
Permukaan danau terlihat indah berkilauan di sinari cahaya rembulan.
Suasana hening di tempat itu, memang membuat hati terasa tenang. Jauh sekali berbeda dengan perkotaan, yang biasanya masih sibuk di jam-jam seperti sekarang.
Dinda yang masih berbaring diatas hammock, memutar mutar dua buah cincin di jari tangannya. Dia memikirkan perkataan kedua sahabatnya tadi.
Dinda tahu betul kalau dia harus memilih antara Rudi atau Billy.
Dinda mengeluarkan ponselnya dari saku kemejanya.
Sampai detik ini, belum ada kabar dari Rudi. Pesan whatsapp yang dikirim dari kemarin, cuma dibaca tanpa ada respon.
Dinda menarik nafas dalam-dalam.
Dinda benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Rudi. Ada sedikit rasa kecewa yang timbul di hati Dinda.
Kenapa Rudi perlu memaksa untuk cepat-cepat menikah? Bukannya sudah Dinda bilang kalau dia masih mau menyelesaikan masa magangnya? Itu aja yang Dinda minta.
Dinda menatap dua buah cincin, yang sedari tadi diputar-putarnya.
Permata diatas kedua cincin itu, semakin indah saat terkena cahaya.
Cincin dari Billy terlihat lebih indah dari pada cincin pemberian Rudi.
Tapi Dinda merasa cincin dari Rudi lebih masih lebih bermakna daripada cincin Billy.
Meskipun begitu, kalau begini keadaannya, sepertinya Dinda harus melepaskan cincin Rudi.
Dinda menatap langit.
Dikaki langit, bintang-bintang bertaburan. Kelap-kelip cahaya bintang memang indah tapi kalah terang dari cahaya bulan.
Dinda merasa dadanya sakit sekali. Nafasnya jadi sesak. Dia batuk-batuk.
Ternyata api tadi hampir mati, asapnya yang mengepul ditiup angin mengarah kepada Dinda.
Dinda turun dari hammocknya, dan mencoba memperbaiki susunan kayu, agar api mau menyala lagi.
Bukannya menyala, asapnya malah makin tebal.
Dinda berlari masuk kedalam vila. Saat dia masuk kekamar, dia melihat Billy yang baru selesai mandi, berjalan keluar dari kamar mandi. Hanya berlilit handuk, menutupi bagian bawah tubuhnya.
Dinda membalikkan badannya.
Jangan lagi! pikir Dinda. Dengan cepat dia berjalan keluar dari kamar.
Billy tersenyum melihat tingkah Dinda. Dia lanjut berpakaian.
Dinda duduk di sofa diluar kamar. Dinda melihat pintu pintu kamar yang berseberangan. Teman-temannya belum ada yang keluar dari kamar mereka. Mungkin mereka sudah tidur, pikir Dinda.
Billy yang sudah berpakaian, keluar dari kamar. Dia ikut duduk disofa itu.
Belum lama mereka disitu, tiba-tiba terdengar suara seperti orang yang sedang berkelahi, dari kamar didepan mereka.
Billy dan Dinda menajamkan pendengarannya.
Dinda shock.
Melihat wajah Dinda yang memerah, Billy lalu berdiri dan menarik tangan Dinda. Mereka keluar dari bangunan itu.
Saat mereka sudah diluar, mereka bertatap-tatapan kemudian tertawa.
"Kita kesana aja!" ujar Billy. Dia menunjuk ke arah hammock.
Api yang tadi sudah menyala lagi.
Mereka berbaring di hammock.
__ADS_1
Sesekali saat mereka bertatap-tatapan, keduanya masih saja tertawa.
"Sudah, ah!" ujar Dinda.
"Sakit pipiku ketawa terus!" sambung Dinda.
Billy berusaha menahan tawanya, lalu berkata
"Kira-kira siapa itu tadi?"
"Nggak tahu!" ujar Dinda.
"Heboh amat!" Billy akhirnya tertawa lagi.
Melihat Billy, Dinda juga jadi ikut tertawa.
"Kira-kira kita seheboh itu juga nggak ya?" ujar Billy.
Dinda melihat Billy yang senyum-senyum. Dinda jadi merasa malu. Dinda terdiam.
Billy melihat Dinda. Gadis itu seakan sedang bergumam. Dia lalu berpindah ke hammock yang dipakai Dinda.
"Aku cuma bercanda..." kata Billy saat dia sudah berbaring disamping Dinda.
Billy menggenggam tangan Dinda.
"Aku sih lebih suka, kalau kamu bisa lebih heboh dari itu bersamaku!" kata Billy sambil tersenyum
Mendengar Billy yang menggodanya, Dinda merasa sebal. Gemas dengan Billy, dia mencubit lengan Billy.
