkan Rudi duduk di ruang tengah. Sedangkan Dinda pergi berbaring ke kamarnya setelah meminum obat.
Dinda tertidur. Saat gadis itu terbangun, dia teringat Rudi, dia cepat cepat keluar dari kamarnya. Dilihatnya Rudi ternyata tertidur di kursi. Layar ponsel pemuda itu masih menyala.
Dinda memperhatikan wajah Rudi. Perasaan sayangnya mencuat, namun sama seperti Rudi, gadis itu juga merasa terjebak dalam friend zone.
Dinda berusaha menepis jauh-jauh perasaannya, yang ingin lebih dari teman dengan Rudi.
Beberapa lama kemudian, gadis itu masih saja menatap wajah Rudi.
Semakin Dinda memperhatikan setiap lekuk di wajah pemuda itu, semakin rasanya ingin mencium bibir Rudi.
Rudi menggerakkan tubuhnya. Dinda terkejut. Rudi lalu membuka matanya.
"Aah, gimana? masih sakit?" tanya Rudi sambil mengedip-ngedipkan matanya yang terasa berat.
Dinda salah tingkah.
"Nggak lagi!" jawab Dinda. Dag, dig, dug jantung gadis itu. Duh... Hampir saja, pikirnya.
"Sorry, aku ketiduran," kata Rudi sambil mengucek matanya.
"Kamu mau minum apa?" tanya Dinda.
"Nggak usah, kalau kamu sudah baikkan aku pulang aja," kata Rudi. "Atau kamu mau jalan-jalan denganku?" sambung pemuda itu.
"Bentar aku mandi dulu, baru kita jalan," Dinda berlalu kekamar mandi.
Dinda sudah siap. Segar dan wangi, dandanan tipis diwajahnya tidak menutupi kecantikan alami gadis itu.
"Nanti singgah dirumahku sebentar. Aku juga mau mandi,"
"Oke," jawab Dinda.
__ADS_1