Billy hanya tertawa.
"Kalau kamu heboh, berarti 'kan aku cukup hebat!" kata Billy lagi. Dia masih saja tersenyum.
Merasa kalau Billy masih saja menggodanya, Dinda kembali mencubit lengan Billy.
Billy turun dari hammock, dia menarik Dinda agar berdiri berhadapan dengannya.
Dinda menundukkan kepalanya.
Billy memegang dagu Dinda, lalu mengangkat wajah gadis itu. Dia mencium bibir Dinda. Keduanya terbawa suasana.
Billy menggendong tubuh ramping Dinda, sambil terus menciuminya.
"Eehhemm..."
Suara itu mengejutkan Dinda dan Billy. Mereka menoleh bersamaan kearah datangnya suara.
Mita dan teman lelakinya sudah duduk diatas hammock.
Dinda menggeliat, tapi Billy tetap tidak mau menurunkannya.
Billy malah tetap menggendongnya, saat Billy duduk kembali diatas hammock. Billy memperbaiki posisi kaki Dinda agar nyaman di pangkuannya.
Dinda berusaha turun, Billy menahannya. Billy memeluk tubuh Dinda erat-erat.
Mita hanya menatap kedua temannya itu, tanpa merespon apa-apa.
"Bukan kamu yang buat keributan di dalam?" ujar Billy, saat Dinda sudah pasrah, duduk diam di atas pangkuan Billy.
"Kami justru keluar gara-gara itu..." jawab Mita yang masih saja menatap Billy dan Dinda, datar.
Mereka semua terdiam sesaat disitu.
"Kenapa?" tanya Billy. Tatapan Mita membuat Billy kesal.
"Nggak apa-apa" jawab Mita.
__ADS_1
Billy mempererat pelukannya, di tubuh Dinda.
'Dia milikku' mulut Billy bergerak tanpa mengeluarkan suara.
Mita melotot.
'Yakin?' Mita juga menggerakkan mulutnya.
Billy mencium bibir Dinda penuh hasrat. Kemudian kembali memeluknya erat-erat.
"Yakin" ujar Billy.
Dinda kembali menggeliat,
"Turunkan aku...!" bisik Dinda di telinga Billy.
Billy berdiri sambil tetap menggendong Dinda. Dia membawa Dinda ke dermaga, meninggalkan Mita dan temannya.
Setelah di dermaga, barulah Billy melepaskan Dinda
"Kamu kenapa?" tanya Dinda.
"Aku mau ngobrol dengan Mita!" sambung Dinda.
Billy duduk di lantai dermaga, lalu menarik tangan Dinda agar ikut duduk dengannya.
Dinda tidak bisa melawan. Dia ikut duduk disitu.
"Kita disini aja dulu! Nanti kamu ngobrol lagi dengannya!" ujar Billy.
"Kamu mau naik perahu?" tanya Billy sebelum Dinda sempat berkata apa-apa.
"Malam-malam gini? Nggak, besok aja!" ujar Dinda.
Billy terdiam sebentar.
"Kamu sudah pernah pikirkan akan bersama siapa?" tanya Billy
"Maksudnya? Naik perahunya?" Dinda balik bertanya. Dia tidak mengerti maksud pertanyaan Billy.
"Bukan! Yang aku mau tahu, apa kamu sudah memilih antara aku atau Rudi," ujar Billy.
Dinda terdiam
"Aku tahu kamu kemarin selain mengirim pesan untuk Mita dan Laura, kamu sempat mengirim pesan untuk Rudi kan?" tanya Billy
"Iya," jawab Dinda.
"Ada dia membalas pesanmu?" tanya Billy lagi.
Dinda menarik nafas yang terasa berat.
"Belum!" jawab Dinda singkat
Billy mengangguk-angguk.
"Hmm... Bukannya belum, dia memang tidak mau menanggapimu. Kalau dia mau, dia mestinya bisa mencari alasan," ujar Billy.
Dinda kembali menghela nafas panjang.
"Aku nggak tahu... Mungkin saja begitu...!" ujar Dinda.
Dinda berpikir omongan Billy ada benarnya.
Yaa sudahlah, mau di apa kalau Rudi mau nya begitu. Dinda tidak terlalu merasa bersalah, karena dia merasa dia tidak menggantung perasaan Rudi.
Pelan-pelan, Dinda harus melupakan Rudi.
__ADS_1
Dalam hati Dinda, meskipun Billy berulang-ulang meminta nya untuk kembali pada Billy, Dinda memilih akan fokus pada karirnya saja. Dia tidak mau terlibat dengan urusan hati.
Apalagi Billy meski menganut konsep bebas, statusnya masih menikah dengan orang lain.